BNN Bakal Agresif Dalam Perang Melawan Narkoba

Kepala BNN berencana mengambil langkah agresif dalam memerangi narkotika, dengan memperkuat aparat dan persenjataan. Kebijakan seperti di Filipina menurutnya dapat diterapkan, namun dengan pertimbangan matang.

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen. Pol. Budi Waseso mengatakan permasalahan narkoba di Filipina memang berbeda dengan di Indonesia. Namun menurutnya, bisa saja BNN menerapkan sanksi kepada bandar narkoba seperti yang dilakukan pemerintah Filipina. Dikutip dari reuters, Budi Waseso mengatakan: "Hal ini dapat terjadi karena (masalah narkoba) di Indonesia sama buruknya seperti di Filipina."

Dilansir merdeka.com, Budi Waseso mengungkapkan: "Saya kira negara itu (Filipina) sudah tahu, tahu situasi dan kondisinya. Itu dilakukan karena negara itu memerlukan tindakan itu. Bukan berarti kita ikut-ikutan negara lain."

Seperti diketahui, dalam menanggulangi penyalahgunaan narkotika dan obat bius di negaranya, pemerintahan Filipina di bawah Presiden Rodrigo Duterte melakukan tindakan keras, termasuk pembunuhan di luar pengadilan.

Sejak Presiden Rodrigo Duterte menjabat sebagai presiden pada bulan Juni lalu, 2400 orang telah tewas dalam "aksi perang melawan narkoba" yang dilancarkannya. Sekitar 900 meninggal dalam operasi kepolisian dan pihak berwenang. Sementara lainnya, “meninggal dalam proses investigasi“, sebuah istilah yang dianggap aktivis hak asasi manusia sebagai eufemisme untuk aksi main hakim sendiri dan pembunuhan di luar pengadilan.

Potret paling muram perang narkoba di Filipina bisa disimak di Lembaga Pemasyarakatan Quezon City, di dekat Manila. Penjara yang dibangun enam dekade silam itu sedianya cuma dibuat untuk menampung 800 narapidana. Tapi sejak Duterte berkuasa jumlah penghuni rumah tahanan itu berlipat ganda menjadi 3.800 narapidana

Sebuah ruang sel di penjara Quezon City sebenarnya cuma mampu menampung 20 narapidana. Tapi lantaran situasi saat ini, sipir memaksa hingga 120 tahanan berjejalan di dalam satu sel. Pemerintah menyediakan anggaran makanan senilai 50 Peso atau 14.000 Rupiah dan dana obat-obatan sebesar 1.400 Rupiah per hari untuk setiap tahanan.

Menurut studi Institute for Criminal Policy Research di London, lembaga pemasyarakatan di Filipina adalah yang ketiga paling membludak di dunia. Data pemerintah juga menyebutkan setiap penjara di dalam negeri menampung jumlah tahanan lima kali lipat lebih banyak ketimbang kapasitas aslinya.

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen. Pol. Budi Waseso mengatakan permasalahan narkoba di Filipina memang berbeda dengan di Indonesia. Namun menurutnya, bisa saja BNN menerapkan sanksi kepada bandar narkoba seperti yang dilakukan pemerintah Filipina. Dikutip dari reuters, Budi Waseso mengatakan: "Hal ini dapat terjadi karena (masalah narkoba) di Indonesia sama buruknya seperti di Filipina."

Dilansir merdeka.com, Budi Waseso mengungkapkan: "Saya kira negara itu (Filipina) sudah tahu, tahu situasi dan kondisinya. Itu dilakukan karena negara itu memerlukan tindakan itu. Bukan berarti kita ikut-ikutan negara lain."

Seperti diketahui, dalam menanggulangi penyalahgunaan narkotika dan obat bius di negaranya, pemerintahan Filipina di bawah Presiden Rodrigo Duterte melakukan tindakan keras, termasuk pembunuhan di luar pengadilan.

Sejak Presiden Rodrigo Duterte menjabat sebagai presiden pada bulan Juni lalu, 2400 orang telah tewas dalam "aksi perang melawan narkoba" yang dilancarkannya. Sekitar 900 meninggal dalam operasi kepolisian dan pihak berwenang. Sementara lainnya, “meninggal dalam proses investigasi“, sebuah istilah yang dianggap aktivis hak asasi manusia sebagai eufemisme untuk aksi main hakim sendiri dan pembunuhan di luar pengadilan.

Kebijakannya itu mendapat kecaman masyarakat internasional termasuk PBB, yang mengatakan pembunuhan tersebut melanggar hukum..

Sumpah Digong

Presiden baru Filipina, Rodrigo "Digong" Duterte, melancarkan perang besar terhadap kelompok kriminal, terutama pengedar narkotik dan obat terlarang. Sumpahnya itu bukan sekedar omong kosong. Sejak Duterte naik jabatan ribuan pelaku kriminal telah dijebloskan ke penjara, meski dalam kondisi yang tidak manusiawi.

Sempit dan Sesak

Potret paling muram perang narkoba di Filipina bisa disimak di Lembaga Pemasyarakatan Quezon City, di dekat Manila. Penjara yang dibangun enam dekade silam itu sedianya cuma dibuat untuk menampung 800 narapidana. Tapi sejak Duterte berkuasa jumlah penghuni rumah tahanan itu berlipat ganda menjadi 3.800 narapidana

Beratapkan Langit

Ketiadaan ruang memaksa narapidana tidur di atas lapangan basket di tengah penjara. Hujan yang kerap mengguyur Filipina membuat situasi di dalam penjara menjadi lebih parah. Saat ini tercatat cuma terdapat satu toilet untuk 130 tahanan.

Cara Cepat "menjadi gila"

Tahanan dibiarkan tidur berdesakan di atas lapangan. "Kebanyakan menjadi gila," kata Mario Dimaculangan, seorang narapidana bangkotan kepada kantor berita AFP. "Mereka tidak lagi bisa berpikir jernih. Penjara ini sudah membludak. Bergerak sedikit saja kamu menyenggol orang lain," tuturnya. Dimaculangan sudah mendekam di penjara Quezon City sejak tahun 2001.

Minim Anggaran

Sebuah ruang sel di penjara Quezon City sebenarnya cuma mampu menampung 20 narapidana. Tapi lantaran situasi saat ini, sipir memaksa hingga 120 tahanan berjejalan di dalam satu sel. Pemerintah menyediakan anggaran makanan senilai 50 Peso atau 14.000 Rupiah dan dana obat-obatan sebesar 1.400 Rupiah per hari untuk setiap tahanan.

Sarang Penyakit

Buruknya situasi sanitasi di penjara Quezon City sering berujung pada munculnya wabah penyakit. Selain itu kesaksian narapidana menyebut tawuran antara tahanan menjadi hal lumrah lantaran kondisi yang sempit dan berdesakan.

Sang Penghukum

Dalam perang melawan narkoba Duterte tidak jengah menggunakan cara brutal. Sejak Juli silam aparat keamanan Filipina telah menembak mati sekitar 420 pengedar narkoba tanpan alasan jelas. Cara-cara yang dipakai pun serupa seperti penembak misterius pada era kediktaturan Soeharto di dekade 80an. Sebab itu Duterte kini mendapat julukan "the punisher."

Membludak

Menurut studi Institute for Criminal Policy Research di London, lembaga pemasyarakatan di Filipina adalah yang ketiga paling membludak di dunia. Data pemerintah juga menyebutkan setiap penjara di dalam negeri menampung jumlah tahanan lima kali lipat lebih banyak ketimbang kapasitas aslinya.

Pecandu Mati Kutu

Presiden Duterte tidak cuma membidik pengedar saja, ia bahkan memerintahkan kepolisian untuk menembak mati pengguna narkoba. Hasilnya 114.833 pecandu melaporkan diri ke kepolisian untuk menjalani proses rehabilitasi. Namun lantaran kekuarangan fasilitas, sebagian diinapkan di berbagai penjara di dalam negeri.

Duterte Bergeming

Kelompok HAM dan gereja Katholik sempat mengecam sang presiden karena ikut membidik warga miskin yang tidak berurusan dengan narkoba. Beberapa bahkan ditembak mati di tengah jalan tanpa alasan yang jelas dari kepolisian. Seakan tidak peduli, Duterte malah bersumpah akan menggandakan upaya memberantas narkoba.

Dikutip dari merdeka.com, Budi Waseso mengatakan, BNN dapat saja menerapkan hukuman bagi para pengedar narkoba seperti di negara tetangga, Filipina. Dengan catatan hal itu harus dipertimbangkan secara matang: "Tergantung bagaimana kesepakatan negara kita. Ekstrim atau tidaknya tergantung cara kita memandang, cara kita mengambil langkah-langkah. Tidak harus sama seperti Filipina, tapi kita harus melakukan tindakan tegas. Kalau tidak kita akan terus seperti ini," paparnya lebih lanjut.

Mengenai kebijakan lembaga BNN sendiri dalam menanggulangi aksi para bandar narkoba, Budi Waseseo menegaskan, bahwa hal itu merupakan wewenang dirinya sebagai kepala BNN.

Pemimpin kedua negara, Indonesia-Filipina akan bertemu akhir pekan ini di Jakarta. Ditengarai, salah satu topik utama yanga kann dibicarakan menyangkut cara untuk menghapus perdagangan narkoba di kawasan itu.

Gaya hidup

Afghanistan Rajanya Opium dan Heroin

Afghanistan merupakan produsen opium terbesar sedunia yakni antara 5.000 hingga 6.000 ton opium mentah per tahun. Jika dimurnikan opium akan berubah menjadi heroin. Setelah penarikan tentara NATO tahun silam ladang poppy di Afghanistan bertambah 40 persen menjadi seluruhnya 210.00 hektar. Pasar terbesar opium dari Afghanistan adalah Amerika Serikat dan Asia.

Gaya hidup

Kolumbia Juara Dunia Kokain

Kolumbia, Bolivia dan Peru menjadi juaranya produsen kokain sedunia. Di tiga negara itu tercatat seluruhnya 135.000 hektar ladang daun koka. Produksi tahunan Kolumbia saja menurut laporan badan anti narkotika PBB-UNODC sekitar 300 sampai 400 ton setahun. Pasar kokain terbesar adalah Amerika Selatan, Amerika Utara dan Eropa.

Gaya hidup

Maroko Penghasil Utama Ganja

Setiap tahunnya negara di Afrika utara itu rata-rata memproduksi 1.500 ton hashis, marijuana dan ganja kering. Di seluruh Maroko terdapat sekitar 134.000 hektar ladang ganja. Penanaman ganja kini makin marak, setelah Amerika Serikat dan Meksiko melegalkan penggunaan marijuana dalam jumlah terbatas.

Gaya hidup

Myanmar Ratu Heroin Asia Tenggara

Segitiga emas Myanmar, Laos dan Kamboja adalah ratunya produksi opium dan heroin di Asia Tenggara. Produksinya sekitar 1.000 ton opium setahun. Opium dari Segitiga Emas biasanya diselundupkan ke luar lewat Thailand dan dari situ menyebar ke kawasan lain di Asia Tenggara termasuk ke Indonesia.

Gaya hidup

Amerika Serikat dan Mexiko Pusat Meth

Narkoba sintetis Crystal Meth menurut UNODC saat ini konsumsinya meningkat drastis. Belum diketahui pastinya, di mana negara produsen utama, karena narkoba sintetis ini mudah dibuat di laboratorium rumahan. Data menunjukan polisi di Amerika Serikat menggerebek 12.000 laboratorium semacam itu. AS dan Meksiko menyita sekitar 80 persen dari 144 ton Meth yang berhasil disita di seluruh dunia.

ap/yf(rtr/merdeka/jakartapost)