Eradikasi TBC: Perang Panjang Tak Kunjung Usai

Eradikasi bakteri TBC yang mematikan perlu waktu beberapa dekade lebih lama dari target WHO. Untuk mempercepat perogram para ahli kedokteran kembangkan vaksin baru untuk melawan penyakit klasik itu.

Dokter di rumah sakit Vigo di Spanyol Utara berjuang mengobati penyakit lama yang hampir terlupakan, yang membuat hidup seseorang  seolah berada di neraka, yakni penyakit TBC

Kesehatan | 22.03.2013
Iptek

Sang Pahlawan

Organisasi non-pemerintah asal Belgia, Apopo, mengembangbiakkan tikus untuk membantu para petugas kesehatan dalam mendeteksi TBC, salah satu penyakit paling mematikan di Afrika. Gilbert, tikus raksasa di Afrika, bertugas mengendus sampel dahak manusia di pusat penelitian di Morogoro, Tanzania. Ia adalah salah satu dari 40 “tikus pahlawan”, demikian mereka disebut, yang terdaftar dalam program ini.

Iptek

Teknik Pelatihan

Setiap kali Gilbert mencakar dengan kedua kaki depannya pada sampel yang sebelumnya telah diuji positif TBC, ia mendapatkan hadiah makanan yang berupa campuran pisang dan kacang. Ini untuk memotivasi si tikus untuk terus bekerja.

Iptek

Bukan Hanya untuk TBC

Sudah selama beberapa tahun, Apopo telah memanfaatkan tikus untuk mendeteksi ranjau, misalnya di Mozambik, Angola dan Kamboja. Di Mozambik, tikus pelacak ranjau menemukan 2.587 ranjau, lebih dari 1.000 bahan peledak dan sekitar 13.000 amunisi dan senjata ringan.

Iptek

Investasi yang Berharga

Tikus raksasa Afrika (Cricetomys) ini memiliki indera penciuman yang sangat tajam. Perlu waktu sembilan bulan untuk melatih seekor tikus dan menelan biaya sekitar 6.000 Euro. Tikus jenis ini mampu hidup sampai delapan tahun dan mudah dipelihara. Berbeda dengan anjing, tikus ini tidak tergantung pada seorang pelatih saja.

Iptek

Dilatih sejak Kecil

Sebagian besar tikus untuk misi ini dikembangbiakkan sendiri oleh Apopo di pusat penelitian. Ini memudahkan mereka untuk melatih tikus-tikus sejak kecil. Sesekali, Apopo juga menerima tikus liar untuk membantu proses pengembangbiakan.

Iptek

Pengujian Dimulai

Seorang pasien menyerahkan sampel dahak ke RS Mbagala Kuu di Dar es Salaam, kota terbesar di Tanzania. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada tahun 2012 tuberkulosis, penyakit menular yang menyerang paru-paru, membunuh sekitar 1,3 juta orang di seluruh dunia.

Iptek

Pengujian Ganda

Sampel dari pasien, yang sebelumnya diuji negatif TBC, juga dikirim ke Apopo. Hal ini dilakukan karena banyak klinik memiliki teknologi usang. Lebih dari setengah dari penderita TBC di Afrika tidak terdeteksi. Dampaknya mengerikan: satu penderita TBC yang tidak menjalani perawatan dapat menularkan penyakit ini pada 10 sampai 15 orang per tahun.

Iptek

Penyakit Mematikan

Savera Komba (kiri) batuk-batuk, kehilangan berat badan dan mengeluh kelelahan. Pengujian di rumah sakit menyebutkan ia tidak menderita TBC. Sampel dahaknya dikirim ke Apopo di Morogoro, dan tikus di pusat penelitian ini mendapatkan bahwa ia positif TBC.

Iptek

Memastikan

Petugas laboratorium Apopo menguji ulang sampel yang sebelumnya dinyatakan negatif oleh rumah sakit, tapi dinyatakan positif oleh tikus. Jika tetap positif, pasien diminta kembali ke rumah sakit untuk memulai pengobatan.

Iptek

Mulai Pengobatan

Bobot Savera Komba masih 39 kg, namun sejak ia menjalani pengobatan ia merasa lebih baik. Kepada DW ia mengatakan, “Tanpa tikus, mungkin saya sudah meninggal.”

Iptek

Belum Diakui

Memanfaatkan tikus untuk mendeteksi TBC belum diakui oleh WHO. Namun, sekitar 1.700 pasien yang oleh rumah sakit dinyatakan tidak menderita TBC, terdeteksi TBC oleh Gilbert dan “rekan kerjanya” pada tahun lalu di Tanzania. Hasil ini mendorong Apopo untuk membuka laboratorium lain di Mozambik dan juga direncanakan di Afrika Selatan.

Iptek

Mesin Cepat

Apa kelebihan dari tikus pelacak TBC milik Apopo? Mereka cepat. Seekor tikus mampu memproses sampel dalam waktu tujuh menit, sementara rumah sakit memerlukan satu hari. Oleh karenanya, metode pengujian ini bisa dimanfaatkan di masa depan untuk menguji sampel dalam jumlah besar secara cepat, misalnya di kamp-kamp pengungsi atau penjara yang risiko penularan TBC cukup tinggi.

Alfredo Cabaleiro Besada, seorang pasien pengidap Tuberkulosismengisahkan:"Setelah didiagnosis tuberkulosis, saya punya dua pilihan: pertama, tinggal dalam jangka waktu lama di kamar rumah sakit di mana tidak ada yang bisa mengunjungi saya tanpa memakai masker khusus.  Kedua, tinggal di rumah dan datang ke rumah sakit setiap hari untuk pengobatan, suntik dan minum  22 pil perhari. Saya memilih opsi kedua. Jika saya harus pergi ke luar, ke toko roti atau tempat lain, saya selalu harus memakai masker."

TBC membunuh 1,5 juta orang setiap tahunnya di seluruh dunia dan di Eropa yang tergolong bagus sistem kesehatannya, sekitar 100.000 kasus baru didiagnosis setiap tahunnya. "Penyakit ini secara bertahap membuat lubang di paru-paru, hingga terlihat seperti keju Swiss. Dan setelah infeksi tuberkulosis merambah paru-paru, infeksinya menyebar melalui darah ke organ lain, otak, tulang - setiap organ manusia yang dialiri oleh darah", ujar pakar penyakit paru-paru, Rafael Vázquez.

Perjuangan panjang eradikasi TBC

Di laboratorium bioteknologi dekat rumah sakit Vigo, para ilmuwan dari proyek penelitian Uni Eropa mencoba menemukan jawaban atas tantangan kompleks dan dramatis yang ditimbulkan oleh penyakit tersebut. Ini adalah upaya besar jangka panjang.

Carlos Martín, Pakar Mikrobiologi, Universitas Zaragoza mengungkapkan: "Saat saya masih mahasiswa di sekolah kedokteran, pada awal tahun 80-an, Organisasi Kesehatan Dunia WHO menarget eradikasi TBC tahun 2000. Kini para pakar menyebut tahun  2050 sebagai kemungkinan tahun eradikasi penyakit itu. Tapi itu hanya dimungkinkan, jika kita memiliki alat diagnostik yang lebih cepat, obat baru yang lebih ampuh untuk melawan strain baru yang kebal dan vaksin baru."

1902: Penyebabnya Nyamuk Malaria

Peneliti Inggris Ronald Ross menemukan, bahwa nyamuk menyebarkan penyakit tropis malaria. Ia menunjukkan, bahwa nyamuk Anopheles membawa parasit bersel satu, yang menyebabkan Malaria. Hari ini, masih sekitar 300 juta orang tertular Malaria setiap tahunnya, dan hampir tiga juta meninggal. Tetapi berkat upaya Ross, peneliti bisa mengembangkan obat penyembuhnya.

1905: Bakteri Sebabkan TBC

Robert Koch menemukan penyebab penyakit TBC, yaitu Mycobacterium tuberculosis. Sekarangpun TBC adalah penyakit menular yang tersebar di mana-mana, yang pengobatannya sangat sulit dan lama, walaupun dengan antibiotik yang tepat. Sekarang ada vaksinasi untuk mencegah penularan, tapi hanya melindungi anak kecil, tidak orang dewasa.

1912: Transplantasi Organ Manusia

Berkat penelitian ahli bedah Alexis Carrel asal Perancis transplantasi pembuluh darah dan seluruh organ mungkin dilakukan. Misalnya: ia mengembangkan teknik jahit, yang bisa menghubungkan pembuluh darah yang terputus. Ia juga menemukan, bagaimana cara menyimpan organ tubuh yang telah diambil dari tubuh manusia. Jaman sekarang, dokter mentransplantasikan sekitar 100.000 organ.

1924: Melihat Bagaimana Jantung Berdetak

Warga Belanda Willem Einthoven mengembangkan Elektrokardiogram (EKG) sebegitu jauh, sehingga bisa digunakan di rumah sakit dan praktek dokter. EKG mendata aktivitas elektrik pada jantung. Dengan EKG, dokter misalnya bisa mengenali gangguan ritme jantung dan penyakit jantung lainnya. Ini jadi proses yang banyak digunakan di jaman sekarang.

1930: Empat Golongan Darah

Peneliti Austria Karl Landsteiner menemukan, jika darah dari dua orang dicampur, akan terjadi penggumpalan. Sering, tapi tidak selalu. Dalam waktu singkat ia tahu penyebabnya: golongan darah ada tiga macam A, B dan 0. Landsteiner tidak menyebut 0, melainkan C. Belakangan, rekan-rekannya menemukan golongan darah ke empat, AB. Dengan demikian transfusi darah bisa dilakukan.

1939, 1945 dan 1952: Obat Yang Membunuh Bakteri

Hadiah Nobel dari tiga tahun ini diperoleh penemu dan pengembang antibiotik. Di antaranya Alexander Fleming, yang menemukan Penicillin. Saat inipun antibiotik adalah obat yang paling sering digunakan dan kerap menyelamatkan nyawa. Namun macam antibiotik harus terus diperbanyak, karena semakin lama, bakteri makin resisten.

1948: Racun terhadap Nyamuk Malaria

Senyawa kimia DDT mematikan serangga, tapi tidak beracun bagi binatang menyusui. Itu ditemukan Paul Hermann Müller. Dalam beberapa dasawarsa setelahnya, DDT jadi pembunuh serangga yang paling banyak digunakan di seluruh dunia. Namun kini orang mengetahui, racun itu merugikan lingkungan hidup, terutama bagi burung. Sekarang penggunaannya dikecam, tapi masih digunakan untuk membasmi nyamuk malaria.

1956: Kateterisasi Jantung

Peneliti Jerman Werner Forßmann mendapat hadiah Nobel bagi pengembangan kateterisasi jantung. Forßmann bahkan menggunakan penemuannya bagi dirinya sendiri. Caranya, selang plastik dimasukkan lewat siku, tangan atau daerah lipat paha ke dalam pembuluh darah dan didorong hingga jantung. Dengan cara itu dokter meneliti jantung dan melaksanakan operasi.

1979 dan 2003: Melihat ke dalam Tubuh

Dulu, jika orang ingin melihat bagian tubuh manusia, jalan satu-satunya hanya lewat Röntgen. Sekarang dokter sudah punya metode jauh lebih baik. Salah satunya adalah Computertomografie (CT), yang juga menggunakan sinar Röntgen, tetapi menghasilkan gambaran bagian dalam tubuh secara detail. Metode itu disusul dengan Pencitraan Resonansi Magnetik (MRI), yang sepenuhnya tidak merugikan tubuh manusia.

2008: Kanker Yang Diakibatkan Virus

Penelitian Harald zur Hausen dari Pusat Penelitian Kanker Jerman menemukan, bahwa virus bisa menyebabkan kanker leher rahim. Berdasarkan penelitiannya tercipta vaksin yang menangkal virus itu. Sekarang perempuan dan anak perempuan bisa mendapat vaksinasi terhadap jenis kanker ini.

2010: Bayi dari Tabung Percobaan

Robert Edwards mengembangkan metode fertilisasi "in-vitro," yaitu pembuahan dalam tabung percobaan. Bayi pertama yang tercipta lewat metode ini lahir tahun 1978 di Inggris. Pengembangan lebih jauh memperbaiki peluang sukses metode ini. Sekarang, di seluruh dunia lebih dari lima juta bayi lahir lewat pembuahan ini.

Hasil pertama proyek tersebut  adalah kandidat vaksin baru, yang diproduksi di fasilitas penelitian ini. Berbeda dengan vaksin tuberkulosis yang sudah ada sejak 100 tahun, ini adalah vaksin hidup berbasis versi bakteri yang dilemahkan pemicu penyakit. Para peneliti berharap, hal ini akan membuat vaksin lebih aman dan lebih efektif.

"Budidaya bakteri tuberkulosis hidup pada skala industri sangat rumit. Kami berbicara tentang mikro-organisme yang tumbuh sangat lambat. Kami perlu menunggu antara 1 dan 2 bulan sebelum dapat bekerja dengan vaksin ini. Dan iniVaksin  hidup. Agar benar-benar efisien, kami harus memastikan kelangsungan hidup bakteri dan stabilitasnya di seluruh proses manufaktur", ujar ahli farmakologi María Eugenia Puentes.

Uji vaksin jangka panjang

Di kota Lausanne di Swiss, sekitar 1.800 kilometer dari Vigo. dimulai uji klinis fase pertama dengan menggunakan sukarelawan. Para peneliti sedang mengevaluasi keamanan kandidat vaksin. Juga meneliti  efisiensinya dalam merangsang molekul yang dianggap melindungi tubuh manusia terhadap penyakit tersebut.

Pakar Immunologi  François Spertini menjelaskan: "Akan sangat bagus, jika pada tahap pertama uji klinis, kami dapat menunjukkan bahwa Molekul  pelindung ini ada di tubuh para sukarelawan. Itu berarti bahwa pada pasien nyata, mereka yang memiliki molekul akan lebih terlindungi daripada mereka yang tidak. Ini yang akan kami coba verifikasi. "

Jika berhasil melewati tiga tahap uji klinis yang diperlukan untuk validasi ilmiah, para peneliti berharap produksi industrial vaksin baru bisa mulai sekitar sepuluh tahun lagi. Jadi eradikasi TBC harus menunggu cukup lama. Juga keampuhan vaksin amat tergantung dari kecepatan mutasi bakteri Tubercolosis yang berlangsung amat cepat, karena di banyak wilayah masih dilakukan pemberian obat secara tidak rasional.

as/vlz (DW Inovator)

Teknik

Kecerdasan Artifisial Jadi Keseharian

Tahun 2018 ditandai dengan kecerdasan buatan yang menemani keseharian manusia. Kecerdasan buatan pada smartphone misalnya, bisa bereaksi atas kebutuhan pribadi pemiliknya. Dengan membangun jejaring data bersama mobil cerdas dan rumah cerdas, manusia akan diawasi terus menerus oleh piranti cerdas ini. Sulit memastikan, apakah kita cukup cerdas untuk menghindari efek negatifnya,?

Teknik

Manusia Hasil Rekayasa Genetika

Amerika Serikat pada tahun 2017, mengizinkan penyembuhan dua jenis kanker darah dan penyebab kebutaan, lewat terapi genetika. Caranya dengan modifikasi gen kekebalan tubuh pasien, agar mengenali sel kanker sebagai musuh dan membunuhnya. Sementara pada kasus kebutaan, rekayasa genetika dilakukan langsung pada gen tertentu di mata, tanpa mempengaruhi bagian tubuh lain.

Teknik

Mengoperasi Embryo Dalam Kandungan

Menggunting gen yang sakit dan menggantinya dengan gen sehat, pada janin yang masih dalam kandungan, juga sukses diujicoba di AS. Eksperimen dilakukan pada embryo dalam rahim yang mengidap kelainan jantung. Terapi gen semacam ini diharapkan bisa menyembuhkan kanker, sistik fibrosis atau AIDS.

Teknik

Mikro Organisme Jadi Pabrik Obat

Teknik rekayasa genetika pada 2018 juga membuka cakrawala baru dalam bidang biologi sintetik. Gabungan cabang biologi dan teknik keinsinyuran, akan mleakukan modifikasi DNA mikro organisme menjadi pabrik farmasi ukuran mikro. Makhluk hidup artifisial mikro nantinya bisa direkayasa memproduksi insulin atau molekul yang jadi basis pembuatan obat baru.

Teknik

Manusia Cyborg Hasil Cetakan

Tahun 2018 juga ditandai dengan makin canggihnya perangkat pencetak 3 dimensi. Diramalkan, nantinya tubuh manusia juga bisa dicetak 3D, menggunakan tinta bio-kompatibel. Artinya organ buatan printer itu tidak akan ditolak oleh sistem kekebalan tubuh. Tren kedokteran ini baru berjalan di tahapan awal, namun perkembangannya diramalkan sangat pesat. as/yf (dari berbagai sumber)