1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Tren Anak Belajar Coding di Cina, Indonesia Bagaimana?

11 Desember 2019

Anak-anak di Cina berbondong-bondong mempelajari logika pemrograman komputer atau coding, bahkan sebelum masuk sekolah dasar. Lantas bagaimana kondisi anak di Indonesia dalam memahami teknologi komputasi?

https://p.dw.com/p/3UXsf
China Kinder am Computer
Foto: picture-alliance/dpa/Imaginechina/Zhang Guorong

Hanya mengenakan kacamata berbingkai hitam dan kaus merah, seorang bocah lelaki berusia delapan tahun di Cina membuka komputernya untuk memulai pelajaran pemrograman (coding) di internet. Bocah itu bukan murid, tapi dia adalah gurunya.

Bocah bernama Vita ini telah membuat saluran tutorial coding di situs berbagi video Cina, Bilibili, sejak Agustus 2019. Sejauh ini dia punya hampir 60.000 pengikut dan lebih dari satu juta kali orang melihat salurannya. Vita adalah salah satu di antara semakin banyak anak di Cina yang belajar coding bahkan sebelum mereka memasuki sekolah dasar.

Tren ini dipicu oleh kepercayaan di kalangan orang tua bahwa keterampilan menguasai bahasa pemrograman komputer akan sangat penting bagi remaja di Cina mengingat dorongan pemerintah akan penguasaan teknologi.

"Coding sebenarnya tidak mudah, tetapi juga tidak sulit - setidaknya tidak sesulit yang Anda bayangkan," ujar Vita yang tinggal di Shanghai. Bocah lelaki itu dengan sabar mengajarkan murid-murid yang sebagian besar adalah anak-anak berusia lebih tua darinya dan sebagian lagi orang dewasa muda.

Dengan sabar ia mengajarkan murid-muridnya, selangkah demi selangkah, lewat aplikasi pemrograman rancangan Apple, Swift Playgrounds

Sambil terus menerangkan, Vita juga dengan sengaja membuat beberapa kesalahan agar murid-muridnya bisa menghindari kesalahan pemula yang umum terjadi. "Ketika mengajar, saya juga belajar hal-hal baru pada saat yang sama," tambah Vita.

Baca juga: Inilah Anak-Anak Pakar Robotika Masa Depan

Tren kecerdasan buatan di Cina

Cina melakukan investasi besar-besaran di bidang robotik dan kecerdasan buatan. Tahun 2017 pemerintah Cina mengeluarkan rencana pengembangan kecerdasan buatan yang menyarankan agar kursus pemrograman diajarkan di sekolah dasar dan menengah. Tahun lalu, Cina pun menerbitkan buku teks pertamanya tentang kecerdasan buatan, sementara Provinsi Zhejiang mendaftarkan pemrograman sebagai salah satu subjek ujian untuk masuk perguruan tinggi.

Bagi Vita, ayahnya lah yang selama ini jadi pendukung utama. Sang ayah, Zhou Ziheng, mengedit videonya dan membantu menjalankan saluran video itu. Zhou bekerja sebagai penerjemah lepas buku-buku dengan tema ilmiah dan teknologi. Ia pun mulai mengajar putranya cara menulis kode ketika Vita masih berusia lima tahun.

"Saya belajar coding ketika masih muda, jadi saya percaya bahwa Vita belajar coding di usia ini adalah sesuatu yang normal," katanya. Ketika Vita berusia empat tahun, mereka mulai dengan memainkan beberapa permainan komputer yang berhubungan dengan coding, yang menggunakan ikon untuk mengganti kode.

Baca juga: Gamedesign : Bekerja Sambil Bermain

Setelah melihat bahwa Vita memainkan permainan ini dengan sangat baik, Zhou memutuskan untuk memberinya beberapa pekerjaan coding. Musim panas ini, Vita mengejutkan ayahnya dengan berhasil menulis ulang kode dalam aplikasi yang tidak bekerja dalam sistem yang ia perbarui sendiri.

Mulai dari usia sangat dini

Di Cina, nilai pasar pendidikan pemrograman untuk anak-anak mencapai 7,5 miliar yuan (nyaris senilai Rp 15 triliun) pada tahun 2017. Nilai ini diperkirakan akan mencapai lebih dari 37,7 miliar yuan (sekitar Rp 75 triliun) pada tahun 2020, menurut Analysys, sebuah perusahaan analisis internet di Cina.

"Pendidikan pemrograman di sekolah umum di Cina dimulai sangat terlambat (dibandingkan dengan negara-negara maju), jadi kursus seusai jam sekolah kami menebus kekurangan ini," kata Pan Gongbo, manajer umum pusat pendidikan coding Tongcheng Tongmei yang berbasis di Beijing. Siswa termuda di sekolah itu masih berusia tiga tahun. 

Untuk anak berusia di bawah enam tahun, agensi ini menawarkan program khusus yang mencakup kegiatan seperti pembangunan Lego, yang juga menggunakan pengetahuan dan keterampilan coding. Menurut Pan, anak-anak di usia enam atau tujuh tahun sepenuhnya mampu belajar coding dalam perkembangan kognitif.

"Jangan meremehkan kecepatan belajar anak-anak. Di beberapa kursus kami, mereka belajar lebih cepat daripada orang dewasa," kata dia.

Seorang murid bernama Ji Yingzhe yang berusia sepuluh tahun telah mempelajari bahasa kode Python selama setengah tahun. Sebelumnya ia mengambil kursus selama satu semester untuk mempelajari dasar-dasar pembangunan robot, tetapi menurutnya itu terlalu mudah.

Baca juga: Kecerdasan Buatan: Jerman Paling Hebat Sedunia

"Kode-kodenya sudah ditulis untuk Anda, dan yang harus Anda lakukan adalah mengatur (blok kode) ini secara berurutan," katanya.

Ayah Ji mengirimnya untuk belajar pemrograman karena Ji menghabiskan terlalu banyak waktu bermain video game. Jadi di rumahnya ada aturan baru: Ji hanya boleh memainkan permainan yang dia ciptakan sendiri. Sekarang Ji hampir selesai menulis versi sederhana dari game populer Plants vs Zombies.

Sementara Vita pada bulan November telah ikut berlomba dalam kompetisi coding untuk murid sekolah dasar yang diadakan oleh Shanghai Computer Society. Dengan dibantu ayahnya, Vita menghabiskan waktu dua bulan mempelajari bahasa kode C ++ untuk kompetisi ini. Meski termasuk di antara peserta yang paling muda, Vita berhasil melaju hingga babak final.

Bagaimana dengan di Indonesia?

Pemerintah Indonesia saat ini sedang giat-giatnya merangkul teknologi digital di segala bidang. Bahkan Presiden Joko Widodo pernah mengatakan berniat menggantikan sejumlah aparat sipil dengan kecerdasan buatan. Namun apakah ambisi ini juga diikuti dengan pendidikan yang memadai di bidang komputasi dan logika yang merupakan dasar teknologi ini?

Berbicara kepada DW Indonesia, Kurie Suditomo, pendiri codingcamp.id, lembaga yang memberikan pelatihan digital bagi anak usia 9 hingga 17 tahun, mengakui bahwa pendidikan pemrograman di Indonesia memang masih sangat terbatas dan hanya bisa diakses oleh sebagian dari kalangan menengah atas.

"Kita punya masalah dengan kualitas guru yang tidak merata, Anak-anak kita mendapatkan akses ke dalam perkembangan teknologi yang sangat cepat sementara secara formal guru-guru sangat ketinggalan," ujar Kurie dalam wawancara dengan DW Indonesia, Rabu (11/12).

Ketertinggalan guru dalam hal penguasaan teknologi ini dipengaruhi beberapa faktor misalnya seperti kelas sosial yang berbeda sehingga informasi yang dikonsumsi guru sangat berbeda dengan apa yang dikonsumsi anak-anak didik mereka. "Alat-alat yang dipakai berbeda dan wawasan pun berbeda," ujar Kurie.

Ia pun sangat menyayangkan dihapuskannya mata pelajaran Teknologi, Informasi dan Komunikasi (TIK) dari kurikulum pendidikan nasional pada tahun 2013. Penghapusan ini menurutnya akan membuat banyak siswa terutama dari sekolah negeri semakin terbelakang dalam memahami ilmu komputer.

"Alasannya karena komputer itu seharusnya sudah embedded di semua mata pelajaran. Jadi misalnya matematik, IPA, IPS pakai komputer. Jadi komputer tidak dilihat sebagai suatu keilmuan tetapi sebagai sebuah alat. Saya tidak mengerti bagaimana dasar berpikirnya bisa masuk ke situ karena ilmu komputer itu bukan sekadar pakai microsoft office, tapi ada ilmu komputasi yang sebenarnya lebih dari sekadar penggunaan komputer. Nah cara berpikir sebagai komputasi itu yang tidak pernah diajarkan sama sekali," ujarnya.

Lebih lanjut ia mengatakan masih lebarnya jurang pembelajaran ilmu komputer antara kalangan berpunya di kota besar di Indonesia, utamanya Jakarta, dan masyarakat umum di berbagai daerah.

"Indonesia itu jauh dari situ. Kalau kita mau berharap Indonesia ikut antusiasme dangan belajar coding itu hanya bisa terjadi di kelas sosial tertentu... Memang selalu ada market yang menyambut jasa pengajaran coding bagi anak-anak tapi dia belum seheboh yang terjadi di Cina atau Inggris misalnya," ujar Kurie.

ae/vlz (AFP)