Advokat HAM Papua Tuntut Pembebasan Tiga Aktivis KNPB

Kelompok HAM menuntut pembebasan tiga aktivis Komite Nasional Papua Barat (KNPB) yang masih ditahan kepolisian. Mereka menuding penangkapan oleh kepolisian Mimika inkonstitusional dan melanggar prosedur KUHAP.

Gabungan sejumlah LSM HAM Papua dan gereja yang menamakan diri "Koalisi Penegakan Hukum dan HAM untuk Papua" mendaftarkan gugatan praperadilan ke Pengadilan Negeri Kota Timika menyusul penangkapan terhadap tiga aktivis Komite Nasional Papua Barat (KNPB) oleh kepolisian.

"Karena penangkapan tersebut tidak sesuai dengan prosedur KUHAP," kata Pengacara KNPB Veronica Koman saat dihubungi Deutsche Welle.

Gugatan ini berpangkal pada penggeledahan dan penyitaan kantor sekretariat KNPB di Mimika pada 31 Desember silam. Pada 5 Januari kepolisian ikut menahan Yanto Awerkion, Sem Asso dan Edo Dogopia. Adapun LSM yang terlibat menggugat Kapolres Mimika adalah Perkumpulan Adkokat HAM Papua (PAHAM), LBH Papua dan KPKC Sinode GKI.

Baca juga: Isu HAM Bakal Sudutkan Kedua Paslon Pada Debat Capres

Mereka menuntut Polres Mimika untuk segera melepaskan tiga orang yang dijadikan tersangka makar "secara tidak sah, membayar ganti rugi materiil sebesar Rp. 126.538.000, segera mengosongkan sekretariat KNPB Timika yang telah disita secara tidak sah," tulis koalisi tersebut dalam keterangan pers-nya yang diterima DW.

Dalam pernyataan tersebut Koalisi Penegakan Hukum dan HAM untuk Papua meminta kepolisian meminta maaf secara terbuka kepada KNPB lewat media massa di Kabupaten Mimika dan Provinsi Papua selama tiga hari berturut-turut.

Live
00:44 menit
Indonesia | 15.01.2019

Warga Polandia Didakwa Makar di Papua Terancam Bui Seumur ...

"Kepolisian harus minta maaf karena sebagai aparat penegak hukum kok malah melakukan tindakan-tindakan tak berdasar hukum seolah-olah kita ini bukan negara hukum," kata Veronica lagi.

Koalisi HAM Papua mengaku gugatan praperadilan dilayangkan buat "memulihkan harkat dan martabat" KNPB lantaran telah "dilanggar secara inkonstitusional" oleh Polres Mimika.

"Pengenaan pasal makar pada orang yang hanya berencana melakukan acara ibadah dan adat 'bakar batu' juga adalah bentuk penghinaan terhadap agama yang dianut dan budayanya."

Baca juga: KNPB Sebut Polri Rampas Tanah Rakyat Papua

Koalisi HAM Papua bukan satu-satunya yang menuntut pembebasan para aktivis. Baru-baru ini Amnesty Internasional juga mendesak kepolisian agar membatalkan dakwaan terhadap ketiga simpatisan KNPB.

Amnesty mencatat ketiganya ditangkap "hanya karena menyuarakan kebebasan berkumpul dan berekspresi." Yanto Awerkion, Sem Asso dan Edo Dogopia kini terancam pidana makar dan hukuman penjara seumur hidup.

"Kepolisian mendakwanya di bawah aturan represif karena merencanakan dan mengorganisir kegiatan ibadah," tulis Amnesty.

rzn/hp (ap, knpb, kompas)

Mahasiswi asal Papua, Calon Pakar Laser

Dari Biak ke Münster

Berasal dari Biak, Papua, Dolfina telah berada lima tahun di Jerman untuk menuntut ilmu. Ia terdaftar sebagai mahasiswi di jurusan Teknik Laser, Fachhochschule (FH) Münster.

Mahasiswi asal Papua, Calon Pakar Laser

Satu-satunya mahasiswi asing

Jurusan Teknik Laser FH Münster didominasi oleh mahasiswa pria. Di antara teman-teman satu angkatannya yang berjumlah sekitar 30 orang, Dolfina adalah satu dari tiga mahasiswa perempuan dan satu-satunya mahasiswi non-Jerman.

Mahasiswi asal Papua, Calon Pakar Laser

Dari benci menjadi cinta

Kecintaan awal Dolfina terhadap teknik berawal dari kebenciannya terhadap fisika. Namun rasa bencinya justru berubah menjadi rasa penasaran untuk mendalami bidang ini sampai akhirnya ia memutuskan untuk kuliah di jurusan teknik.

Mahasiswi asal Papua, Calon Pakar Laser

Demi masa depan

Kuliah teknik di Jerman tentu tidak mudah. Namun prospek kerja setelah lulus cukup menjanjikan. Oleh karena itu, meskipun kuliahnya sangat sulit, Dolfina tetap bertahan di jurusan ini dan berjuang untuk bisa segera menyelesaikan skripsinya.

Mahasiswi asal Papua, Calon Pakar Laser

Dari ruang kelas ke "Selbstlernbereich"

Kuliah yang tidak mudah tentu harus diimbangi dengan belajar dengan giat. Setelah selesai kuliah, biasanya Dolfina mengulang pelajaran di area Selbstlernbereich (ruangan dimana mahasiswa bisa belajar sendiri atau berkelompok). Di foto, Dolfina sedang menjelaskan suatu topik ke Muhamad Yunus, mahasiswa asal Subang, yang juga kuliah di jurusan Teknik Laser, FH Münster.

Mahasiswi asal Papua, Calon Pakar Laser

Tulisan di lempeng besi

Gambar di foto adalah salah satu contoh penerapan teknik laser. Dolfina mencetak tulisan dan pola di atas lempengan besi. Ini adalah hasil dari kegiatan praktik di kampus.

Mahasiswi asal Papua, Calon Pakar Laser

Penerapan teknik laser

Selain di lempengan besi, tulisan juga bisa dicetak di pulpen dengan teknologi laser. Masih banyak lagi bidang dalam kehidupan sehari-hari yang menggunakan teknologi laser, seperti misalnya penggunaan pointer presentasi, operasi mata (lasik) atau perawatan kecantikan.

Mahasiswi asal Papua, Calon Pakar Laser

Aktif di PPI

Dolfina aktif di organisasi Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Münster. Bersama dengan pengurus PPI Münster (ki-ka: Redo, Wira, Ayas) ia seringkali bertemu usai jam kuliah untuk membahas kegiatan yang diselenggarakan organisasi pelajar ini.

Ikuti kami