Bogor Mulai Diet Kantong Plastik Per 1 Desember

Inisiatif untuk mengurangi penggunaan kantong plastik mulai diterapkan di kota Bogor awal Desember 2018. Program ini akan dimulai khususnya dalam aktivitas perbelanjaan.

Pelaku usaha di Bogor, Jawa Barat, diminta untuk tidak menyediakan kantor plastik bagi pembeli, demikian Peraturan Wali Kota Nomor 61/2018 tentang Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik.

Alam dan Lingkungan | 08.11.2018

Pemkot Bogor melaporkan volume sampah Kota Bogor mencapai 700 ton per hari, dimana 100 ton di antaranya adalah sampah plastik. Pusat perbelanjaan ditengarai menjadi salah satu pihak yang bertanggung jawab mengalirkan 1,8 ton plastik sekali pakai ke masyarakat.

"Sampah plastik butuh waktu 200 tahun agar bisa terurai. Oleh karena itu, pelarangan kantong plastik ini diharapkan bisa mengurangi sampah tersebut, sehingga kerusakan lingkungan dapat diminimalisir,” ungkap Kepala Bidang Persampahan DLH Kota Bogor, Mochamad Ade Nugraha.

Tak cukup kampanye

Selain mengeluarkan aturan, Pemkot Bogor berencana mengampanyekan program diet plastik melalui sosialisasi. Sebagai pengganti tas plastik di pusat perbelanjaan, warga pun diajak untuk beralih menggunakan kantong ramah lingkungan.

"Dari Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) juga menyediakan kantong ramah lingkungan di setiap kelurahan. Namun, bisa juga warga bawa tas belanja sendiri dari rumah," ujar Bima Arya, Wali Kota Bogor dalam rilis resmi.

Tak hanya di Bogor, upaya untuk mengurangi penggunaan kantong plastik juga telah dilakukan pemerintah daerah lainnya, antara lain kota Banjarmasin, Balikpapan, dan Jakarta. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Apriando) pun mengaku pelarangan di sejumlah kota bisa menyebabkan pelaku usaha mengalami kerugian karena pembatalan transaksi oleh konsumen. 

Alam dan Lingkungan

60-90 persen sampai di laut mengandung plastik

Setidaknya 8 juta ton plastik mencemari lautan di dunia setiap tahun. Ini seperti mengosongkan truk berisi sampah plastik ke laut setiap menit.

Alam dan Lingkungan

2050 jumlah plastik di laut lebih banyak dari ikan

Saat ini rasio perbandingan antara plastik dan plankton diperkirakan 1:2. Jika dibiarkan begitu saja, volume plastik akan melebihi ikan pada tahun 2050. Jumlah plastik di laut saat ini sekitar 150 juta ton, ini seperlima dari bobot total ikan yang ada.

Alam dan Lingkungan

Sampah plastik juga mengotori pantai-pantai Eropa

Di Inggris misalnya, setiap 100 meter pantai Inggris, ada lebih dari 200 sampah plastik atau polistirena. September 2017, hampir 7000 orang berpartisipasi dalam aksi pembersihan pantai Great British Beach Clean in September 2017 - proyek yang menyingkirkan 255.209 sampah dari 339 pantai.

Alam dan Lingkungan

Lebih dari 50 persen penyu laut menelan plastik

Ratusan ribu penyu laut, paus, mamalia laut lainnya dan lebih dari 1 juta burung laut mati setiap tahun karena polusi laut dan menelan atau terjerat sampah di laut. Banyak hewan laut yang tidak bisa membedakan antara makanan dan sampah plastik. Sehingga sistem pencernaan terblokir dan menyebabkan kematian.

Alam dan Lingkungan

Ada 6,3 milyar ton sampah plastik di bumi

Walau plastik baru ada sejak 60-70 tahun yang lalu, material ini berhasil mendominasi kehidupan manusia. Hampir untuk setiap kegiatan manusia, bisa dipastikan ada barang kebutuhan yang terbuat dari plastik.

Alam dan Lingkungan

Popok bayi butuh 450 tahun untuk terurai

Kebanyakan popok bayi mengandung polietilena atau termoplastik, bahan yang sama digunakan untuk membuat dengan kantong plastik. Tahukah Anda, bahwa popok kotor yang dibuang akan terus berada di bumi selama 450 tahun, karena sulit terurai? Tali pancing butuh lebih lama lagi, yakni sekitar 600 tahun.

Alam dan Lingkungan

Lebih dari 20.000 botol dijual per detik

Kontribusi terbesar polusi plastik adalah botol minuman. 480 milyar botol plastik terjual di tahun 2016. Ini berarti lebih dari 1 juta botol dalam 1 menit.

Alam dan Lingkungan

Ada lebih banyak mikroplastik di laut dibanding bintang di Bima Sakti

Di galaksi Bima Sakti atau "Milky Way" saja diperkirakan ada 100-400 milyar bintang. Sementara menurut Clean Seas, ada 51 trilyun mikroplastik di lautan dunia. Penulis: vlz/yf (dari berbagai sumber)

"Potensi kerugian memang semua data Aprindo masih kalkulasi, yang jelas semakin daerah memiliki edukasi tinggi makin bisa kompromi. Semakin edukasi, maaf, rendah, maka di situlah sangat menimbulkan kebingungan, kekacauan, pembatalan transaksi dan sebagainya," kata Ketua Umum Aprindo Roy Mandey kepada Detik News.

Pemerintah pernah mengeluarkan aturan pemakaian kantong berbayar di supermarket pada tahun 2016 namun program tersebut terhenti. Padahal Indonesia didaulat sebagai negara kedua penyumbang sampah plastik terbesar ke laut, bahkan sempat terancam digugat di Mahkamah Internasional.

Berbeda dengan program di Indonesia, pemerintah Malaysia melarang penggunaan plastik secara nasional selama setahun. Sebelum memberlakukan larangan tersebut secara resmi, pemerintah negara jiran tersebut terlebih dulu meningkatkan kesadaran masyarakat dengan cara membangun keterlibatan publik. 

Iptek

Dari darat ke lautan

80 persen sampah plastik di lautan berasal dari daratan. Tempat penampungan sampah terbuka menyebabkan sampah bisa terbawa angin. Lewat sungai, sampah kemudian sampai ke lautan. Rata-rata kantung plastik digunakan hanya 25 menit. Tetapi untuk hancur dan terurai di alam dibutuhkan hingga 500 tahun.

Iptek

Gerakan 3R? Tidak cukup

Seorang pengusaha di Bali merasa muak terhadap maraknya sampah plastik yang mengotori Pulau Dewata. Kevin Kumala mencoba untuk mengatasi masalah tersebut dengan mencari solusi alternatif untuk menggantikan plastik konvensional. Baginya, plastik yang bisa terurai akan melengkapi gerakan 3R: Reduce, Reuse, Recycle. Ditambah satu R lagi, Replace atau membuat pengganti.

Iptek

Buat produk ramah lingkungan

Lewat perusahaan Avani Eco, sang pengusaha itu kemudian memproduksi barang-barang unik: tas dari bahan dasar singkong, wadah makanan terbuat dari tebu dan sedotan dibuat dari jagung.

Iptek

Dasyatnya efek sedotan plastik

Bayangkan jika setiap hari, tiap warga Indonesia yang jumlahnya 250 juta orang menggunakan satu sedotan plastik dan membuangnya setelah sekali pakai. Sedotan yang mungil itu jadi masalah karena jika sampahnya terakumulasi, maka bisa mencapai 5.000 kilometer.

Iptek

Plastik ekologis

Produk baru diharapkan jadi solusinya, yakni: berbagai produk plastik ekologis. Bahan bakunya berasal dari sumber daya terbarukan. Karena itu dapat terurai dengan cepat menjadi kompos. Walau begitu, plastik ekologis ini juga tidak mudah sobek, bisa dibubuhi cap atau logo perusahaan, dan dapat diproses di mesin pengolah plastik konvensional.

Iptek

Tak meninggalkan residu beracun

Pendiri perusahaaan ramah lingkungan tersebut, Kevin Kumala mengatakan materi produk-produknya dapat terurai di alam dengan relatif cepat dan tidak meninggalkan residu beracun. "Saya seorang penyelam dan peselancar. Selama ini saya banyak melihat sampah plastik ini di depan mata saya," kata Kumala menjelaskan mengapa ia memutuskan untuk masuk ke bisnis "bioplastik".

Iptek

Produk paling diminati

Proyeknya dimulai saat masalah sampah plastik makin merajalela di Bali dan Jawa. Berkantor pusat di Bali, dengan pabrik utamanya di pulau Jawa, produk bioplastik Avani Eco mulai dijual pada tahun 2015. Produk yang paling populer adalah tas yang terbuat dari singkong – bahan makanan yang murah dan melimpah di Indonesia - dengan kata-kata "Saya bukan plastik" yang terpampang di tas tersebut.

Iptek

Bisa diminum

Kevin Kumala yang merupakan lulusan biologi, mengatakan tas kantung palstik ini bahkan juga bisa diminum. Caranya, celupkan tas yang terbuat dari singkong ke dalam segelas air panas. Tas itu kemudian larut dalam air dan bisa langsung diminum. "Jadi, ini memberi harapan kepada hewan laut, mereka tidak lagi tersedak atau tertelan sesuatu yang bisa berbahaya," katanya.

Iptek

Masih mahal

Produk bioplastik lainnya telah lama ada di pasar, namun United Nations Environment Programme (UNEP) tampak ragu akan industri tersebut. Dalam laporan tahun 2015, Badan PBB itu menyimpulkan bahwa produk bioplastik cenderung lebih mahal dan tidak memainkan peranan utama dalam mengurangi sampah laut. (Ed: Purwaningsih/AS/copyright gambar: Avani Eco)

 ts/hp (Kompas.com, Detik News, Indopos)