Eropa Lega atas Kekalahan Wilders

Eropa menyambut kekalahan tokoh populis kanan Geert Wilders dalam pemilu legislatif Belanda. Kemenangan partai-partai kanan-tengah di negeri kincir angin itu dianggap sebagai indikator bangkitnya kaum moderat di Eropa

Eropa bernafas lega menyusul hasil pemilihan legislatif di Belanda yang dimenangkan partai liberal kanan VVD pimpinan Perdana Menteri Mark Rutte. Padahal hingga beberapa pekan terakhir berbagai jajak pendapat meramalkan kemenangan telak kelompok populis kanan yang digalang Geert Wilders.

Menurut hasil penghitungan cepat, VVD mendapat suara terbanyak dengan 21% dan PVV yang mengusung Wilders berada di urutan kedua dengan perolehan suara 13,1%.

Sementara sisa suara dibagi oleh partai-partai kanan tengah, CDA dengan 12,4% dan Democrats 66 dengan 12,1%. Sementara partai-partai kiri berada di urutan terbawah, Partai Sosialis dengan 9,1% , PvdA dengan 5,7% dan Partai Hijau dengan 9%.

Pembagian kursi di parlemen berdasarkan perolehan suara

Pemilihan legislatif di Belanda mengawali tahun penentuan di Uni Eropa menyusul pemilu tiga negara besar, yakni Perancis, Italia dan Jerman. Di ketiga negara tersebut kelompok populis kanan yang anti Eropa sedang menikmati popularitas tinggi dan diyakini akan mampu mengumpulkan cukup dukungan buat ikut berkecimpung di pemerintahan.

Sontak hasil pemilu Belanda ditanggapi positif oleh berbagai pihak. Kanselir Jerman Angela Merkel dikabarkan langsung menghubungi PM Mark Rutte untuk menyampaikan ucapan selamat. Sementara calon kanselir Partai Sosial Demokrat Jerman, Martin Schulz mengaku "lega" atas kekalahan yang diderita Geert Wilders. "Tapi kita harus terus berjuang demi Eropa yang inklusif dan bebas," ujarnya.

Jerman yang bakal menggelar pemilu legislatif bulan September mendatang sedang menghadapi kebangkitan partai AfD yang berusaha mendulang suara lewat isu anti Eropa dan pengungsi.

Sementara di Perancis, kemenangan golongan kanan-tengah di Belanda ditanggapi positif oleh Presiden Francois Hollande. Serupa Jerman, Perancis akan menggelar pemilu kepresidenan pada 23 April mendatang. Sejauh ini kandidat partai garis keras Front National, Marie Le Pen, mencuat di berbagai jajak pendapat dan dianggap sebagai calon yang harus dikalahkan.

"Presiden Perancis mengucapkan selamat kepada Mark Rutte atas kemenangan telaknya terhadap ekstremisme," tulis Hollande dalam surat pernyataannya. "Nilai keterbukaan, saling menghormati dan keyakinan atas masa depan Eropa adalah satu-satunya jawaban atas gerakan nasionalis dan isolasionisme yang saat ini sedang menggoyang dunia."

Reaksi paling gamblang disampaikan Menteri Pertama Skotlandia, Nicola Sturgeon. Politisi pro Eropa yang sedang mengusahakan kemerdekaan Skotlandia dari Inggris itu menyambut kekalahan Geert Wilders dengan mencuitkan kata "bagus" di twitter.

Belanda: Masihkah Negara Panutan di Eropa?

Negara Panutan di Eropa?

Menjelang pemilu sudah terlihat pertanda, bahwa partai populis terus memimpin dalam angket. Mengapa negara yang dulu dijuluki negara panutannya Eropa dalam toleransi ini berubah drastis?

Belanda: Masihkah Negara Panutan di Eropa?

Tokoh Penyederhanaan Masalah

Dalam globalisasi, masalah politik, ekonomi dan kemasyarakatan semakin kompleks. Banyak orang merasa kewalahan. Di sinilah letaknya peluang besar bagi partai populis. Geert Wildes dengan partainya PVV menawarkan jawaban simpel bagi masalah rumit. Karena itu ia sukses mendulang suara pendukung.

Belanda: Masihkah Negara Panutan di Eropa?

Gagal Penuhi Janji

Kepala pemerintahan Mark Rutte dulu maju dengan janji mengurus pemulihan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan. Data ekonomi menunjukkan nilai positif. Masalahnya, kalangan menengah dan bawah tidak merasakan perubahan apapun. Bagi mereka situasi saat ini tidak lebih baik dari 5 tahun silam.

Belanda: Masihkah Negara Panutan di Eropa?

Kehilangan Kepercayaan Publik

Rutte dulu berjanji, tidak akan mengalirkan uang bagi negara lain yang dililit utang. Tapi sesaat setelah diangkat jadi PM, pemerintah Belanda menyepakati paket bantuan bagi Yunani. Kepercayaan publik terus turun. Situasi makin parah, setelah pemerintah menaikkan umur pensiun jadi 67 dan memotong bantuan sosial.

Belanda: Masihkah Negara Panutan di Eropa?

Tak Ada Yang Merasa Diuntungkan

Warga Belanda dengan cepat merasakan, harus membayar ongkos pertumbuhan. Mereka harus menerima pemotongan tunjangan pengangguran dan dampak penghematan asuransi kesehatan. Konjungktur tidak dirasakan rakyat. Walau angka pengangguran turun, tapi banyak warga Belanda merasakan, gaji mereka tidak lagi mencukupi memenuhi standar kehidupan seperti sebelumnya.

Belanda: Masihkah Negara Panutan di Eropa?

Refleks Nasionalistis

Dalam situasi semacam itu refleks nasionalistis muncul. Juga di Belanda yang terkenal berpaham liberal dan bertahun lamanya jadi negara panutan di Uni Eropa. Warga menentang penerimaan pengungsi. Bagi tokoh populis kanan sekelas Geert Wilders, refleks ini bagaikan bahan bakar tambahan untuk mesin propagandanya.

Belanda: Masihkah Negara Panutan di Eropa?

Takut Warga Asing

Warga asing terutama kaum Muslim terutama jadi incaran Wilders. Setiap tampilan publiknya selalu dimbumbui peringatan, Belanda tidak lama lagi akan dilanda Islamisasi. Wilders juga meniru gaya Donald Trump, dengan menuding etnis tertentu sebagai penyebab memburuknya situasi. Wilders selalu menyerang migran Maghribi dan menyebutnya kesasar masuk Belanda.

Belanda: Masihkah Negara Panutan di Eropa?

Bukan Budaya Kami

Islam di Eropa terlihat lewat masjid yang mereka gunakan. Banyak warga Belanda yang tidak ingin melihat ada masjid di wilayahnya. Ini juga refleks berikutnya yang dimanfaatkan Wilders. Ia menuntut pelarangan masjid di seluruh Belanda dan membuka polemik soal ideologi Islam serta mengritik mata uang Euro. Di sisi lain ia berjanji memperbaiki perawatan manula dan menaikkan pensiun.

Belanda: Masihkah Negara Panutan di Eropa?

Melindungi Diri Sendiri

Dalam atmosfir ketidakpuasan dan ketidakpastian, Wilders kelihatannya bisa memetik keuntungan. Argumen yang sering dilontarkan Geert Wilders, Belanda perlu tanggul untuk menahan gelombang Laut Utara, dan sebentar lagi untuk menahan imigran asing dan pengungsi. Penulis: Dirk Kaufmann (as/yf)

rzn/yf (afp,rtr,dpa)

Ikuti kami