1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Empat Jurnalis Italia di Libya Diculik

24 Agustus 2011

Pemberontak di Libya menyatakan, kemenangan mereka sudah dekat. Pertempuran terus berkecamuk di daerah-daerah kunci di ibukota. Para pewarta yang sebelumnya tidak boleh meninggalkan hotel kini telah dibebaskan

https://p.dw.com/p/12NDp
Anggota pemberontak memanjat patung di dalam kompleks militer Gaddafi di Bab al Aziziya, Tripoli, Rabu (24/08).
Anggota pemberontak memanjat patung di dalam kompleks militer Gaddafi di Bab al Aziziya, Tripoli, Rabu (24/08).Foto: dapd

 Kelompok pendukung penguasa Libya Muammar Gaddadi dicurigai menculik empat jurnalis Italia dan membunuh supir lokal yang mengantar mereka. Demikian diungkap kementerian luar negeri Italia. Keempat wartawan itu diculik ketika dalam perjalanan menuju Tripoli dari Zawiyah.

Mereka yang diculik adalah dua wartawan media Corriere della Sera, seorang jurnalis La Stampa dan seorang wartawan yang bekerja untuk harian Avvenire.

Sementara itu pertempuran terus berkecamuk hebat di ibukota Libya, Tripoli, hari Rabu (24/08). Para pemberontak masih terus memburu diktator Muammar Gaddafi.

Pemberontak mengatakan bahwa mereka menguasai sebagian besar wilayah ibukota, mengklaim berhasil menaklukkan kompleks militer Gaddafi, Bab al Aziziya. Aksi terakhir itu menggambarkan kemenangan segera pertempuran perebutan kekuasaan di Libya.

"95 persen rezim Gaddafi musnah, 95 persen LIbya di bawah kekuasaan kelompok perlawanan," kata Kolonel Abdallah Abu Afra, jurubicara komite militer Dewan Transisi Nasional kepada stasiun televisi Al Jazeera.

"Siapa yang memerintah Libya adalah siapa yang menguasai Bab al Aziziya, itulah kenyataannya. Bagi kami, Gaddafi sudah tamat," tambahnya.

Rabu sore waktu setempat (24/08), pemberontak mengumumkan akan memberikan imbalan 1,7 juta Dollar AS bagi siapa yang berhasil membunuh atau menangkap Gaddafi. Juga pemberontak akan memberikan pengampunan bagi penangkap Gaddafi yang berasal dari kalangan pendukungnya.

Sementara itu, dalam pesan suara yang disiarkan televisi Suriah, Gaddafi menyerukan kembali para pendukungnya di Tripoli untuk berjuang. Ia mengaku berkeliling Tripoli dan yakin bahwa kota itu bisa dipertahankannya.

"Saya ke jalanan dengan menyamar, tidak ada yang mengenali saya. Saya melihat para pemuda siap mempertahankan kotanya," kata Gaddafi tanpa menyebutkan kapan ia pergi ke jalanan.

Paris Mengusulkan untuk Meningkatkan Tekanan

Pemberontak merayakan penyerbuan kompleks militer Gaddafi, Rabu (24/08).
Pemberontak merayakan penyerbuan kompleks militer Gaddafi, Rabu (24/08).Foto: dapd

Sementara itu. Presiden Perancis Nicolas Sarkozy bertemu dengan ketua Dewan Transisi Nasional bentukan pemberontak, Mahmud Jibril di Paris. Keduanya sepakat bahwa keterlibatan NATO mungkin akan diperlukan di Libya. Sarkozy mengungkapkan bahwa Perancis akan mematuhi Resolusi PBB yang mencantumkan bahwa aliansi militer negara barat akan dikerahkan jika menyangkut keselamatan warga sipil.

"Kami siap melanjutkan operasi dalam kerangka kerja Resolusi PBB 1973, selama kami yakin bahwa rakyat Libya memerlukan bantuan itu," ujar Sarkozy.

Jibril mengatakan bahwa milisi Gaddafi terus melancarkan serangan terhadap sejumlah kota di Libya selatan dan juga Tripoli.

Ketika pasukan Gaddafi membombardir Bab al Aziziya, Hotel Rixos di kawasan selatan Tripoli luput dari perhatian mereka.


Wartawan Asing Dibebaskan

Wartawan asing memakai helm dan rompi anti peluru ketika ditawan di Hotel Rixos, Tripoli, Selasa (23/08).
Wartawan asing memakai helm dan rompi anti peluru ketika ditawan di Hotel Rixos, Tripoli, Selasa (23/08).Foto: picture alliance/dpa

Puluhan wartawan asing, sebagian besar warga Amerika dan Inggris, sebelumnya ditawan di dalam hotel itu. Mereka kemudian dibebaskan Rabu sore (24/08). Para jurnalis itu tidak diperbolehkan meninggalkan hotel sejak pertempuran terakhir dimulai. Di sekeliling hotel ditempatkan banyak penjaga dan penembak jitu milisi Gaddafi. Organisasi Reporter Lintas Batas menggambarkan situasinya sebagai "sangat mengkhawatirkan".

Sejumlah pemimpin pemberontak mengatakan bahwa penembak jitu Gaddafi juga berada di beberapa titik sekitar pusat kota. "Ada puluhan, tapi kami tidak tahu di mana lokasinya," tutur seorang pemimpin kelompok pemberontak, Nuri Mohammed.

Bentrokan hebat dilaporkan terjadi di sekitar kawasan Abu Salin. Kawasan itu dianggap sebagai kubu pertahanan terakhir rezim di Tripoli.

Bendera Libya sebelum era Gaddafi, kini digunakan sebagai simbol pemberontak, dikibarkan di banyak kantor kedutaan Libya di seluruh dunia ketika internasional resmi mengakui Dewan Transisi Nasional sebagai penguasa sah Libya.

Di luar Tripoli, pemberontak bergerak ke arah Sirte, kota kelahiran Gaddafi. Kelompok perlawanan mengaku bertempur habis-habisan melawan tentara Gaddafi di kota Bin Jawad, hari Rabu.

Richard Connor/Luky Setyarini

Editor: Ayu Purwaningsih