1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Afganistan Kembali ke Pangkuan Taliban?

16 April 2021

Presiden Joe Biden mengumumkan penarikan mundur tanpa syarat militer AS di Afganistan pada 11 September mendatang. Editor senior DW, Shamil Shams, menganalisa dampaknya bagi negeri yang bakal dikuasai Taliban itu.

https://p.dw.com/p/3s45G
Seorang bocah melintasi mural yang menggambarkan Zalmay Khalilzad (ki,), utusan damai dari Washington dan Mullah Abdul Ghani Barada (ka.) kepala delegasi Taliabn, Kabul, 05.05.2020.
Seorang bocah melintasi mural yang menggambarkan Zalmay Khalilzad (ki,), utusan damai dari Washington dan Mullah Abdul Ghani Barada (ka.) kepala delegasi Taliabn, Kabul, 05.05.2020.Foto: picture-alliance/AP Photo/R. Gul

Setelah hampir dua dekade bertempur melawan Taliban di Afganistan, Amerika Serikat bersiap hengkang untuk membuka jalan bagi terbentuknya pemerintahan bersatu. Selambatnya 11 September Mei 2021, begitu kata Presiden Joe Biden, AS akan mulai menarik mundur semua pasukannya di Afganistan.

Rencana penarikan mundur militer AS tidak digantungkan pada situasi di lapangan – kendati kekhawatiran yang meruak perihal kembalinya Taliban.

"Presiden Biden menyimpulkan, pendekatan berbasis kondisi yang digunakan selama dua dekade ini, adalah resep untuk bertahan selamanya di Afganistan,” kata seorang pejabat tinggi pemerintah di Washington yang minta namanya dirahasiakan, Selasa (13/4). 

Jerman akan mengikuti langkah AS dan memulangkan pasukannya dari Afganistan, kata Menteri Pertahanan Annegret Kramp-Karrenbauer dalam sebuah wawancara, Rabu (14/5).

"Kami selalu mengatakan bahwa kita masuk dan keluar sama-sama,” katanya kepada stasiun televisi ARD. "Saya mendukung penarikan mundur yang tertib.” 

Bekas Presiden AS, Donald Trump, sedianya menegaskan tanggal 1 Mei sebagai tenggat penarikan mundur militer. Tapi Biden menunda selama lima bulan.

Keputusan total Biden mengejutkan banyak pengamat, yang berharap pemerintahan baru AS akan meralat kebijakan Trump di Afganistan yang diyakini ikut membesarkan Taliban

Kemenangan bagi Taliban?

Intensitas serangan berdarah di Afganistan menguat sejak ratifikasi perjanjian damai antara AS dan Taliban di Doha, Qatar, Februari 2020. Taliban menepis tuduhan terlibat dalam serangan-serangan tersebut. Tapi keengganan mereka menyepakati gencatan senjata secara nasional mencuatkan keraguan.

Para talib yang saat ini kian berkuasa juga menolak menghadiri konferensi damai di Turki, sampai semua militer asing angkat kaki dari Afganistan. 

"Hasil konferensi Afganistan di Turki nanti akan ditentukan oleh bagaimana penarikan mundur pasukan AS akan berdampak pada masa depan negara ini,” kata Mohammad Shafiq Hamdam, seorang pengamat keamanan di Kabul.

Menurutnya, jika Konferensi Istanbul berhasil menyepakati sebuah pemerintahan persatuan nasional, maka dampak buruk penarikan mundur militer AS akan lebih mudah ditanggulangi. "Tapi jika konferensi gagal, dan Taliban ngotot menolak damai, saya khawatir Afganistan akan mengalami perang saudara besar-besaran.”

Keputusan mundur AS juga akan menempatkan pemerintahan Presiden Ashraf Ghani di bawah ampunan Taliban. Belum lama ini dinas rahasia AS merilis laporan yang menyimpulkan militer Afganistan akan "kewalahan” melawan Taliban yang kian "percaya diri.”

Laporan itu mencatat betapa Taliban "sepenuhnya yakin akan mampu membukukan kemenangan militer.”

"Pasukan Afganistan masih menguasai kota-kota besar dan benteng pemerintah lain, tapi mereka semakin terdesak dan kesulitan mempertahankan wilayah yang direbut, atau mendirikan pos pertahanan di wilayah yang ditinggalkan pada 2020,” demikian laporan CIA.

Analis keamanan, Hamdam, mengatakan pasukan pemerintah Afganistan "bergantung secara finansial dan militer kepada AS, dan tanpa dukungan ini, mereka akan berada dalam posisi sulit.”

Taliban bukan satu-satunya ancaman keamanan bagi pasukan Afghan. Kelompok militan lain, seperti Islamic State (ISIS), juga mulai melebarkan sayap.

"Taliban saat ini jauh lebih kuat ketimbang sebelumnya,” kata Raihana Azad, anggota parlemen Afganistan. 

"ISIS dan kelompok teroris lain juga sudah memperluas pengaruhnya di Afganistan. Sebab itu konsekuensi dari penarikan mundur dari Afganistan yang tergesa-gesa dan tidak bertanggungjawab, bisa sangat berbahaya tidak hanya bagi Afganistan, tapi juga buat kawasan dan dunia,” imbuhnya kepada DW.

‘Bukan alasan untuk perang'

Saat ini kekhawatiran terbesar menyangkut pencapaian selama dua dekade, terutama dalam hak perempuan, yang terancam hilang ketika Taliban melancarkan gelombang baru pertumpahan darah. Tidak jelas bagaimana Taliban ingin menjamin perlindungan HAM dan kebebasan berpendapat di Afganistan

"AS membuat terlampau banyak konsesi kepada Taliban. Warga Afganistan akan harus membayar ongkosnya. Mereka merasa ditinggalkan oleh komunitas internasional,” tutur Azad, anggota dewan.

Meski begitu, sebagian pakar meyakini penarikan mundur militer AS turut menempatkan Taliban dalam posisi sulit. "Dengan mengumumkan penarikan mundur tanpa syarat, AS menerima tuntutan utama Taliban. Sekarang dunia internasional menunggu Taliban bergabung dalam proses politik. Tidak ada lagi alasan mengobarkan perang,” kata Asadullah Nadim, pakar militer di Kabul kepada DW.

Peran yang lebih besar bagi Pakistan?

Keputusan Biden juga menguntungkan kekuatan regional lain, yang mengincar pengaruh yang lebih besar di Afganistan. Pakistan, India, Cina dan Rusia memiliki kepentingan strategisnya sendiri, yang akan lebih mudah dipertahankan tanpa keberadaan pasukan AS di Afganistan.

Menteri Luar Negeri Pakistan, Shah Mahmodd Qureshi, mengatakan kepada DW bahwa Islamabad tetap memainkan peranan penting dalam proses perdamaian di negara jiran. "Pakistan akan diuntungkan oleh perdamaian di Afganistan,” kata dia.

"Perdamaian ini akan membuka perdagangan yang lebih deras dengan Kabul, dan banyak proyek pembangunan yang ditunda kini bisa dilanjutkan kembali,” imbuhnya.

Pakistan berebut pengaruh dengan India di Afganistan, terutama sejak invasi AS pada 2001 silam. 

Pakar mengatakan, perjanjian damai 2020 antara Taliban dan AS mustahil terwujud tanpa dukungan Pakistan. Pemerintah Islamabad memiliki pengaruh yang luas di kalangan Taliban, dan memainkan peran besar dalam membujuk pemberontak Islamis itu ke meja perundingan.

Pakistan menginginkan peran yang lebih besar bagi Taliban di dalam pemerintahan baru Afganistan. Kepentingan nasionalnya akan lebih terjamin dengan kekuasaan Taliban di negara jiran. Tapi hal ini tidak menjamin perdamaian di Afganistan. (rzn/vlz) 

Shamil Shams
Shamil Shams Penulis isu seputar konflik di Afganistan dan Pakistan, dan Asia Selatan.@ImamShamil