1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Tantangan Ramadhan di Jerman

17 Juni 2015

Ramadhan yang jatuh pada musim panas di Jerman, membuat puasa seakan berat. Banyak pendatang Muslim yang memilih pulang kampung.

https://p.dw.com/p/15b9A
Foto: Barbara Sax/AFP/Getty Images

Dari Subuh hingga Magrib, di Jerman orang berpuasa 18 jam setiap harinya. Begitulah kenyataan bulan Ramadhan tahun ini. Meski begitu, Ramadhan adalah masa yang sangat indah bagi umat Islam, di manapun mereka berada. Ramadhan, bulan raya yang penuh tantangan.

"Susah bagi saya untuk tidak minum kopi di pagi hari," keluh Umm Aziz. Ia sudah 15 tahun menetap di Jerman, memiliki dua orang anak dan sejak beberapa tahun bekerja di rumah makan.

Banyak pendatang Muslim yang bekerja di bidang usaha ini. Pekerjaan mereka menjadi semakin berat karena berpuasa. Terus menahan dahaga, saat suhu udara di musim panas membuat mereka lekas letih dan lemas.

Barat bertemu Ramadhan

Meski begitu, umat Islam di Jerman tak bisa menghindar dari tugas kesehariannya. Pekerjaan di rumah harus dibereskan, kebutuhan anak-anak harus dipenuhi. Bagi kaum karyawan, tidak ada liburan empat minggu Ramadhan di Jerman.

Bagi Umm Aziz, semakin lama ia tinggal di Jerman, semakin kuat pula kebiasaan Barat mempengaruhi gaya hidupnya. Karenanya, puasa juga terasa semakin sulit baginya.

"Tahun ini pasti sangat berat. Biasanya saya tiba di restoran tengah hari dan harus menyiapkan berbagai hidangan untuk malam hari. Pelanggan kami banyak yang keturunan Arab. Setiap petang, mereka datang untuk berbuka puasa di sini , karena itulah saya menyiapkan berbagai jenis hidangan."

Banyaknya tamu sangat menguntungkan bagi restoran Arab yang berlokasi di kota Köln itu.

Sementara itu, Umm Aziz sering batal puasanya beberapa tahun terakhir ini. Ia berharap, tahun ini bisa berpuasa penuh. "Saya merasa tidak enak di akhir Ramadhan. Semua orang Islam merayakan Idul Fitri, sementara saya gagal."

Stress dan suhu panas

Bagi Haider Omar sudah pasti, Ramadhan ini ia tidak akan berpuasa. Ia juga pemilik sebuah restoran. Baginya berpuasa bisa berdampak buruk pada usahanya: "Saya harus mencicipi semua hidangan yang disiapkan, karenanya saya tidak berpuasa." Ia tidak mau menyuruh orang lain mencicipinya, kuatir bahwa rasa hidangannya akan berbeda.

Namun lelaki berusia 40 tahun itu juga punya masalah lain. Ia seorang perokok. Terlalu berat baginya untuk berkutat dengan rasa letih, kesibukan dan suhu panas di dapur, tanpa mengepulkan asap rokok. "Saya dulu juga berpuasa. Sebagai perokok, keinginan untuk merokok terasa sepanjang hari. Biasanya waktu buka puasa, saya akan menyulut sebatang rokok, sebelum mulai minum dan makan." Tak heran, Haider Omar sering terganggu peredaran darahnya.

Pulang kampung

Berpuasa di negara seperti Jerman, juga terasa lebih sulit karena bukan hal yang umum dilakukan oleh masyarakatnya. Tidak terlihat dukungan publik seperti di negara-negara yang mayoritas penduduknya Muslim.

Bila semua orang berpuasa, toko-toko tutup dan tidak ada godaan aroma Kebab dan Coca Cola hingga Magrib, maka berpuasa terasa jauh lebih ringan. Mungkin hal ini juga yang menyebabkan banyak pendatang Muslim yang pulang kampung selama Ramadhan.

Imam Erol Pürlü dari Ikatan Pusat Kebudayaan Islam di Köln mengingatkan, "Dalam Islam berlaku aturan dasar, bahwa setiap orang hanya akan diberikan beban yang bisa mereka tanggung oleh Allah".

Artinya, bila orang itu sakit, hamil atau menyusui, maka ia berada dalam kategori orang yang tak bisa berpuasa. Untuk melunaskannya, kategori orang ini bisa membayar Fidyah, menyumbang uang kepada orang miskin.

Umm Aziz menceritakan bahwa putranya baru berpuasa penuh ketika menginjak usia 15 tahun. Menurut Imam Erol Pürlü, ini hal yang biasa saja. Disebutkan, seorang anak sudah bisa mulai berpuasa ketika menginjak usia 13 atau 14 tahun.

Namun, ada baiknya seorang anak diperiksa dulu kesehatannya oleh dokter sebelum berpuasa, karena hanya mereka yang sehat bisa mengatasi pengurangan gizi dan air minum selama empat pekan.

Ulrike Hummel / Edith Koesoemawiria
Editor: Hendra Pasuhuk