1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Bencana

Bantuan Asing Mengalir Untuk Korban di Sulawesi

1 Oktober 2018

Palang Merah Singapura dan Australia melayangkan imbauan donasi dan menerjunkan tim pakar ke Sulawesi. Sementara Uni Eropa menyiagakan layanan darurat pemetaan satelit Copernicus untuk membantu proses evakuasi korban

https://p.dw.com/p/35mmt
BdTDIndonesien nach dem Tsunami in Palu
Foto: Reuters/Antara Foto

Bantuan internasional untuk korban bencana gempa bumi dan tsunami di Palu,Sulawesi, mulai dikumpulkan setelah pemerintah Indonesia membuka keran bantuan bagi negara atau organisasi asing. Saat ini lebih dari 46.000 korban yang selamat membutuhkan makanan, obat-obatan, tenda dan perlengkapan medis.

Sejumlah lembaga internasional sudah mulai mengumpulkan sumbangan bagi korban di Sulawesi. Salah satunya adalah Palang Merah Australia (ARC). "Saat ini dibutuhkan bantuan kemanusiaan yang sangat tinggi," kata Peter Walton, Direktur Program Internasional ARC dalam surat himbauan yang dirilis di Australia.

"Semua warga Australia memahami, bahwa ini adalah waktu yang sulit buat banyak warga Indonesia menyusul serangkaian gempa bumi di Lombok Agustus silam. Kini warga Sulawesi didera bencana berganda, yakni gempa bumi dan tsunami," kata dia. "Kami mengimbau semua warga Australia untuk ikut membantu menyumbangkan dana kemanusiaan buat mereka yang kehilangan segalanya dalam bencana ini."

Peta kebencanaan yang disediakan layanan darurat pemetaan satelit milik Uni Eropa, Copernicus.
Peta kebencanaan kota Palu yang disediakan layanan darurat pemetaan satelit milik Uni Eropa, Copernicus.Foto: Copernicus EMS

ARC mengklaim telah mengirimkan tim pakar untuk membantu upaya penyelamatan yang dilakukan Palang Merah Indonesia. Selain itu satu tim lain juga disiagakan di Australia dan siap diterbangkan ke Indonesia jika diperlukan. Hal serupa dilakukan Palang Merah Singapura yang telah menyalurkan dana senilai 50.000 Dolar Singapura dan sebuah tim pakar ke Palu.

Adapun Palang Merah Cina saat ini sudah berkomitmen menyalurkan dana bantuan senilai 3 miliar Rupiah untuk korban di Sulawesi.

Baca Juga: Presiden Jerman Steinmeier dan Kanselir Merkel Sampaikan Belasungkawa Tsunami Palu

Bantuan sementara senilai 1,5 juta Euro atau sekitar 25 miliar Rupiah juga sudah dijanjikan oleh Uni Eropa buat korban Sulawesi. Selain itu UE juga menugaskan layanan darurat pemetaan satelit, Copernicus Emergency Management Service, untuk membantu Indonesia memantau kerusakan dan lokalisasi korban.

Peta satelit yang dibuat Copernicus menampilkan kondisi kota dan kawasan sekitar pasca bencana. Melalui layanan pencitraan langit yang mengandalkan tujuh satelit Sentinel ini, regu penyelamat bisa dengan cepat menganalisa kerusakan di dalam kota dan di kawasan yang belum terjangkau.

Uni Eropa juga berjanji siap memberikan "bantuan penuh" jika diperlukan dalam menangani situasi pasca-bencana.

Sementara itu kantor berita Cina, Xinhua, melaporkan Wakil Perdana Menteri Selandia Baru dan Menteri Luar Negeri Winston Peters, akan pula menawarkan bantuan kepada Indonesia pada saat kunjungannya ke Jakarta pekan ini. Keduanya sedang berada di Thailand dan akan bertolak ke Indonesia pada 4 Oktober mendatang.

"Gempa bumi dan tsunami pastinya menjadi pusat perhatian pemerintah Indonesia saat ini," kata Peters.

Aliran bantuan asing dibuka setelah Presiden Joko Widodo menugaskan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, Thomas Lembong, untuk mengorganisir bantuan. Untuk itu Thomas menyediakan email dan akun Twitternya bagi pihak yang ingin menawarkan bantuan. Sementara Kemenlu dan BNPB ikut dilibatkan untuk memastikan penyaluran bantuan berjalan lancar.

rzn/yf (rtr,ap,xinhua,arc,src)