1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Cina Balas Gertak Amerika

28 Oktober 2015

Cina ancam tindakan tegas tanggapi patroli kapal perang Amerika di Laut Cina Selatan. Washington sebut pihaknya lindungi kebebasan navigasi. Sebaliknya Beijing menuding manuver itu sebagai provokasi.

https://p.dw.com/p/1GvHt
USA Zerstörer USS Lassen
Foto: Reuters/US Navy/CPO J. Hageman

Kementrian luar negeri Cina menuduh kapal perang USS Lassen secara ilegal memasuki kawasan perairan di kawasan terumbu karang Subi: “Manuver ini merupakan provokasi secara sengaja”. Kemenlu di Beijing juga langsung memanggil duta besar AS untuk Cina Max Baucus guna meminta penjelasan. Akibat insiden patroli kapal perang AS di kawasan kepulauan Spratly itu, hubungan antara Cina dengan AS kini jadi tegang.

Cina mengklaim, kapal perangnya terus mengikuti USS Lassen dan memberi peringatan karena dinilai melanggar wilayah teritorialnya. Sejumlah petinggi militer di Beijing mengatakan, mereka kini menyiapkan armada kapal perangnya untuk menghadapi terulangnya provokasi semacam itu. Ini merupakan reaksi atas pernyataan pejabat tinggi AS yang mengatakan: ”Patroli semacam itu akan menjadi rutinitas”. Beijing balas menggertak, dengan menyatakan tidak takut terlibat konflik militer dengan Amerika. Demikian dilaporkan oleh harian Inggris The Guardian yang mengutip media-media Cina.

Harian-harian Cina yang dekat dengan partai komunis bahkan menulis kritik tajam yang menyebutkan: Amerika Serikat harus belajar dari kekacauan yang diciptakannya di Afghanistan dan Irak. Ini membuktikan pamer kekuatan AS tidak pernah menciptakan stabilitas.

Gugus kepulauan Spratly sejak beberapa dekade menjadi kawasan sengketa yang diperebutkan oleh Cina, Malaysia, Vietnam, Filipina, Brunei, dan Taiwan. Enam negara ini mengklaim bahwa sebagian atau seluruh kepulauan itu adalah hak teritorial mereka. Cina paling agresif mengklaim kepulauan Spratly, dan pada tahun 2014 membangun dua pulau buatan untuk mengukuhkan klaimnya. Salah satu pulau buatan bahkan dijadikan pangkalan militer.

Spratly Islands Inseln
Pulau buatan Cina di kepulauan SpratlyFoto: Reuters/U.S. Navy

Perebutan klaim teritorial antara lain dipicu oleh dugaan adanya cadangan minyak dan gas bumi cukup besar di kepulauan bersangkutan. Namun, bagi Cina klaim teritorial atas kepulauan di Laut Cina selatan itu lebih banyak berkaitan dengan kepentingan pertumbuhan ekonominya. ”Sekitar 30 persen lalulintas kapal melewati Laut Cina Selatan mengangkut produk ekspor Cina serta minyak dari Timur Tengah yang vital bagi ekonomi Cina”, ujar Vincent Wei-cheng Wang, pakar politik luar negeri Cina di University of Richmond, kepada DW. Dalam konteks ini, kehadiran kapal perang AS di kawasan sengketa, dipandang sebagai potensi ancaman bagi keamanan nasional Cina secara umum.

Sebaliknya Filipina yang memiliki pakta pertahanan bersama dengan Amerika Serikat, memandang manuver militer itu sebagai pengimbang kekuatan Cina di kawasan Laut Cina Selatan. Juga Vietnam yang mulai menjalin hubungan militernya dengan AS, mengharapkan, dengan campur tangan Amerika dalam sengketa ini, dapat memperkuat posisi tawar mereka terhadap Cina.

as/vlz (rtr,dpa,afp, ap, twitter)