1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Bagaimana Situasi Timor Leste Setelah Pisah dari Indonesia?

23 Agustus 2019

Dalam referendum yang disponsori PBB pada tahun 1999, mayoritas rakyat Timor Leste memilih merdeka dari Indonesia. Bagaimana situasinya kini serta hubungan diplomatiknya dengan Indonesia?

https://p.dw.com/p/3OMpS
Timor-Leste - Wahlkampf
Foto: J. Meier

Pasca referendum tahun 1999, Timor Leste pada tahun 2002 resmi menjadi negara merdeka dan berdaulat yang diakui secara resmi di dunia. Bagaimana situasi negara termuda di Asia-Tenggara tersebut sekarang dan juga bagaimana hubungannya kini dengan Indonesia?

Deutsche Welle berbincang dengan José Manuel Ramos-Horta, mantan presiden Timor Leste sekaligus penerima hadiah Nobel Perdamaian tahun 1996.

Deutsche Welle: Anda ikut berperan dalam proses panjang  independensi Timor Leste. Bagaimana keadaan negara Anda kini?

José Manuel Ramos-Horta: Timor Leste  kini sangat damai. Tidak ada kekerasan politik, sama sekali nol. Negara ini sangat damai dalam hal tersebut. Bahkan tingkat kriminalitas biasa pun sangat rendah. Tidak ada kejahatan terorganisir. Tetapi kami masih memiliki beberapa tantangan serius dalam mengatasi kemiskinan, kekurangan gizi. Kami belum berhasil di bidang ketahanan pangan, tetapi negara ini berkembang sangat pesat dalam 15 tahun terakhir. Sekarang aliran listrik di negara kami  24 jam. Dalam waktu dekat kami akan memiliki kabel bawah laut yang didatangkan dari Australia untuk meningkatkan konektivitas. Kami akan menikmati konektivitas abad ke-21. Kami telah memiliki cyber optic di seluruh negeri, sekarang tinggal menunggu kabel bawah laut.

Lindau Interreligiöses Treffen im Allgäu Jose Ramos Horta
José Manuel Ramos-Horta:pemenang hadiah Nobel Perdamaian dan mantan presiden Timor Leste Foto: DW/Ayu Purwaningsih

Selain itu ada sebuah penelitian oleh WHO (Organisasi Kesehatan Dunia), yang mengatakan bahwa pada tahun 2018, Timor Leste tidak memiliki lagi kasus malaria, jadi sudah mencapai target pengentasan penyakit malaria, yang selama berabad-abad membunuh begitu banyak orang. Pada tahun 2002, kami hanya memiliki 19 dokter. Sekarang kami memiliki lebih dari 1.000 dokter. Situasi politik secara keseluruhan, seperti diketahui  kami negara  demokrasi, kami bangga akan hal itu, meski tidak selalu berjalan lancar. Kadang ada ketegangan di parlemen, antara parlemen dan presiden, pemerintah dan presiden, demikian sebaliknya, tetapi itulah demokrasi. Jika kita tidak menginginkan ketegangan, jika tidak menyukai ketegangan politik,  bisa jadi mungkin seperti menyalin model Korea Utara, di mana semua orang selalu harus setuju dengan pemimpinnya. Kami memiliki demokrasi yang sangat dinamis, masyarakat sipil sangat aktif, kami memiliki banyak media, media sosial merajalela, kami tidak mencoba mengendalikan disiplin ilmu atau menyensor media sosial, di sisi lain, mayoritas Timor Leste adalah Katolik, yakni  98%, ada juga minoritas Protestan dan komunitas Muslim, dan ketiga agama ini hidup berdampingan secara damai.

Bagaimana hubungan Timor Leste dengan Indonesia?

Kami memiliki hubungan terbaik dengan Indonesia. Dan saya kenal semua negara-negara di Asia. Saya tahu konflik dan ketegangan di Asia. Saya tahu hubungan antara beberapa negara Asia dengan negara-negara tetangganya, misalnya: Korea dan Cina, Bangladesh dan Pakistan, Pakistan dan India, dll. Namun izinkan saya memberi tahu Anda, tidak ada dua negara di Asia yang memiliki hubungan yang lebih baik daripada Timor Leste dan Indonesia. Ini bukan hanya sekadar hubungan resmi, antara pemimpin, tetapi bahkan orang ke orang. Mahasiswa Timor Leste misalnya. Banyak dari mereka yang sekolah di Indonesia. Jika Anda melihat statistik imigrasi Indonesia,  kunjungan Indonesia, puluhan ribu orang dari Timor Leste pergi ke Indonesia, setiap bulannya. Jika Anda pergi ke Timor Leste, Anda juga akan melihat ribuan orang Indonesia, bekerja dan tinggal di sana. Kami mengimpor 70% barang kami dari Indonesia. Itu adalah hubungan yang baik dan ini juga tak lepas dari keberhasilan kepemimpinan politik kita. Kami mempromosikan rekonsiliasi di antara orang-orang Timor Leste, yang terbagi di masa lalu. Kemudian normalisasi dan rekonsiliasi dengan Indonesia.

Bagaimana soal semakin meningkatnya intoleransi di Indonesia?

Saya  mengenal Indonesia dengan sangat baik. Saya berkunjung ke Indonesia untuk pertama kalinya pada tahun 1974, ke Jakarta. Saya bepergian di Jakarta sendirian dengan becak dan skuter. Kemajuan Indonesia luar biasa. Terlepas dari meningkatnya radikalisme, Indonesia tetap menjadi negara mayoritas Muslim inklusif paling terbuka. Indonesia tetap menjadi negara paling demokratis dan terbuka di Asia Tenggara. Dalam pemilu baru-baru ini, beberapa pemimpin politik telah memanipulasi situasi. Ada beberapa ekstremis yang mencoba 'mencuri' pemilu. Tetapi pada akhirnya, ketika Mahkamah Agung memutuskan Presiden Joko Widodo memenangkan pemilu, Jenderal Prabowo Subianto sebagai penantang menerimanya. Dalam konteks pemilu, bisa saya katakan, demokrasi menang. Jadi saya bisa melihat pemilu di Indonesia sebagai hal yang positif. Ada konfrontasi, ada ketakutan, tetapi demokrasi dan toleransi tetap berlaku di Indonesia. Mereka harus melanjutkan dialog agama, mereka harus mengatasi ketegangan di masyarakat, harus menjaganya dari pengaruh Jamaah Islamiyah, ISIS. Namun secara keseluruhan, Indonesia tetap sebagai negara demokrasi yang berhasil.

Bagaimana opini Anda atas ketegangan di Papua?

Saya mengenal Presiden Joko Widodo dengan sangat baik. Dia manusia luar biasa. Saya tahu dia akan menangani masalah ini. Namun saya bisa bilang, bahwa di mana pun juga di dunia, kita sebaiknya tidak menggunakan kekuatan militer atau uang dalam mengatasi konflik. Masalah mereka berasal dari hati, pikiran dan perasaan atau jiwa. Papua memiliki masalah berkaitan dengan perasaan, pikiran dan jiwa, jadi bukan ekonomi yang menjadi permasalahan. Namun Indonesia juga merupakan negara spiritual. Saya rasa Jokowi ingin mengatasi masalah di Papua dalam masa jabatannya. Meski ia sudah mengunjungi Papua berkali-kali, masih belum ada kemajuan dalam mengatasi masalah ini.

Apakah Anda memiliki rencana untuk mengunjungi Indonesia?

Saya mengunjungi Indonesia berkali-kali. Saya kenal Presiden Jokowi, dan wakil presiden Jusuf Kalla, mantan presiden Soesilo Bambang Yudhoyono, Magawati Soekarno Putri, dan banyak orang di pemerintahan dan media. Saya kenal banyak jurnalis dan saya adalah teman baik aktris Indonesia Christine Hakim, dia adalah aktris hebat. Saya ingin berkunjung ke Indonesia sesering mungkin.