Donald Trump Gegabah Kobarkan Lagi Konflik Timur Tengah

Dengan keputusannya mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel, Presiden AS Donald Trump mengambil resiko eskalasi yang berbahaya. Opini editor DW Rainer Sollich.

Banyak pemimpin dunia, sebelumnya sudah mengingatkan Presiden AS, Trump agar tidak mengambil langkah ini. Palestina, negara-negara Arab dan Muslim, juga Jerman, Inggris, Uni Eropa, Rusia dan pemimpin Gereja Katolik, Paus Farnsiskus.

Bahkan di Israel dan di kalangan Yahudi sendiri ada yang mengritik rencana itu, misalnya harian Israel „Haaretz". Tapi semua peringatan dan kritik itu tidak mampu menghentikan Donald Trump.

Telinganya tertutup. Walaupun banyak pihak khawatir ledakan kekerasan di Timur Tengah akan terjadi lagi, Donald Trump tetap memenuhi janji kampanyenya dan mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.

Sollich Rainer Kommentarbild App

Editor DW Rainer Sollich

Tamparan bagi Palestina

Tentu saja ini adalah langkah yang sarat makna simbolis. Karena bagi banyak warga Arab dan umat Muslim, juga yang ada di luar Palestina, langkah ini adalah sebuah tamparan sekaligus kekalahan besar. Segala sesuatu yang berkaitan dengan status Palestina dapat menyulut sentimen politik dan agama dalam sekejap..

Tema

Pada tataran politik, AS dengan langkah ini meninggalkan konsensus lama dalam diplomasi Timur Tengah. Selama ini semua pihak sepakat, bahwa status Yerusalem baru akan ditentukan jika sudah tercapai kesepakatan perdamaian antara Israel dan Palestina, yang dibarengi dengan pendirian negara Palestina. Apalagi pihak Palestina sejak dulu mengklaim kawasan Yerusalem Timur sebagai ibukota negara Palestina yang akan dibentuk.

AS kini de facto menjadi satu-satunya negara yang mengakui secara legal aneksasi Yerusalem timur oleh Israel. Donald Trump secara sepihak telah menciptakan fakta baru, yang menjadi pukulan berat bagi Dunia Arab dan komunitas Muslim di dunia. Mereka harus menyadari kelemahan dan ketidakmampuannya. Reaksi mereka sulit diprediksi: Dari demonstrasi, aksi protes, aksi kekerasan, sampai pemutusan kontak-kontak politik dan pemutusan hubungan diplomasi. Banyak hal berbahaya yang bisa terjadi dan Presiden Trump secara gegabah dan tanpa alasan mendesak telah memperuncing situasi di Timur Tengah.

Politik

Jalan buntu proses perdamaian

20 tahun berlalu, semua presiden sebelum Trump menghindari keputusan memindahkan kedutaan dari Tel Aviv ke Yerusalem lewat penerapan UU “Jerusalem Embassy Act”. Selama itu, presiden AS memilih menjalankan misi perdamaian, dengan anggapan status Yerusalem harus disepakati lewat negosiasi bersama Palestina-Israel. Trump dinilai secara sengaja mengacaukan proses perdamaian yang telah diupayakan AS.

Politik

Pupusnya harapan Palestina

Bagi warga Palestina, pengumuman Trump seolah merampas harapan dan mimpi mereka untuk mendaulat wilayah Yerusalem Timur sebagai ibukota masa depan Palestina. Meski upaya untuk menempuh jalur kekerasan bukan pilihan, tapi tak sedikit warga Palestina yang akan menganggap upaya diplomatik yang diupayakan AS selama ini tak membawa perubahan berarti untuk mewujudkan Palestina Merdeka.

Politik

Tercapainya mimpi Israel

Sejak mengusai Yerusalem Timur pasca perang 6 hari tahun 1967, Israel mengklaim Yerusalem sebagai ibukota yang “abadi dan tidak terbagi”. Israel berupaya agar kedaulatannya atas Yerusalem mendapat pengakuan dunia internasional. Keputusan Trump dapat mempengaruhi sebagian besar politisi dan warga Israel yang menilai negosiasi dengan Palestina tidak membawa hasil yang signifikan.

Politik

Tetangga menelan rasa kecewa

Langkah Trump dinilai mengguncang kestabilan wilayah yang selama ini sudah sensitif atas segala jenis gejolak perubahan status. Arab Saudi - sekutu penting AS di Timur Tengah - menyebutkan kebijakan Trump mengacaukan upaya Riyadh meneruskan jalan perdamaian. Negara Arab yang berbatasan dengan Israel – Mesir, Yordania, Libanon dan Suriah – khawatirkan gejolak baru di kawasan mereka.

Politik

Eropa menjadi oposisi AS?

Sebagian besar negara di Eropa Barat gusar dengan pengakuan AS atas Yerusalem dan tak sedikit yang mengecam Trump. Namun, pertanyaan kuncinya: apakah EU akan berani mengambil sikap tegas yang berseberangan dengan AS? Misalnya menerapkan larangan impor dari wilayah Tepi Barat atau menghentikan kerjasama bisnis dengan perusahaan Israel yang beroperasi di wilayah yang diduduki Palestina?

Politik

Umat Kristen di tanah suci

Patriarch Theoplhilos III, pemimpin gereja Ortodoks di Yerusalem melayangkan surat kecaman yang menyebutkan kebijakan Presiden AS Trump telah menyebabkan kerusakan yang sulit diperbaiki. Ia menuliskan pada Trump pemindahan kedutaan AS telah menjauhkan upaya perdamaian di Yerusalem dan sebaliknya membuat jurang permusuhan yang semakin dalam di tanah suci, Yerusalem. ts/hp (guardian, washingtonpost)

Pemaksaan kehendak

Sekalipun ada protes luas, Trump kelihatannya tidak akan membatalkan langkah itu. Sebuah negara Palestina Merdeka, seandainya dideklarasikan, harus mencari ibukota baru. Poros Israel-Amerika Serikat saat ini sangat kuat. Poros Palestina-Arab tidak akan mampu menghadapi kekuatan itu. Apalagi banyak pemimpin Arab yang sebenarnya punya prioritas lain, sekalipun mereka terus-menerus mendemonstrasikan solidaritas terhadap Palestina.

Arab Saudi memang sejak awal sudah memperingatkan Presiden Trump agar tidak melakukan langkah itu. Namun saat ini, Arab Saudi sedang sibuk memperkuat aliansi dan persenjataan untuk menghadapi Iran, yang dianggap sebagai pesaing utamanya di Dunia Islam. Jadi Arab Saudi sangat membutuhkan bantuan Amerika Serikat, yang artinya secara tidak langsung, juga bantuan Israel.

Pada dasarnya, nasib warga Palestina tidak terlalu penting, baik bagi Arab Saudi maupun bagi Iran. Kedua negara sedang bersaing dan berusaha memperluas pengaruhnya di Timur Tengah. Hanya saja, kedua negara memang sama-sama sering menggunakan isu solidaritas dengan Palestina untuk kepentingan politiknya.

Ketika mengumumkan keputusannya, Presiden Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat tetap akan mendorong proses perdamaian di Timur Tengah. Ini sebuah pernyataan yang sinis. Yang pertama-tama akan merasakan dampak eskalasi baru ini adalah warga Israel dan Palestina sendiri.

Politik

Bukit Zaitun

Dari Bukit Zaitun para turis bisa melihat kawasan Kota Tua Yerusalem, yang punya makna penting bagi umat Nasrani, Yahudi dan umat Islam. Bukit Zaitun adalah lini pertahanan Arab-Yordania pada perang tahun 1967 yang kemudian berhasil direbut oleh Israel. Di latar belakang tampak Kubah Shakrah, tempat suci bagi umat Yahudi dan Muslim.

Politik

Kubah Shakhrah

Bagi warga Yahudi, kubah Shakhrah di kompleks Al-Haram menyimpan batu besar, tempat di mana Bumi menurut kepercayaan mereka, diciptakan dan Nabi Ibrahim mengorbankan puteranya. Sementara bagi umat Muslim, dari tempat inilah Nabi Muhammad melakukan perjalanan langit yang dikenal dengan Isra Mi'raj. Setelah Perang tahun 1967, Israel menyerahkan kompleks Al-Haram kepada umat Muslim.

Politik

Masjid Al-Aqsa

Masjid Al-Aqsa adalah tempat suci ketiga terpenting bagi umat Islam, setelah Mekkah dan Medinah. Sedangkan bagi umat Yahudi, tempat ini punya makna simbolis karena disinilah Kabah pertama dan kedua mereka didirikan. Sejak 1967, Israel bertanggung jawab atas keamanan di tempat ini, sedangkan sebuah yayasan Islam bertanggung jawab untuk segala urusan sipil dan urusan peribadahan.

Politik

Sabil Qaitbay

Mata air Qaitbay dianggap sebagai salah satu sudut paling cantik di kompleks Al-Haram. Meski dibangun dengan gaya Islam dengan membubuhkan ayat-ayat Al-Quran, menara mata air ini didesain oleh seorang arsitek beragama Kristen.

Politik

Tembok Ratapan

Tembok ratapan adalah situs terpenting kaum Yahudi. Di sinilah mereka berdoa, terpisah antara lelaki dan perempuan. Umat Yahudi punya tradisi meninggalkan secarik kertas berisi harapan-harapan mereka di sela-sela batu dinding. Tradisi itu sekarang diikuti juga oleh umat beragama lain.

Politik

Gerbang Damaskus

Gerbang Damaskus adalah pintu masuk utama menuju kota tua Yerusalem dan praktis menjadi perbatasan antara kawasan Kristen dan kawasan Arab. Tahun 2011, Israel merestorasi menara dan sebagian besar tembok yang hancur akibat Perang 1967. Kini Gerbang Damaskus menjadi salah satu atraksi wisata paling digemari turis mancanegara.

Politik

Kota tua

Melewati Gerbang Damaskus, pengunjung akan tiba di kota tua yang dipenuhi para pedagang yang menjajakan barangnya di jalan-jalan sempit. Di bagian Kota Tua warga Yahudi, Arab dan Armenia hidup berdampingan. Tembok benteng yang mengelilingi Kota Tua dibangun pada abad ke 16 di masa Kesultanan Utsmaniyyah. Tahun 1981, bagian Kota di Yerusalaem dideklarasikan sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO.