1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Laki-Laki Berkampanye Menentang Kekerasan Terhadap Perempuan

1 November 2016

Kelompok Aliansi Laki-Laki Baru (ALB) di Indonesia ingin mengajak laki-laki terlibat dalam upaya penghentian kekerasan terhadap perempuan. Banyak perempuan mengalami kekerasan justru dari pasangannya.

https://p.dw.com/p/2RyuM
Aktion der Gruppe  Männer gegen Gewalt
Foto: DW/R.Annisa

Syaldi Sahude ingat bagaimana dia delapan tahun lalu menemukan sebuah studi yang menyatakan bahwa 85 persen perempuan Indonesia yang mengalami kekerasan rumah tangga tetap mempertahankan hubungan itu.

Karena kaget, dia lalu membicarakan hal itu dengan teman-temannya untuk mencari penjelasan.

"Ada gerakan pemberdayaan perempuan, bantuan hukum dan program trauma bagi perempuan korban kekerasan, tetapi akar penyebabnya adalah laki-laki," kata Syaldi, yang ketika itu bekerja di kelompok yang memperjuangkan hak asasi perempuan.

Dari diskusi teman-teman aktivis, setahun kemudian mereka mendirikan kelompok kampanye Aliansi Laki-laki Baru. Misi kampanye para pria ini adalah untuk menghapuskan kekerasan terhadap perempuan - dan artinya menentang sesuatu yang telah mengakar dan sering tersembunyi dalam masyarakat patriarkal Indonesia.

Melalui kampanye online dan aksi-aksi publik, diskusi dan konseling yang ditargetkan pada laki-laki, mereka mencoba mengungkapkan kesalahpahaman tentang maskulinitas. Mereka membahas dan memberikan materi tentang identitas seksual, perkosaan dan pembiaran.

Aktion der Gruppe  Männer gegen Gewalt
Aksi kelompok Aliansi Laki-Laki Baru (ALB) menentang kekerasan terhadap perempuanFoto: DW/R.Annisa

Kegiatan mereka juga terbuka untuk perempuan, tapi target utamanya adalah laki-laki dewasa dan anak laki-laki, kelompok-kelompok sulit dicaüai oleh pegiat hak-hak perempuan, kata Syaldi.

"Banyak lelaki Indonesia yang masih berpikir perempuan tidak punya hak untuk memberitahu lelaki ini dan itu, mereka menganggap perempuan lebih rendah dari lelaki," kata dia.

Kekerasan terhadap perempuan jadi pemberitaan gencar di Indonesia tahun ini setelah terjadi pembunuhan brutal seorang siswi oleh sekelompok lelaki. Akhirnya pemerintah Indonesia memperkenalkan hukuman yang lebih keras untuk pelaku kejahatan seksual, termasuk pengebirian kimia.

Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mengatakan, kasus kekerasan terhadap perempuan telah meningkat di Indonesia, meskipun skala sebenarnya tetap sulit untuk diukur. Tahun 2015 ada lebih 321 ribu kasus, termasuk kekerasan seksual dan kekerasan dalam rumah tangga. Angka ini tiga kali lebih tinggi dibandingkan tahun 2010, dengan sekitar 105 ribu kasus.

Komnas Perempuan menerangkankan, statistik itu disusun terutama didasarkan pada pengaduan yang diajukan di pengadilan agama. Angka-angka itu diduga hanya puncak gunung es saja, karena banyak perempuan kekurangan sumber daya, atau terlalu takut, untuk melaporkan kekerasan yang dialaminya.

Buenos Aires Demonstration gegen die Gewalt gegen Frauen
Aksi kelompok perempuan di Argentina menentang kekerasan terhadap perempuanFoto: picture-alliance/AP Photo/V. R. Caviano

Sebuah jajak pendapat nasional yang dilakukan secara online bulan Juli lalu menunjukkan,  90 persen kasus perkosaan tidak dilaporkan oleh perempuan. Para aktivis menunjuk pada stigma sosial, yang membuat banyak perempuan enggan melaporkan kasusnya kepada pihak berwenang.

Syaldi Sahude mengatakan, stigma korban akibat pelecehan seksual itulah yang ingin diatasi oleh ALB. Seorang pejabat senior pemerintahan misalnya pernah mengeritik perempuan yang mengenakan rok pendek, sebagai alasan mengapa banyak aksus perkosaan perempuan.

"Terlalu sering cara berpakaian perempuan, atau cara mereka berperilaku, yang disorot" kata dia.

Sebuah 2013 studi Perserikatan Bangsa-Bangsa yang dilakukan di Asia menunjukkan, hampir setengah dari 10.000 pria yang diwawancarai di enam negara - termasuk Indonesia - mengaku telah menggunakan kekerasan fisik atau seksual terhadap pasangan perempuannya. Sementara hampir seperempat pria itu menyatakan sudah pernah memperkosa seorang perempuan atau anak gadis.

Studi itu menemukan, kecenderungan kekerasan seksual adalah umum terjadi dalam sebuah budaya, di mana ketangguhan seorang lelalki dirayakan, sehingga lelaki merasa punya hak seksual atas perempuan.

Risya Kori, ahli kesetaraan gender dari UN Population Fund, yang ikut membiayai studi 2013 itu mengatakan, melibatkan laki-laki dalam upaya mengakhiri kekerasan terhadap perempuan akan puna dampak positif.

Inisiatif Aliansi Laki-Laki Baru adalah salah satu dari banyak prakarsa di seluruh dunia yang ditujukan untuk