1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

AS Batasi Keterlibatan Dalam Misi Militer di Libya

2 April 2011

Keputusan AS untuk tidak lagi mengirimkan pasukan perang ke Libya dikritik oleh Kongres AS.

https://p.dw.com/p/10mWg
Menteri Pertahanan AS Robert GatesFoto: AP

Laporan tentang kegiatan CIA di Libya yang tersiar pekan lalu sebenarnya bukan berita baru. Sudah merupakan kelaziman bahwa dinas rahasia Amerika Serikat beroperasi di negara yang tengah mengalami perang sipil itu. Selama berminggu-minggu tugas utamanya adalah mengumpulkan informasi rahasia tentang sasaran militer. Selain itu, CIA juga ditugaskan oleh pemerintah di Washingon untuk menyelidiki motif para pemberontak di Libya.

Fakta yang juga terungkap adalah, Amerika Serikat tidak menyuplai senjata bagi kelompok pemberontak Libya yang persediaan senjatanya memang serba terbatas. Tapi untuk sepenuhnya menutup kemungkinan tersebut juga tidak ada yang bersedia di kalangan orang terdekat Presiden Obama. Cuma saja risikonya sangat besar. Jangankan pengiriman senjata, intervensi militer AS di Libya saja sudah tidak populer di mata penduduk. Pendapat ini diutarakan Menteri Pertahanan Amerika Serikat Robert Gates dalam forum tanya jawab di hadapan Kongres : "Masalah pelatihan dan dukungan bagi para pemberontak bisa ditangani oleh banyak negara lain. Ini bukan sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh kita. Jika Anda meminta pendapat saya, maka menurut saya ini seharusnya dilakukan pihak lain."

Kepada senat Amerika Serikat, Gates juga menegaskan, pemerintahan Obama tidak banyak mengetahui tentang oposisi Libya. Ini juga salah satu alasan mengapa Amerika Serikat terkesan sedikit menahan diri dalam kemelut di negara itu. Bisa dibayangkan bagaimana reaksi warga Amerika Serikat, jika kelompok radikal Islam seperti anggota jaringan teroris Al Qaida ikut memboncengi kelompok oposisi Libya dan kemudian terbukti bahwa musuh bebuyutan Amerika tersebut mendapat suplai senjata dari pemerintah di Washington. Ini akan menjadi skandal politik dan Presiden Barack Obama akan menjadi sasaran utama para pengeritik. Lagipula sebagian besar negara anggota NATO tidak menyetujui suplai senjata bagi pemberontak Libya. Hanya Inggris saja yang secara terang-terangan bersedia mempersenjatai kelompok yang dianggap "melindungi warga sipil." Sedangkan negara lain menilai langkah tersebut melanggar embargo senjata yang ditetapkan PBB terhadap Libya.

Satu hal yang menjadi perdebatan di parlemen dan senat AS adalah, apakah keputusan pemerintah Amerika Serikat menarik mundur tentaranya dari Libya akhir pekan ini (2/3.4) benar atau tidak. Mulai hari Minggu ini (3/4), Amerika Serikat membatasi keterlibatannya hanya sebagai kekuatan pendukung. Serangan udara kelak hanya akan dilakukan oleh Perancis, Inggris, dan negara anggota NATO lainnya. Beberapa anggota Kongres mengatakan, sikap Pentagon tersebut sangat mengkhawatirkan. Seorang senator bahkan mengkomentari strategi baru Amerika Serikat di Libya sebagai hal yang 'gila'. Senator partai Republik John McCain menganggapnya sebagai keputusan yang salah, menarik diri dari misi di saat pasukan Gaddafi tengah unggul. Suara yang terdengar dari Kongres Amerika Serikat Jumat lalu (1/4) adalah, justru di saat genting seperti itu lah warga Libya harus dilindungi dari serangan angkatan bersenjata Libya.

Namun, pemerintah Amerika Serikat bertahan dengan posisinya. Menteri Pertahanan Gates menjelaskan : "Presiden tidak berencana memperluas aksi militer dari rencana yang telah disetujuinya. Yakni, dukungan pelaksanaan zona larangan terbang dan misi kemanusiaan."

Namun, jika penguasa Libya Muammar Gaddafi tetap mengendalikan situasi di negaranya, maka Gedung Putih harus mempertimbangkan kembali posisi Amerika Serikat. Untuk saat ini, pemerintah di Washington mempercayai kemampuan militer NATO dan menganggapnya juga sebagai masa uji coba bagi NATO.

Klaus Kastan / Vidi Legowo-Zipperer

Editor : Rizky Nugraha