Apakah Orang Indonesia Bisa Hidup dari Bermusik Secara Idealis dan Profesional?

Pertanyaan ini selalu menggelitik setiap kawan saya yang masih menggeluti dunia musik: dapatkah hidup dengan idealisme bermusik? Bagaimana menurut Anda? Berikut opini Zaky Yamani.

Saat ini ketika hampir semua aspek kehidupan kita diubah petanya oleh internet dan digitalisasi produk musik.

Bagaimana menurut Anda?

Klik di sini untuk mengikuti diskusi

Dulu kita masih bisa membagi industri musik ke dalam dua kelompok besar: mainstream (arus utama) dan indie atau independen. Mainstream dan indie itu berlaku dalam pola produksi dan distribusi, juga dalam idealisme bermusik.

Tapi ada juga yang berada dalam wilayah arsiran keduanya, apakah itu musisi yang memainkan musik yang mainstream tetapi produksi dan distribusinya independen (diproduksi sendiri atau melalui label rekaman kecil dan didistribusikan di luar jalur outlet-outlet bermodal besar), atau musisi yang musiknya tidak mainstream (dan kita sederhanakan ke dalam istilah indie) tapi diproduksi dan dididistribusikan karyanya melalui jalur mainstream (bergabung di dalam perusahaan rekaman besar, juga didistribusikan dalam rantai bisnis pemodal besar).

Frankfurter Buchmesse 2017 Indonesien

Penulis: Zaky Yamani

Ada semacam kepercayaan, musisi di wilayah mainstream lebih cepat kaya karena didukung pemodal besar dan kerelaan para musisi itu untuk membuat karya sesuai dengan selera pasar. Hal itu pula yang dicibir oleh musisi di wilayah indie, seakan-akan musisi di wilayah mainstream telah menjual diri demi cepat kaya.

Tapi peta industri musik berubah dengan kehadiran internet dan digitalisasi produk musik. Pembajakan merajalela dan memangkas penghasilan musisi maupun perusahaan rekaman dari produk rekaman mereka.

Penjualan lagu secara digital, juga telah membuat produksi album lagu menghadapi pertanyaan paling kritis: masihkah relevan memproduksi album lagu, jika lagu bisa dijual eceran dalam format digital?

Di wilayah mainstream, kita bisa melihat ada musisi-musisi dan produsen-produsen produk musik yang masih bertahan dengan idealisme untuk memproduksi album penuh, dan mendistribusikannya melalui jalur yang agak aneh: di outlet-outlet makanan cepat saji, karena satu demi satu perusahaan rekaman tutup, begitu juga toko-toko musik, karena bangkrut.

Dengan kondisi itu, musisi bercorak mainstream yang tak mendapatkan kesempatan mendapatkan jalur distribusi, tampaknya tak sungkan lagi untuk menempuh jalur produksi indie dan mencoba meraih pasar melalui promosi di internet, salah satunya melalui channel YouTube.

Sementara di wilayah indie, tampaknya idealisme musisi untuk membuat album penuh sejak dulu sampai sekarang tak banyak berubah, masih terus berproduksi, dan didistribusikan melalui jalur toko-toko independen yang berbasis komunitas. Promosi dalam format digital melalui internet pun dilakukan oleh para musisi di wilayah indie.

Istilah indie dan mainstream sudah tidak relevan lagi

Di tahap ini, saya pikir, istilah indie dan mainstream dalam pola produksi dan distribusi sudah tidak relevan lagi. Sementara pembedaan dalam corak musik, juga semakin tidak relevan, karena istilah indie dan mainstream jelas tidak mengacu pada genre musik, tetapi pada pola produksi dan semangatnya.

Dulu, jalur indie muncul sebagai bentuk "perlawanan” pada tatanan industri musik yang kerap mendikte musisi untuk membuat karya sesuai selera produsen dan pasar yang luas. Karenanya, musisi yang tak mau didikte produsen dan keinginan pasar "memerdekakan” diri mereka dengan membuat musik sesuai dengan kehendak sendiri, dan untuk itu mereka harus membuat pola produksi dan distribusi sendiri.

Kini, baik musisi yang berselera mainstream maupun yang tidak, mulai bertemu di dalam pola produksi dan distribusi yang serupa, karena sekarang mereka memiliki kesempatan yang lebih terbuka untuk menjumpai dengan pasarnya melalui keleluasan internet dan produk digital.

Terlepas dalam hal produksi dan distribusi, setiap musisi serius—apakah dia berada di wilayah mainstream atau di wilayah indie—pasti berharap produk atau karya mereka bisa diapresiasi secara langsung oleh penggemar melalui pertunjukan secara live. Karena begitulah hidup para musisi seharusnya: membuat karya, mempertunjukkan karyanya langsung di hadapan audiens, dan mendapatkan apresiasi berupa bayaran dari kepuasan pendengar/penonton atas karya mereka.

Tema

Jika kita melihat di luar negeri—katakanlah di Amerika Serikat dan Eropa—para musisi penuh waktu maupun musisi paruh waktu tak pernah kekurangan pertunjukkan.

Berbagai festival digelar setiap tahun, berbagai komunitas punya acaranya sendiri-sendiri, sehingga banyak musisi yang padat jadwal tur pertunjukkannya, tak peduli genre musik apa yang mereka mainkan, apakah itu musik klasik, jazz, sampai black metal.

Dan tampaknya, level pemahaman dan apresiasi penikmat musik terhadap karya musik sudah sangat tinggi, sehingga mereka mau membeli karya musisi dengan cara yang bisa memberikan penghasilan kepada para musisi baik dalam format fisik maupun digital, dan mereka juga mau membayar untuk bisa menonton musisi di dalam pertunjukan-pertunjukan.

Budaya

Membangun kebersamaan dengan musik

Gagasan Festival Musik Rumah 2018 muncul di Jakarta dengan motto: merayakan kebhinekaan, merawat kebersamaan. Gagasan ini segera bersambut di Hamburg, Jerman. Grup TOFFI Hamburg menggelar konser rumah pada hari Minggu, 19 Agustus 2018.

Budaya

Priskila Wowor

Acara dibuka dengan penampilan musisi muda yang lahir tahun 1990 di Bandung dan sekarang tinggal di Jerman. Dia menulis dan menyanyikan lagu-lagunya sendiri dan sedang menyiapkan rekaman perdananya.

Budaya

Berangkat dari gitar klasik

Priskila menulis lagu dalam berbagai bahasa (Indonesia, Inggris, Jerman). Dia belajar gitar klasik sejak usia 10 tahun. Pindah ke Jerman, dia melanjutkan karir sebagai penyanyi dan penulis lagu dengan genre pop/akustik.

Budaya

Lagu-lagu daerah Nusantara

TOFFI Hamburg menyajikan lagu-lagu daerah dari berbagai kawasan di Indonesia, dari Aceh sampai Maluku. Yang menarik, ada kelompok pemusik asal Suriah yang bergabung dan ikut memainkan melodi Indonesia.

Budaya

Dengan sitar dan rebana

Para pemusik asal Suriah ternyata senang mengiringi lagu-lagu Indonesia dengan penuh semangat.

Budaya

Berbagai bangsa

Anggota TOFFI Hamburg berasal dari berbagai daerah dan bangsa, termasuk orang Jerman seperti Gabriela, yang menyediakan rumah dan tamannya menjadi lokasi Konser Rumah

Budaya

Sajian khusus

Tidak ketinggalan, putra tuan rumah, Andre, juga menyumbangkan lagu yang memukau dengan iringan gitar.

Budaya

Menikmati musik pada hari cerah

Sebagian penonton Konser Rumah TOFFI Hamburg menikmati lagu-lagu Indonesia dari halaman belakang sambil menikmati udara cerah. (hp/rzn)

Bagaimana dengan di Indonesia?

Jika kondisi industri musik di Indonesia seramai dan sepadat industri musik di Amerika dan Eropa, pertanyaan di awal tulisan ini tidak akan muncul. Pertanyaan itu muncul karena banyak musisi atau orang yang ingin jadi musisi gamang dengan industri musik di Indonesia.

Selain perubahan peta produksi dan distribusi, dan juga masalah pembajakan, satu hal yang paling memukul para musisi adalah tingkat apresiasi orang Indonesia terhadap musik. Saya yakin, sebagian besar orang Indonesia pasti suka musik dan senang datang ke pertunjukkan musik. Tapi berapa banyak orang Indonesia yang mau membayar secara layak untuk karya musisi, baik produk rekamannya maupun pertunjukkannya?

Rendahnya penghargaan kita kepada para musisi—yang ditunjukkan dengan sikap hanya datang ke pertunjukkan jika gratis atau tiketnya murah—yang membuat banyak orang merasa tidak yakin membangun hidup dengan menjadi musisi profesional. Sikap pasar yang seperti itulah yang memaksa sebagai besar musisi di Indonesia menjadi musisi paruh waktu: mereka harus bekerja di bidang lain untuk mencari nafkah sehari-hari, dan menjadi musisi saat ada kesempatan (yang tak selalu ada)

Sosial

Ramai-ramai “headbanging..!”

Mengenakan busana Muslimah, tidak menjadi penghalang bagi kelompok band muda ini untuk mengejar impiannya menjadi musisi heavy metal. Sejumlah festival mereka jajaki. Ketiganya dengan cepat memesona para penggemarnya untuk bergoyang dan ‘headbanging’ di depan panggung.

Sosial

Memecah hening….’Baceprot’!

Mereka menamakan diri sebagai band "Voice of Baceprot" VoB atau jika diartikan dalam bahasa Sunda: suara bawel atau berisik. Dibentuk tahun 2014 di Garut, anggota band remaja ini dulunya dipertemukan di sekolah. Anggota band ini: Firda Kurnia (gitaris dan vokalis), Widi Rahmawati (bassist) dan Euis Siti Aisyah (drummer).

Sosial

Bermula dari hobi

Band ini terbentuk dari sebuah kegiatan ekstrakurikuler di Madrasah Tsanawiyah Al-Baqiyatussholihat Banjarwangi. Band yang beranggotakan hijaber berusia belasan tahun ini beberapa kali menjuarai beberapa kompetisi musik lokal. Mereka mendefinisikan band mereka sebagai band pelajar perempuan yang mencoba menyuarakan kegelisahan hati akan dunia remaja yang kian hari kian kehilangan warnanya.

Sosial

Mendobrak tabu, mengusung kesetaraan

Mereka menggunakan musik untuk memerangi stereotipe perempuan sebagai orang yang patuh atau tidak bersuara. Salah satu anggota band, gitaris dan penyanyi, Firdda Kurnia menyebutkan: "Saya pikir kesetaraan gender harus didukung, karena saya merasa harus mengeksplorasi kreativitas saya, sementara pada saat bersamaan tidak mengurangi kewajiban saya sebagai seorang perempuan Muslim.”

Sosial

Jatuh cinta pada metal

Euis Siti Aisyah beraksi menggebuk drum. Menurut para hijaber ini, genre musik heavy metal bisa mewakili mereka bertiga dalam berekspresi. Awalnya mereka sempat memainkan lagu-lagu tren. Namun, setelah mengenal genre musik hip metal funky seperti yang dimainkan Rage Against The Machine, Linkin Park, System of a Down, mereka jatuh cinta pada genre musik metal.

Sosial

Kritik sosial

Inilah penampilan para musisi metal hijaber ini di atas panggung. Selain memainkan musik band-band nge-top seperti Metallica dan Slipknot, band ini membawakan lagu mereka sendiri mengenai berbagai isu, seperti soal pendidikan di Indonesia. Lagu ‘The Enemy of Earth is You’ bercerita tentang orang-orang yang mencitrakan diri baik tapi sebenarnya adalah musuh dan penghancur bumi atau lingkungan.

Saya bahkan menduga, musisi-musisi profesional (bekerja penuh waktu sebagai musisi), juga tidak bisa menggantungkan hidup dari memproduksi karya dan tampil di pertunjukkan untuk mendapatkan apresiasi yang layak dari khayalak, baik dalam bentuk pembelian produk musik maupun dalam bentuk pembelian tiket pertunjukkan dengan harga yang layak.

Kita bisa melacak, pertunjukkan-pertunjukkan musik di Indonesia sangat menggantungkan diri pada pasokan dana sponsor dari perusahaan-perusahaan besar, terutama rokok (dalam beberapa kasus perusahaan rokok juga memiliki bank dan produk lain, sehingga ketika ada tekanan agar produk rokok tidak diberi ruang jadi sponsor pertunjukkan, perusahaan rokok itu bisa menggunakan anak perusahaannya yang tidak memproduksi rokok untuk jadi sponsor).

Dari beberapa referensi yang saya baca tentang pertunjukkan musik di Indonesia, kontribusi pasokan uang dari tiket yang dibeli penonton hanya mencakup antara 40 persen saja dari kebutuhan anggaran sebuah pertunjukkan. Fakta itu jika diubah menjadi kalimat lain adalah sebagai berikut: penonton Indonesia hanya mau membayar 40 persen untuk pertunjukkan yang mereka tonton.

Pertanyaannya kemudian, apakah dengan begitu sponsor mensubsidi apresiasi masyarakat kepada musisi karena para sponsor itu peduli dengan kemajuan musik kita? Belum tentu. Saya pikir, satu-satunya kepentingan sponsor adalah massa. Tak penting apakah musik atau pertunjukkan yang ditawarkan kepada massa berkualitas atau tidak, selama sebuah pertunjukkan bisa mengundang massa yang besar atau bisa menguatkan brand image produk mereka, sponsor pasti akan masuk.

Apakah musisinya berkarya dengan benar atau tidak, menguasai teknik dan kualitas bermusik yang benar atau tidak, membajak karya orang lain atau tidak, selama mereka bisa mendatangkan massa, sponsor akan senang-senang saja ikut membiayai pertunjukkan. Pasar pun memang tak peduli bukan?

Selama musisinya beken, chanel YouTube-nya ramai dikunjungi, lagunya bisa bikin kita berjoget, maka kita akan gembira ikut berjoget. Masalah etika berkarya, kita pikir belakangan saja.

Jadi, apakah orang Indonesia bisa hidup dari bermusik secara idealis dan profesional?

Mungkin bisa, dengan berjuang keras dalam mendidik pasar. Kalau untuk sekadar bermusik saja, selama produk rokok, bank, minuman, dan produk gaya hidup lainnya masih membutuhkan pemasaran melalui pertunjukkan, bolehlah kita optimistis musisi masih punya ruang untuk hidup, dengan syarat jumlah pertunjukkan harus semakin banyak. Kalau berharap dari apresiasi langsung para penikmat musik, ya itu tadi, mereka hanya mau mendukung musisi 40 persen saja.

Zaky Yamani, jurnalis dan novelis

*Setiap tulisan yang dimuat dalam #DWNesia menjadi tanggung jawab penulis.

*Bagaimana komentar Anda atas opini di atas? Anda bisa sampaikan dalam kolom komentar di bawah ini.

Budaya

Menekuni musik Bali sejak kecil

Sanggar Bali Puspa didirikan oleh Nyoman Suyadni Mindhoff. Ia bercerita, sejak kecil ia sudah belajar menari di pure.

Budaya

Membawa gamelan dari Indonesia

Nyoman bercerita, di Jerman ia dulu juga menari di berbagai acara dan mengajarkan anak-anak menari Bali. Kemudian timbul keinginan untuk mendatangkan instrumen gamelan, "supaya punya musik live." Demikian ceritanya.

Budaya

Mendirikan sangar Bali Puspa

Ia kemudian mendirikan grup bukan hanya penari, melainkan juga grup pemain gamelan. Awalnya ia mencari guru, kemudian sedikit demi sedikit mengumpulkan orang Jerman yang berminat. Salah satunya Andreas Herdy (foto), dosen musik di Universitas Hildesheim yang jadi guru grup gamelannya.

Budaya

Orang Jerman belajar main gamelan

Nyoman bercerita, memang awalnya bagi orang Jerman sulit untuk memainkan gamelan. Mereka terutama sulit mengkoordinasikan tangan. Apalagi musik yang dimainkan, yaitu musik khas Bali, bukan musik yang sering didengar di Jerman.

Budaya

Kesabaran perlu

Tapi seperti banyak hal lainnya, dengan kesabaran dari guru dan ketekunan murid, orang-orang yang benar-benar berminat akhirnya bisa main gamelan.

Budaya

Memperkenalkan dan menyebar kebudayaan Indonesia

Hingga sekarang, sanggar Bali Puspa sudah berkali-kali ikut dalam berbagai acara di berbagai kota di Jerman, dan di beberapa negara tetangga Jerman. Rencana berikutnya juga sudah ada. Mereka akan mengadakan Malam Indonesia di Köln. Penulis: Marjory Linardy (ap)