1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Anak SD di Berlin: “Membatik itu Keren”

22 Maret 2019

Siswa sekolah dasar di Bornholmer Pankow, Berlin belajar dua jenis teknik membatik. Bagi mereka, membatik ternyata lebih seru daripada menggambar dan mewarnai di atas kertas.

https://p.dw.com/p/3FUGq
Batik ist Spitze
Foto: KBRI Berlin

Menjadi bagian dari promosi budaya Indonesia, kali ini batik sang Warisan Dunia yang menyapa publik Jerman. Uniknya, promosi budaya ini ditujukkan ke siswa sekolah dasar. Siswa kelas empat SD Bornholmer Pankow, Berlin untuk pertama kalinya belajar membatik, Kamis (21/03) lalu.

Ada dua jenis teknik membatik yang digunakan kali ini yakni teknik jumputan dan teknik canting.

"Batik jumputan sangat keren," ujar Cloe, salah seorang siswa. Cloe sangat terkesan dengan hasil dari teknik melipat, mengikat dan mewarnai pada jumputan, "hasil jadinya lucu-lucu dan bagus," tambahnya.

Batik ist Spitze
Siswa SD di Berlin asyik membatik sapu tangan dengan teknik cantingFoto: KBRI Berlin

Selama proses membatik, siswa didampingi dua orang instruktur, yakni Muhamad Nauval dari Sanggar Batik Komar dan Epi Gunawan dari Barli Art Studio. Ketekunan mereka membuahkan hasil, sapu tangan bermotif batik hasil karya para siswa ini boleh dibawa pulang sebagai kenang-kenangan. 

"Ini sapu tangan hasil karya saya. Namanya batik, asalnya dari Indonesia. Kalau masih penasaran, kalian bisa ajak orang tua kalian untuk ke Indonesia untuk melihat lebih banyak lagi karya-karya batik yang unik dan menarik," ujar Sartika Oegroseno, istri Dubes RI untuk Jerman kepada para siswa.

Kenapa promosi budaya targetkan anak?

Para siswa, menurut Sartika perlu untuk terus mempelajari beragam budaya, terutama budaya yang asing dari yang mereka kenal selama ini. Dia menegaskan hal ini penting untuk mengembangkan imajinasi anak.  Saran Sartika ini sudah direalisasikan pengelola SD Bornholmer yang sejak tiga tahun lalu mendatangkan guru seni asal Bali, yakni Ni Ketut Warsini.

Siswa sekolah menurut Dubes RI untuk Jerman, Arif Havas Oegroseno juga penting menjadi sasaran promosi budaya Indonesia sebab kelak para pelajar sekolah dasar tersebut akan menjadi pemimpin yang meneruskan hubungan bilateral Jerman dengan Indonesia.

Kegiatan membatik seperti ini sebelumnya juga pernah dilangsungkan untuk perhimpunan Willkommen in Berlin dan operator perjalanan di Jerman. 

ga/ts (KBRI Berlin)