1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Sosial

Anak Rewel dan Bikin Sibuk? Beri Saja Handphone

Uly Siregar
23 Juli 2018

Anak-anak rewel? Berikan saja handphone, pasti mereka sibuk sendiri. Sebal melihat rumah berantakan karena mainan anak-anak berserakan di lantai? Gadget jadi jawabannya? Baca opini Uly Siregar.

https://p.dw.com/p/31Pd5
Symbolbild - Baby mit IPad
Foto: colourbox

Tahun 2007, saat Bill Gates mengaku ia membatasi penggunaan gawai (gadget) pada anaknya, para orang tua yang riang gembira membelikan gawai untuk menyenangkan hati anak-anaknya—termasuk saya—tersentak. Apa yang salah dengan gawai?

Kekhawatiran akan pengaruh buruk gawai pun makin nyata ketika mendiang Steve Jobs mengeluarkan pernyataan yang hampir mirip. Ia melarang anak-anaknya menggunakan iPad yang waktu itu baru saja dirilis. Sebagai orang tua ia memiliki aturan ketat soal teknologi dan membatasi penggunaannya bagi anak-anak.

Penulis: Uly Siregar
Penulis: Uly SiregarFoto: Uly Siregar

Ketergantungan pada gawai tak hanya melanda orang dewasa. Anak-anak pun sekarang memiliki ketergantungan yang tinggi. Tak hanya untuk bermain game, gawai pun menjadi andalan anak-anak untuk menonton video-video lucu di YouTube.

Anak-anak saya tergila-gila menonton Stampy Cat, karakter yang diperankan oleh Joseph Garrett, komentator YouTube asal Inggris yang bicara tentang game Minecraft. Setiap akhir pekan, anak-anak saya rajin memelototi layar ponsel (telepon selular) untuk menonton Stampy Cat. Jangan tanya berapa lama waktu yang mereka bisa habiskan kalau dibiarkan menonton video-video di YouTube, dari video lucu berisi binatang-binatang yang menggemaskan hingga video-video DIY (do-it-yourself) yang mengajarkan trik-trik praktis yang berguna.

Ponsel, tablet, hingga komputer adalah benda-benda berteknologi tinggi yang kini akrab dengan anak-anak. Begitu akrabnya mereka, hingga dalam beberapa hal gawai menjadi pemenang. Anak-anak saya lebih dulu piawai mengoperasikan iPad daripada mengikat tali sepatu mereka. Mereka lebih dulu pandai berhadapan dengan layar sentuh di iPhone terbaru daripada mengendarai sepeda roda dua. Dengan iPad mereka bisa menggambar dengan indah dan hebat mewarnai. Padahal dengan kertas dan pinsil warna hasilnya tak sedahsyat di layar tablet. Mereka juga piawai membangun rumah beserta dekorasinya, bahkan membangun kota. Semua dilakukan dengan gawai.

Lantas apa sih yang membuat gawai menjadi semacam kutukan?

Salah satu efek gawai yang paling destruktif adalah kecanduan. Kecanduan bermain gawai ini dapat mempengaruhi respons visual anak-anak. Mereka hanya bisa terstimulasi dengan gawai yang memiliki visual pergerakan cepat. Akibatnya ketika berinteraksi dengan stimulasi yang tak bergerak secepat gawai—misalnya kegiatan belajar di sekolah—anak-anak akan cepat bosan. Bila ini terjadi, jangan heran kalau prestasi akademik anak pun menurun.

Kecanduan gawai juga membuat anak cenderung mengisolasi diri, melemahkan kemampuan anak-anak dalam berinteraksi sosial. Mereka lebih nyaman bermain dengan gawai daripada bermain bersama teman-temannya. Bermain dengan gawai lebih mudah karena mereka bermain sendirian maka potensi konflik nyaris tak ada dibandingkan dengan berinteraksi dengan teman-teman. Kalaupun ada interaksi di dunia maya, tak senyata seperti berhadapan langsung dengan teman-teman.

Lebih jauh lagi, kecanduan gawai juga membuat anak-anak malas menjalani aktivitas yang membutuhkan pergerakan fisik. Lebih menyenangkan main gawai daripada berpayah-payah les piano, misalnya. Lagipuladengan gawai pun mereka bisa menjelma menjadi musisi jadi-jadian. Daripada kedinginan berlatih gaya kupu-kupu di klub renang pagi-pagi, lebih enak main gawai. Toh aktivitas "olahraga” bisa dilakukan dengan gawai lewat banyaknya permainan, termasuk yang mengusung tema olahraga.

Ada banyak lagi dampak buruk gawai pada anak-anak selain beberapa yang disebutkan di atas. Efek buruk itu saling berkaitan satu sama lain. Malas bergerak karena kecanduan gawai mengakibatkan anak-anak rentan terhadap serangan obesitas. Bila dibiarkan, anak yang obesitas akan terus mengalaminya hingga dewasa. Akibatnya akan muncul pula risiko penyakit mematikan seperti diabetes, stroke, jantung, penyumbatan pembuluh darah.

Bagi orang tua, kecanduan gawai pada anak bukan kekhawatiran yang tak beralasan. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bahkan dikabarkan membuka layanan pengaduan terkait kecanduan gawai. Permasalahan gawai pada anak ini makin pelik dengan adanya kejahatan siber (cyber crime) yang menyasar anak-anak. Tugas orang tua pun berlipat-lipat untuk mengawasi dan memastikan anak-anak agar bebas dari pornografi dan konten lainnya yang tak layak untuk dikonsumsi anak-anak.

Melihat begitu banyak efek negatif yang ditimbulkan gawai, mengapa pula orangtua ngotot memberikan gawai pada anak-anak? Jawabannya mungkin karena gawai membikin urusan mengurus anak menjadi lebih mudah. Anak-anak rewel? Berikan saja gawai, pasti mereka sibuk sendiri. Sebal melihat rumah berantakan karena mainan anak-anak berserakan di lantai? Gawai jawabannya. Anak-anak tak lagi melirik boneka Barbie atau usil memberantaki peralatan dapur. Singkatnya, gawai sesungguhnya bisa menjelma menjadi semacam pengasuh bagi anak-anak, membuat mereka sibuk, dan memberi waktu bagi orangtua untuk sedikit bernafas.

Gawai juga tak melulu berdampak buruk. Berbagai aplikasi yang ada di ponsel membantu anak-anak menjadi lebih cepat melek literasi digital. Kemampuan literasi digital ini tentu saja merupakan kebutuhan di era digital. Lagipula, bila orangtua memaksa menghilangkan akses anak-anak pada gawai, dikhawatirkan anak-anak akan kehilangan kemampuan untuk tumbuh dengan keahlian memahami teknologi digital. Bila itu terjadi, anak-anak akan tumbuh menjadi generasi yang terbelakang dalam teknologi digital, dan nantinya sulit berkompetisi dengan mereka yang melek teknologi digital.

Lantas, apa yang harus dilakukan orangtua?

 Selain memilihkan aplikasi-aplikasi edukasi yang berguna bagi anak-anak, sangatlah penting untuk membatasi waktu penggunaan gawai. Kebijakan yang saya terapkan pada anak-anak dalam menggunakan gawai cukup sederhana: gawai hanya boleh digunakan saat akhir pekan, dengan pengecualian komputer bisa digunakan di hari-hari sekolah bila ada tugas sekolah yang membutuhkannya. Keleluasaan menggunakan gawai juga berlaku saat sekolah libur, atau saat sedang bepergian jauh, misalnya saat di pesawat berjam-jam dalam perjalanan dari Los Angeles ke Jakarta.

Buat saya gawai adalah kemudahan, rekreasi, dan distraksi. Ia memudahkan waktu berlalu dengan cepat, menghibur saat bosan menunggu, mengisi kekosongan saat macet di jalan raya. Namun tak sepantasnya gawai mendominasi, apalagi mendominasi anak-anak. Cukuplah persinggungan dengan gawai saat jam kerja, tak perlu lagi dilanjutkan di rumah. Berikan perhatian pada anak-anak, ajak mereka bicara dan bermain tanpa melibatkan layar ponsel, tablet, atau komputer. Contohlah pendekatan yang dilakukan Steve Jobs, seperti yang dipaparkan Walter Isaacson dalam buku biografinya. Setiap malam, Steve Jobs makan malam di meja makan yang panjang di dapur bersama keluarganya. Mereka mendiskusikan buku, sejarah, dan hal-hal lainnya. Gawai tak mendapat saat keluarga berkumpul dan berinteraksi satu sama lain.

Bagaimana dengan Anda? Jangan biarkan anak-anak Anda menundukkan wajah ke gawai, lupa berkomunikasi pada Anda yang juga sibuk menatap ponsel sambil tersenyum menanggapi celotehan tak penting dari orang-orang di grup Whatsapp yang jaraknya berpuluh, beratus, bahkan beribu kilometer. Percayalah, bila Anda sebagai orangtua mendedikasikan waktu pada anak-anak untuk berinteraksi secara intim, sehebat apapun atraksi yang ditawarkan gawai, mereka akan lebih memilih Anda.

@sheknowshoney

Uly Siregar bekerja sebagai wartawan media cetak dan televisi sebelum pindah ke Arizona, Amerika Serikat. Sampai sekarang ia masih aktif menulis, dan tulisan-tulisannya dipublikasikan di berbagai media massa Indonesia.

*Setiap tulisan yang dimuat dalam #DWNesia menjadi tanggung jawab penulis.

Anda dapat berbagi opini di kolom komentar di bawah...