1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Dunia Kecam Pengadilan Saudi Soal Pembunuhan Khashoggi

24 Desember 2019

Pengadilan Saudi membebaskan lingkaran terdekat Pangeran Mohammad bin Salman dari dakwaan pembunuhan. Putusan itu dikecam sebagai "penghinaan" atas asas keadilan. Namun Amerika Serikat memuji proses hukum di Riyadh.

https://p.dw.com/p/3VIKy
Jamal Kashoggi
Foto: Getty Images/Y. Akgul

Putusan pengadilan Arab Saudi yang membebaskan Pangeran Mohammed bin Salman dari tuduhan pembunuhan berencana terhadap wartawan Jamal Khashoggi dikecam sebagai sebuah penghinaan atas asas keadilan. Meski banjir kritik, butir putusan yang selaras dengan sikap pemerintah Riyadh itu mendapat dukungan dari Amerika Serikat.

Sebelumnya lima terdakwa divonis mati pada Senin (23/12), sementara tiga orang lain dijebloskan ke penjara usai diputus bersalah melakukan pembunuhan terhadap Khashoggi di gedung konsuler Arab Saudi di Istanbul, Turki. Selama ini pemerintah Arab Saudi bersikeras dalang pembunuhan adalah oknum agen dinas rahasia yang bertindak di luar wewenang.

Namun ketika Kementerian Luar Negeri AS menyebut putusan itu sebagai "langkah penting" untuk menyeret pelaku ke pengadilan, Turki mengecamnya sebagai sebuah "skandal" yang menjamin "impunitas" bagi otak di balik pembunuhan, yakni Pangeran Mohammed bin Salman, yang sering disebut dengan inisialnya MbS.

Baca juga: 5 Terdakwa Pembunuhan Jamal Khashoggi Dijatuhi Hukuman Mati di Arab Saudi 

Perlu diketahui, Turki merupakan bagian dari blok Qatar dan Iran yang bermusuhan dengan Arab Saudi.

Khashoggi adalah wartawan Saudi yang acap mengritik pemerintah di Riyadh. Usai dibunuh, tubuhnya dicincang oleh skuad Saudi beranggotakan 15 orang. Hingga kini tidak jelas di mana jasad Khashoggi dikuburkan atau disimpan.

Jaksa sebelumnya menunjuk Wakil Kepala Dinas Rahasia Ahmed al-Assiri sebagai pihak yang mengawasi pembunuhan Khashoggi. Adapun AS mengklaim bekas konsultan kerajaan, Saud al-Qahtani merupakan "bagian dari perencanaan dan eksekusi."

Qahtani sempat diperiksa oleh kepolisian Arab Saudi namun dibebaskan menyusul "tidak cukupnya bukti-bukti." Nasib serupa menghampiri Assiri yang meski sempat didakwa, namun kemudian dibebaskan dengan alasan yang sama.

Seorang sumber di pemerintahan mengaku sebagian terdakwa berusaha membela diri di pengadilan dengan dalih hanya menjalankan perintah Assiri yang diklaim sebagai "pemimpin" operasi maut tersebut. Kedua pria itu termasuk ke dalam lingkaran terdekat MbS. Keduanya dipecat usai skandal Khashoggi menjadi buah bibir dunia internasional. 

"Sebuah pengadilan rahasia di dalam monarki absolut tanpa akses keadilan tidak fair atau transparan," komentar Tamara Cofman Wittes, peneliti di Brookings Institution, ihwal proses hukum terkait dalang pembunuhan Khashoggi. "Kerajaan harus mengambil alih tanggungjawab atas tindakannya sendiri."

Meski sikap lunak Washington, kritik terhadap Arab Saudi datang dari anggota legislatif Amerika Serikat. "Perbaikan hubungan bilateral antara kedua negara membutuhkan prinsip keadilan dan pertanggungjawaban," kata Senator Angus King dalam surat keterangan persnya.

Baca juga: Setahun Pembunuhan Jamal Khashoggi, Dalang Pembunuhan Masih Bebas 

"Antara kerahasiaan yang meliputi proses hukum dan sikap pengadilan yang tidak ikut mempertimbangkan peran pembantu utama pangeran, Saud al-Qahtani, dalam pembunuhan tersebut....pengumuman putusan tidak memenuhi kriteria di atas."

Qahtani yang sebelumnya menggagas kampanye media sosial untuk meredam kritik terhadap keluarga kerajaan, tidak pernah lagi muncul ke publik sejak pembunuhan Khashoggi. Keberadaannya hingga kini memicu beragam spekulasi.

Termasuk ke11 terdakwa yang diseret ke pengadilan adalah Maher Mutreb, perwira Dinas Rahasia yang sering mengawal MbS dalam perjalanan dinas ke luar negeri, Salah al-Tubaigy ahli forensik dan Fahad al-Balawi, anggota Pasukan Pengamanan Kerajaan. Tidak jelas apakah ketiga orang terdekat MbS itu mendapat vonis mati atau penjara.

rzn/hp (afp,rtr,ap)