Gencatan Senjata di Suriah Saat Idul Adha

Warga Suriah memanfaatkan gencatan senjata pada Hari Raya Idul Adha untuk pergi ke Mesjid. Demikian juga dengan Presiden Assad. Namun gencatan senjata tidak berlangsung lama.

Suriah di saat Idul Adha, senjata untuk sementara berhenti menyalak. Jumat (26/10) menurut keterangan aktivis terjadi suasana tenang, namun tetap dibayangi ketegangan. Di Provinsi Daraa di bagian selatan, dilaporkan terjadi insiden, dimana dini hari aparat keamanan menembaki demonstran. Aktivis pengamat hak asasi manusia dari pihak oposisi melaporkan tiga orang luka-luka akibat insiden tersebut.

Namun kurang dari tiga jam berlangsungnya gencatan senjata pengamat HAM di London melaporkan, terjadi lagi bentrokan antara pasukan pemerintah dan pemberontak di kota Maarat al Numan di Provinsi Idlib. Dilaporkan, pejuang berusaha menyerbu pangkalan militer di sana. Di antara mereka juga terdapat anggota kelompok teror Front Al Nusra yang menolak gencatan senjata.

Sebelumnya di Damaskus, Presiden Bashar al-Assad melakukan sholat di sebuah Mesjid. Stasiun televisi nasional menyiarkan kehadiran Presiden Suriah itu yang tampak tersenyum dan santai menyapa para pengunjung Mesjid.

Presiden Assad lakukan Sholat Idul Adha 2012

Gencatan senjata selama Hari Raya Idul Adha disepakati para pihak yang bertikai berlangsung selama empat hari. Militer Suriah menyetujui gencatan senjata yang didukung oleh PBB itu Kamis (25/10). Namun militer menyatakan tetap akan bereaksi atas pelanggaran dari pihak lawan. Oposisi bersenjata sebelumnya sudah menyatakan setuju terhadap usulan utusan khusus PBB dan Liga Arab Lakhdar Brahimi untuk meletakkan senjata selama hari raya.

Para pengamat skeptis apakah gencatan senjata yang didukung internasional benar-benar dapat dipatuhi. Baru April lalu upaya mengakhiri kekerasan di Suriah gagal. Kala itu pendahulu Brahimi, Kofi Annan mengupayakan berlangsungnya gencatan senjata, yang tidak lama kemudian dibatalkan kembali.

Pada pergantian tahun 2011/2012 misi pengamat Liga Arab berusaha menghentikan pertumpahan darah. Setelah satu bulan organisasi itu kembali membatalkan rencananya karena eskalasi kekerasan. Selain itu kelompok radikal Front Al Nusra sudah mengumumkan menolak gencatan senjata.

Internasional Menahan Diri

Utusan khusus Brahimi saat kunjungi Damaskus (19/10)

Masyarakat internasional dalam mengomentari situasi aktual gencatan senjata di Suriah juga tampak menahan diri. "Rezim Suriah selama ini tidak membuktikan bahwa mereka menepati kesepakatan", kata juru bicara kementerian luar negeri AS Victoria Nuland Kamis (25/10) di Washington. Sementara menteri luar negeri Jerman Guido Westerwelle menyampaikan adanya „secercah harapan untuk orang-orang yang sedang menderita.“

Rusia, negara pemilik hak veto di DK Keamanan PBB yang merupakan mitra rezim Assad mengatakan, bahwa pengumuman gencatan senjata itu penting secara fundamental. “Ini membuka peluang solusi politis", demikian disampaikan juru bicara kementerian luar negeri Alexander Lukaschewitsch Kamis malam di Moskow.

Rabu (24/10) malam, satu hari sebelum berlangsungnya gencatan senjata pertempuran masih terus berlangsung. Terutama di kawasan seputar Damaskus serta kota terbesar kedua Aleppo terjadi sejumlah bentrokan senjata. Hari Kamis (25/10) saja di seluruh Suriah dilaporkan sekitar 140 orang tewas.

dk/as (dpa,ap)

Ikuti kami