1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Bisakah Tempe "Go International"?

6 Juni 2015

Penggiat tempe Indonesia mencanangkan 6 Juni sebagai Hari Tempe Sedunia. Kampanye non profit Indonesian Tempe Movement terus mengupayakan agar produk asli Indonesia ini bisa semakin dikenal di dunia internasional.

https://p.dw.com/p/1FcAS
Foto: Colourbox/Reezuan.Z

#KitaBangsaTempe, demikian hashtag yang dipopulerkan oleh kampanye Indonesian Tempe Movement. Tempe adalah produk asli Indonesia yang sejak beberapa tahun terakhir tengah digalakkan upaya promosinya agar bisa go international.

Di dunia internasional, tempe dikenal oleh kaum vegetarian. Tempe dimanfaatkan sebagai pengganti daging sebagai sumber protein. Tempe mulai dikenal di Eropa melalui orang-orang Belanda. Perusahaan-perusahaan tempe yang pertama di Eropa dimulai di Belanda dan didirikan oleh imigran Indonesia.

Pada tahun 1984 sudah tercatat 18 perusahaan tempe di Eropa, 53 di AS, dan 8 di Jepang. Di beberapa negara lain, seperti Cina, India, Taiwan, Sri Lanka, Kanada, Australia, Amerika Latin, dan Afrika, tempe mulai dikenal di kalangan terbatas.

Di Jerman, tempe tidak begitu dikenal. Masih ada yang tidak tahu bedanya antara tahu dan tempe. Walau demikian, ada beberapa perusahaan produk organik yang membuat tempe. Perusahaan Tempehmanufaktur bahkan memproduksi tempe dengan berbagai macam rasa, seperti kari, dan bumbu Italia.

Hak paten tempe?

Beberapa pihak di Indonesia khawatir kegiatan ini dapat mengancam keberadaan tempe sebagai bahan pangan milik umum karena galur-galur ragi tempe unggul dapat didaftarkan hak patennya sehingga penggunaannya dilindungi undang-undang. Untuk itu diperlukan lisensi dari pemegang hak paten.

Di tingkat internasional, Codex Alimentarius Comission telah menetapkan standar regional Codex untuk tempe sebagai CODEX STAN 313R-2013, standar regional tempe.

Dengan diadopsinya standar Codex tempe, rujukan internasional untuk produk tempe telah tersedia yang pada akhirnya dapat memfasilitasi peneriman produk tempe Indonesia di dalam pedagangan internasional. Daya saing produk tempe Indonesia juga bisa ditingkatkan.

Namun, mayoritas produsen tempe Indonesia adalah Usaha Kecil Menengah (UKM). Kepala BPOM, Roy A. Sparringga menyebutkan lebih dari 100.000 UKM yang memproduksi tempe di Indonesia. Oleh karenanya, mereka butuh didukung dalam menerapkan Good Manufactory Practises/GMP.

Tempe standar internasional

Rumah Tempe Indonesia (RTI) di Bogor diharapkan bisa menjembatani masalah ini. RTI menjadi wadah bernaungnya para produsen tempe dan tahu. Di sini, standar pembuatan tempe dibuat lebih berkelas, higienis dengan bahan baku pilihan dan berorentasi ekspor. RTI dibentuk oleh Koperasi Pengrajin Tempe Tahu Indonesia (KOPTI) Kabupaten Bogor, Mercy Corps dan Forum Tempe Indonesia.

Selain memproduksi tempe yang higienis dan ramah lingkungan, RTI juga akan menjadi pusat belajar bagi pengrajin tempe yang lain. Sehingga memungkinkan percepatan adopsi dan replikasi teknologi dan menjadikan industri tempe di Indonesia berdaya saing internasional.

Januari 2015, gerakan Tempe Movement diumumkan di Jakarta oleh Komisi Ilmu Rekayasa Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia. Pada Hari Tempe Sedunia setiap 6 Juni, satu paket buku tentang tempe akan diluncurkan. Tema yang diulas buku antara lain menyangkut bioteknologi, nutrisi dan kesehatan.

Penelitian tempe

Target berikutnya dari para penggiat tempe adalah mendirikan Pusat Penelitian Tempe Dunia atau World Tempe Research Center.

"Di luar negeri banyak yang meneliti tempe. Amerika, Belanda, Jepang sampai Malaysia. Di Malaysia sendiri sudah terpikir membuat institut untuk tempe," tutur Prof. Dr. Ir. Antonius Suwanto, MSc dari Fakultas Teknobiologi Universitas Katolik Atmajaya.

Ia menyayangkan jika institusi tempe dunia justru berada di luar Indonesia. Indonesia harus meniru Korea. Negara ini sudah memiliki World Institute of Kimchi dan museum khusus kimchi.

vlz/yf (dpa, antara, detik, voa, bsn, tempehmanufaktur)