1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Bush: Penarikan Pasukan AS dari Afganistan Sebuah Kesalahan

Kate Martyr
16 Juli 2021

Dalam wawancara eksklusifnya bersama DW, mantan Presiden AS George W. Bush mengatakan bahwa dia mengkhawatirkan nasib perempuan dan anak-anak di Afganistan setelah pasukan Amerika dan NATO meninggalkan negara itu.

https://p.dw.com/p/3wV9b
Penarikan pasukan AS di Afganistan akan rampung pada akhir Agustus
Penarikan pasukan AS di Afganistan akan rampung pada akhir AgustusFoto: picture-alliance/AP Photo/Operation Resolute Support Headquarters/Sgt. Justin T. Updegraff

Mantan Presiden Amerika Serikat (AS) George W. Bush menyebut penarikan pasukan AS dan NATO dari Afganistan sebagai "sebuah kesalahan." Hal ini ia sampaikan dalam wawancara eksklusifnya bersama Deutsche Welle (DW).

"Saya khawatir perempuan dan gadis Afganistan akan menderita kerugian yang amat buruk," ujarnya seraya menambahkan bahwa dia juga prihatin dengan nasib penerjemah dan orang-orang yang memberikan dukungan kepada pasukan asing di Afganistan.

"Mereka hanya akan ditinggalkan untuk dibantai oleh orang-orang yang sangat brutal ini, dan itu menghancurkan hati saya," kata Bush, merujuk pada kelompok Islam Taliban. Kelompok itu kini tengah menguasai seluruh negeri di tengah penarikan pasukan AS dan NATO yang akan rampung pada September mendatang.

George W. Bush im DW Interview mit Ines Pohl
Mantan Presiden AS George W. Bush saat diwawancarai DWFoto: DW

Georg W. Bush adalah presiden AS yang memerintahkan dikerahkannya pasukan AS ke Afganistan pada musim gugur tahun 2001 menyusul serangan teror 11 September di AS.

Bush yakin Kanselir Jerman Angela Merkel juga "merasakan hal yang sama" tentang penarikan itu.

Ketika DW bertanya kepada jurnalis yang berbasis di Kabul, Ali Latifi tentang pernyataan Bush, dia berkata: "Saya pikir sangat menarik bahwa dia tiba-tiba, Anda tahu, prihatin dengan perempuan dan anak-anak." Latifi menambahkan: "Perang telah membuat banyak istri menjadi janda dan membuat banyak anak-anak menjadi yatim."

Berakhirnya perang 20 tahun

Penarikan pasukan AS dan NATO dari Afganistan sendiri dimulai pada awal Mei lalu.

Pihak militer AS baru-baru ini mengatakan bahwa tahapan penarikan pasukan yang sedang berlangsung sudah mencapai lebih dari 90% dan Presiden Joe Biden telah mengumumkan penarikan akan rampung pada 31 Agustus.

Pada akhir Juni, Jerman pun mengumumkan telah menarik semua pasukannya dari Afganistan dan menutup konsulat jenderalnya di Mazar-i-Sharif di Afghanistan utara. Selain itu, negara lain seperti Italia dan Polandia juga mengumumkan telah membawa pulang semua pasukannya dari Afganistan.

Pada 2 Juli, pasukan AS dan NATO juga telah mengosongkan Pangkalan Udara Bagram di Kabul yang pernah menjadi pusat operasi militer AS di negara itu.

Bagaimana situasi di Afganistan saat ini?

Kontrol politik dan militer telah diserahkan kepada pemerintah Afganistan, yang dimaksudkan untuk melakukan pembicaraan damai dengan kelompok Taliban.

Sebelumnya, Taliban telah melancarkan serangannya di daerah-daerah pedesaan Afghanistan dan menguasai banyak distrik di ibu kota provinsi.

Taliban juga dilaporkan telah mengambil kendali wilayah strategis penyeberangan perbatasan Afganistan ke Pakistan di distrik Spin Boldak pada Rabu (14/07).

Biden dalam pidatonya di Gedung Putih pada Jumat (09/07) pekan lalu mengesampingkan intervensi lebih lanjut yang terjadi di Afganistan, dengan mengatakan bahwa AS telah "mencapai" tujuannya di negara itu, yaitu membunuh Osama bin Laden, menjatuhkan Al-Qaeda, dan mencegah lebih banyak serangan di AS.

"Kami tidak pergi ke Afganistan untuk membangun bangsa. Dan itu adalah hak dan tanggung jawab rakyat Afganistan sendiri untuk memutuskan masa depan mereka dan bagaimana mereka ingin menjalankan negara mereka," ujar Biden.

Ditanya tentang warisan perang di Afganistan, jurnalis Ali Lafiti pun mengatakan: "Adalah fakta bahwa Taliban masih mampu menimbulkan ancaman bagi pemerintah dan pasukan keamanan, fakta bahwa kami masih mengalami pertempuran ini, dan fakta bahwa kami masih bertanya-tanya apa yang mungkin terjadi pada perempuan, anak-anak, penerjemah, 20 tahun ke depan. Itulah warisannya."

(Ed: rap/gtp)