51 Persen Warga Amerika Percaya AS Akan Terlibat Perang dengan Iran

Lebih setengah warga Amerika percaya bahwa AS akan berperang dengan Iran "dalam beberapa tahun depan". Jajak pendapat terbaru Reuters/Ipsos juga menunjukkan, hanya 39 persen setuju kebijakan Trump secara keseluruhan.

Presiden AS Donald Trump beberapa bulan terakhir meningkatkan tekanan terhadap Iran dan mengirimkan armada perang ke Timur Tengah. Langkah itu meningkatkan kekhawatiran bahwa ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran bisa meningkat menjadi perang terbuka.

Menurut jajak pendapat terbaru yang dilakukan kantor berita Reuters dan lembaga penelitian Ipsos, 64% persen warga AS - termasuk mayoritas Republik – sebenarnya mendukung Perjanjian Nuklir Iran dari tahun 2015, yang dirancang untuk mencegah Iran melanjutkan program senjata nuklir dengan imbalan bantuan dan pencabutan sanksi. Namun Donald Trump kemudian mengumumkan bahwa AS secara sepihak menarik diri dari perjanjian itu dan memberlakukan kembali sanksi-sanksi.

Hasil jajak pendapat itu dirilis kantor berita Reuters hari Selasa (21/05). 51 persen responden percaya bahwa  AS dan Iran akan berperang dalam beberapa tahun mendatang. Tahun yang lalu, angka ini hanya 43 persen. Hampir setengah warga AS – 49 persen - menyatakan tidak setuju tentang bagaimana Trump menangani hubungan dengan Iran.

Secara keseluruhan, 39 persen warga AS menyetujui kebijakan Trump. Pada saat yang sama, 54 persen memandang Iran sebagai ancaman "serius".

Live
01:48 menit
DW News | 20.05.2019

US, Iran issue mutual threats on Twitter

Kirim kapal perang

Bulan April lalu, pemerintah AS memasukkan milisi Garda Revolusi Iran ke dalam daftar organisasi teror. Lalu bulan Mei, AS mengirim kapal induk dan satuan pembom B-52 ke wilayah Timur Tengah. Beberapa hari setelahnya, Kementerian Pertahanan Pentagon menyatakan penambahan baterai antirudal Patriot dan kapal serbu amfibi untuk ditempatkan di kawasan.

AS dan Arab Saudi menuduh Iran telah melakukan sabotase tanker minyak di lepas pantai Uni Emirat Arab baru-baru ini. Iran juga dituduh bersama pemberontak Houthi melakukan serangan pesawat tak berawak ke stasiun pompa minyak Saudi.

Para analis mengatakan, gerakan AS bisa dianggap langkah provokatif oleh Iran dan meningkatkan potensi konflik militer di kawasan itu.

Live
03:17 menit
DW News | 14.05.2019

EU, US disagree on Iran policy

Pandangan tengat opsi perang

Makin banyak pihak sekarang khawatir, suatu insiden kecil - baik disengaja maupun tidak disengaja – bisa memicu eskalasi konflik yang tidak terkendali dan menyebabkan  perang regional yang menghancurkan.

Jika Iran menyerang pasukan militer AS terlebih dahulu, 79 persen responden jajak pendapat mengatakan bahwa militer AS harus membalas. 40 persen responden lebih memilih serangan udara terhadap target militer di Iran, sementara 39 persen cenderung memilih invasi militer penuh.

Jajak pendapat Reuters/Ipsos dilakukan 17-20 Mei pada sekitar 1.007 responden dewasa di Amerika Serikat. Sampel responden termasuk 350 pemilih terdaftar Demokrat, 289 pemilih terdaftar Republik, dan 181 pemilih terdaftar independen.

hp/ts (rtr, ipsos)

Kisah CIA Menjarah Demokrasi di Iran

Petaka Dekolonialisasi

Mohammed Mossadegh adalah perdana menteri Iran pertama yang terpilih secara demokratis. Masa pemerintahannya berlangsung singkat, antara 1951 hingga kejatuhannya pada 1953. Figur yang karismatik dan cerdas itu awalnya mengundang simpati dunia. Tapi upaya Mossadegh menasionalisasi industri minyak milik Inggris di Iran menempatkannya sebagai musuh utama kepentingan barat.

Kisah CIA Menjarah Demokrasi di Iran

Bayang-bayang Kerajaan Inggris

Sejak 1909 Inggris memonopoli produksi minyak bumi di Iran. Anglo-Iranian Oil Company (AIOC) yang kini bertukar nama menjadi British Petroleum (BP) berhasil menegosiasikan kontrak kerjasama yang menjamin keuntungan berganda. Akibatnya Kerajaan Inggris berhak meraup keuntungan selangit dan hanya menyisakan sedikit buat pemerintah Iran.

Kisah CIA Menjarah Demokrasi di Iran

Buruh Tanpa Martabat

Menikmati hak monopoli, AIOC mengeksploitasi pekerja Iran secara besar-besaran. Di Abadan, salah satu kota minyak Iran, pegawai AIOC hidup di perkampungan kumuh di bawah situasi yang menyedihkan. Pihak perusahaan menolak desakan untuk memperbaiki taraf hidup pegawainya sendiri. Pasca Perang Dunia II, politisi Iran berupaya menegosiasikan ulang kontrak kerja dengan AIOC. Namun upaya tersebut kandas

Kisah CIA Menjarah Demokrasi di Iran

Gebrakan Maut Perdana Menteri Pilihan

"Nasionalisasi atau mati!" Pada 1951 Mohammed Mossadegh yang baru menjadi perdana menteri memerintahkan nasionalisasi AIOC. Sebagai reaksi, Inggris memulangkan semua tenaga ahli perminyakan dari Iran dan menjatuhkan sanksi berupa embargo minyak. Selama dua tahun berikutnya, "Krisis Abadan" nyaris menyeret Iran ke jurang kebangkrutan.

Kisah CIA Menjarah Demokrasi di Iran

Ambivalensi Amerika Serikat

Inggris lalu meminta bantuan Amerika Serikat. Permintaan tersebut awalnya ditolak oleh Presiden Harry S. Truman. Meski bersekutu dengan London, sang presiden juga menaruh simpati pada Mossadegh dan meyakini hanya Iran yang independen dan kuat secara ekonomi yang mampu menghalau pengaruh Komunisme Uni Soviet.

Kisah CIA Menjarah Demokrasi di Iran

Stabilitas di Ujung Tombak

Namun begitu krisis ekonomi Iran mulai berdampak pada dinamika politik di dalam negeri. Perlahan kelompok radikal seperti Partai Tudeh yang berhaluan Komunis mulai bermunculan. Dalam berbagai demonstrasi, partai tersebut menuntut pengusiran perusahaan AS dan Inggris agar bisa menginduk pada Moskow.

Kisah CIA Menjarah Demokrasi di Iran

Suratan Takdir Lewat Dua Pemilu

Dua pemilu mengubah segalanya: kekuasaan Winston Churchill berlanjut pada akhir 1951 dan Dwight D. Eisenhower menggeser Truman di Washington setahun setelahnya. Churchill secara lihai meyakinkan AS terhadap potensi revolusi komunis di Iran. Eisenhower yang sebelumnya bekerja di dinas rahasia selama Perang Dunia II, sepakat melibatkan CIA untuk menjatuhkan Mossadegh.

Kisah CIA Menjarah Demokrasi di Iran

Awal Kejatuhan Mossadegh

"Operasi Ajax" dimulai pada bulan Juli 1953. Seorang agen CIA, Kermit Roosevelt, dikirim ke Iran untuk meyakinkan Syah Reza Pahlevi agar memecat Mossadegh dan memilih Jendral Fazlollah Zahedi (ka.) sebagai perdana menteri baru. Nantinya seorang kurir akan membawa surat pemecatan kepada Mossadegh. Dia sendiri direncanakan akan ditempatkan dalam status tahanan rumah.

Kisah CIA Menjarah Demokrasi di Iran

Teheran Berdarah

Pada waktu yang bersamaan, CIA menciptakan huru-hara di Teheran. Dinas Rahasia AS itu menyogok politisi, ulama, jurnalis dan buruh untuk melawan Mossadegh dan pendukungnya. CIA tidak peduli siapa yang akan memenangkan pertarungan jalanan. Yang terpenting buat AS adalah menempatkan Syah Reza sebagai juru selamat yang mengembalikan keamanan dan ketertiban ke jalan-jalan ibukota.

Kisah CIA Menjarah Demokrasi di Iran

Pelarian Reza ke Roma

Upaya kudeta pertama pada 15 Agustus 1953 mengalami kegagalan. Mossadegh yang sudah mencium rencana tersebut memerintahkan penangkapan terhadap sejumlah perwira tinggi militer dan menjanjikan uang untuk siapapun yang membantu menangkap Jendral Zahedi. Ketika sang jendral bersembunyi, Syah Reza melarikan diri ke Baghdad lalu ke Roma.

Kisah CIA Menjarah Demokrasi di Iran

Kemenangan Semu Mossadegh

Merasa sudah menang, tiga hari usai kudeta Mossadegh memerintahkan pendukungnya untuk berdiam di rumah dan mencegah eskalasi kekerasan di Teheran. Dia meyakini Syah Reza berkomplot dengan Inggris untuk menjatuhkannya. Namun Mossadegh tidak mengetahui keterlibatan CIA dan tidak menyangka akan adanya upaya kudeta kedua.

Kisah CIA Menjarah Demokrasi di Iran

Manuver Gelap Sulut Kerusuhan

Pada 19 Agustus agen CIA Roosevelt menyulut demonstrasi massal di Teheran dengan membayar sekelompok orang agar menyamar sebagai pendukung partai komunis. Mereka mengajak simpatisan Partai Tudeh lain untuk bergabung dan menghancurkan segala sesuatu yang melambangkan kapitalisme. Penduduk Teheran yang marah lalu membuat demonstrasi tandingan di hari yang sama.

Kisah CIA Menjarah Demokrasi di Iran

Bola Salju Oposisi

Tanpa perlawanan dari pendukung Mossadegh, para demonstran membanjiri jalan ibukota menuntut kepulangan Syah. Popularitas Mossadegh mulai runtuh menyusul krisis ekonomi. Pada akhirnya banyak perwira kepolisian dan militer yang bergabung dengan kelompok oposisi sokongan CIA.

Kisah CIA Menjarah Demokrasi di Iran

Zahadi Kembali dengan Tank

Pada hari yang sama Jendral Zahadi memerintahkan pasukannya memasuki Teheran dengan kendaraan lapis baja. Massa yang mendapat angin menyerbu rumah Mossadegh hingga tercipta pertempuran dengan pendukung perdana menteri. 200 orang meninggal dunia pada hari itu. Mossadegh mencoba melarikan diri dari rumahnya. Dia lalu menyerahkan diri ke militer lima hari kemudian.

Kisah CIA Menjarah Demokrasi di Iran

Kepulangan Syah Reza Pahlevi

Atas restu Washington, Syah Reza pulang dari Roma pada 22 Agustus. Di Teheran dia membentuk pemerintahan militer yang otoriter. Dengan bantuan AS pula dia membangun dinas kepolisian rahasia, SAVAK. Syah Reza juga mencabut kebijakan nasionalisasi perusahaan minyak. Pada akhirnya hampir separuh konsesi perminyakan berpindah dari tangan Inggris ke perusahaan AS.

Kisah CIA Menjarah Demokrasi di Iran

Akhir Pahit Mossadegh

Mossadegh yang menjalani masa tahanan didakwa dengan tuduhan pengkhianatan dan divonis tiga tahun penjara. Usai bebas pada Desember 1956 dia mengurung diri di kediaman pribadinya di Ahmad Abad, di bawah pengawasan SAVAK. Mossadegh tidak lagi diizinkan keluar rumah atau desanya sendiri. Dia meninggal dunia pada 5 Maret 1967. (rzn/ap)


Ikuti kami