1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Kesehatan

Apa yang Kita Tahu Tentang Virus Corona Varian Delta?

Louisa Wright | Kathrin Wesolowski
20 Juni 2021

Corona varian Delta sudah tersebar setidaknya di 80 negara, dan di Indonesia varian ini juga dilaporkan telah menyebar ke beberapa wilayah. Apa yang perlu kita ketahui tentang varian ini?

https://p.dw.com/p/3vDCo
Mutasi virus Corona
Varian Delta menjadi penyebab 90% infeksi Corona di InggrisFoto: Christian Ohde/imago images

Ketika India berjuang menghadapi gelombang kedua corona, Inggris juga mulai wanti-wanti dengan peningkatan kasus COVID-19, meski telah melakukan vaksinasi. Di Indonesia, dikutip dari CNN Indonesia, Dinas Kesehatan Jawa Timur, Sabtu (19/06) mengatakan virus corona varian Delta telah bertransmisi lokal di sejumlah wilayah Jatim. Seluruh pihak pun di minta untuk waspada.

Apa yang diketahui tentang varian Delta?

Kasus pertama yang tercatat dengan varian Delta (B:1.617.2) ditemukan di negara bagian India, Maharashtra pada bulan Oktober 2020, dan sejak saat itu tersebar ke seluruh India dan merambah di seluruh dunia.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutnya sebagai 'varian yang perlu diperhatikan' atau ”variant of concern” (VOC) pada 11 Mei lalu. Sejauh ini,WHO telah mengidentifikasi empat VOC yakni: Alpha (B.1.1.7), Beta (B.1.351), Gamma (P.1) dan Delta.

Varian Delta memiliki banyak mutasi, dan sampai kini para peneliti belum mengetahui dampak pasti dari mutasi ini, namun mutasi ini memungkinkan virus untuk mengikat sel tubuh manusia dan membantu virus untuk menghindari respon imunitas tubuh, ungkap Deputi Deepti Gurdasani, ahli epidemiologi klinis di Universitas Queen Mary di London.

Varian Delta kini dideteksi telah tersebar di 80 negara, menurut sumber WHO. Di Inggris, tercatat lebih dari 10 ribu kasus dengan varian ini menurut data dari GISAID, sementara di Indonesia sekitar 50-99 kasus.

Infografik Karte Erfasste Fälle der Delta-Variante weltweit EN

Apakah varian ini lebih mudah menular?

Data dari Pusat Kesehatan Inggris (PHE) menunjukkan bahwa lebih dari 90% kasus baru COVID-19 di Inggris berasal dari varian Delta. Inggris telah mengonfirmasi lebih dari 42.000 kasus varian Delta pada 9 Juni, dan kasus ini meningkat hampir 30.000 pada periode 2-9 Juni.

Dari kasus yang dikonfirmasi oleh PHE, sebagian besar tidak divaksinasi atau hanya memiliki satu dosis vaksin. 64% peningkatan varian Delta kemungkinan tertular dalam lingkup rumah tangga. "Sejak awal di India, kami perhatikan bahwa varian (Delta) mengalahkan atau berkembang lebih cepat daripada yang disebut varian Kent atau Alfa yang pertama kali berasal dari Inggris," kata Gurdasani, "dan ini sangat memprihatinkan karena kami tahu di saat itu varian Alpha sudah lebih menular daripada virus aslinya."

Apakah Delta lebih berbahaya?

Masih sedikit data yang tersedia tentang apakah varian Delta menyebabkan lebih banyak kematian. Namun menurut PHE, dibandingkan dengan varian Alpha, varian Delta lebih cenderung menyebabkan rawat inap.

Baik vaksin Pfizer-BioNTech dan AstraZeneca dianggap sedikit kurang efektif dalam mencegah rawat inap pada orang dengan varian Delta dibandingkan dengan mereka yang memiliki varian Alfa.

"Data dari Inggris memberi tahu kita bahwa varian ini lebih mungkin menyebabkan rawat inap, jadi tidak mengherankan jika ditemukan bahwa ini lebih mematikan," kata Gurdasani.

Informasi lebih lanjut diperlukan untuk mengonfirmasi studi dan laporan yang menyebutkan varian Delta menyebabkan penyakit yang lebih parah. "Kami membutuhkan lebih banyak informasi untuk menentukan: apakah itu benar akibat varian itu atau kombinasi dari beberapa faktor," ungkap Pemimpin Teknis COVID-19 WHHO, Maria Van Kerkhove.

Ilustrasi tenaga medis Indonesia
Lebih dari 300 dokter dan tenaga medis di Kudus, Jawa Tengah, terinfeksi COVID-19, meski telah divaksinasi sepenuhnyaFoto: Ajeng Dinar Ulfiana/REUTERS

Apakah vaksin melindungi kita dari varian ini?

Studi PHE menemukan bahwa vaksin Pfizer-BioNTech 94% lebih efektif mencegah rawat inap setelah suntikan dosis pertama dan 96% efektif setelah mendapat dosis kedua. Sementara AstraZeneca adalah 71% efektif pada dosis pertama dan 92% efektif setelah suntikan kedua.

Kemanjuran terhadap penyakit simtomatik dari varian Delta untuk Pfizer-BioNTech adalah 36% setelah dosis pertama dan 88% setelah mendapat dua dosis. Untuk AstraZeneca 30% setelah dosis pertama dan 67% setelah dosis kedua.

"Ini tidak berarti bahwa tidak ada perlindungan," kata Gurdasani. "Tapi pasti ada pengurangan perlindungan terhadap infeksi atau penyakit ringan tanpa gejala, terutama dengan satu dosis, tetapi juga dengan dua dosis."

Apakah varian Delta penyebab pandemi di India dan Inggris?

Apakah varian Delta yang sepenuhnya bertanggung jawab atas situasi di India belum dapat dibuktikan secara ilmiah. Diperlukan lebih banyak pengujian. Tetapi India adalah salah satu negara yang paling parah terkena dampak pandemi. Lebih dari 29 juta kasus telah terdaftar sejauh ini, menurutUniversitas Johns Hopkins, dan sistem kesehatan di negara itu sangat kewalahan

Ahli Epidemiologi Klinis Gurdasani mengatakan bahwa selain penyebaran mutasi, beberapa faktor telah berperan dalam penyebaran virus corona secara besar-besaran di India.

"Saya pikir ini merupakan kombinasi dari tindakan yang sangat lamban dari pemerintah untuk menerapkan langkah-langkah kesehatan mendasar dan sikap yang terlalu percaya diri bahwa 'herd immunity' telah tercapai sebelumnya," kata Gurdasani.

Di Inggris, situasinya telah memburuk secara drastis. Sebanyak 55.216 kasus dari 10-16 Juni menunjukkan peningkatan hampir sepertiga dibandingkan minggu sebelumnya.

Apa simtom dan yang perlu kita lakukan untuk melindungi diri?

Menurut data dari aplikasi Inggris ZOE COVID Symptom Study, gejala yang ditimbulkan oleh varian Delta berbeda dengan virus awal dan mutasi lainnya. Warga Inggris yang melaporkan gejala mereka ke aplikasi ZOE, menggambarkan simtom seperti sakit kepala, sakit tenggorokan, pilek, dan demam. Dalam beberapa kasus, ada batuk juga.

"Ini lebih seperti flu yang buruk bagi warga yang lebih muda," kata ilmuwan dan salah satu pendiri aplikasi Tim Spector. Hal ini dapat membuat orang berpikir bahwa mereka hanya mengalami flu ringan dan terus menjalani keseharian mereka dengan normal. Orang dengan gejala ini harus tinggal di rumah dan menjalani tes, kata Spector.

Gurdasani menambahkan perlu aturan karantina yang komprehensif. Bepergian ke daerah yang disebut sebagai daerah infeksi harus dihindari karena telah meningkatkan penyebaran virus corona dan variannya sejak awal pandemi. (Ed.:ts/yp)