Bagaimana Mencegah Perundungan Dunia Maya Berlanjut Jadi Kekerasan Dunia Nyata?

Peran aktif dan keterlibatan orang tua dan lingkungan bisa berperan mencegah perundungan yang dialami maupun dilakukan anak-anak mereka berkembang menjadi kekerasan fisik.

Pengeroyokan yang dialami oleh Audrey, remaja berusia 15 tahun di Pontianak, Kalimantan Barat, diberitakan berawal dari saling caci di media sosial mengenai permasalahan asmara.

Akibat peristiwa penganiayaan yang diduga terjadi pada Jumat (29/03) ini, korban harus dirawat di rumah sakit karena mengalami trauma fisik dan psikologis.

Psikolog klinis forensik, Kasandra Putranto, saat dihubungi oleh Deutsche Welle menyayangkan peristiwa saling caci ini berlanjut hingga ke tahap penganiayaan fisik.

Meski perundungan secara fisik dan dunia maya sama-sama memiliki dampak yang merusak, namun penganiayaan fisik seharusnya bisa dicegah dengan peran aktif orang tua dan masyarakat.

Sosial | 10.04.2019

"Setiap orang tua harus menanamkan kepada anak mereka bahwa mereka boleh marah, tapi yang tidak boleh adalah melukai atau merusak barang-barang milik orang lain," ujar Kasandra, Rabu (10/04). Dengan demikian anak sedari kecil belajar untuk mengendalikan diri dan tidak gampang merusak atau menganiaya orang lain.

Namun ia juga menyayangkan justru masih banyak keluarga di Indonesia yang tidak bisa mengendalikan diri dengan baik, terutama terkait dengan mengendalikan amarah.

Selain masih harus belajar mengendalikan diri, ia mengatakan anak-anak dan remaja masih belum bisa mengendalikan perilaku mereka di media sosial. Mereka pun cenderung beranggapan kalau perilaku mereka di media sosial tidak akan mendatangkan konsekuensi apa pun.

Psikolog Kasandra Putranto

"Padahal rekam jejak digital itu kuat sekali dan bisa dijadikan sebagai alat bukti di pengadilan," ujar Kasandra, Rabu (10/04).

Karena itulah, ujar Kasandra, orang tua seharusnya memberitahukan hal ini kepada anak mereka sebelum apa yang dilakukan oleh anak-anak dan remaja tersebar luas dan menjadi konsumsi publik.

Untuk dapat melakukan hal ini, Kasandra menekankan seharusnya orang tua dekat dengan anak mereka sehingga tahu perilaku mereka baik saat di rumah, di luar rumah maupun ketika di bersosialisasi media sosial.

"Biasanya ada anak yang di rumah kalem ternyata di luaran tidak begitu. Jadi orang tua harus tahu persis anaknya, kelakuan dan temperamennya," tambahnya.

Masih dianggap remeh

Psikolog lulusan Universitas Indonesia ini pun menyayangkan peran masyarakat yang masih menganggap ringan peristiwa-peristiwa perundungan baik yang terjadi secara fisik, psikologis maupun perundungan di dunia maya. Pembiaran ini bisa dilakukan baik oleh pihak orang tua maupun sekolah.

"Orang-orang masih sering berkata 'ah cuma begitu saja kok' tapi ternyata lama-lama tindakan perundungan ini dibiarkan dan tiba-tiba sudah jadi parah."

Karena itu baik pihak sekolah mau pun orang tua sebaiknya menyadari perubahan kecil yang terjadi pada putra-putri mereka dan tidak membiarkan hal ini tanpa mengetahui lebih lanjut.

Lingkungan juga sebaiknya menghormati hak-hak anak dan remaja apabila ia sedang merasa tidak mau berbagi atau pun bercerita. Ia lantas mencontohkan misalnya di sekolah-sekolah disediakan tempat tertentu di kelas dimana anak yang tidak sedang ingin bersosialisasi bisa duduk di sana dengan tenang, namun tetap merasa dirinya adalah bagian dari sebuah kelompok. (hp)

Keterbatasan Fisik Tak Halangi Anak Indonesia Riset Doktoral di Inggris

Kekurangan oksigen di otak

Sejak lahir di Pati - Jawa Tengah, 10 April 1992, Muhammad Zulfikar Rakhmat mengalami Ashpyxia Neonatal, yakni kekurangan oksigen pada otak yang bisa menyebabkan penderitanya tidak bisa bicara lancar dan kesulitan menggunakan tangan untuk sejumlah aktivitas. Sejak kecil ia sering diejek dan diganggu kawan-kawannya karena gerakan dan bicaranya dianggap janggal.

Keterbatasan Fisik Tak Halangi Anak Indonesia Riset Doktoral di Inggris

Pindah ke Qatar mulai percaya diri

Usia 15 tahun ia & keluarganya pindah ke Qatar. Di sini ia merasa mendapatkan dukungan emosional dari teman-teman dan guru, sehingga sebagai penderita difabel ia mulai percaya diri bahwa impian pasti tercapai dalam kondisi apapun. Bicaranya yang gagap membuat orang yang baru ditemui agak kesulitan memahami, tetapi kendala diatasi dengan mengulang atau menjelaskannya lagi melalui email.

Keterbatasan Fisik Tak Halangi Anak Indonesia Riset Doktoral di Inggris

Semangat studi

Di Qatar, ia pun mulai tertarik dengan isu Timur Tengah dan menuntaskan studi bachelor sebagai lulusan terbaik dengan IPK 3.93 di bidang hubungan internasional. Lulus dengan nilai baik menjadi batu loncatan untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Inggris menjadi negara tujuan berikutnya.

Keterbatasan Fisik Tak Halangi Anak Indonesia Riset Doktoral di Inggris

Potensi besar kaum difabel

Jauh dari tanah air, Zulfikar terkesan dengan penerimaan masyarakat luar terhadap kaum difabel seperti dirinya, termasuk dalam perlindungan hak. Sekolah diwajibkan menyediakan fasilitas kepada siswanya yang berkebutuhan khusus. Zulfikar ingin lupakan trauma masa kecil dan tumbuhkan kepercayaan, bahwa dibalik kekurangan yang dimiliki kaum difabel, tersimpan potensi besar.

Keterbatasan Fisik Tak Halangi Anak Indonesia Riset Doktoral di Inggris

Segudang cita-cita, segunung perjuangan

Selain menggeluti hubungan internasional, khususnya politik Timur Tengah dan Asia, Zulfikar juga tertarik dengan bidang komputer dan jurnalistik. Di usia 23 tahun, lebih dari 100 artikelnya tersebar di sejumlah media massa, media massa internasional. Ia juga kerap jadi pembicara untuk memperjuangkan hak kaum difabel.

Keterbatasan Fisik Tak Halangi Anak Indonesia Riset Doktoral di Inggris

Studi doktoral di Inggris

Kini Zulfikar tengah mengejar gelar PhD di Universitas Manchester Inggris. Tema disertasinya tentang dampak perkembangan negara Asia terhadap perkembangan politik di Timur Tengah.

Keterbatasan Fisik Tak Halangi Anak Indonesia Riset Doktoral di Inggris

Hobi menulis membawanya melanglang buana

Ia mulai menulis tahun 2013. Konflik di Suriah yang semakin meluas membuat banyak media internasional mencari kontributor yang mengenal isu Timur Tengah dan berbahasa Arab. Dunia tulis-menulis membawa Zulfikar melanglang ke berbagai belahan dunia.

Keterbatasan Fisik Tak Halangi Anak Indonesia Riset Doktoral di Inggris

Bermanfaat bagi sesama

Walau derita keterbatasan fisik, Zulfikar ingin menggunakan kemampuan dan pengalamannya agar bermanfaat bagi orang lain. Ia ingin membantu dan memperjuangkan orang yang juga memiliki kebutuhan khusus di Indonesia. Menurutnya, apa yang ia dapatkan sekarang adalah hasil dari proses perjalanan dan perjuangan panjang. Untuk itu ia ingin mengajarkannya pula pada mereka.

Konten terkait

Ikuti kami