1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Sosial

Bagaimana Wabah Corona Mengubah Cara Kita Bekerja

Malte Rohwer-Kahlmann
21 Maret 2020

Penyebaran virus corona mengubah cara banyak orang bekerja. Sebagian besar terpaksa bekerja dari rumah dan mengandalkan sambungan internet. Kita mungkin jadi terbiasa dengan hal ini.

https://p.dw.com/p/3ZnK0
Gambar ilustrasi perempuan bekerja dari rumah
Foto: picture-alliance/dpa/C. Klose

Memang, bekerja dari rumah bukan hal baru. Dan memang, perusahaan startup di bidang teknologi, para penganut kehidupan nomaden digital dan penasihat karir banyak yang memuji manfaat bekerja dari rumah. Mereka bilang ini dapat peningkatan produktivitas dan kebahagiaan. Tetapi tidak semua orang benar-benar mau menyambut segala kemungkinan yang ditawarkan teknologi modern.

Lihat saja di Jerman. Sebelum virus corona SARS-CoV-2 menyebar, hanya sekitar satu dari empat perusahaan yang mengizinkan beberapa karyawan mereka bekerja jarak jauh, menurut sebuah studi Institut Riset Tenaga Kerja, IAB. Hanya dua puluh persen pekerja yang melakukan pekerjaan jarak jauh. Dan mayoritas karyawan yang harus berangkat ke kantor mengatakan bahwa mereka memang ingin pergi ke kantor setiap hari.

Revolusi bekerja dari rumah

Tapi saat ini banyak para pekerja yang tidak bisa berangkat ke kantor. Jerman dan negara lain yang juga terpukul wabah corona, kini seperti tengah mengadakan uji coba besar-besaran bekerja dari rumah.

Pertanyaan yang kemudian timbul adalah, bagaimana kelanjutannya begitu kita perlahan-lahan kembali ke keadaan yang relatif normal. Pertanyaan ini utamanya berlaku buat mereka yang secara teori sebenarnya bisa-bisa saja bekerja dari rumah.

Akankah kita langsung mengemas laptop kita dan kembali ke kantor? Atau akankah kita menunggu beberapa minggu sambil tetap bekerja di rumah?

Marienplatz yang sepi di München, Jerman
Marienplatz di Münich, Jerman, yang biasanya dipadati wisatawan dan warga lokal pada Kamis (19/03) kosong akibat pembatasan terkait wabah corona. Banyak orang harus bekerja dari rumah.Foto: Imago Images/Zuma/S. Babbar

"Saya yakin ini benar-benar akan mengubah sesuatu," Josephine Hofmann dari Institut Teknik Industri Fraunhofer mengatakan kepada saya lewat sambungan telepon. Dia mengatakan bahwa perusahaan akan selalu melihat sisi positif dari membiarkan orang bekerja dari rumah. 

Rapat yang menghabiskan waktu dan tidak efisien dapat diganti dengan email. Pertemuan-pertemuan bisnis kini bisa dilakukan lewat konferensi video. Keadaan ini mungkin tetap berlangsung bahkan setelah krisis usai dan menyebabkan perusahaan meningkatkan infrastruktur yang mendukung kerja jarak jauh bagi karyawan mereka. "Ini akan sangat menguntungkan bagi planet kita, iklim kita dan cara kerja yang lebih berkelanjutan," kata Hofmann.

Bukan untuk semua orang
Studi kasus yang terjadi di Cina tampaknya juga mendorong perubahan ini. Agen perjalanan asal Cina, CTrip, mengizinkan beberapa staf layanan panggilannya untuk bekerja dari rumah. Sekelompok ekonom mengukur dampak kebijakan perusahaan ini dan menemukan bahwa para pekerja jadi lebih bahagia, produktif, dan menghemat uang perusahaan karena kebutuhan akan ruang kantor jadi berkurang.

Kenyataannya, eksperimen ini begitu sukses sehingga pihak manajemen memutuskan untuk memberlakukannya di seluruh perusahaan. Namun mereka dengan cepat menyadari bahwa bekerja dari rumah tidaklah cocok bagi semua orang. Beberapa orang memang dapat berkembang ketika mereka bekerja dari sofa rumah yang nyaman. Tetapi yang lain mungkin merasa terasing. Alasan utama mengapa beberapa karyawan di CTrip tidak menikmati kerja jarak jauh adalah karena mereka merasa kesepian.

Dan saya bisa mengerti perasaan ini. Setelah hanya satu minggu bekerja sendirian dari meja dapur di rumah, saya kehilangan ide yang biasanya muncul dari interaksi dengan rekan-rekan saya. Tentu saja, kami tetap berhubungan lewat email, pesan singkat, panggilan telepon. Kami bahkan minum bersama sepulang kerja, lewat sambungan video. Namun rasanya berbeda tanpa adanya luapan spontan energi kreatif yang kadang timbul saat berkumpul bersama di ruang kantor.

Keduanya mungkin bisa berjalan beriringan

"Solusinya adalah bekerja dari tempat yang tepat pada saat yang tepat," kata Tristan Horx lewat Skype. Horx bekerja untuk Zukunftsinstitut, sebuah lembaga think tank di Jerman yang meneliti tren masa depan. Dia mengatakan bahwa lingkungan yang berbeda cenderung mendukung jenis pekerjaan yang berbeda pula. Karyawan pun akan lebih cenderung untuk mencari hal ini.

Itu berarti para pekerja nantinya bisa saja menangani tugas individu yang butuh lebih banyak konsentrasi dari rumah, dan pergi ke kantor ketika mereka perlu mengerjakan proyek bersama. Dunia kerja memang sedang menuju ke arah ini. Namun Horx mengatakan bahwa situasi yang terjadi saat ini akan mempercepat perubahan.

"Jika sekarang Anda banyak melakukan rapat secara virtual, Anda akan menyadari bahwa proses kreatif kolaboratif akan jauh lebih banyak timbul lewat pertemuan langsung," katanya. Jadi memang, virus corona kemungkinan besar akan mengubah cara kita bekerja. (ae/ha)