1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Gugatan film-film Iran

Jochen Kürten4 Oktober 2013

"Situasi di Iran sangat rumit", ungkap jurnalis Ali Amini kepada Deutsche Welle. "Di Iran sutradara diintimidasi seratus cara, agar tidak bekerja“.

https://p.dw.com/p/19ts5
Foto: uConnect

Sutradara Iran, Mohammad Rasoulof sebenarnya ditunggu di Hamburg dan Nürnberg. Film terbarunya "Manuscripts don't burn" (unser Bild oben), yang telah memenangkan sejumlah penghargaan akan ditayangkan pada Festival Film Hak Azasi Manusia Nünrberg. Tapi Rasoulof tak bisa meninggalkan Iran.

Paspor yang ditahan

Rasoulof yang bersama keluarganya kini menetap di Hamburg, pertengahan September lalu berkunjung ke Teheran. Namun setelah tiba, paspornya disita dan ia tak bisa kembali ke Jerman..

Selain di Nürnberg, karya film terakhir Mohammad Rasoulof juga akan diputar di Festival Film Hamburg awal Oktober ini. Kathrin Kohlstedde dari Festival Film Hamburg mengatakan, „Kami berhubungan terus dengan Rasoulof, melalui istri dan teman-temannya. Di Iran, ia bisa bergerak bebas dan tidak ditahan. Namun ia juga tak bisa keluar dari negara itu.

Iranischer Regisseur Mohammad Rasoulof
Mohammad RasoulofFoto: Sandra Hoever

Larangan Profesi

Pemerintah Iran melarang Rasoulof melakukan profesinya sebagai sutradara film. Bersama sutradara Jafar Panahi pada Maret 2010, Rasoulof ditangkap di Iran dan dijatuhi hukuman enam tahun penjara dan 20 tahun larangan kerja di bidangnya karena „berpropaganda menentang sistem.

Meskipun kedua sutradara itu akhirnya tidak dipenjara - Rasoulof bebas dengan jaminan dan Panahi dikenakan tahanan rumah – larangan kerja itu masih berlaku. Namun keduanya menentang keputusan itu dan dibawah tangan tetap membuat film.

Filmfest Hamburg Iran Deluxe Closed Curtain
Filmfest Hamburg Iran DeluxeFoto: uConnect

Panahi membuat film "Pardé" ("Tirai tertutup "), yang memenangkan Beruang Perak di festival film Berlinale tahun ini. Sedangkan film Rasoulof "Dastneveshtehaa Nemisoozand" ("Manuscripts don't burn") mendapat penghargaan ketika premier di Cannes padda bulan Mai lalu.

Bekerja Meski Larangan

"Situasi di Iran sangat rumit", ungkap jurnalis Ali Amini kepada Deutsche Welle. "Di Iran sutradara diintimidasi seratus cara, agar tidak bekerja“. Tambahnya, namun bila kedua tema larangan tidak diungkit, dan sutradara gigih membela proyek dan terus melakukan pendekatan dengan pihak berwenang, maka peluang ada untuk tetap membuat film.

Dua tema larangan tersebut meliputi lontaran kritik terhadap para pemimpin agama Iran, dalam hal ini Ayatollah Khomeini dan Ayatollah Khamenei. Selain itu, kritik mengenai perang Teluk pertama (1980-1988) antara Iran dan Irak. Di luar itu, film yang termasuk kritik sosial masih bisa dibuat. Film Rasoulof "Manuscripts don't burn" merupakan gugatan terhadap dinas rahasia Iran dan rangkaian pembunuhan kaum intelektual di tahun 90-an.

Filmfest Hamburg Iran Manuscripts don't burn
Manuscripts don't burnFoto: Elle Driver

Pada Festival Hamburg, film Rasoulof itu dipilih sebagai salah satu film yang mewakili Iran. Kurator Jafar Panahi menamakan pilihannya "Iran Deluxe". Pengelola festival, Kathrin Kohlstedde mengatakan, "Bila ia tidak boleh membuat film, kami setidaknya bisa memberikan Panahi peluang untuk menyampaikan pengetahuannya mengenai film."

Penghargaan dari Festival Terkemuka

Para sutradara Iran bukan pendatang baru di festival film internasional. Setidaknya dua dasawarsa ini, film-film Iran telah memboyong banyak penghargaan. Sutradara seperti Abbas Kiarostami, Mohsen Makhmalbaf, Asghar Farhadi, serta Panahi dan Rasoulof telah membuat nama dalam dunia perfilman internasional.

Meski banyak hambatan, mereka tetap membuat film. Mohammed Rasoulof yang sebelum berangkat ke Iran diwawancarai oleh majalah "Der Spiegel" menerangkan sikapnya menghadapi tekanan pemerintah di Iran. „Secara nalar saya tahu bahwa membahayakan diri sendiri, dan terdorong untuk merasa takut. Tapi perasaan saya mengatakan : Sebodolah!“