1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Tepatkah Intervensi Perancis di Pantai Gading?

13 April 2011

Sejumlah media internasional masih menyoroti intervensi Perancis di Pantai Gading.

https://p.dw.com/p/10sSS
Situasi di Pantai Gading ketika pemberontak melawan pasukan setia GbagboFoto: dapd

Harian konservatif Inggris The Times memberikan komentarnya terkait intervensi militer tersebut. Harian itu menulis:

„Campur tangan Perancis di Pantai Gading, menyelamatkan sejumlah nyawa manusia. Presiden Perancis Nicolas Sarkozy berhasil mengatasi krisis ini dengan kebulatan tekad. Ia bekerja erat dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan membuat organisasi internasional itu menjadi kekuatan diplomasi yang efektiv. Perancis telah menolong warga Pantai Gading mengusir Presiden yang digulingkan Laurent Gbagbo dari kekuasaannya. Aksi ini telah membantu Afrika dan memberikan kepada masyarakat internasional pelajaran berarti. Krisis selalu membawa masalah. Lebih baik menghadapinya daripada mengabaikan.“

Kemudian harian lain NRC Handelsblad yang terbit di Belanda memperingatkan terpicunya kekerasan baru dapat terjadi di Pantai Gading. Harian itu menulis:

„Karena garis depan perbatasan Pantai Gading melewati kawasan suku dan agama, kekerasan bisa tersulut kembali setiap saat. Presiden terpilih Alassane Outtara menghadapi tantangan besar, yakni mendamaikan warga Pantai Gading. Rakyat Pantai Gading tidak baru berperang beberapa bulan ini, akan tetapi antara 2002 hingga 2007 perang saudara di Pantai Gading telah terjadi. Uni Eropa akan memberikan bantuan dan mencabut sanksi. Tetapi, dengan hanya menghidupkan kembali perdagangan serta melontarkan pernyataan untuk merukunkan masyarakat, tidak akan cukup untuk membangun sebuah masyarakat damai. Ini paradoks. Politisi Perancis akan tetap berlaku sebagai wasit dan polisi. Dan tepat hal inilah yang dapat memunculkan pemberontakan terhadap penguasa asing serta memicu kekerasan baru.“

Dan tema lain yang juga mendapat perhatian media internasional adalah bencana atom di Jepang yang merupakan dampak bencana gempa dan tsunami. Dewan kota Straßburg, Perancis, menyepakati dengan suara bulat untuk menutup pembangkit listrik tenaga nuklir Fessenheim. Harian Straßburg Dernières Nouvelles d'Alsace menulis:

„Pagelaran yang ditampilkan Jepang sebuah ekonomi besar dunia, yang tidak mampu mengatasi dampak kecelakaan reaktor nuklir, memunculkan kekuatiran baru. Dan kalangan politisi kewalahan menghadapi krisis kepercayaan ini. Di Perancis tema tenaga nuklir bisa dikatakan sudah dimasukkan ke dalam arsip. Dan tema ekologi lainnya seperti perubahan iklim mendapat perhatian besar. Dulu, bisa dibilang tidak ada yang menjadi geram, jika sampah atom berunsur radiasi diangkut ke tempat pembuangannya dengan melewati Straßburg pada tengah malam. Hanya ada beberapa demonstran yang menentangnya.“

Berikut harian Spanyol El Periódico de Catalunya yang terbit di Barcelona menulis:

„Dampak bencana atom di Fukushima tidak dapat disamakan dengan Chernobyl. Perusahaan pengelola Tepco mengambil tindakan salah dan mungkin dapat dinilai tidak bertanggung-jawab. Tidak ada transparansi dan tindakan pencegahan. Semua metode yang diterapkan dipertikaikan. Krisis atom di Jepang hingga kini belum tertangani. Padahal, sebelumnya sudah ada peringatan gempa hebat. Hal ini terbukti dari gempa susulan baru-baru ini. Dulu, Jepang menjadi korban serangan bom atom. Kini, negara matahari terbit itu menjadi korban politik pembangunan dan industri, yang tidak mampu mengontrol ancaman atom.“

AN/HP/dpa/afpd