Apakah Kepergian Angela Merkel Akan Berpengaruh Pada Uni Eropa?

Sebagian pengamat politik di Uni Eropa khawatir, kepergian Angela Merkel dari panggung politik bisa membuat blok itu jadi lebih lemah lagi. Selama ini, Kanselir Jerman itu dianggap simbol kontinuitas.

Sebagian pengamat dan kalangan pejabat Uni Eropa ingin ada kepastian tentang stabilitas pemerintahan Jerman, setelah Kanselir Angela Merkel mengumumkan akan mundur dari politik pada akhir masa legislasi ini. Namun para politisi di Brussels menyatakan, kepergian Merkel tidak akan menyulitkan Uni Eropa. Semuanya akan berjalan seperti biasa.

Selama ini, Angela Merkel memang dilihat sebagai salah satu tonggak kontinuitas di Uni Eropa. Selain karena Jerman memang negara anggota terbesar, cara berpolitik Merkel yang jauh dari sensasi memang jarang sekali membuat kejutan.

Lalu, siapa yang akan menggantikan Merkel memimpin Jerman dua atau tiga tahun lagi? Sebenarnya tidak terlalu penting, kata kalangan politik di Brussels. Mereka yakin, Jerman akan memiliki pemerintahan yang stabil, yang mampu mengambil tindakan.

Kebijakan Pengungsi

Sebagian besar negara anggota UE akan menghubungkan Angela Merkel dengan keputusannya mengizinkan pengungsi asal Suriah dan Irak masuk ke Jerman tahun 2015. Sebagian besar negara ketika itu menolak membiarkan pengungsi masuk. Merkel mengatakan, dia melakukan itu berdasarkan insting kemanusiaan.

Tema

Sampai sekarang, kebijakan pengungsi Merkel di Jerman sendiri sering dikritik, juga oleh kalangan partainya sendiri. Sentimen anti pengungsi juga kemudian meluas dan membuka jalan bagi kemunculan parta ultra kanan AfD, yang sekarang terwakili di semua parlemen negara bagian Jerman.

Angela Merkel berusaha mempertahankan kebijakan pengungsinya dan berunding dengan Turki agar menampung sebagian besar pengungsi Suriah yang datang lewat Turki. Untuk itu Turki menerima curahan dana miliaran Euro.

Flüchtlinge in die Türkei

Angela Merkel mendorong kesepatan pengungsi antara uni Eropa dan Turki

Rencana reformasi Uni Eropa

Perancis dan Jerman sejak lama menggagas solusi untuk mengamankan euro, agar lebih siap menghadapi krisis. Namun Presiden Perancis kini mungkin harus berjuang sendiri. Pada KTT Uni Eropa berikutnya bulan Desember mendatang, sebagian rencana itu mungkin sudah  mengambil bentuk. Namun gagasan itu perlu dukungan penuh, juga dari kalangan konservatif Jerman.

Saat ini, Italia semakin menjadi risiko bagi sektor keuangan Uni Eropa. Pierre Moscovici, Komisaris Eropa untuk Urusan Ekonomi dan Keuangan, prihatin bahwa perselisihan Uni Eropa dan Italia tentang anggaran bisa meruncing, jika Jerman tidak berada dalam posisi kuat dan tampil untuk melakukan mediasi. Bulan Desember, kanselir Jerman Angela Merkel akan meletakkan jabatan sebagai Ketua Partai CDU.

Populisme merebak di Uni Eropa

Italia, Hungaria dan Polandia kini dikuasai politisi populis, yang ingin menyingkirkan pengaruh Uni Eropa dalam politik dalam negerinya. Bahkan Polandia dan Hungaria secara terang-terangan menyatakan akan mengabaikan aturan Uni eropa yang bertentangan dengan kepentingan nasionalnya. Selama ini, Jerman selalu tampil sebagai mediator untuk mempertahankan Uni Eropa dari serangan-serangan kubu populis. Presiden Perancis Emmanuel Macron berulangkali menegaskan pentingnya multilateralisme dan bahayanya nasionalisme. Tapi Macron perlu dukungan penuh dari Jerman, untuk mewujudkan gagasan-gagasannya tentang pembaruan Eropa.

Selama bertahun-tahun, Kanselir Jerman Angela Merkel dilihat sebagai jaminan stabilitas di Uni Eropa. Apa dampak kepergiannya dari panggung politik, dan bagaimana politik CDU di bawah pimpinan yang baru, masih belum jelas.

Politik

Didirikan Kaum Elite Jerman

Partai Alternatif untuk Jerman-AfD didirikan oleh kelompok elite, antara lain Bernd Lucke profesor ekonomi makro, Alexander Gauland, mantan sekretaris negara partai Kristen CDU, Konrad Adam, penerbit dan mantan wartawan koran kenamaan FAZ serta politisi dan Doktor ilmu kimia Frauke Petry (foto). Mula-mula program AfD memprotes secara terbuka politik pemerintah Jerman terkait krisis mata uang Euro

Politik

Pendukung Partai AfD

AfD resmi didirikan Mei 2013. Siapa pendukung AfD? Lembaga Riset FORSA menunjukkan, dari pemilu di negara-negara bagian Jerman, 70% pemilih AfD adalah lelaki dari kisaran umur rata-rata dia atas 50 tahun dan tidak terikat salah satu agama. Juga banyak pendukung partai liberal FDP yang menyebrang mendukung AfD. Jumlah anggota partai AfD kini mencapai lebih 17.000 orang.

Politik

Partai Populis Kanan Anti Islam

Partai Alternatif untuk Jerman semula menuntut dibubarkannya zona mata uang Euro. Untuk menarik simpati banyak pemilih, AfD memilih retorika sebagai partai populis kanan dan memberi tekanan khusus pada program anti Islam. AfD juga gelar kampanye anti Yahudi dan sentimen rasisme. Inilah resep yang membuat AfD sukses meraih kursi di parlemen Jerman dan parlemen Eropa.

Politik

Sukses di Negara Bagian Jerman

AfD raup sukses dalam pemilu regional di sedikitnya 10 negara bagian Jerman. Bahkan di dua negara bagian di kawasan timur Jerman, AfD raih lebih 20 persen suara. Juga di tiga negara bagian di barat, partai anti Islam dan anti Yahudi Jerman ini meraih perolehan suara lebih 12% . Keterangan partai menyebutkan AfD meraih seluruhnya 485 mandat di berbagai parlemen regional dan lokal.

Politik

Terwakili di Parlemen Eropa

Setahun setelah didirikan, dalam pemilu Parlemen Eropa 2014, ironisnya partai anti Uni Eropa ini meraih 7,1 persen suara. Terwakili dengan 7 mandat di Parlemen Eropa dan diterima bergabung dalam fraksi Konservatif dan Reformis Eropa-EKD. Tahun 2016 AfD diusir dari fraksi EKD setelah anggotanya Beatrix von Stoch dukung usulan penggunaan kekerasan senjata terhadap pengungsi.

Politik

Dimusuhi Partai Mainstream Jerman

Partai AfD dimusuhi partai mainstream, Kristen Demkrat-CDU maupun Sosial Demokrat-SPD. Yang terutama beradu keras lawan keras adalah pengikut partai kiri otonom. Dalam kongres partai di kota Köln baru-baru ini, lebih 50.000 demonstran gelar aksi menentang AfD. Juga partai-partai besar menolak koalisi dengan partai populis kanan ini.

Politik

Dipuji di Luar Negeri

Ironisnya, di saat partai dimusuhi banyak kalangan di Jerman, pujian mengalir dari luar negeri, khususnya dari Inggris. Kelompok pendukung Brexit dan yang skeptis terhadap Uni Europa memuji haluan partai AfD. Bahkan seorang tokoh partai anti Eropa di Inggris-UKIP, Douglas Carswell memuji partai populis kanan ini, dengan menyebut, jika ia warga Jerman, pasti memilih AfD dalam pemilu.