Aktivitas Anak Krakatau Terus Meningkat

Tonton video 01:16
Live
01:16 menit
Gunung api Anak Krakatau terus menggeliat muntahkan material panas. Kemungkinan longsoran material dari lereng gunung atau di bawah laut tetap mengancam dan bisa memicu tsunami baru. Statusnya kini dinaikan ke level Siaga III dan zona berbahaya diperluas hingga radius 5km.
Alam dan Lingkungan

Krakatau Menjemput Matahari

Sekitar 47 tahun setelah gunung Krakatau meletus dan menghilang ditelan ledakan dahsyat pada 1883, bongkahan lava menyeruak ke atas permukaan laut Selat Sunda. Ia mengering dan membentuk kubah kecil. Pada tahun 1930 itu Krakatau kembali menyapa matahari. Penduduk menamainya Anak Krakatau.

Alam dan Lingkungan

Gerbang Menuju Perut Bumi

Sejak dekade 1950an, gunung api berusia muda ini tumbuh pesat, mencapai 13cm per pekan atau mencapai tujuh meter per tahun. Penyebabnya adalah geliat magma yang tak henti-henti di perut Bumi. Karena Krakatau terletak di atas zona subduksi yang ketika aktif melumerkan batuan menjadi lava. Fenomena inilah yang memompa pertumbuhan Anak Krakatau.

Alam dan Lingkungan

Erupsi Tak Henti-henti

Sejak 1950an, Anak Krakatau meletus dalam rentang satu hingga maksimal dua tahun. Hanya antara 1988-1992 dan 2001-2007 gunung api yang kini mencapai ketinggian 300an meter di atas permukaan laut tersebut membisu untuk waktu yang relatif panjang. Sejak 2015 Anak Krakatau kembali memasuki periode aktif.

Alam dan Lingkungan

Kejutan Muram di Akhir Tahun

Ilmuwan sempat meyakini Anak Krakatau hanya akan kembali mengancam jika mencapai ketinggian serupa sang ibu, yakni 800an meter di atas permukaan laut. Namun erupsi pada 22 Desember 2018 tercatat sebagai yang paling mematikan dalam sejarah Anak Krakatau.

Alam dan Lingkungan

Maut Mengintai di Pinggir Laut

Serupa seperti letusan Krakatau pada 1883, geliat vulkanik Anak Krakatau menciptakan gelombang tsunami yang menewaskan hampir 500 orang di Banten dan Lampung. Gelombang air itu tercipta ketika punggung gunung seluas 44 hektar amblas ke dalam laut. Erupsi yang terjadi secara terus menerus memicu kekhawatiran terhadap tsunami lanjutan di Selat Sunda. (rzn/ap: dari berbagai sumber)