1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Berpuasa di Militer Jerman Bundeswehr

Ulrike Hummel17 Juni 2015

Tentara Jerman yang beragama Islam menghadapi tantangan berat selama bulan Ramadan. Mereka harus bisa menjaga kondisi dan konsentrasi selama bulan puasa.

https://p.dw.com/p/1958T
Chaouki Aakil
Chaouki AakilFoto: Ulrike Hummel

Chaouki Aakil, 30 tahun, adalah Sersan Kepala di Batalyon Logistik. Ia juga bertanggung jawab atas keselamatan serdadu selama transportasi. Tugas ini menuntut konsentrasi yang tinggi. Ramadan tahun ini jatuh pada musim panas. Ini berarti tantangan berat bagi serdadu Jerman yang beragama Islam.

"Terutama ketika bertugas di luar Jerman, ini cukup sulit. Waktu bertugas di Afghanistan, nurani saya mengatakan, saya tidak bisa berpuasa." Karena sebagai serdadu, di Afghanistan ia menghadapi beban fisik dan psikis yang sangat berat. Selain itu, ia berada dalam budaya yang sangat berbeda. Jadi ia harus berkonsentrasi penuh.

Keputusan Sulit

Puasa atau tidak, serdadu Jerman yang beragama Islam harus mengambil keputusan sendiri. Sebab dalam situasi ekstrim, berpuasa malah bisa mengganggu kesehatan, kata Michael Faust, dokter di Uniklinik Köln.

"Dalam misi yang panjang, tentara perlu konsentrasi tinggi. Dalam hal ini, minum jadi sangat penting." Tapi orang bisa bertahan tanpa makanan untuk waktu yang lama. Kebutuhan kalori bisa dipenuhi sebelum atau sesudahnya. "Ini memang bisa bermasalah bagi kesehatan, tapi tidak dramatis," kata Faust.

Pada akhirnya, setiap serdadu harus menentukan sendiri, apakah ia mampu berpuasa atau tidak. "Orang sakit, dalam perjalanan, wanita hamil atau menyusui, atau orang tua, boleh tidak berpuasa dan bisa menebusnya di hari lain," kata ahli Islam yang juga bertugas sebagai Imam di Bundeswehr, Erol Pürlu. Ini juga berlaku untuk orang-orang yang punya pekerjaan berat. "Berpuasa itu untuk memperbaiki kesehatan, bukan untuk merusaknya," tandas Pürlu.

Makanan Halal di Dapur Bundeswehr

Tidak mudah mengatur waktu makan di Bundeswehr selama puasa. "Tentu lebih sulit, karena ada jadwal dapur umum," kata Sersan Kepala Chaoukil Aakil. "Jadi masa buka puasa harus dibicarakan sebelumnya." Apalagi di Jerman, waktu buka puasa setiap hari bergeser beberapa menit. Jadi pekerja kantin harus bisa fleksibel. Tapi sampai sekarang, semuanya berfungsi dengan baik, ujar Aakil.

Menurut Aakil, militer Jerman menawarkan makanan "halal" sesuai dengan kemungkinan yang ada. Jadi selalu ada tawaran menu tanpa daging babi. Juga produk sampingan yang tidak halal seperti gelatin tidak digunakan.

Dapur umum Bundeswehr memang sudah menyiapkan diri. "Di sini di Unna, pembuatan makanan juga dilakukan terpisah," kata Aakil. Juru masak di dapur umum menggunakan sendok dan peralatan khusus untuk makanan halal. Mereka juga memperhatikan agar daging babi tidak disimpan tercampur dengan daging yang halal.

Jika jadwal kerja memungkinkan, Chaouki Aakil berusaha berbuka puasa dengan keluarganya. Baginya, bulan puasa adalah masa untuk berkumpul dengan keluarga. Berpuasa punya makna sosial. Seseorang yang menjalankan ibadah puasa, kata Aakil, ikut merasakan bagaimana kaum miskin merasa lapar dan kehausan, dan memupuk rasa solidaritas.