1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KriminalitasAfganistan

Perdagangan Opium di Afganistan Meningkat

Shabnam von Hein
14 Desember 2021

Semakin banyak rakyat Afganistan tanam opium untuk bertahan hidup di tengah kemiskinan ekstrem. Taliban tampaknya tidak akan melarang penanaman komoditi narkotika ini.

https://p.dw.com/p/44BUe
Petani opium di Provinsi Jalalabad, Afganistan
Petani di Provinsi Jalalabad, Afganistan, mengumpulkan opium mentah dari ladang mereka.Foto: Rahmat Gul/AP/picture alliance

Budidaya opium sebagai tanaman obat memang punya sejarah panjang di Afganistan. Getah yang diekstraksi dari biji poppy yang dikeringkan ini sangat berguna untuk menghasilkan opium mentah, bahan baku untuk obat bius.

Saat ini opium digunakan terutama sebagai bahan mentah untuk produksi obat-obatan yang lebih kuat seperti obat penghilang rasa sakit dan heroin.

Pada musim panen tahun 2021 yang berakhir Juli lalu, diperkirakan 6.800 ton opium telah diproduksi di Afganistan. Jumlah ini meningkat sekita8% dari hasil panen tahun 2020, menurut laporan Badan PBB untuk Narkoba dan Kriminalitas (UNODC) baru-baru ini.

Menurut laporan tersebut, Afganistan menyumbang 85% dari produksi opium global, dan opiat dari Afganistan dipakai oleh sekitar 80% pengguna di seluruh dunia.

UNODC mengestimasikan bisnis opium di Afganistan menghasilkan antara $1,8 miliar hingga $2,7 miliar (sekitar Rp25,8 hingga Rp38,7 triliun) pada tahun 2021, atau sekitar sepersepuluh dari kegiatan ekonomi di negara itu.

Organisasi ini mengatakan berkuasanya kembali Taliban pada Agustus 2021, dan ketidakpastian ekonomi yang berlarut-larut, mendorong harga opium pada Agustus dan September mencapai rekor tertinggi baru. "Ini memperkuat insentif untuk budidaya opium," kata laporan itu.

Tidak semuanya bisa dikendalikan

"Produksi opium di Afganistan akan terus meningkat," demikian menurut seorang mantan perwira militer Afganistan yang tidak mau disebutkan namanya. "Menanam opium adalah sumber pendapatan yang terjamin bagi para petani dan banyak pengangguran yang kini kembali ke desa mereka dari kota-kota," kata perwira militer itu. Identitasnya tidak diungkap karena alasan keamanan.

Sebelum Taliban mengambil alih kuasa, ia tergabung dalam unit khusus tentara Afganistan yang bertugas memerangi kejahatan terkait narkoba. 

"Kami tidak bisa mengendalikan semuanya pada saat itu," petugas itu mengakui. "Utamanya di daerah-daerah terpencil, Taliban punya pengaruh lebih besar dan melindungi petani opium. Jika Taliban mau, mereka dapat menghambat produksi opium, mereka pernah melakukan ini sebelumnya."

Selama periode pertama pemerintahan Taliban dari tahun 1996 hingga 2001, mereka melarang produksi opium, yang mengakibatkan produksi anjlok pada tahun 2001. Namun, setelah Taliban digulingkan dari kekuasaan pada tahun yang sama, produksi opium melonjak lagi.

Kini Taliban mengklaim ingin memerangi penanaman opium dan perdagangan narkoba di Afganistan. Setelah mengambil alih kekuasaan pada bulan Agustus 2021, Taliban mengumumkan niat mereka untuk mengurangi produksi opium hingga nol.

Namun Taliban dikenal menggunakan perdagangan narkoba untuk membiayai operasi militan mereka. Menurut pemerintah Amerika Serikat, sekitar 60% dari pendapatan tahunan Taliban dihasilkan dari penanaman dan perdagangan narkoba.

Perdagangan opium kemungkinan akan berlanjut

Thomas Ruttig dari Jaringan Analis Afganistan mengatakan bahwa Taliban bukan satu-satunya faktor pendorong bagi pergerakan ekonomi dari hasil produksi narkoba di Afganistan dalam beberapa tahun terakhir.

"Pemerintah sebelumnya telah berjuang melawan pengaruh Taliban di daerah pedesaan, dan banyak dari rakyatnya terlibat langsung dalam penyelundupan narkoba," kata Thomas Ruttig. 

Analis mengatakan pasukan Barat di Afganistan sering bekerja sama dengan panglima perang, komandan, dan pejabat pemerintah yang terlibat dalam perdagangan narkoba, dan jarang melakukan apa pun untuk menghentikan aktivitas itu.

Ruttig menambahkan bahwa dia tidak yakin bahwa Taliban benar-benar ingin mengenyahkan produksi opium di Afganistan. "Mereka tidak ingin melakukannya, dan mereka tidak bisa melakukannya, karena mereka akan kehilangan pendukung utama di pedesaan," kata Ruttig. (ae/hp)