1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Teroris Asia Masih Ancam Dunia

Hao Gui12 April 2012

Baru-baru ini, pemerintah Amerika Serikat menawarkan hadiah 10 juta dollar Amerika bagi yang bisa menangkap Hafiz Muhammad Saeed, tokoh Islamis Pakistan yang juga pemimpin organisasi teroris Laskar e-Taiba.

https://p.dw.com/p/14c74
Kepala Hafiz Mohammad Saeed dihargai 10 juta dollarFoto: AP

Hafiz Muhammad Saeed dituduh mendalangi serangan teror Mumbai pada tahun 2008. Amerika juga menuduh Saeed bertanggungjawab atas rangkaian pemboman di Kabul pada tahun 2010 dan serangan atas parlemen India di New Delhi pada tahun 2001.

Harga kepala Saeed cukup mahal. Hanya tiga tokoh militan termasuk pemimpin Taliban yakni Mullah Omar yang kepalanya dihargai tinggi. Kepala pemimpin al Qaeda Ayman al-Zawahiri dihargai 25 juta dollar.

Baik Omar maupun al-Zawahiri dipercaya bersembunyi di Pakistan, sebuah negara yang memiliki nuklir dan tidak stabil secara politik.

Perlindungan Negara Bagi Saeed

Kasus Saeed tergolong unik. Ia dibebaskan oleh pengadilan Pakistan pada tahun 2009, setelah sebelumnya didakwa terlibat terorisme. Pemerintah Pakistan beralasan tidak cukup bukti untuk melawan Saeed, meski New Delhi telah menyediakan bukti-bukti yang cukup.

Pemimpin Islamis itu bergerak bebas, dan bahkan menikmati perlindungan penuh dari pejabat militer dan intelijen Pakistan. Ali K. Chishti, analis politik dan keamanan yang berbasis di Karachi, mengatakan kepada DW bahwa terakhir kali Hafiz Saeed mengunjungi Karachi, dia dijaga oleh 300 anggota pasukan keamanan Pakistan.

“Kelihatannya Pakistan menganggap Hafiz Saeed sebagai partner strategis dan aset yang mereka percaya bisa menjaga kepentingan Pakistan“ kata Chishti sambil menyebut bahwa merupakan keprihatinan yang besar tokoh militan terkenal seperti itu bisa bergerak tanpa rasa takut.

“Bukan cuma Mullah Omar. Banyak anggota Majelis Syuro Taliban yang ditangkap di wilayah pinggiran Pakistan. Osama bin Laden juga bersembunyi di wilayah Abbottabad yang dekat dengan akademi militer“ tunjuk Chishti sambil menambahkan “Melalui interaksi saya dengan para pejabat intelijen dan para jenderal di militer, saya tahu bahwa mereka menggunakan para militan ini sebagai alat tawar dengan barat”.

Tazeen Javed, seorang kolumnis yang berbasis di Islamabad menulis di The Express Tribune bahwa Amerika dan Pakistan memainkan permainan “kucing & tikus” dalam kasus Hafiz Saeed. “Mendukung orang seperti Hafiz Saeed adalah cara Pakistan untuk menunjukkan pembangkangan kepada Amerika“ kata Tazeen.

Ancaman di Tempat Lain

Tapi ancaman bagi Amerika tak hanya datang dari ekstrimisme Asia Selatan. Kebangkitan kelompok Islam radikal di negara-negara seperti Indonesia dan Malaysia dipercaya menjadi tantangan besar selanjutnya bagi Paman Sam dan negara-negara barat lainnya yang kini sedang memimpin perang melawan terorisme.

“Menguatnya jaringan antara kelompok radikal Asia Tenggara dengan kekuatan Islamis dan al Qaeda, mengikuti pola yang sama di wilayah lain dunia” kata Profesor Aurel Croissant dari Universitas Heidelberg.

Kepada DW, Prof. Crosissant mengatakan bahwa faktor lain di balik melonjaknya radikalisasi di Asia Tenggara adalah perang Afghanistan yang terjadi pada tahun 80'an. Perang itu telah menjadi tempat persemaian kekuatan radikal dan serangan teror 11 September 2001 di Amerika. Ia juga mengatakan bahwa globalisasi memainkan peran besar dalam hal ini karena membuat arus informasi dan barang menjadi lebih mudah bagi para militan di Asia Tenggara.

Meski demikian, Prof. Croissant menunjuk bahwa kelompok Islamis di Asia Tenggara bersifat lokal “Sebagian besar kelompok radikal di Asia Tenggara masih bersifat lokal dalam hal tujuan, rekrutmen, aktivitas serta taktik”.

“Thailand Selatan adalah contoh yang bagus. Tak ada bukti mengenai kaitan antara kelompok pemberontak di Thailand Selatan dengan terorisme global” tambah Prof. Crosissant.

Tapi banyak ahli melihat ada peningkatan kerjasama antara para teroris dari timur jauh itu dengan yang beroperasi di wilayah lain dunia. Tahun lalu, tokoh teroris asal Indonesia yakni Umar Patek, yang dituduh memainkan peran kunci dalam kasus bom Bali 2002, ditangkap di Abbottabad, Pakistan. Dalam beberapa kasus lainnya, para Islamis di Asia Tenggara ini juga pergi ke Asia Selatan untuk menerima pelatihan militer.

ab/ dw