Cegah Karhutla, Ilmuwan 'Dengarkan' Suara Hutan

Memantau kebakaran hutan lewat citra visual dinilai tidak lagi ampuh memerangi deforestasi. Kini ilmuwan mencetuskan metode yang lebih murah dan efektif, yakni dengan metode Bioakustik atau mendengar suara hutan.

Penggunaan metode bioakustik diyakini bisa membantu mengurangi tingginya ancaman pembalakan liar serta kebakaran hutan. Dengan ´mendengar´ hutan, cakupan area yang terpantau akan semakin luas, demikian kesimpulan ilmuwan yang diterbitkan di jurnal ilmiah Science.

Alam dan Lingkungan | 13.11.2018

Berdasarkan makalah tersebut, mengusulkan satu cara ampuh untuk memantau kondisi hutan hingga ke daerah terpencil, yaitu dengan cara merekam suara yang ada di dalamnya.

Baca juga: Pengakuan Hutan Adat Cegah Deforestasi Akibat Tambang dan Sawit

Bioakustik, merekam dan menganlisa bunyi-bunyian seperti suara hewan-hewan liar, serangga, maupun aktivitas manusia dipercaya dapat memberikan data yang lebih efektif.

Saat ini upaya konservasi hutan masih mengandalkan pantauan udara berupa citra satelit atau citra kamera yang hanya mampu melihat luasnya hutan, tapi tidak mampu mengamati yang terjadi didalamnya. Kondisi cuaca pun dapat memperburuk visual yang ditampilkan. Dengan bioakustik ilmuwan mampu memetakan kondisi hutan di berbagai area.

Untuk itu mereka memasang mikrofon yang menangkap sinyal bunyi-bunyian yang ditimbulkan dari seekor serangga hingga aktivitas manusia. Dari situ sinyal akan dilanjutkan ke pusat data sehinga kita bisa mengetahui gambaran dari ekosistem yang ada. Cakupan area yang termonitor diyakini akan lebih luas dibanding dengan hanya menggunakan kamera. Ongkos pengadaan piranti yang tergolong murah juga menjadi keunggulan dari metode ini.

Deforestasi dan Perburuan Ancam Harimau Sumatera

Terluka akibat perburuan

Perempuan ini bernama Erni Suyanti Musabine. Ia tampak memonitor kondisi harimau yang terluka akibat ulah pemburu. Selain jadi sasaran perburuan, harimau rawan terlibat konflik dengan manusia dan rentan tertular penyakit dari hewan domestik. Semua faktor tersebut dapat mengancam jiwanya.

Deforestasi dan Perburuan Ancam Harimau Sumatera

Sahabat harimau

Erni Suyanti Musabine tak kenal lelah mengobati dan merawatharimau-harimau terluka. Foto: Erni membantu relokasi harimau yang terluka ke kawasan konservasi Taman Wisata Alam Seblat Bengkulu Utara, 28 Okt 2015.

Deforestasi dan Perburuan Ancam Harimau Sumatera

Kehilangan Habitat dan Diburu

Dari tahun ke tahun habitat harimau Sumatera makin menyempit, sementara perburuan harimau untuk perdagangan gelap masih terus terjadi. Jumlah harimau Sumatera diperkirakan tinggal 400 ekor.

Deforestasi dan Perburuan Ancam Harimau Sumatera

Bahaya dalam penyelamatan

Tampak dalam foto, Erni dan timnya menyelamatkan harimau bernama Elsa di Kabupaten Kaur Bengkulu dan dua ekor harimau lainnya di dekatnya, pada tahun 2014. Jerat Elsa putus sebelum dibius dan ini bersembunyi di semak belukar. Menyuntik bius harimau dalam kondisi seperti itu bukanlah pekerjaan yang mudah dan membahayakan tentunya.

Deforestasi dan Perburuan Ancam Harimau Sumatera

Perdagangan gelap

Meski pemerintah mencanangkan upaya meningkatkan jumlah hewan buas ini sejak tahun 2010, keberadaan harimau Sumatera masih memprihatinkan. Perdagangan gelap merajalela. Kebanyakan bagian tubuh harimau tersebut dijual di toko kerajinan tangan dan penjual obat.

Deforestasi dan Perburuan Ancam Harimau Sumatera

Ditangkarkan di Luar Negeri

Untuk menjaga kelestariannya, harimau Sumatera ditangkarkan di beberapa negara lain, seperti di Inggris.. Baru-baru ini, seekor harimau Sumatera, yang diyakini sebagai harimau tertua di penangkaran, telah meninggal dunia di Hawaii dalam usia 25 tahun.

"Dengan memasang kamera, akan beresiko ketika pemburu datang dan menghancurkannnya. Tetapi perekam suara dapat dipasang hingga 30 meter diatas pohon dan tak akan ada yang melihatnya," kata Rhett Butler, salah satu penulis.

Berdasarkan Global Forest Watch, total luas kebakaran hutan yang terjadi di tahun 2017 sama dengan luas negara Italia. Lima negara menjadi penyumbang terbesarnya yaitu, Brazil, Republik Kongo, Madagaskar, Malaysia, dan Indonesia.

Indonesia merupakan salah satu negara penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar di dunia. Kebakaran hutan menjadi faktor utamanya. Berdasakan laporan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia, tercatat seluas 4.666,39 Ha hutan di Indonesia habis terbakar di sepanjang tahun 2018. Diharapkan metode biaokustik ini menjadi skema yang menjanjikan.

Baca juga:Ingin Restorasi Gambut, KLHK Malah Berpeluang Percepat Laju Deforestasi

´Mendengar´ hutan menjadi cara ampuh untuk menekan angka kebakaran dan pendeteksi awal hadirnya ancaman pelaku pembakaran liar. "Suara manusia atau kobaran api yang terdengar bisa menjadi peringatan di area terdampak untuk membantu Indonesia memerangi kebakaran hutan", tambah Butler.

Peran organisai global pun diharap mampu mendorong perusahaan-perusahaan di seluruh dunia untuk dapat meningkatkan kepedulian terhadap usaha konservasi hutan. Tak hanya untuk sekedar kepentingan riset akademik melainkan dapat melahirkan kebijakan serta strategi baru demi keberlangsungan keanekaragaman hayati di bumi ini, kecuali kita ingin hutan tak lagi bersuara.

rap/rzn (rtr, quartz)

Live
01:21 menit
Iptek | 15.11.2017

Keberatan Eropa Atas Kelapa Sawit, Peduli Lingkungan Atau ...

Ikuti kami