Balaroa dan Petobo Terancam Jadi Kuburan Massal

Live
00:54 menit
04.10.2018

Desa Petobo Lenyap Ditelan Bumi

Lumpur akibat likuifaksi tanah yang menimbun sebagian penduduk di Balaroa dan Petobo mulai mengeras. Relawan mengkhawatirkan jumlah korban jiwa yang sesungguhnya dari bencana Sulawesi tidak akan pernah diketahui.

Ketika aliran bantuan perlahan mulai mengalir ke kawasan terpencil, harapan menemukan korban selamat menipis di kawasan Petobo dan Balaroa. Dua desa berpenghuni padat di selatan Palu itu dilahap lumpur menyusul likuifaksi tanah akibat gempa bumi. Setelah hampir sepekan, lumpur yang diyakini mengubur ribuan rumah bersama penghuninya itu mulai mengeras.

Sebab itu pula tim evakuasi dan relawan mengkhawatirkan jumlah korban jiwa yang sesungguhnya tidak akan pernah diketahui.  Relawan Palang Merah mengatakan Petobo yang dihuni 500 orang "menghilang" dari muka Bumi pasca bencana. Rekaman drone Palang Merah Indonesia yang diterbangkan Rabu (03/10) menunjukkan kehancuran dan amblasnya rumah warga hingga ke atap akibat ditelan likuifikasi.

"Mereka mendapati kehancuran dan tragedi di mana-mana," kata Iris van Deinse dari Federasi Palang Merah Internasional (IFRC). Saat ini tim penyelamat menggunakan alat berat untuk mencari jenazah 52 bocah yang lenyap, 35 di antaranya sudah ditemukan.

Baca Juga: Korban Jiwa Capai 1.407, Empat Negara Asing Kirimkan Hercules

Balaroa Ditelan likuifikasi tanah

Kehancuran serupa juga ditemukan di Balaroa. Desa yang hingga Jumat (28/9) pekan lalu masih dihuni oleh 2.000 orang itu kini nyaris rata dengan tanah. Dikhawatirkan 70% penduduk setempat meninggal dunia. Saat ini lebih dari 1.000 orang masih dinyatakan hilang.

Abdullah Sidik, seorang penduduk Balaroa, sedang menuju masjid untuk menunaikan sholat maghrib ketika gempa bumi meluluhlantakkan Palu. Ia langsung bergegas mencari isteri dan anak perempuannya. "Tanah terdorong ke atas," ujarnya. "Pada saat itu, saya terhuyung-huyung dan dihantam tembok dari belakang. Saya tidak bisa melakukan apapun dan saya kehilangan isteri dan anak saya."

Balaroa Amblas Akibat Likuifaksi

Likuifaksi 'tanah bergerak'

Hampir seluruh rumah di Perumnas Balaroa di Kecamatan Palu Barat, Kota Palu, Sulawesi Tengah amblas hingga lima meter. Struktur tanah di lokasi yang dihuni sekitar 900 kepala keluarga tersebut mengalami pergerakan akibat efek likuifaksi, yakni tanah yang muncul ke permukaan dalam bentuk lumpur akibat adanya tekanan gempa, dan bukan karena tsunami.

Balaroa Amblas Akibat Likuifaksi

Kubah masjid bergeser

Salah satu masjid di kelurahan Balaroa bergeser jauh dari lokasi awal akibat gempa terjadi di Palu. BNPB menyebutkan proses evakuasi di Balaroa baru bisa dilakukan jika alat berat tersedia di Palu.

Balaroa Amblas Akibat Likuifaksi

Evakuasi tersendat

BNPB memprediksi masih ada ratusan korban yang tertimbun di perumahan Balaroa. Evakuasi sulit dilakukan karena posisi tanah yang tidak stabil. Tim SAR gabungan berupaya menyisir lokasi secara manual.

Balaroa Amblas Akibat Likuifaksi

Pengungsian warga

Warga yang selamat dari gempa dan tsunami di Balaroa mengungsi dengan menggunakan tenda darurat yanng dipasang seadanya. Lokasinya yang terletak di kawasan berbukit, membuat wilayah ini tidak langsung mendapat banyak bantuan.

Balaroa Amblas Akibat Likuifaksi

Banyak anak-anak

Sejumlah anak-anak yang mengungsi bersama keluarganya mulai menderita sakit. "Penanganan sampai sekarang dari pemerintah daerah atau pemerintah pusat belum ada sama sekali yang hadir, kami butuh sekali logistik, tenda, air..." ungkap Rahmatsyah, Lurah Balaroa (01/10/2018).

Balaroa Amblas Akibat Likuifaksi

Bantuan sembako

Sejumlah anggota TNI mengawal persediaan sembako yang akan dibagikan kepada pengungsi korban gempa dan tsunami yang berada di Balaroa, Palu.

Balaroa Amblas Akibat Likuifaksi

Rumah sakit lapangan

Bagi warga yang terluka, Yonkes 2 Kostrad telah membangun rumah sakit lapangan. Sebagian besar pasien yang dirawat di rumah sakit ini adalah korban yang menderita patah tulang akibat gempa dan tsunami di Palu. (nar/Ed:ts/na)

"Saya ingin menguburkan mereka. Tolong bantu saya menemukan mereka di dalam."

Penduduk berkisah puluhan rumah bergeser puluhan meter akibat likuifaksi tanah. Sebagian menggunakan palu dan sekop untuk menggali rumah buat mencari sanak famili yang hilang.

"Kalau Anda berjalan di atas pasir basah di bibir pantai, biasanya permukaannya padat meski Anda meninggalkan jejak," kata Adam Switzer dari Observatorium Bumi di Singapura ihwal fenomena pencairan tanah. "Tapi jika Anda berdiri tegap dan memutar kaki anda ke dalam tanah, maka permukaannya akan berubah lembut dan menjadi tidak stabil. Inilah yang terjadi selama likuifaksi."

Jumlah korban tewas terus meningkat

Bencana gempa bumi yang menggoyang Sulawesi Tengah sampai saat ini sudah menelan setidaknya 1.424 korban jiwa, demikian keterangan resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Saat ini pasokan bahan bakar dan air bersih sudah berangsur normal. Meski demikian sebagian korban yang selamat masih belum tertangani secara maksimal.

Baca Juga: Kembali ke Palu, Jokowi Kawal Proses Penyaluran Bantuan

Kondisi ini terutama dirasakan sekitar 600.000 anak-anak yang terdampak bencana. Organisasi Save the Children mengakui masih banyak bocah yang menjadi yatim piatu dan terpaksa tidur di reruntuhan gedung. Sebagian anak-anak hidup sendiri karena terpisah dari kedua orangtuanya.

Beruntung sejumlah organisasi turun tangan membantu mereka menemukan keluarga terdekat. "Sulit membayangkan situasi yang lebih menakutkan untuk anak kecil," kata Zubedy Koteng, relawan perlindungan anak-anak di Palu. "Banyak anak-anak yang mengalami syok dan trauma, mereka sendirian dan ketakutan."

rzn/as (ap,rtr,dpa)

Gempa dan Tsunami Mengguncang Palu

Korban tewas bertambah

Seorang ayah menggendong jenazah anaknya yang tewas akibat tsunami di Palu, Sulawesi Tengah. Tsunami lebih dari 2 meter menyapu pesisir Palu dan Donggala. Sebagian besar korban yang ditemukan awalnya hanya di Palu, Sementara lokasi terparah di Donggola, Sigi dan Parigi sulit dicapai tim evakuasi, sehingga perkiraan jumlah korban jiwa diduga mencapai ribuan.

Gempa dan Tsunami Mengguncang Palu

Terjebak di bawah reruntuhan

Diperkirakan banyak korban yang terjebak bangunan yang roboh akibat gempa. Di Palu, fokus pencarian di antaranya Hotel Roa-Roa, Mal Ramayana, Restoran Dunia Baru, Pantai Talise dan Perumahan Balaroa. Di Balaroa, akibat proses likuifaksi ada bagian jalanan yang naik dan perumahan warga yang ambles sedalam 5 meter. Sekitar 90 warga diduga terjebak di dalam reruntuhan.

Gempa dan Tsunami Mengguncang Palu

Identifikasi korban

Meski jumlah korban tewas yang dievakuasi mencapai ratusan korban, namun yang dapat diidentifikasi melalui lima rumah sakit di Palu menurut catatan BNPB terbatas. "Jumlah itu juga sebagian karena tsunami, sebagian karena gempa sebelumnya yang mengakibatkan tsunami itu. Misalnya saat gempa itu tertimpa reruntuhan," papar juru bicara BNPB, Sutopo Purwo Nugroho.

Gempa dan Tsunami Mengguncang Palu

Ratusan terluka

Ratusan orang terluka dan terpaksa dirawat di luar rumah sakit. Sebagian besar terluka akibat tertimpa reruntuhan, atau saat menyelamatkan diri. Saat gempa banyak tembok bangunan yang roboh. Komang Adi Sujendra, Direktur Rumah Sakit Palu meminta bantuan. "Kami membutuhkan rumah sakit lapangan, tim medis, obat-obatan dan selimut."

Gempa dan Tsunami Mengguncang Palu

Pemakaman massal

Banyaknya jumlah korban serta demi mencegah penyebaran penyakit menyebabkan pemakaman massal menjadi pilihan. 18 jenazah yang dimakamkan pada tahan awal telah diidentifikasi sebelumnya di RS Bhayangkara Polri.

Gempa dan Tsunami Mengguncang Palu

Ratas di Palu

Joko Widodo langsung memimpin rapat terbatas setibanya di Palu, Sulawesi Tengah. Proses evakuasi, pembenahan akses jalan dan komunikasi jadi prioritas utama tanggap darurat saat Jokowi mengunjungi lokasi terdampak bencana gempa dan tsunami.

Gempa dan Tsunami Mengguncang Palu

Mengantre BBM

Antrean panjang terjadi di berbagai SPBU di Palu. Aliran listrik yang terputus, membuat warga terpaksa mengantre hingga malam. Selain warga, tempat yang juga mendesak membutuhkan pasokan BBM adalah rumah sakit.

Gempa dan Tsunami Mengguncang Palu

Tanpa listrik

Pasca gempa, infrastruktur hancur dan saluran komunikasi terputus. Warga bertahan di lapangan terbuka, karena takut berada di dalam bangunan bila gempa susulan terjadi.

Gempa dan Tsunami Mengguncang Palu

Akses jalan terputus

Akibat gempa dan tsunami, jalanan di Palu, Sulawesi Tengah, sulit diakses akibat jalan yang menghubungkan Poso dan Palu terputus. Bukan hanya di dalam kota, akses di wilayah perbatasan dengan kota tetangga juga terdampak gempa. Donggala, wilayah yang terkena dampak terparah sulit dicapai, sehingga evakuasi korban terhambat.

Gempa dan Tsunami Mengguncang Palu

Evakuasi daerah terparah

Warga turut membantu proses evakuasi para korban pasca gempa mengguncang Sulawesi Tengah, Jumat (28/09). Presiden Jokowi juga memerintahkan Menko Polhukam untuk mengkoordinasi BNPB serta menginstruksikan TNI untuk melakukan penanganan darurat baik pencarian korban, evakuasi, maupun penyiapan kebutuhan-kebutuhan dasar yang diperlukan korban selamat.

Gempa dan Tsunami Mengguncang Palu

Masjid Baiturrahman

Masjid Baiturrahman tak begitu jauh dari pesisir Pantai di Palu. Ketika gelombang tsunami terjadi, banyak umat yang bersiap melakukan sholat maghrib.

Gempa dan Tsunami Mengguncang Palu

Jembatan Kuning Ponulele

Dari pantauan udara terlihat, jembatan setinggi 20,2 meter yang jadi ikon Kota Palu luluh lantak akibat terjangan tsunami yang dahsyat. Jembatan lengkung pertama di Indonesia yang membentang di atas Teluk Talisa itu roboh dan turut membawa mobil yang melintas di atasnya.

Gempa dan Tsunami Mengguncang Palu

Tsunami 5 meter

BNPB menyebutkan tsunami yang menghantam Palu sempat mencapai ketinggian lima meter. Saat terjadi gempa yang disusul tsunami sebagian besar warga masih tetap melanjutkan aktivitas.

Gempa dan Tsunami Mengguncang Palu

Tak segera lari

Jumlah korban diperkirakan masih akan bertambah, sebab diketahui ada "puluhan hingga ratusan" orang yang sedang berkumpul melakukan perayaan di pantai Talise, Palu saat tsunami terjadi. "Ketika peringatan tsunami terjadi kemarin, warga tetap melanjutkan aktivitas mereka di dekat pantai dan tidak segera berlari dan mereka menjadi korban," ungkap juru bicara BNPB, Sutopo Purwo Nugroho.

Gempa dan Tsunami Mengguncang Palu

Peringatan tsunami

Sebelum gempa berkekuatan 7,7 SR yang memicu tsunami terjadi, sekitar tiga jam sebelumnya, gempa pertama terjadi di Donggala. Peringatan dini tsunami segera aktif saat gempa terjadi, namun sesudah setengah jam dan situasi dianggap kondusif, peringatan tsunami diakhiri. Peringatan dicabut berdasarkan pemantauan visual dan peralatan di laut.

Gempa dan Tsunami Mengguncang Palu

Penyebab gempa dan tsunami Donggala dan Palu

Gempa 7,7 SR yang mengguncang Donggala memicu gelombang tsunami di Kabupaten tersebut dan Kota Palu. Gempa bumi tersebut merupakan gempa tektonik yang dangkal akibat aktivitas Sesar Palu-Koro. Patahan Palu-Koro merupakan patahan dengan pergerakan terbesar kedua di Indonesia, setelah patahan Yapen, dengan pergerakan mencapai 46 mm/tahun.

Gempa dan Tsunami Mengguncang Palu

Gempa dan tsunami pernah terjadi

Bukan pertama kali gempa dan tsunami terjadi, baik di Donggala maupun Palu. Lokasinya yang berada di Sesar Palu-Koro menjadikan wilayah itu rawan gempa dan tsunami. BNPB merilis gempa dan/atau tsunami pernah terjadi 10 kali. Gempa pertama tercatat terjadi 1 Desember 1927 di Teluk Palu. Sedangkan tsunami setinggi 3,4 meter pernah terjadi tahun 1996 di Donggala. (Ed: ts/yp)


Ikuti kami