Belarus: Kisah Terpendam Kembalikan Sejarah Kamp Konsentrasi Terlupakan ke Benak Eropa

Sebuah tugu peringatan diresmikan di salah satu bekas kamp konsentrasi terbesar NAZI di kawasan bekas Uni Sovyet. Presiden Jerman, Frank-Walter Steinmeier menyebut penghargaan bagi korban terlupakan itu "tidak ternilai".

Kamp konsentrasi Maly Trostenets adalah salah satu kamp konsetnrasi NAZI yang terbesar di kawasan yang menjadi wilayah Uni Sovyet setelah Perdan Dunia II. Antara awal tahun 1942 dan musim panas 1944 sekitar 60.000 sampai 200.000 orang tewas dibunuh di kamp ini. Warga Yahudi dari Eropa Barat adalah kelompok terbesar di antara korban, di antaranya sekitar 22.000 warga Yahudi dari Jerman. Demikian perkiraan International Education and Exchange Center (IBB) yang berbasis di Dortmund.

Tetapi kamp yang berlokasi hanya 10 km dari kota Minsk itu hampir terlupakan sepenuhnya di kedua sisi Tirai Besi selama era Uni Sovyet. Hingga 2002 tidak ada bentuk peringatan apapun yang menimbulkan kenangan atas pembunuhan massal yang terjadi di sini selama Perang Dunia II.

Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier didampingi Presiden Belarus, Alexandr Lukashenko (tengah) dan Presiden Austria, Alexander Van der bellen (kanan)

Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier hadir dalam upacara peresmian monumen bagi para korban kamp Maly Trostenets, yang juga dikenal dengan sebutan Maly Troscianiec. Sambil menyebutnya "langkah yang seharusnya sudah diambil dari dulu," Steinmeier mengatakan, monumen harus jadi cara membawa kembali Maly Trostenets "ke dalam benak Eropa."

Inilah pertama kalinya presiden Jerman berkunjung ke Belarus. Presiden Austria dan Belarus juga hadir dalam upacara.

Korban terlupakan di sebelah timur Auschwitz

"Kebudayaan mengingat Soviet secara sengaja tidak mengikutsertakan Holocaust," kata pakar sejarah Belarus Aleksandr Dolgovsky. Dalam sejarah Uni Sovyet, korban kamp konsentrasi itu disebut "warga sipil Soviet, partisan dan pemberontak."

Di Jerman pun, tidak banyak peringatan atas korban Perang Dunia II dan kekejaman NAZI di Eropa Timur, walaupun jumlahnya besar. Demikian papar pakar sejarah Ekaterina Makhotina dari Universitas Bonn.

"Tidak Akan Pernah Terulang Lagi" - Monumen tentang Kengerian

Wannsee House (Rumah Wannsee)

Vila di tepi danau Wannsee di Berlin adalah lokasi menentukan dalam perencanaan Holocaust, yaitu pembantaian warga Yahudi di jaman PD II. 15 anggota pemerintahan NAZI dan satuan SS bertemu di sini 20 Januari 1942 untuk merencanakan deportasi dan pembantaian warga Yahudi di seluruh kawasan yang dikuasai Jerman. 1992 villa ini dijadikan tugu peringatan dan museum.

"Tidak Akan Pernah Terulang Lagi" - Monumen tentang Kengerian

Dachau

Kamp konsentrasi pertama dibuka di Dauchau, tidak jauh dari München. Hanya beberapa pekan setelah Adolf Hitler mulai berkuasa, kamp ini digunakan satuan SS untuk memenjara, menyiksa dan membunuh penentang rezim. Dachau juga jadi prototipe bagi sejumlah kamp yang dibangun setelahnya.

"Tidak Akan Pernah Terulang Lagi" - Monumen tentang Kengerian

Lahan Tempat Demonstrasi Kekuatan

Nürnberg adalah kota di mana tempat propaganda terbesar partai NAZI dari 1933 sampai dimulainya PD II tahun 1939. Kongres partai tahunan serta demonstrasi yang dihadiri sekitar 200.000 orang diadakan di area seluas 11 km². Sekarang, Gedung Kongres yang tak selesai dibangun ini menjadi pusat dokumentasi dan museum.

"Tidak Akan Pernah Terulang Lagi" - Monumen tentang Kengerian

Bergen-Belsen

Kamp konsentrasi Bergen-Belsen di Niedersachsen awalnya penjara tawanan perang, kemudian menjadi kamp konsentrasi. Tahanan yang terlalu sakit untuk bekerja diangkut ke sini dari kamp konsentrasi lain. Banyak juga yang meninggal akibat penyakit. Dari 50.000 yang tewas di sini, salah satunya Anne Frank, anak perempuan Yahudi yang dikenal karena buku hariannya yang dipublikasikan internasional.

"Tidak Akan Pernah Terulang Lagi" - Monumen tentang Kengerian

Monumen Perlawanan Warga Jerman terhadap NAZI

Gedung Bendlerblock di Berlin dulunya tempat berkumpul kelompok mililter penentang NAZI. 20 Juli 1944, sekelompok perwira NAZI yang dipimpin Kolonel Claus von Stauffenberg melaksanakan upaya pembunuhan terhadap Hitler, namun gagal. Pemimpin kelompok itu ditembak mati pada hari yang sama di lapangan di tengah gedung Bendlerblock. Sekarang menjadi Pusat Peringatan Perlawanan Jerman terhadap NAZI.

"Tidak Akan Pernah Terulang Lagi" - Monumen tentang Kengerian

Pusat Eutanasia Hadamar

Dari 1941 orang-orang yang punya kelemahan fisik dan mental dibunuh di rumah sakit Hadamar di Hesse. Karena dinyatakan "tidak diinginkan" oleh Nazi, sekitar 15.000 orang dibunuh dengan suntikan obat mematikan atau dengan gas. Di seluruh Jerman sekitar 70.000 dibunuh sebagai bagian dari program Eutanasia NAZI. Sekarang Hadamar jadi monumen bagi para korban.

"Tidak Akan Pernah Terulang Lagi" - Monumen tentang Kengerian

Monomen Holocaust

Monumen berdiri di sebelah Gerbang Brandenburg, dan jadi monumen bagi warga Yahudi yang dibantai di Eropa. Monumen diresmikan 60 tahun setelah berakhirnya PD II, tanggal 10 Mei 2005. Karya arsitek Peter Eisenman ini berupa 2.711 kotak beton yang memenuhi lahan luas. Di bawah monumen terhadap pusat informasi, di mana dicantumkan seluruh warga Yahudi korban NAZI, yang diketahui namanya.

"Tidak Akan Pernah Terulang Lagi" - Monumen tentang Kengerian

Monumen bagi Warga Homoseksual

Tidak jauh dari monumen Holocaust di Berlin, berdiri monumen peringatan bagi ribuan warga homoseksual yang jadi korban NAZI antara 1933 dan 1945. Monumen setinggi empat meter ini diresmikan 27 Mei 2008.

"Tidak Akan Pernah Terulang Lagi" - Monumen tentang Kengerian

Monumen bagi Warga Sinti dan Roma

Di seberang gedung parlemen, Reichstag di Berlin, sebuah taman diresmikan 2012 jadi peringatan bagi 500.000 warga Sinti dan Roma yang dibunuh rezim NAZI. Di tepian sebuah kolam peringatan tercantum puisi berjudul Auschwitz, karya pujangga Roma Santino Spinelli. Puisi ditulis dalam bahasa Inggris, Jerman dan Romani.

"Tidak Akan Pernah Terulang Lagi" - Monumen tentang Kengerian

Stolpersteine: Batu Sandungan Sebagai Monumen

Tahun 1990-an, seniman Gunther Demnig memulai proyek untuk mengkonfrontasikan orang dengan masa lalu Jerman, tepatnya NAZI. Karyanya berupa sejumlah batu beton yang dilapis kuningan, yang ditempatkan di depan rumah korban NAZI. Pada batu tercantum nama dan tanggal deportasi serta kematiannya, jika diketahui. Lebih dari 45.000 Stolpersteine (batu sandungan) ditempatkan di 18 negara Eropa.

"Tidak Akan Pernah Terulang Lagi" - Monumen tentang Kengerian

Brown House (Rumah Coklat) di München

Tepat di sebelah Führerhaus (rumah pemimpin), di mana kantor Adolf Hitler dulu berada, terdapat markas besar Partai NAZI, yaitu di gedung bernama Brown House. Bangunan berupa kubus berwarna putih kini berdiri di lokasi itu, dan menjadi Pusat Dokumentasi bagi Sejarah NAZI, diresmikan 30 April 2015. Penulis: Max Zander, Ille Simon (ml/as).

Dua lokasi monumen di Trostenets

Pekerjaan dimulai di monumen Trostenets tahun 2010. Bangunan utama adalah monumen berbentuk segi tiga yang disebut "Gerbang Ingatan" diresmikan 2015. Dari gerbang itu, ditandai jalan yang ditempuh korban menuju kematian. Monumen kedua di ladang tempat pembunuhan sudah dibuka. Tetapi kedua lokasi belum sempurna dibangun.

Sejak pekerjaan pada kedua monumen dimulai, dua kelompok independen yang terdiri dari pakar sejarah dan arsitek, bekerjasama. Demikian dijabarkan pakar sejarah Galina Levina kepada media Belarus, Tut.by. Keputusan yang diambil adalah membangun monumen dari bahan-bahan sederhana, bukan dari bahan mewah seperti marmer yang tidak tersedia di jaman Perang Dunia II, demikian Levina.

Monumen-Monumen Peringatan Yahudi di Berlin

Peringatan Holocaust

Tugu peringatan di pusat ibu kota Jerman ini dirancang oleh arsitek New York, Peter Eisenmann. Hampir 3.000 blok batu dipasang memperingati enam juta orang Yahudi dari seluruh Eropa yang dibunuh oleh NAZI.

Monumen-Monumen Peringatan Yahudi di Berlin

Pelat-pelat peringatan

Pelat kuningan ini sangat kecil, hanya 10 kali 10 sentimeter (3,9 x 3,9 inci). Anda dapat menemukannya di mana-mana di trotoar di Berlin. Ini dibuat untuk memperingati orang-orang yang dulu tinggal di dekat lokasi lempengan ditempatkan, sebelum mereka dideportasi oleh NAZI. Total ada lebih dari 7.000 dari batu semacam ini di Berlin.

Monumen-Monumen Peringatan Yahudi di Berlin

Rumah Konferensi Wannsee

Lima belas pejabat tinggi NAZI bertemu di vila ini di Danau Wannsee pada tanggal 20 Januari 1942 untuk membahas pembunuhan sistematis orang Yahudi Eropa yang mereka sebut "solusi akhir untuk Yahudi". Kini rumah tersebut jadi peringatan tentang dimensi genosida yang tak terbayangkan.

Monumen-Monumen Peringatan Yahudi di Berlin

Melacak 17 memorial

Mawar putih di trek 17 di stasiun Grunewald ini untuk memperingati lebih dari 50.000 orang Yahudi Berlin yang dikirim ke kamp kematian mereka dari sini. 186 pelat baja menunjukkan tanggal, tujuan dan jumlah orang yang dideportasi. Kereta pertama menuju ke ghetto Litzmannstadt (Łódź) pada tanggal 18 Oktober 1941, kereta terakhir ke kamp konsentrasi Sachsenhausen pada 5 Januari 1945.

Monumen-Monumen Peringatan Yahudi di Berlin

Bengkel kerja orang buta Otto Weidt

Hackesche Höfe di Berlin Mitte disebutkan di setiap panduan perjalanan. Ini adalah labirin halaman belakang di mana banyak orang Yahudi tinggal dan bekerja - misalnya di pabrik sikat pengusaha Jerman Otto Weidt. Selama era NAZI, ia mempekerjakan banyak orang Yahudi buta dan tuli dan menyelamatkan mereka dari deportasi dan kematian. Lokakarya orang buta ini sekarang menjadi museum.

Monumen-Monumen Peringatan Yahudi di Berlin

Pusat mode Hausvogteiplatz

Jantung metropolis mode Berlin pernah berdetak di sini. Sebuah tanda peringatan yang terbuat dari cermin tinggi mengingatkan banyaknya para perancang busana dan stylist Yahudi yang membuat pakaian untuk seluruh orang Eropa di Hausvogteiplatz. NAZI mengambil alih dari pemiliknya yang beretnis Yahudi. Kerusakan pusat fesyen Berlin ini tak terhindarkan selama Perang Dunia Kedua.

Monumen-Monumen Peringatan Yahudi di Berlin

Monumen Peringatan di Koppenplatz

Sebelum masa Holocaust, 173.000 orang Yahudi tinggal di Berlin, pada tahun 1945 tersisa hanya ada 9.000. Monumen "Der verlassene Raum" terletak di tengah kawasan pemukiman Koppenplatz. Ini adalah pengingat warga Yahudi yang diambil dari rumah mereka tanpa peringatan dan tidak pernah kembali.

Monumen-Monumen Peringatan Yahudi di Berlin

Museum Yahudi

Arsitek Daniel Libeskind memilih desain dramatis: dilihat dari atas, bangunan itu tampak seperti Bintang Daud yang rusak. Museum Yahudi adalah salah satu museum yang paling banyak dikunjungi di Berlin, menawarkan gambaran sejarah Jerman-Yahudi yang bergolak.

Monumen-Monumen Peringatan Yahudi di Berlin

Pemakaman Yahudi di Weissensee

Masih ada delapan pekuburan Yahudi yang tersisa di Berlin. Yang terbesar di distrik Weissensee, dan terdiri dari lebih dari 115.000 kuburan yang jadi kuburan Yahudi terbesar di Eropa. Pada tanggal 11 Mei 1945, hanya tiga hari setelah berakhirnya Perang Dunia Kedua, ibadah Yahudi pertama diadakan di sini.

Monumen-Monumen Peringatan Yahudi di Berlin

Sinagoga Baru

Ketika Sinagoga Baru di Oranienburger Strasse pertama kali ditahbiskan pada tahun 1866, itu dianggap sebagai sinagoga terbesar dan paling megah di Jerman. Sinagoga ini terbakar saat Perang Dunia Kedua. Pada tahun 1995, sinagoga yang direkonstruksi diresmikan. Sejak itu, kubah emas setinggi 50 meter sekali lagi mendominasi pemandangan kota Berlin. Penulis: Kerstin Schmidt (ap/ml)

Kebudayaan mengingat yang melampaui batas negara

Pakar sejarah Belarus Aleksandr Dolgovsky mengatakan, penting bahwa peringatan dihidupkan setelah era Uni Sovyet berakhir. Ia memaparkan, bagi pakar sejarah, ini bukan sekedar peringatan baru atas peristiwa sejarah yang mengerikan dan memilukan.

"Celah informasi dalam riset sejarah adalah tantangan bagi kebudayaan mengingat kita. Apakah kita mampu membebaskan diri dari batasan negara yang hanya memungkinkan kita berduka dan memperingati korban di wilayah negara kita sendiri?" Demikian Dolgovsky. Ia menambahkan, "Kita harus mengingat kamp konsentrasi ini bersama dengan warga Jerman, sirael, Austria, Swiss, Amerika dan keturunan warga Yahudi yang dideportasi dan kini tinggal di negara lain."

Penulis: Mikhail Bushuev, Elena Danejko (ml/ap)


'Selamat Tinggal, Sayangku': Surat Terakhir Korban Holocaust

Bocah lelaki biasa

Lewat pantulan beberapa cermin, Salman Levinson seolah-olah menatap kita dari segala arah. Foto ini dipotret tahun 1937. Salman kecil, yang kerap dipanggil Sima, tumbuh layaknya bocah lelaki seumurannya. Bersama ibunya, Frieda dan ayahnya, Selig mereka tinggal di Riga. Tantenya pada tahun 1936 berimigrasi ke Eretz, Israel dan secara teratur menulis surat untuk Salman.

'Selamat Tinggal, Sayangku': Surat Terakhir Korban Holocaust

Rumah dari Riga

Pada ulang tahun ke-9, Salman menulis surat tanda terima kasih pada tantenya, Agnes atas hadiah yang dikirim. Salman menyertakan gambar berjudul "Bait“, dalam bahasa Ibrani artinya “Rumah“. Tak lama berselang, serdadu Jerman menduduki Riga. Agnes tak lagi mendengar kabar dari keponakannya. Ketika perang berkecamuk, Agnes baru mengetahui: keluarga Salman dideportasi ke ghetto Riga, lalu dibunuh.

'Selamat Tinggal, Sayangku': Surat Terakhir Korban Holocaust

Wajah para korban

Tempat peringatan holocaust di Israel, Yad Vashem menampilkan surat-surat terakhir milik korban Holokaust- kalimat terakhir para korban sebelum Nazi membunuh mereka. Selain lembaran kertas, ada juga foto para pemilik surat dan keluarga mereka. Foto di atas adalah gambar anak-anak keluarga Keller-Moses saat mereka tinggal di Aachen, Jerman.

'Selamat Tinggal, Sayangku': Surat Terakhir Korban Holocaust

Huruf J untuk Yahudi

Paspor Sigfried Keller berstempel huruf "J“ untuk "Jude“, dalam bahasa Jerman artinya Yahudi. Tahun 1938, Nazi mengecap huruf 'J' untuk terpidana hukuman mati. Dari keluarganya, hanya Sigfired yang selamat. Tahun 1942 di Theresienstadt, Ibunya menulis: “Wahai anak-anakku terkasih, hiduplah dengan baik dan doakanlah kami, Allah Maha Pengasih dengan tanganNya akan melindungi kami dan juga kalian.“

'Selamat Tinggal, Sayangku': Surat Terakhir Korban Holocaust

Sepuluh dari ribuan surat

Dari ribuan surat yang tersimpan di arsip, Yad Vashem memilih sepuluh surat untuk ditampilkan dalam pameran tersebut. Sebagian dari pemilik surat tidak mengetahui bahwa itu akan menjadi kalimat terakhir mereka sebelum maut menjemput. Seperti halnya, Sigfried Bodenheimer – pada foto berseragam tentara – yang ikut bertempur pada PD I. Tak mungkin ia bayangkan bahwa Nazi akan membunuh keluarganya.

'Selamat Tinggal, Sayangku': Surat Terakhir Korban Holocaust

Surat terakhir sebelum ke pengasingan

Sebagian besar penulis surat mencoba menampilkan kesan berani dengan menyembunyikan kondisi mereka yang sebenarnya. Anne Meininger dalam sebuah surat kepada anak-anaknya menuliskan: “Kami berada di sebuah kamp sejak hari Rabu dan saya merasa sangat baik. Kalian tidak perlu khawatir. […] Ketika kita bisa terus saling mendengar kabar satu sama lain. […] Cium sayang dari Ibu kalian terkasih.“

'Selamat Tinggal, Sayangku': Surat Terakhir Korban Holocaust

Dari “pembuangan“ ke Israel

Dari sebuah ghetto di Warsawa, Perla Tytelman menulis kepada suaminya, Josef dan putrinya, Rachel: “Saya mengerahkan segala daya upaya agar mampu bertahan hidup demi kalian. […] Rasa rindu di antara kita tidak mengenal batas.“ Perla tewas dibunuh. Rachel dan Josef dapat bertahan hidup dan akhirnya memilih meninggalkan "pembuangan" dan berimigrasi ke Eretz Israel tahun 1947.

'Selamat Tinggal, Sayangku': Surat Terakhir Korban Holocaust

Kereta ke Auschwitz

Lukisan "Transport No.2“ karya Paul Kor gambarkan kereta yang membawa ayah Paul ke Auschwitz, kamp kematian. Pameran bertajuk “‘Lebt Wohl, meine Lieben‘. Letzte Briefe aus dem Holocaust 1941-1942“ hadir untuk memperingati peristiwa holocaust. Dalam pameran online itu, kisah sebagian korban seakan memberi wajah yang wakili enam juta orang Yahudi yang dibunuh di seluruh Eropa. (SJ.Hofmann/ts/ap)

Ikuti kami