1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Cina dan Rusia Ingin Tingkatkan Hubungan dengan Asia Tengah

William Yang
13 September 2022

Pertemuan yang sangat dinanti antara Presiden Cina dan Rusia di Uzbekistan terjadi saat kedua negara berniat meningkatkan hubungan mereka dengan Asia Tengah, mendorong munculnya front bersama melawan Barat.

https://p.dw.com/p/4GlBH
Pertemuan Presiden Cina Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin pada tahun 2018
Presiden Cina Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin memiliki keinginan yang sama, yakni mengekang pengaruh Amerika SerikatFoto: Sergei Bobylev/TASS Host Photo Agency/dpa/picture alliance

Presiden Cina Xi Jinping akan melakukan perjalanan pertamanya ke luar negeri pada pekan ini, setelah pandemi COVID-19 melanda selama dua tahun. Kepergian Xi diyakini sebagai upaya untuk menunjukkan pengaruh geopolitiknya sebelum Kongres Nasional Partai Komunis Cina dimulai pada Oktober mendatang.

Kunjungan Xi ke Kazakstan dan Uzbekistan akan diselingi pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di sela-sela KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) di Uzbekistan, yang dimulai pada hari Kamis (15/09).

Ketika hubungan Rusia dengan Barat terus memburuk akibat invasi Moskow ke Kyiv, Xi justru tidak mengutuk dan meninggalkan Rusia. Bahkan, Cina dan Rusia terus meningkatkan kerja sama ekonomi.

Ketika sanksi Barat semakin mengisolasi Rusia dari pasar Eropa dan Amerika Serikat, Beijing telah memberikan dukungan ekonomi ke Moskow, termasuk ekspor energi hingga memasok mobil dan produk lainnya ke Rusia.

Cina berpihak pada Rusia

Pada 9 September 2022, pejabat tinggi Partai Komunis Li Zhanshu bertemu dengan anggota parlemen Rusia dan menyatakan dukungan untuk Moskow sambil mengkritik sanksi Barat.

"Kami sepenuhnya memahami perlunya semua tindakan yang diambil oleh Rusia yang bertujuan untuk melindungi kepentingan utamanya," kata Li.

"Mengenai masalah Ukraina, kami melihat bagaimana mereka [Barat] telah menempatkan Rusia dalam situasi yang sulit. Dan dalam kasus ini, Rusia membuat pilihan penting dan merespons dengan tegas," tambahnya.

Sebelum mengunjungi Moskow, Li juga menghadiri Forum Ekonomi Timur di kota Vladivostok Rusia pada 7 September lalu, di mana ia bertemu dengan Putin dan berterima kasih karena "sangat mendukung Cina dalam masalah Taiwan," lapor kantor berita pemerintah Cina, Xinhua.

Chien-yu Shih, seorang ahli Asia Tengah di Institut Penelitian Pertahanan dan Keamanan Nasional di Taiwan, mengatakan kepada DW bahwa ketegangan timbal balik dengan Barat akan meningkatkan kerja sama antara Rusia dan Cina, bahkan ketika Beijing mencari terobosan dalam lingkup pengaruh tradisional Moskow di Asia Tengah.

"Untuk saat ini, keadaan akan memaksa mereka untuk tetap bersatu dan bekerja melawan musuh bersama," katanya.

Mengapa Asia Tengah penting?

Baik Cina maupun Rusia berusaha meningkatkan pengaruh mereka di negara-negara Asia Tengah, seperti Kazakstan dan Uzbekistan. Bagi Cina, kawasan ini merupakan simpul penting dalam proyek infrastruktur Belt and Road Initiative (BRI).

Moskow berusaha mempertahankan perannya sebagai mitra strategis dan ekonomi utama di kawasan itu, yang pernah menjadi bagian dari Uni Soviet. Namun, negara-negara Asia Tengah sedang mencari mitra baru di dunia Arab dan Asia Selatan, karena mereka tidak ingin terlalu bergantung pada Cina atau Rusia di tengah ketegangan atas Ukraina dan Taiwan, kata Niva Yau, seorang peneliti senior di Akademi OSCE, sebuah lembaga pemikir kebijakan luar negeri di Kirgistan.

"Perang Rusia di Ukraina membuat Asia Tengah benar-benar cemas," ujar Yau, seraya menekankan bahwa baik Rusia maupun Cina ingin memastikan bahwa negara-negara Asia Tengah tidak lebih dekat dengan mitra baru.

"Saya pikir KTT SCO akan menjadi landasan bagi semua negara untuk menyuarakan kepentingan mereka dan apa yang ingin mereka lakukan," katanya.

Kazakstan telah menjadi mitra penting bagi Cina di Asia Tengah karena merupakan sumber mineral, logam, dan sumber daya energi, serta berfungsi sebagai pusat transportasi dan transit penting antara Eropa dan Cina.

Presiden Kazakstan Kassym-Jomart Tokayev
Presiden Kazakstan Kassym-Jomart Tokayev mengambil kursus yang lebih independen tentang kebijakan luar negeriFoto: Sergei Bobylev/Tass/IMAGO

Atas permintaan Presiden Kazakstan Kassym-Jomart Tokayev, Rusia membantu memberikan keamanan dalam konteks Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif, aliansi militer antar pemerintah yang terdiri dari beberapa negara bekas Soviet dan Rusia.

Cina juga menawarkan dukungan saat terjadi kerusuhan besar akibat kenaikan harga energi pada Januari lalu di Kazakstan, kata peneliti Niva Yau, tetapi tawaran itu tidak direspons, membuat Cina khawatir dan bertanya-tanya akan kebijakan Presiden Tokayev tentang Cina.

"Ini menjadikan Kazakstan negara yang sangat penting untuk dikunjungi Cina, mengingat lingkungan global dan hubungan bilateral," kata Yau.

Uighur dan Kazakstan

Topik yang berpotensi dibahas dalam KTT adalah masalah tindakan keras Cina terhadap minoritas muslim Uighur di wilayah Xinjiang.

Kazakstan adalah rumah bagi sejumlah besar orang Uighur dan berbatasan dengan Xinjiang. "Bagi Cina, Asia Tengah selalu merupakan wilayah yang membutuhkan pemeliharaan terus-menerus sehingga tidak ada dukungan seperti itu yang akan diberikan kepada komunitas diaspora Uighur. Kazakstan mengetahui hal ini dengan sangat baik dan mereka tidak bersedia membuat konsesi publik," kata Yau.

"Satu hal yang akan menjadi agenda Xi adalah membuat Kazakstan menegaskan kembali bahwa mereka mendukung Cina dalam hal Xinjiang, tetapi saya mempertanyakan seberapa jauh Presiden Kassym-Jomart Tokayev akan melangkah, karena dia adalah orang yang patriotik mendukung persatuan etnis Kazakh," tambahnya.

(ha/pkp)