1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Emisi Karbon Karhutla Indonesia Lebih Parah Dibanding Amazon

27 November 2019

Uni Eropa sebut emisi karbon yang dihasilkan karhutla di Indonesia lebih parah dibanding kebakaran hutan Amazon. Laporan ini pun dinilai mencederai komitmen Indonesia dalam Perjanjian Paris.

https://p.dw.com/p/3TntO
Bildergalerie: Waldbrände in Indonesien
Foto: picture-alliance/AP/F. Chaniago

Berdasarkan laporan program observasi bumi milik Uni Eropa, menyebutkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Indonesia sepanjang tahun 2019 memproduksi emisi karbondioksida lebih banyak dibandingkan kebakaran yang terjadi di Hutan Amazon, Brazil.

Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Indonesia menjadi sorotan dalam laporan tersebut. Terhitung hingga 15 November 2019, Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS) Uni Eropa memprediksi bahwa karhutla di Indonesia telah melepas sebanyak 709 juta ton karbondioksida ke udara. Jumlah ini setara dengan emisi buangan karbondioksida tahunan negara Kanada.

Yang lebih mengejutkan lagi, angka tersebut 22 persen lebih tinggi dibanding emisi karbondioksida yang dihasilkan dari kebakaran hutan Amazon, yakni 579 juta ton karbondioksida.

Berdasarkan data dari SiPongi Karhutla Monitoring Sistem milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), total luas kebakaran hutan dan lahan di Indonesia tahun 2019 mencapai 857.755 hektar, dimana Sumatera, Kalimantan, dan Nusa Tenggara sebagai wilayah yang mengalami kebakaran paling luas. Sebagai perbandingan saja, luasan ini sama dengan luas Taman Nasional Yellowstone Amerika Serikat.

Karhutla tahun ini di Indonesia juga semakin diperparah dengan adanya efek El Nino yang menyebabkan musim kemarau lebih panjang. Selain itu, asap yang dihasilkan dari karhutla tersebut menyebabkan ribuan orang terserang penyakit gangguan pernapasan serta mengganggu penerbangan di Indonesia.

"Apa yang paling disoroti dari kebakaran yang terjadi baru-baru ini di Indonesia yakni betapa tingginya intensitas kebakaran per harinya dan perkiraan emisi buangan yang jumlahnya melebihi rata-rata selama 16 tahun sebelumnya," ujar peneliti senior CAMS Mark Parrington, dikutip dari Mongabay.

Namun, CAMS juga menyebutkan jumlah emisi yang dihasilkan dari kebakaran di hutan Indonesia dengan Hutan Amazon sulit dibandingkan langsung karena perbedaan vegetasi dan sumber kebakaran.

Baca jugaBerhasil Hambat Deforestasi, Norwegia Akan Mulai Bayar Indonesia

Mencederai komitmen penurunan emisi karbon

Menanggapi laporan tersebut, Rusmadya Maharuddin juru kampanye hutan Greenpeace Indonesia, mengaku prihatin dengan kondisi kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Indonesia kini.

"Tentunya jika penelitian ini benar akan semakin memperburuk citra Indonesia di mata dunia karena kegagalan pemerintah dalam menghentikan karhutla yang sudah berlangsung selama 22 tahun lebih sejak tahun 1997 yang lalu. Besarnya karbon yang lepas ini tentunya sangat dipengaruhi oleh area yang terbakar adalah gambut," jelas Rusmadya saat diwawancarai DW Indonesia, Rabu (27/11).

Indonesia sendiri merupakan salah satu negara dari 55 negara peserta PBB lainnya yang ikut meratifikasi Perjanjian Paris tentang perubahan iklim. Indonesia mencanangkan target penurunan emisi karbon 26 persen di tahun 2020 dan 29 persen di tahun 2030 mendatang.

"Kondisi ini juga mencederai semangat dimana Indonesia juga berkomitmen untuk menurunkan emisi," papar rusmadya.

Menurutnya, dengan pengawasan dan upaya penegakkan hukum yang sungguh-sungguh dari pemerintah, jadi salah satu solusi utama untuk memerangi kebakaran hutan dan lahan di Indonesia mengingat kerusakan yang ditimbulkan sangat besar. "Penegakkan hukum mesti memberikan efek jera. Izin-izin mesti dievaluasi dan kalau perlu dicabut jika ternyata di konsesinya sering terjadi kebakaran."

Rusmadya Maharuddin, Teamleiter Waldkampagne von Greenpeace Indonesien
Rusmadya Maharuddin, Juru Kampanye Hutan Greenpeace IndonesiaFoto: Privat

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa pemerintah Indonesia  juga harus mempublikasikan data serupa kepada masyarakat agar dapat dijadikan bahan perbandingan.

"Agar lebih berimbang, maka sebaiknya pemerintah Indonesia mestinya juga keluar dengan laporan seberapa besar emisi karbon akibat karhutla tahun ini," imbuhnya.

DW Indonesia mencoba meminta tanggapan Direktur Inventarisasi GRK dan Pengukuran, Pelaporan dan Verifikasi (MRV) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Joko Prihatno terkait masalah ini. Namun, hingga berita ini diturunkan yang bersangkutan belum memberikan respon.

Sebelumnya, Indonesia juga pernah mengalami kebakaran hutan dan lahan hebat pada tahun 2015. Saat itu CAMS juga merilis laporan besaran emisi karbon yang dihasilkan dari kebakaran tersebut. CAMS melaporkan sebesar 1.286 juta ton karbondioksida dilepas ke udara.

Kebakaran tersebut membuat lebih dari 2,6 juta hektar hutan dan lahan di Indonesia terbakar habis. Akibatnya, negara mengalami kerugian sebesar US$16 miliar atau setara dengan Rp224 triliun.

Baca jugaIroni Desa Rukam, Kampung Nelayan Tanpa Air dan Ikan 

rap/vlz (bloomberg, The Straits Times, mongabay)