Gunakanlah Pileg dan Pilpres sebagai Momentum untuk Memilih yang Terbaik

Pemilu sudah di depan mata. Siapa yang akan Anda pilih? Bagaimana Anda menentukan kriteria pemimpin? Simak pilihan Sumanto Al Qurtuby.

17 April 2019 merupakan hari yang bersejarah di Indonesia. Pasalnya, pada tanggal ini, negara kepulauan terbesar di dunia ini menggelar acara Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) secara serentak, kontras dengan tahun-tahun sebelumnya.

Bagaimana menurut Anda?

Klik di sini untuk mengikuti diskusi

Penulis: Sumanto al Qurtuby

Pileg tentu saja sebuah event politik untuk memilih calon-calon wakil rakyat (sering disebut "anggota dewan”, meski agak rancu. "Dewan” apa?) yang akan duduk di gedung parlemen, baik di tingkat pusat, provinsi maupun kabupaten. Sementara Pilpres adalah ajang pemilihan umum langsung untuk memilih presiden dan wakil presiden.

Jika ada kandidat, baik untuk kursi legislatif maupun eksekutif, yang dipandang memiliki rekam jejak positif, tidak korup, jujur, bekerja keras untuk bangsa, atau minimal kecil keburukannya, maka sebaiknya atau seharusnya harus kita pilih agar kelak diharapkan bisa bekerja dengan baik untuk kemajuan, kemakmuran, dan kejayaan negara dan bangsa Indonesia. Jangan disia-siakan momentum ini dengan menjadi Golput ("Golongan Putih”) misalnya. Tetapi jika tidak ada kandidat yang dianggap baik, layak, cakap, mumpuni, dan tidak korup, ya terserah Anda.

Saya sendiri memandang Pemilu (baik Pileg, Pilpres dan lainnya) yang dilakukan secara terbuka (melibatkan seluruh rakyat) dan "jurdil” (jujur dan adil) sebagai sistem dan mekanisme politik terbaik untuk memilih anggota legislatif maupun eksekutif, dibanding cara-cara politik lain (misalnya penunjukan, pemilihan terbatas, dlsb).

Siapa Calon Pemimpin Indonesia?

1. Joko Widodo

Presiden Joko Widodo kokoh bertengger di puncak elektabilitas dengan 38,9% suara. Popularitas presiden saat ini "cendrung meningkat," kata Direktur Eksekutif SMRC Djayadi Hanan.

Siapa Calon Pemimpin Indonesia?

2. Prabowo Subianto

Untuk sosok yang sering absen dari kancah politik praktis pasca pemilu, nama Prabowo masih mampu menarik minat pemilih. Sebanyak 12% responden mengaku akan memilih mantan Pangkostrad itu sebagai presiden RI.

Siapa Calon Pemimpin Indonesia?

3. Anies Baswedan

Selain Jokowi dan Prabowo, nama-nama lain yang muncul dalam survey belum mendapat banyak dukungan. Gubernur terpilih DKI Jakarta, Anies Baswedan, misalnya hanya mendapat 0,9%.

Siapa Calon Pemimpin Indonesia?

4. Basuki Tjahaja Purnama

Nasib serupa dialami bekas Gubernur DKI, Basuki Tjahaja Purnama. Sosok yang kini mendekam di penjara lantaran kasus penistaan agama itu memperoleh 0,8% suara. Jumlah yang sama juga didapat Wakil Presiden RI Jusuf Kalla.

Siapa Calon Pemimpin Indonesia?

5. Hary Tanoesoedibjo

Pemilik grup MNC ini mengubah haluan politiknya setelah terbelit kasus hukum berupa dugaan ancaman terhadap Kepala Subdirektorat Penyidik Jaksa Agung Muda Pidana Khusus Yulianto. Hary yang tadinya beroposisi, tiba-tiba merapat ke kubu Presiden Joko Widodo. Saat inielektabilitasnya bertengger di kisaran 0,6%

Siapa Calon Pemimpin Indonesia?

6. Agus Yudhoyono

Meski diusung sebagai calon pemimpin Indonesia masa depan, saat ini popularitas Agus Yudhoyono masih kalah dibanding ayahnya Soesilo Bambang Yudhoyono yang memperpoleh 1,9% suara. Agus yang mengorbankan karir di TNI demi berpolitik hanya mendapat 0,3% dukungan.

Siapa Calon Pemimpin Indonesia?

7. Gatot Nurmantyo

Jumlah serupa didapat Panglima TNI Gatot Nurmantyo yang belakangan terkesan berusaha membangun basis dukungan. Nurmantyo hanya mendapat 0,3%. Meski begitu tingkat elektabilitas tokoh-tokoh ini akan banyak berubah jika bursa pencalonan sudah mulai dibuka, klaim SMRC.

Sejarah Pileg di Indonesia

Untuk Pileg, Indonesia sudah menyelenggarakan sebanyak 11 kali, yaitu satu kali di era Orde Lama (tahun 1955), enam kali di zaman Orde Baru (1971, 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997), dan empat kali di era Reformasi (1999, 2004, 2009, dan 2014). Jadi Pileg pada tahun 2019 ini merupakan yang ke-12 dalam sejarah sosial-politik Indonesia dan yang ke-5 setelah rezim Orde Baru almarhum.

Pileg pada 1955 dikenal sebagai Pileg yang sangat terbuka dan demokratis. Ada banyak sekali parpol yang ikut Pemilu waktu itu. Tetapi empat parpol yang paling populer dan mendapatkan suara banyak: PNI, Masyumi, PNU, dan PKI.

Sementara itu, serial Pileg di zaman Orde Baru adalah "Pemilu pura-pura” atau "Pileg munafik”. Sangking pura-pura dan munafiknya, dulu ada guyonan kalau Pemilu belum dilakukan tetapi hasilnya sudah diketahui: Golkar menang 99 persen. Pileg pada waktu itu memang berlangsung dengan penuh kepura-puraan, rekayasa, intrik, paksaan, kekerasan, dan tekanan dari rezim penguasa untuk memenangkan "golongan” yang berperan sebagai "parpol” milik sang rezim penguasa Orde Baru, yaitu Golkar (Golongan Karya).

Kedua parpol lain yang ikut kontes Pemilu, yaitu PPP (Partai Persatuan Pembanguan) dan PDI (Partai Demokrasi Indonesia), hanya berperan sebagai "bunga-bunga” alias "pelengkap penderita” saja. Rezim Orde Baru "membonsai” peran kedua parpol ini. Mereka dibiarkan hidup (supaya Golkar ada rival politik sehingga Indonesia terkesan sebagai "negara demokrasi”) tetapi tidak diperbolehkan berkembang biak supaya tidak mengganggu dan membahayakan stabilitas politik Orde Baru.

G30SPKI: Dusta di Ujung Nyawa Pahlawan Revolusi

Kabar Burung di Halaman Muka

Adalah dua harian milik ABRI, Angkatan Bersendjata dan Berita Yudha yang pertamakali melayangkan tudingan "penyiksaan barabarik" terhadap para jendral korban kudeta Partai Komunis Indonesia, termasuk bahwa mata korban "ditjungkil" dan "kemaluannya dipotong." Suharto sendiri dikutip membenarkan adanya "indikasi penyiksaan" di tubuh korban. Padahal hasil otopsi berkata lain.

G30SPKI: Dusta di Ujung Nyawa Pahlawan Revolusi

Otopsi Dr. Kertopati

Selama delapan jam tim forensik yang dipimpin Dr. Roebiono Kertopati dan Dr. Sutomo Tjokronegoro bekerja hingga dini hari buat mengungkap penyebab kematian ketujuh jendral pahlawan revolusi. Hasil otopsi yang dilakukan atas perintah Suharto sendiri itu kemudian ditemukan lagi oleh sejahrawan Cornell University, Amerika Serikat, Ben Anderson.

G30SPKI: Dusta di Ujung Nyawa Pahlawan Revolusi

Jendral Ahmad Yani

Jendral Ahmad Yani dikabarkan tewas di kediaman pribadinya setelah diberondong peluru oleh pasukan Tjakrabirawa pimpinan Lettu Doel Arief. Hasil otopsi hanya membenarkan separuh klaim tersebut. Tim forensik cuma menemukan delapan luka tembakan dari arah depan dan dua tembakan dari arah belakang. Yani diyakini meninggal dunia seketika sebelum jenazahnya diangkut oleh Tjakrabirawa.

G30SPKI: Dusta di Ujung Nyawa Pahlawan Revolusi

Brigade Jendral D.I. Panjaitan

Hal serupa terjadi dengan Brigade Jendral Donald Isaac Panjaitan. Hasil pemeriksaan menyebut dia mendapat tiga tembakan di bagian kepala dan sebuah luka kecil di lengan. Tidak ada bukti penyiksaan pada tubuh seperti yang ditudingkan oleh mabes ABRI kala itu.

G30SPKI: Dusta di Ujung Nyawa Pahlawan Revolusi

Mayor Jendral M.T. Haryono

Adapun laporan kematian Letnan Jendral Mas Tirtodarmo Haryono masih menimbulkan teka-teki karena tercatat tidak memiliki luka tembakan. Dokter hanya menemukan luka tusukan di bagian perut yang diduga disebabkan oleh bayonet. Luka serupa yang ditengarai tidak fatal juga ditemukan pada punggung dan pergelangan tangan korban yang diduga muncul ketika jenazah dilemparkan ke Lubang Buaya.

G30SPKI: Dusta di Ujung Nyawa Pahlawan Revolusi

Mayor Jendral Siswondo Parman

S. Parman menderita lima luka tembakan, termasuk dua di kepala yang menyebabkan kematiannya. Tim forensik juga menemukan luka atau retakan pada tengkorak, rahang dan bagian bawah kaki kiri yang disebabkan oleh trauma. Tidak ada yang bisa memastikan penyebab trauma tersebut. Ben Anderson menulis pukulan popor senjata atau benturan pada lantai dan dinding sumur bisa menjadi penyebabnya.

G30SPKI: Dusta di Ujung Nyawa Pahlawan Revolusi

Letnan Jendral Soeprapto

Letjen Soeprapto meninggal dunia akibat sebelas luka tembakan di berbagai bagian tubuh. Serupa S. Parman, dia juga menderita keretakan tulang di bagian tengkorak dan tiga luka sayatan yang diduga disebabkan oleh bayonet. Keretakan pada tulang korban diyakini sebagai akibat benturan dengan benda tumpul seperti popor senapan atau batu.

G30SPKI: Dusta di Ujung Nyawa Pahlawan Revolusi

Brigade Jendral Sutoyo Siswomiharjo

Brigjend Sutoyo adalah sosok yang paling ramai dikaitkan sebagai korban penyiksaan PKI. Di dalam film G30SPKI anggota Gerwani ditampilkan menyungkil salah satu matanya. Namun hasil otopsi berkata lain. Sutoyo menderita tiga luka tembakan, termasuk satu luka fatal di kepala, dan trauma di bagian lengan kanan.

G30SPKI: Dusta di Ujung Nyawa Pahlawan Revolusi

Kapten Czi. Pierre Tandean

Serupa yang lain, Pierre Tandean meninggal dunia akibat empat tembakan oleh pasukan Tjakrabirawa. Dia juga menderita luka dalam di bagian kening dan lengan kiri, serta "tiga luka terbuka akibat trauma di kepala." Tidak seorangpun dari tim dokter forensik bisa memastikan indikasi penyiksaan seperti yang ditudingkan Suharto kala itu.

Rezim penguasa terus mengisolasi PPP dan PDI. Cara mengisolasi kedua parpol ini bermacam-macam, antara lain menggunakan tangan-tangan tentara dan aparat (khususnya aparat desa) untuk mengintimidasi warga yang memilih kedua parpol ini. Saya masih ingat di desaku dulu di Jawa Tengah, kalau ada warga yang memilih kedua parpol ini, mereka digelandang dan disidang di rumah kepala desa atau balai desa. Setelah itu mereka dipukuli ramai-ramai oleh perangkat desa, termasuk kepala desa. Bahkan mereka dipukul pakai kursi. Tragis sekali. Perangkat desa tahu siapa saja warga yang memilih atau mencoblos selain Golkar. Ini menunjukkan bahwa proses Pemilu kala itu adalah betul-betul "lawakan politik”.

Bukan hanya mengintimidasi dan menyiksa warga saja, rezim Orde Baru dan antek-anteknya juga mengancam (dan membuktikan) tidak akan membangun daerah, kawasan, atau desa-desa yang banyak pendukung PPP dan PDI. Karena itu jangan heran kalau dulu daerah-daerah basis pendukung kedua parpol ini tak tersentuh oleh "pembangunan nasional” (misalnya, jalan tidak diaspal, tidak diberi instalasi listrik, tidak diberi dana bantuan desa, dan seterusnya) sehingga tetap terbelakang.

Setelah Orde Baru "wafat”, proses Pileg tentu saja jauh lebih baik (dibandingkan dengan Pileg di masa Orde Baru), meskipun hasilnya belum maksimal. Hal itu karena sebagian masyarakat atau warga negara Indonesia lalai, teledor, acuh, dan tidak memaksimalkan momentum Pileg itu dengan sebaik-baiknya. Akibatnya, sering kita lihat kandidat yang korup, memiliki rekam jejak buruk, rasis, etnosentris, intoleran, dan anti-keragaman dan kebangsaan bisa lolos menjadi anggota dewan legislatif. Para anggota dewan legislatif yang buruk rupa rata-rata terpilih karena menggunakan "uang politik” untuk menyogok pemilih yang "mata duitan”.

Kembalikan Wiji Thukul

Mencintai puisi sejak kecil

Sastrawan dan aktivis yang melawan penindasan rezim Orde Baru ini lahir di Solo, 26 Agustus 1963. Ia mencintai puisi sejak kecil. Anak tukang becak ini menjadi buruh plitur, ngamen puisi dan mengalah putus sekolah demi pendidikan adik-adiknya.

Kembalikan Wiji Thukul

Menyuarakan orang pinggiran

Di tengah kesulitan keuangan ia tetap giat menelurkan karya-karya puisi dan berteater di Sarang Teater Jagat. Ia juga mengajar anak-anak kecil melukis di Sanggar Suka Banjir dan menyuarakan nasib orang kecil dalam Jaringan Kerja Kesenian Rakyat JAKKER.

Kembalikan Wiji Thukul

Dengan puisi melawan penindasan

Foto ini diambil ketika Wiji Thukul latihan teater di Sarang Teater Jagat, Jagalan, Solo tahun 1987. Salah satu petikan puisi Wiji berjudul PENYAIR: " Jika tak ada kertas, aku akan menulis pada dinding.. Jika aku menulis dilarang, aku akan menulis dengan tetes darah!"

Kembalikan Wiji Thukul

Dianiaya ketika membela kaum tertindas

1992 ia memprotes pencemaran lingkungan oleh pabrik tekstil PT Sariwarna Asli Solo. 1994 dalam aksi petanidi Ngawi, Jawa Timur, Thukul dipukuli tentara. Tahun 1995 mengalami cedera mata kanan karena dibenturkan pada mobil oleh aparat sewaktu ikut dalam aksi protes karyawan PT Sritex. Istri Wiji Thukul, Siti Dyah Sujirah (Sipon) selalu mendukung perjuangan suaminya.

Kembalikan Wiji Thukul

Tanpa jejak

Pasca peristiwa 27 Juli 1996, jelang kejatuhan Soeharto tahun 1998, dia masuk dalam daftar pencarian orang (DPO). Di masa itu ia tetap berkarya. Pada masa tersebut sejumlah aktivis ditangkap, diculik dan dihilangkan secara paksa, termasuk Thukul. Sekitar bulan Maret-April 1998 jejaknya tak lagi diketahui. Tuduhan ia menyulut kerusuhan dlam peristiwa 27 Juli 1996 tak pernah terbukti.

Kembalikan Wiji Thukul

Puisinya tetap abadi

Sajak-sajak Wiji Thukul populer di kalangan aksi massa. Di antaranya: Peringatan, Sajak Suara, dan Bunga dan Tembok. Tanpa henti, puisinya selalu menggambarkan perjuangan kaum tertindas. Kumpulan puisinya dibukukan. Puisi nyanyian akar rumput melambangkan dendang para rakyat yang tidak terima dengan perlakuan pemerintahan yang tirani.

Kembalikan Wiji Thukul

Keabadian dalam Sajak

Apa Guna: “Apa guna punya ilmu tinggi, kalau hanya untuk mengibuli Apa guna banyak baca buku, kalau mulut kau bungkam melulu Dimana-mana moncong senjata berdiri gagah Kongkalikong dengan kaum cukong” (Wiji Thukul) Gambar: wijithukul.tk/BarisanPengingat

Kembalikan Wiji Thukul

Janji Jokowi

Sebelum menjadi presiden, Joko Widodo menyatakan, baik hidup atau meninggal dunia, kejelasan nasib Wiji Thukul harus menjadi perhatian pemerintah. Dalam kunjungannya ke Eropa, April 2016, Jokowi berujar, pemerintah masih mendalami kasus pelanggaran HAM berat, termasuk di antaranya penghilangan aktivis 1997-1988.

Kembalikan Wiji Thukul

Perjuangan tiada akhir

Istri Wiji Thukul, Siti Dyah Sujirah (Sipon) tak kenal lelah mencari keadilan, setelaah suaminya dihilangkan secara paksa. Pasangan Thukul-Sipon dikaruniai anak pertama bernama Fitri Nganthi Wani, kemudian pada tanggal 22 Desember 1993 anak kedua mereka lahir yang diberi nama Fajar Merah. Hingga kini Sipon, keluarga dan kawan-kawannya masih terus berjuang mencarinya. Kembalikan Wiji Thukul.

Sejarah Pilpres

Bagaimana dengan Pilpres? Pilpres di Indonesia secara umum dilakukan dengan mekanisme pemilihan oleh "wakil rakyat” (anggota parlemen) maupun rakyat secara langsung. Pemilihan presiden (dan wakil presiden) secara langsung oleh rakyat mulai digelar tahun 2004. Sebelumnya, Pilpres dipilih oleh parlemen. Di zaman Orde Baru, lagi-lagi, sesungguhnya Pilpres itu tidak ada karena semua orang sudah tahu kalau yang akan terpilih (atau "dipilih” oleh parlemen) adalah Pak Harto.

Rakyat Indonesia kala itu bukan ingin tahu siapa presiden yang akan terpilih, melainkan dag dig dug ingin mengetahui siapa wakil presiden yang akan mendampingi Pak Harto. Hal itu lantaran yang terjadi sesungguhnya di zaman Orde Baru adalah bukan anggota parlemen yang memilih presiden tetapi presiden lah yang memilih anggota parlemen!

Sejak 2004, sudah tiga kali Indonesia menggelar Pilpres secara langsung (2004, 2009, dan 2014) tidak lagi melalui perantara parlemen. Jadi 2019 ini adalah Pilpres langsung yang keempat dalam sejarah Indonesia. Dalam tiga kali Pilpres langsung itu, Indonesia berhasil memilih dua presiden, yaitu Susilo Bambang Yudhoyono (yang terpilih di Pilpres 2004 dan 2009) dan Joko Widodo (yang terpilih di Pilpres 2014). Tahun 2019 ini, Joko Widodo kembali maju sebagai kandidat Presiden RI. Penantangnya adalah Prabowo Subianto yang sudah beberapa kali maju berlaga di ajang Pilpres tetapi selalu gagal.

Suharto - Jalan Darah Menuju Istana

Prajurit Tak Bertuan

Suharto banyak berurusan dengan pemberontakan Darul Islam selama meniti karir militernya. Pasca kemerdekaan ia juga aktif memberantas kelompok kiri di antara pasukannya. Tahun 1959, ia nyaris dipecat oleh Jendral Nasution dan diseret ke mahkamah militer oleh Kolonel Ahmad Yani karena meminta uang kepada perusahaan-perusahaan di Jawa Tengah. Namun karirnya diselamatkan oleh Jendral Gatot Subroto.

Suharto - Jalan Darah Menuju Istana

Dua Musuh di Bawah Bayang Soekarno

Seperti banyak prajurit yang lain, Suharto mencurigai kedekatan Soekarno dan pimpinan Partai Komunis Indonesia (dalam gambar D.N. Aidit). Terutama sejak pemberontakan komunis di Madiun 1948, eksistensi PKI sangat bergantung pada dukungan Soekarno. Tanpanya PKI akan lumat oleh tentara. Permusuhan ABRI dan PKI tidak cuma beraroma politis, melainkan juga dipenuhi unsur kebencian.

Suharto - Jalan Darah Menuju Istana

Bibit Perpecahan

Suharto sibuk membenahi karir ketika permusuhan ABRI dan PKI mulai memanas. Buat mencegah PKI memenangkan pemilu dan menguasai pemerintahan, ABRI yang saat itu dipimpin duet Ahmad Yani dan A.H. Nasution mengajukan mosi menjadikan Soekarno sebagai presiden seumur hidup. Saat itu, konstelasi politik sudah mulai bergeser: Soekarno tidak lagi melihat ABRI sebagai sekutu utamanya, melainkan PKI.

Suharto - Jalan Darah Menuju Istana

Berkaca Pada Tiongkok

Meniru gerakan kaum komunis di Tiongkok, PKI berupaya memperluas kuasa dengan niat mempersenjatai petani dan praktik land reform. Soekarno menyetujui yang kedua dengan mengesahkan UU Pokok Agraria 1960. Tiga tahun kemudian, PKI melakukan aksi sepihak dengan merebut tanah milik para Kyai di Jawa dan membagikannya pada petani miskin. Langkah itu menciptakan musuh baru buat PKI, yakni kelompok Islam.

Suharto - Jalan Darah Menuju Istana

Sikap Diam Suharto

Enam jam sebelum peristiwa G30S, Kolonel Abdul Latief mendatangi Soeharto buat mengabarkan perihal rencana Cakrabirawa menculik tujuh Jendral. Latief saat itu mengira, Suharto adalah loyalis Soekarno dan akan memberikan dukungan. Kesaksian Latief menyebut, Suharto cuma berdiam diri. Setelah peristiwa penculikan jendral, Suharto yang menjabat Panglima Kostrad lalu mengambil alih komando ABRI.

Suharto - Jalan Darah Menuju Istana

Kehancuran PKI, Kebangkitan Suharto

Pada 30 September, pasukan pengamanan Presiden, Cakrabirawa, mengeksekusi tujuh dari 11 pimpinan ABRI yang diduga kuat ingin mengkudeta Soekarno. Suharto lalu memerintahkan pembubaran PKI dan penangkapan orang-orang yang terlibat. Letnan Kolonel Untung, komandan Cakrabirawa yang sebenarnya kenalan dekat Suharto dan ikut dalam operasi pembebasan Irian Barat, ditangkap, diadili dan dieksekusi.

Suharto - Jalan Darah Menuju Istana

Demo dan Propaganda

Pergerakan Suharto setelah G30S semata-mata diniatkan demi melucuti kekuasaan Soekarno. Ia antara lain mengirimkan prajurit RPKAD buat menguasai Jakarta, termasuk Istana Negara. Panglima Kostrad itu juga lihai menunggangi sikap antipati mahasiswa terhadap Sukarno yang dimabuk kuasa. Saat Soekarno bimbang ihwal keterlibatan PKI dalam G30S, mahasiswa turun ke jalan menuntutnya mundur dari jabatan.

Suharto - Jalan Darah Menuju Istana

Malam Pogrom, Tahun Kebiadaban

Di tengah aksi demonstrasi mahasiswa di Jakarta, ABRI memobilisasi kekuatan buat memusnahkan pendukung PKI di Jawa dan Bali. Dengan memanfaatkan kebencian kaum santri dan kelompok nasionalis, tentara mengorganisir pembunuhan massal. Jumlah korban hingga kini tidak jelas. Pakar sejarah menyebut antara 500.000 hingga tiga juta orang tewas. Tidak semuanya simpatisan PKI.

Suharto - Jalan Darah Menuju Istana

Eksekusi Disusul Eksodus

Selain menangkap dan mengeksekusi, massa dikerahkan menghancurkan toko-toko, kantor dan rumah milik mereka yang diduga pendukung komunis. Sebagian yang mampu, memilih untuk mengungsi ke luar negeri. Termasuk di antaranya Sobron, adik kandung pimpinan PKI D.N. Aidit yang hijrah ke Tiongkok dan lalu ke Perancis dan bermukim di sana hingga wafat tahun 2007.

Suharto - Jalan Darah Menuju Istana

Kelahiran Orde Baru

Setelah peristiwa G30S, Suharto yang notabene telah menjadi orang nomor satu di kalangan militer, membiarkan Soekarno berada di jabatannya, sembari menata peralihan kekuasaan. Selama 18 bulan, Suharto menyingkirkan semua loyalis Soekarno dari tubuh ABRI, menggandeng parlemen, mahasiswa dan kekuatan Islam, serta mengakhiri konfrontasi Malaysia. Kekuasaan Soekarno berakhir resmi di tangan MPRS.

Meskipun terpilih dua kali sebagai Presiden RI, prestasi SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) untuk bangsa dan negara bisa dikatakan nihil. Oleh banyak pihak, SBY dianggap tidak becus memimpin Indonesia. Ia dikritik lantaran dianggap banyak menjual aset negara ke asing, menumpuk utang, banyak pembangunan mangkrak, banyak korupsi, serta membiarkan kelompok radikal Islamis intoleran dan anti-kebhinekaan merajalela dan menggurita di Indonesia dan di tubuh pemerintahan itu sendiri. SBY juga dituding sebagai presiden yang lembek, nglokro, klemar-klemer, tidak tegas, terlalu kompromistik serta penakut atau pengecut.

Jokowi (Joko Widodo) yang terpilih dalam Pilpres 2014 pelan tapi pasti sedikit demi sedikit memulihkan kondisi Indonesia yang sakit-sakitan karena ditelantarkan oleh rezim SBY dan rezim-rezim sebelumnya. Dengan kerja kerasnya dalam membangun bangsa yang tanpa kenal lelah, sikapnya yang tegas dengan para koruptor dan pengemplang duit negara, rekam jejaknya yang bersih dan tidak korup, pengalamannya yang kaya dalam memimpin dan mengelola pemerintahan, serta visinya yang jauh ke depan dalam memajukan bangsa dan negara, Jokowi juga berhasil memulihkan citra Indonesia yang bopeng di mancanegara sehingga diapresiasi oleh berbagai tokoh di dunia.

Jokowi Dikejar Dosa HAM Hingga ke Eropa

Sambutan Kenegaraan

Jerman mempersiapkan upacara kenegaraan buat menyambut Presiden Indonesia Joko Widodo. Di jantung Eropa dia menyisakan waktu tidak barang sehari. Jokowi terutama membidik kerjasama pendidikan kejuruan buat calon tenaga kerja muda. Dengan cara itu sang presiden ingin menempatkan kualitas sumber daya manusia sebagai pondasi pertumbuhan ekonomi di masa depan.

Jokowi Dikejar Dosa HAM Hingga ke Eropa

Dikejar Dosa

Namun Jokowi tidak sepenuhnya bisa melepaskan diri dari isu Lingkungan dan Hak Azasi Manusia. Selama kunjungannya di Berlin sang presiden diiringi aksi demonstrasi berbagai kelompok, antara lain organisasi lingkungan Rettet den Regenwald. Sementara International People Tribunal 65 menyerahkan petisi yang berisikan tuntutan kepada pemerintah untuk menyelesaikan isu HAM masa lalu.

Jokowi Dikejar Dosa HAM Hingga ke Eropa

Sentilan Sang Pendeta

Agenda serupa juga menantinya di Istana Bellevue, saat bertemu dengan Presiden Jerman, Joachim Gauck. Gauck yang bekas pendeta itu membahas hak minoritas dan hubungan antar agama di Indonesia. Ia juga menyentil sang presiden ihwal hukuman mati. Jokowi berkilah Indonesia sedang dalam darurat narkoba

Jokowi Dikejar Dosa HAM Hingga ke Eropa

Berguru ke Jerman

Setelah bertemu Gauck, Jokowi bergegas menemui Kanselir Angela Merkel yang terpaksa menunggu selama tiga menit di kantor kekanseliran di Berlin. Bersama perempuan paling berkuasa di Bumi itu Jokowi membahas berbagai kerjasama ekonomi, terutama pendidikan vokasi dan juga isu terorisme.

Jokowi Dikejar Dosa HAM Hingga ke Eropa

Terjebak Isu HAM

Namun serupa dengan Gauck, Merkel turut membahas "kasus HAM di Indonesia, terutama di Aceh dan Papua." Soal isu pembantaian 1965, Jokowi akhirnya angkat bicara ketika sudah tiba di London. "Saya belum memutuskan apa-apa," ucapnya membantah klaim Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan, Luhut Panjaitan.

Jokowi Dikejar Dosa HAM Hingga ke Eropa

Bergegas Mengejar Pertumbuhan

Tanpa membuang banyak waktu presiden beserta rombongan langsung terbang ke London, lalu Belgia dan Belanda dengan selang waktu satu hari. Di Eropa Jokowi membidik perjanjian perdagangan bebas yang ia canangkan akan selesai dalam dua tahun. Selain kerjasama pendidikan vokasi dengan Jerman, Jokowi juga menggandeng Inggris untuk membenahi industri kelautan.

Karena kesuksesan Jokowi dalam memimpin Indonesia selama ini, di Pilpres 2019 ini, saya akan menggunakan hak pilihku sebagai warga negara Indonesia untuk kembali memilih Jokowi sebagai "nahkoda kapal Indonesia”.  Saya tidak akan menyia-nyiakan momentum baik ini. Tahun 2014, saya memilih Jokowi, capres pertama yang saya pilih sejak Pilpres langsung digelar di Indonesia (sebelumnya saya golput), dan tahun 2019 ini, saya tegaskan lagi, saya akan kembali memilih "wong Solo” ini, bukan lantaran saya dan Jokowi itu seetnis (sesama Jawa), sedaerah (sesama orang Jawa Tengah), atau seagama (sama-sama beragama Islam) sama sekali bukan, tetapi lantaran prestasi gemilangnya dalam menahkodai bangsa dan negara Indonesia.

Penulis:

Sumanto Al Qurtuby adalah anggota dewan pendiri Nusantara Kita Foundation dan Presiden Nusantara Institute. Ia juga Dosen Antropologi Budaya di King Fahd University of Petroleum and Minerals, Dhahran, Arab Saudi. Ia pernah menjadi fellow dan senior scholar di berbagai universitas seperti National University of Singapore, Kyoto University, University of Notre Dame, dan University of Oxdord. Ia memperoleh gelar doktor (PhD) dari Boston University, Amerika Serikat, di bidang Antropologi Budaya, khususnya Antropologi Politik dan Agama. Ia telah menulis lebih dari 20 buku, ratusan artikel ilmiah, dan ribuan esai popular, baik dalam Bahasa Inggris maupun Bahasa Indonesia yang terbit di berbagai media di dalam dan luar negeri. Bukunya yang berjudul Religious Violence and Conciliation in Indonesia diterbitkan oleh Routledge (London & New York) pada 2016. Manuskrip bukunya yang lain, berjudul Saudi Arabia and Indonesian Networks: Migration, Education and Islam, akan diterbitkan oleh I.B. Tauris (London & New York) bekerja sama dengan Muhammad Alagil Arabia-Asia Chair, Asia Research Institute, National University of Singapore.

*Setiap tulisan yang dimuat dalam #DWNesia menjadi tanggung jawab penulis.

*Tulis komentar Anda di  kolom di bawah ini.

Mengenang Kerusuhan Mei 1998

Hampir Dilalap Api

Mei 1998, Steven Winata berjalan kaki mengantar sabun, 500 meter dari rumahnya di kawasan Sawah Besar, Jakarta Pusat. Dalam keadaan tangan penuh barang bawaan, murid sekolah dasar ini dituduh menyenggol dan membuat seorang anak pribumi jatuh ke dalam selokan. Massa yang mengamuk hampir membakar tubuh Steven. “Saya selamat karena Ketua RT mengenali saya dan mengantar saya pulang.”

Mengenang Kerusuhan Mei 1998

Api Reformasi Akan Terus Menyala

Suara tuntutan agar Presiden Soeharto lakukan reformasi politik bergema di sejumlah kampus termasuk dari Universitas Trisakti, Jakarta Barat. Namun aksi unjuk rasa damai itu dilawan dengan tembakan peluru tajam yang tewaskan 4 mahasiswa Trisakti. Taman Reformasi adalah inisiatif mahasiswa dan diresmikan bekas Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama tahun 2014 agar Api Reformasi terus menyala

Mengenang Kerusuhan Mei 1998

Terjebak Api

Mei 1998, tahun lokasi pusat perbelanjaan ini menjadi sasaran penjarahan massa. Namun bangunan itu terbakar dan ditemukan 118 jasad tewas terbakar yang tak dapat dikenali. Kini pusat perbelanjaan baru yang semarak dengan papan iklan di Klender, Jakarta Timur itu seakan ingin meredam ingatan pada teriak tubuh-tubuh yang dijilati api.

Mengenang Kerusuhan Mei 1998

Akibat Api Sentimen Rasial

Penjarahan saat Kerusuhan Mei ’98 bukan hanya menyasar pusat perbelanjaan, rumah warga pun tak luput dari sasaran massa. Rumah Sudono Salim, pemilik Bank BCA di kawasan Gunung Sahari, Jakarta Pusat diserbu massa dan sempat dibakar. Kini deretan aset keluarga Sudono Salim menjadi “monumen” sentimen rasial yang kembali menyala dua dekade lalu.

Mengenang Kerusuhan Mei 1998

Melawan Api Kebencian

Salah satu lokasi kerusuhan 98 adalah kawasan Glodok, Jakarta Barat. Pada sebuah lorong sempit di Glodok, Jakarta Barat sebuah pintu rumah terbuka dan terlihat sejumlah pria duduk sambil mendengar musik Mandarin. Bapak yang tak mau disebut namanya itu mengaku rumahnya dibakar orang pada Mei 1998 lalu. Kini rumah-rumah ini kembali dibangun. Warga mengurung diri dalam pagar tinggi demi rasa aman.

Mengenang Kerusuhan Mei 1998

Sisa Dari Yang Terbakar

Sepotong balok kayu bekas rumah yang terbakar Mei 1998 lalu masih dipertahankan oleh pemiliknya sebagai tonggak kesaksian peristiwa yang ingin ia lupakan. Informasi berasal dari petugas Perlindungan Masyarakat setempat.

Mengenang Kerusuhan Mei 1998

Bertugas Saat Api Melanda

Widodo adalah petugas Perlindungan Masyarakat di RW 01, Taman Sari, Jakarta Barat. Mei 1998, ia bertugas di lokasi dalam foto dan menyaksikan api menjalar seluruh tempat usaha sekaligus rumah warga. Widodo mengaku tidak mampu mencegah massa karena massa dan warga sudah berbaur sedangkan ia sibuk membantu petugas pemadam kebakaran. “Semua rumah yang sekarang ini rumah baru”, kata Widodo.

Mengenang Kerusuhan Mei 1998

Bangkit Dari Abu

Toko alat sembahyang agama Buddha ini sebelum kerusuhan adalah percetakan sekaligus rumah tiga lantai di Glodok, Jakbar. Setelah ludes terbakar, rmereka memulai dari nol. “Tak mau ingat-ingat lagi”, kata ibu yang menolak sebut namanya. “Kerugian alat cetak ratusan juta rupiah dan materi bisa dihitung tetapi kerugian mental tak ternilai.”, ujar anak laki-laki pemilik toko yang turut menjaga toko.

Mengenang Kerusuhan Mei 1998

Saksi Mata Selamat

Hendry (68 tahun) mempunyai rumah sekaligus bengkel las bubut di Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat. Mei 1998 keluarganya menyelamatkan diri, menumpang di bedeng di sebelah rumahnya. Sementara Udin (50 tahun) saat itu jualan rokok di trotoar sebelah bengkel las bubut Hendry. Saat kerusuhan terjadi ia memilih pulang ke kampung di Kuningan, Jawa Barat. Udin dan Hendry sudah bersahabat selama 30 tahun

Mengenang Kerusuhan Mei 1998

Korban Tragedi

Pemerintah memakamkan korban tewas yang tidak bisa dikenali atau tidak beridentitas di TPU Pondok Rangon, Jakarta Timur. Seratusan nisan tak bernama menandai tragedi kemanusiaan 1998. Tahun 2015, pemerintah Jakarta resmikan Prasasti Tragedi Mei’98 bertuliskan pesan “Pengorbanan jiwa mereka telah menyalakan api reformasi menuju Indonesia yang lebih rukun, bermartabat dan cinta damai.”

Mengenang Kerusuhan Mei 1998

Pemerkosaan Itu Ada

Tim Relawan Untuk Kemanusian Mei ’98 menerima laporan korban perkosaan saat kerusuhan. Laporan yang bisa diverifikasi dengan menemui korban dan/atau saksi mata ada 189 orang. Ita.F. dan Dr Lie Dharmawan memeriksa fisik serta merawat sejumlah korban pemerkosaan. Korban pemerkosaan Mei ’98 Ita Martadinata tewas dibunuh Oktober 1998 saat akan bersaksi di PBB. Penulis: Monique Rijkers (ap/vlz)


Ikuti kami