1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

131110 Rangun Suu Kyi

13 November 2010

Junta Militer Myanmar urung memperpanjang masa tahanan rumah bagi tokoh oposisi Aung San Suu Kyi yang berakhir Sabtu (13/11). Seusai pembebasannya Suu Kyi kembali aktif berpolitik

https://p.dw.com/p/Q81g
Tokoh demokrasi Myanmar, Aung San Suu KyiFoto: AP

Para pendukung Aung San Suu Kyi bersorak sorai ketika Peraih Hadiah Nobel Perdamaian itu muncul di depan rumahnya dan melambaikan tangan pada massa. Kira-kira 2000 orang berkumpul di depan rumah Suu Kyi untuk merayakan pembebasan perempuan berusia 65 tahun itu dari status tahanan rumah.

Aung San Suu Kyi mengimbau warga di Myanmar untuk bersatu. Hanya dengan bersatu, demokrasi dapat tercapai, begitu kata Suu Kyi.

Masih belum diketahui apakah pembebasan Aung San Suu Kyi bersyarat atau tidak. Sebelumnya Aung San Suu Kyi menolak larangan berpolitik atau pengawasan oleh aparat keamanan.

Langsung aktif berpolitik

Dilaporkan, hari Sabtu itu pun, Aung San Suu Kyi bertemu dengan pemimpin partainya, Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD). Dikabarkan pula, Suu Kyi akan bertemu dengan para pemimpin partai oposisi lainnya, dan sejumlah partai lain dari kalangan etnis minoritas.

“Ia tampak sehat, bahagia, tenang dan sangat alami," kata Duta besar Inggris di Myanmar, Andrew Heyn, turut menyaksikan detik-detik pembebasan Aung San Suu Kyi.

Menurutnya, Suu Kyi mampu menciptakan kehangatan tersendiri dengan pendukungnya, "Anda dapat merasakannya. Ia juga bercanda dengan mereka dan sangat mengharukan ketika menyaksikannya." Heyn yakin, dukungan masyarakat umum bagi Suu Kyi bukan hanya tetap bertahan melainkan semakin besar.

Aung San Suu Kyi menghabiskan 15 tahun hidupnya dari 21 tahun terakhir ini dalam belenggu junta militer. Terakhir, ia didakwa bersalah membiarkan seorang warga negara Amerika Serikat, dengan berenang menyebrangi danau, masuk ke rumahnya di Yangun. Di rumah itu ia dikucilkan dari dunia luar.

Meragukan legitimasi pemilu

Aung San Suu Kyi sudah menyatakan bahwa dirinya akan menyelidiki keganjilan dalam pemilihan umum yang digelar hari Minggu lalu (07/11), terutama seputar suara pendahuluan. Suara pendahuluan yang sudah diberikan sebelum hari pemungutan suara itu diyakini dimanipulasi besar-besaran. Memang belum ada hasil akhir penghitungan suara, namun militer sudah mengumumkan bahwa partainya, USDP, meraih 80 persen kursi di parlemen.

NLD tidak ikut serta dalam pemilu, salah satunya karena Aung San Suu Kyi. Menurut undang-undang pemilu, partai politik dilarang memiliki anggota yang didakwa pidana.

Partai-partai oposisi, yang ikut serta dalam pemilu hari Minggu lalu, dipastikan meraih kursi di parlemen kurang dari 20 persen. Salah satu partai itu adalah Kekuatan Demokrasi Nasional (NDF), pecahan dari Liga Nasional untuk Demokrasi.

Bern Musch-Borowska/Luky Setyarini
Editor: Rizki Nugraha