App Feminis Buatan Indonesia Bidik Film Seksis dan Bias Gender

Sebuah aplikasi ponsel memungkinkan penonton menilai film berdasarkan kadar seksisme terhadap perempuan. Melalui app tersebut, industri film diharapkan bisa lebih peka terhadap problematika perempuan di Indonesia.

Sebuah aplikasi ponsel bernama Mango Meter yang diluncurkan di Jakarta membuka kesempatan bagi penonton buat melaporkan konten bermuatan seksisme di dalam film. Pendiri app menyebut produk mereka sebagai "aplikasi penilaian film bagi feminis yang pertama" di tanah air.

Didukung oleh yayasan Friedrich-Ebert asal Jerman, Mango Meter adalah karya enam orang perempuan yang ingin menggugat penyajian karakter atau cerita perempuan yang "problematis" di duni sinema Indonesia.

Baca juga: Bagaimana Skor Indonesia di Indeks Kesetaraan Gender 2018?

"Film adalah media yang sangat berpengaruh, tapi sifatnya problematis jika menyangkut prasangka terhadap perempuan," kata Devi Asmarani, salah seorang pendiri Mango Meter kepada Reuters. "Jadi kami mengembangkan aplikasi penilaian film seperti Rotten Tomatoes, tapi lewat kacamata seorang feminis. Jadi kita bisa memicu diskursus yang lebih besar tentang seksisme dan misogini di dalam film."

Melalui aplikasi ini, penonton bisa memberikan penilaian terhadap film-film Hollywood, India, Cina, Bangladesh dan film dari sejumlah negara lain dengan menjawab pertanyaan seputar keterwakilan perempuan, seksualitas dan interseksionalitas.

Berdasarkan hasil penilaian penonton, Mango Meter memberikan peringkat antara satu hingga lima gambar mangga, bergantung pada seberapa seksis atau feminis film tersebut.

Live
03:06 menit
Iptek | 21.05.2018

Algoritma Internet Bias Gender dan Seksisme

"Kami melihat apakah film tersebut menggunakan pemahaman kecantikan ala barat, membahas kelompok yang termarjinalkan atau apakah film itu ikut membahas konflik antar kelas sosial," kata Asmarani, salah seorang penggagas yang juga pemimpin redaksi sebuah majalah perempuan di Indonesia.

Saat ini dunia sinema Indonesia dinilai masih menganaktirikan perempuan. Hanya segelintir sutradara atau penulis naskah yang berjenis kelamin perempuan. Kondisi ini bertambah runyam dengan adanya prasangka yang membatu tentang perempuan "yang cendrung problematis," kata Asmarani lagi.

Baca juga: Mendukung RUU PKS: Kesetaraan, Perlindungan Korban dan Cita-cita Keadilan Gender

"Narasi yang menempatkan perilaku agresif seperti membuntuti atau penggunaan kekerasan sebagai sesuatu yang diterima (masyarakat) memiliki konsekuensi nyata," imbuh dia lagi.

Saat ini cuma beberapa negara di Asia yang melarang pria membuntuti perempuan. Di India misalnya sejumlah kelompok perempuan menuding industri film Bollywood mengagungkan tindak kejahatan yang berujung pada kekerasan. Perempuan di negara berpopulasi terbesar kedua di dunia itu juga telah mengawali gerakan untuk mengidentifikasi ujaran seksis pada lagu.

Mango Meter bisa membantu memperluas perdebatan tentang perempuan, klaim Asmarani. "Dengan cara itu, mungkin kita bisa menggerakkan industri film agar mau mendengar kekhawatiran ini dan melakukan sesuatu terhadapnya," kata dia.

rzn/ap (rtr)

Berlinale 2019: Suara Perempuan dan Kaum Marjinal

Aruna dan Lidahnya

Berlinale 2019 akan digelar 7 sampai 17 Februari di Berlin. Dari Indonesia ditampilkan film "Aruna dan Lidahnya" (2018), yang disadur dari roman Laksmi Pamuntjak (foto) dengan judul yang sama. Disutradarai oleh Edwin, dengan peran utama dimainkan oleh Dian Sastrowardoyo, Nicholas Saputra, Hannah Al Rashid dan Oka Antara. Naskah film ditulis Laksmi Pamuntjak dan Titien Wattimena.

Berlinale 2019: Suara Perempuan dan Kaum Marjinal

Perempuan dalam sorotan

Yang jadi sorotan tahun ini: peran perempuan dalam pembuatan film - baik di depan maupun di belakang kamera. Pemenang Beruang Emas Kehormatan Berlinale 2019 sudah ditentukan: bintang besar sinema Eropa Charlotte Rampling - dalam foto di atas terlihat dalam film "Max mon amour" oleh Nagisa Ōshima (1986).

Berlinale 2019: Suara Perempuan dan Kaum Marjinal

Film tentang masyarakat adat

Peserta Berlinale juga bisa menyaksikan film dari dunia yang jarang ditampilkan di layar perak dalam bagian program "NATIVe". 16 film panjang dan pendek dan film dokumenter dari wilayah Pasifik Selatan akan ditampilkan dan memberikan pandangan sekilas tentang kehidupan masyarakat adat di kawasan itu. Seperti film "Tanna" dari Australia-Ni-Vanuatu, yang menggambarkan perselisihan pernikahan lokal.

Berlinale 2019: Suara Perempuan dan Kaum Marjinal

Film dokumenter tentang Aretha Franklin

Berlinale 2019 akan menampilkan pemutaran perdana film-film, salah satunya karya Sydney Grace yang luar biasa: "Amazing Grace." Film ini mendokumentasikan penampilan Aretha Franklin di sebuah gereja Baptis di Detroit pada tahun 1972, di mana album pemenang Grammy "Amazing Grace" direkam. Film berusia 40 tahun ini akan tampil tanpa editan di Berlin.

Berlinale 2019: Suara Perempuan dan Kaum Marjinal

Film pembuka dari Denmark

Film pembuka Berlinale hari Kamis, 7 Februari, adalah "The Kindness of Strangers," besutan sutradara Denmark Lone Scherfig. Film ini dibuat di sebuah restoran Rusia di New York pada musim dingin dan merupakan representasi yang baik dari internasionalitas Berlinale dan fokusnya tahun ini: perempuan di dunia industri.

Berlinale 2019: Suara Perempuan dan Kaum Marjinal

Para perempuan garda pelopor

Berlinale juga selalu mempromosikan film-film klasik yang direstorasi kembali, ditampilkan dalam program Berlinale Classics. Salah satu film klasik tahun ini adalah "The Wayward Girl" dari tahun 1959. Disutradarai oleh pembuat film Norwegia, Edith Carlmar, film ini menampilkan Liv Ullmann muda dalam peran utama pertamanya. (Teks: Jochen Kürten/hp/ap)

Ikuti kami