1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

241109 Afghanistan Korruptionsbekämpfung

25 November 2009

Rakyat Afghanistan sulit percaya kepada para politisi mereka. Karena itu Presiden Karzai bertekad lebih gigih memberantas koruptor. Apakah ia akan berhasil? Tanda tanya besar.

https://p.dw.com/p/Kewg
Gambar simbol, kepercayaan terhadap Karzai yang terkoyakFoto: AP

Perang melawan korupsi termasuk hal pertama yang dicanangkan Presiden Karzai sejak menjalani masa jabatan yang kedua. Tapi banyak rakyat Afghanistan yang skeptis, termasuk wartawan Abdel Quadim Patyal dari Kandahar. Ia menilai, pernyataan Karzai untuk melawan korupsi terlalu dangkal.

"Baik konferensi maupun badan anti korupsi tambahan tidak akan membantu menghapus korupsi di negara ini. Badan khusus kan sudah ada. Tidak bisa kalau orang yang sama menduduki posisi yang sama. Ada orang-orang tertentu yang tidak boleh lagi duduk di pemerintahan," jelas Abdel Quadim Patyal.

Tuntutan akan pergantian elit di Afghanisan semakin kuat, kata Abdel Quadim Patyal. Ini juga disampaikan Robert Bailey, wakil Oxfam untuk Afghanistan. Belum lama ini organisasi bantuan internasional tersebut menyampaikan laporan tentang kondisi rakyat sipil di Afghanistan. Berdasarkan hasil jajak pendapat terhadap warga Afghanistan, lelaki dan perempuan, Bailey menyimpulkan bahwa tindakan anti korupsi harus diambil sampai ke jajaran pemimpin tertinggi.

Tindakan tegas itu juga diminta oleh rakyat, kata Pascal Fabie, Direktur regional Asia Transparency International, organisasi yang setiap tahun mengeluarkan indeks persepsi korupsi, dimana tingkat korupsi di suatu negara diukur lewat persepsi publik. Dan Afghanistan menempati posisi nomor dua dari bawah.

"Dibutuhkan dukungan dari rakyat Afghanistan. Masalahnya mereka hidup dalam situasi dimana keamanan masih jadi persoalan besar. Lagipula sistemnya begitu korup sehingga orang takut jika melapor akan ada balas dendam. Tapi keikutsertaan dari rakyat akan muncul jika ada isyarat tegas bahwa pemerintah betul-betul berjuang melawan korupsi,“ ungkpa Pascal Fabie.

Tuntutan Karzai agar tiap individu ikut membantu pemberantasan korupsi hanya terdengar dalam teori kerjasama dan awal baru, kata Abdel Quadim Patyal berang. Jurnalis berusia 28 tahun dari Kandahar itu bisa menuturkan banyak kisah dari masa lalu tentang keberanian melawan korupsi yang tidak dihargai tapi justru dijatuhi hukuman.

Abdel Quadim Patyal memberikan contoh, "Mantan Jaksa Agung Abdul Jabar Sabeth mengumpulkan tuntutan dari banyak orang. Berdasarkan pengaduan dan riset yang cermat, ia menyusun daftar nama sejumlah orang di berbagai kementrian yang secara mencolok melakukan korupsi. Tapi tak ada satupun dari mereka yang dipecat. Sebagian malah dinaikkan jabatannya. Justru jaksa Adung lah yang tidak lama kemudian diberhentikan.“

Banyak warga yang kemudian bertanya, mengapa kita harus mempertaruhkan hidup, jika tak ada satupun yang mau mendengar keluhan kita? Kepercayaan rakyat Afghanistan kepada institusi pemerintahan harus terlebih dulu dipulihkan.

Melanie Riedel/Renata Permadi

Editor: Yuniman Farid