Guru Para Intelektuil dan Pemberontak

Seorang filsuf asal Jerman menjadi intelektuil penting di Indonesia. Lewat filsafat, ia melahirkan generasi intelektuil serta kelompok muda pemberontak yang berani menentang rezim Orde Baru.

Awal `70an adalah masa konsolidasi awal kekuasaan Orde Baru. Periode yang ditandai dengan proyek teknokrasi. Masa ketika keputusan politik direduksi menjadi urusan teknis, zonder diskusi apalagi perdebatan.

Untuk menopang proyek teknokratisasi, dunia pendidikan didorong mencetak “manusia pembangunan”, sebuah generasi yang punya keahlian teknis untuk menopang pertumbuhan ekonomi namun tanpa sikap kritis.

Pada periode itulah seorang pastor muda asal Jerman, ditugaskan melawan arus. Franz Magnis-Suseno, seorang Imam muda dari Serikat Jesuit, pada awal `70an bersama rekan-rekannya dari ordo Fransiskan mendirikan Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, di Jakarta.

Mesin Uang Gurita Cendana

Gurita Harta

Suharto punya cara lihai mendulang harta haram. Ia mendirikan yayasan untuk berbinis dan mendeklarasikannya sebagai lembaga sosial agar terbebas dari pajak. Dengan cara itu ia mencaplok perusahaan-perusahaan mapan yang bergerak di bisnis strategis, seperti perbankan, konstruksi dan makanan. Menurut majalah Time, Suharto menguasai 3.6 juta hektar lahan, termasuk 40% wilayah Timor Leste

Mesin Uang Gurita Cendana

Yayasan Siluman

Tidak hanya menghindari pajak, yayasan milik keluarga Cendana juga mendulang rejeki lewat dana sumbangan paksaan. Cara-cara semacam itu tertuang dalam berbagai keputusan presiden, antara lain Keppres No. 92/1996 yang mewajibkan perusahaan atau perorangan menyetor duit sebesar 2% dari penghasilan tahunan. Dana yang didaulat untuk keluarga miskin itu disetor ke berbagai yayasan Suharto.

Mesin Uang Gurita Cendana

Bisnis Terselubung

Bekas Jaksa Agung Soedjono Atmonegoro pernah menganalisa laporan keuangan ke empat yayasan terbesar Suharto. "Yayasan ini dibentuk untuk kegiatan sosial," tuturnya. "Tapi Suharto menggunakannya untuk memindahkan uang ke anak dan kroninya." Soedjono menemukan, Yayasan Supersemar menggunakan 84% dananya untuk keperluan bisnis, semisal pinjaman lunak kepada perusahaan yang dimiliki anak dan kroninya

Mesin Uang Gurita Cendana

Lewat Kartel dan Monopoli

Cara lain yang gemar ditempuh Suharto untuk menggerakkan mesin uang Cendana adalah melalui monopoli. Teman dekatnya, The Kian Seng alias Bob Hasan, misalnya memimpin kartel kayu lewat Asosiasi Panel Kayu Indonesia (APKINDO). Pengusaha yang kemudian dijebloskan ke penjara itu sering disebut sebagai ATM hidup keluarga cendana.

Mesin Uang Gurita Cendana

Bisnis Tepung Paman Liem

Taipan lain yang juga menjadi roda uang Cendana adalah Sudomo Salim alias Liem Sioe Liong. Sejak tahun 1969 pengusaha kelahiran Cina itu sudah mengantongi monopoli bisnis tepung lewat PT. Bogasari. Dari situ ia membangun imperium bisnis makanan berupa Indofood. Pria yang biasa disapa "Paman Liem" ini juga menjadi mentor bisnis buat putra putri Suharto.

Mesin Uang Gurita Cendana

Uang Minyak

Bukan rahasia lagi jika Pertamina pada era Suharto menjelma menjadi dompet raksasa keluarga Cendana. Sejak awal sang diktatur sudah menempatkan orang kepercayaannya, Ibnu Sutowo, buat memimpin perusahaan pelat merah tersebut. Sutowo kemudian memberikan kesaksian kepada majalah Time, tahun 1976 ia dipaksa menjual minyak ke Jepang dan menilap 0,10 Dollar AS untuk setiap barrel minyak yang diekspor.

Mesin Uang Gurita Cendana

Pewaris Tahta Cendana

Siti Hardiyanti Rukmana alias Tutut sejak awal sudah diusung sebagai pewaris tahta Cendana. Putri tertua Suharto ini tidak cuma menguasai puluhan ribu hektar lahan sawit, stasiun televisi TPI dan 14% saham di Bank Central Asia, tetapi juga memanen harta tak terhingga lewat jalan tol. Hingga 1998 kekayaannya ditaksir mencapai 4,5 triliun Rupiah.

Mesin Uang Gurita Cendana

Merajalela Lewat Bulog

Dari semua putera Suharto, Bambang adalah satu-satunya yang paling banyak berurusan dengan Liem Sioe Liong. Setelah mendirikan Bimantara Grup, Bambang terjun ke bisnis impor pangan lewat Badan Urusan Logistik yang saat itu didominasi Liem. Menurut catatan Tempo, selama 18 tahun kroni Suharto mengimpor bahan pangan lewat Bulog senilai 5 miliar Dollar AS.

Mesin Uang Gurita Cendana

Duit Cengkeh untuk Tommy

Melalui monopoli Hutomo Mandala Putra meraup kekayaan hingga 5 triliun Rupiah. Tahun 1996 ia mendapat status pelopor mobil nasional dan berhak mengimpor barang mewah dan suku cadang tanpa dikenai pajak. Selain itu Tommy juga menguasai Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh yang memonopoli penjualan dari petani ke produsen rokok. BPPC ditengarai banyak membuat petani cengkeh bangkrut.

Mesin Uang Gurita Cendana

Akhir Pahit Diktatur Tamak

Secara lihai Suharto membajak pertumbuhan ekonomi untuk kepentingan keluarga. Menurut Bank Dunia, antara 1988 hingga 1996, Indonesia menerima investasi asing senilai USD130 miliar. Tapi struktur perekonomian yang dibuat untuk memperkaya kroni Cendana justru menyeret Indonesia dalam krisis ekonomi dan mengakhiri kekuasaan sang jendral. (rzn/yf: economist, times, bloomberg, bbc, kompas, tempo)

Generasi Pemberontak

Pada saat arus utama pendidikan diarahkan untuk membangun keterampilan teknis, STF Driyarkara menawarkan kritisisme. Mempertanyakan kembali arti kemajuan dan proyek modernisme yang menjadi mainstream rezim pembangunan saat itu.

Sekolah filsafat Driyarkara adalah magnet bagi para pembangkang. Inilah oase bagi pikiran bebas. Membuka kesempatan untuk mempelajari dan mendiskusikan hal-hal tabu seperti Marxisme, yang secara resmi dilarang oleh pemerintah Orde Baru.

Michael Dhadack Pambrastho, adalah aktivis mahasiswa Bandung awal ‘90an. Ia termasuk orang yang terpikat dengan “pikiran bebas” di sekolah filsafat yang didirikan Franz Magnis.


Misteri Di Balik Supersemar

Sejarah di Surat Palsu

Saat ini arsip negara menyimpan tiga versi Surat Perintah Sebelas Maret. Salah satunya berasal dari Sekretariat Negara, yang lain dari Pusat Penerangan TNI Angkatan Darat dan terakhir cuma berupa salinan tanpa kop surat kenegaraan. Ketiga surat tersebut dinyatakan palsu oleh sejarahawan. Hingga kini tidak jelas di mana keberadaan salinan asli Supersemar.

Misteri Di Balik Supersemar

Tiga Diutus Suharto

Misteri juga menggelayuti penandatanganan Supersemar. Awalnya Sukarno dilarikan ke Bogor setelah sidang kabinet 11 Maret 1966 di Jakarta dikepung oleh "pasukan liar" yang kemudian diketahui adalah pasukan Kostrad. Di Bogor Sukarno disantroni tiga jendral utusan Suharto. Sejarah lalu mencatat buram apa yang terjadi di Istana. Yang jelas pulang ke Jakarta ketiga jendral telah mengantongi Supersemar

Misteri Di Balik Supersemar

Sebuah Pistol dan Amuk Massa

Tidak jelas bagaimana Sukarno mau menandatangani surat yang praktis melucuti kekuasaannya itu. Kesaksian pengawal presiden, Sukardjo Wilardjito, menyebut Sukarno ditodong pistol oleh seorang jendral utusan Suharto. Catatan lain menyebut Sukarno terpaksa membubuhkan tandatangannya karena saat itu istana Bogor telah dikepung tank-tank TNI dan ribuan massa yang berunjuk rasa.

Misteri Di Balik Supersemar

Serah Kuasa Jendral Bintang Lima

Supersemar diyakini tidak menyebut secara eksplisit penyerahan kekuasaan kepada Suharto seperti yang dipropagandakan oleh TNI. Dalam pidato Sukarno pada 17 Agustus 1966 ia mengecam pihak yang telah menghianati perintahnya. "Jangan jegal perintah saya. Jangan saya dikentuti!" pekiknya saat itu. Sukarno kembali menekankan Supersemar bukan "transfer of authority, melainkan sekedar surat perintah"

Misteri Di Balik Supersemar

Surat Istana Berkop Militer

Sejumlah orang mengaku mengetik Supersemar, antara lain Letkol (Purn) Ali Ebram, seorang perwira Cakrabirawa. Menurutnya ia mengetik naskah Supersemar dengan didampingi langsung oleh Sukarno. Namun sejahrawan Irlandia, Benedict Anderson mencatat kesaksian perwira lain bahwa Supersemar ditulis di atas kertas berkop Markas Besar Angkatan Darat. Artinya naskah Supersemar tidak disusun oleh Sukarno

Misteri Di Balik Supersemar

Gerak Cepat Suharto

Hanya 24 jam setelah terbitnya surat sakti itu Suharto membubarkan PKI, menangkapi anggota kabinet dan orang-orang tedekat Sukarno. Menurut adik Suharto, Probosutedjo, surat itu tidak secara eksplisit memerintahkan pembubaran PKI. Sebab itu pula Sukarno menerbitkan surat perintah 13 Maret buat menganulir Supersemar. Serupa Supersemar, naskah asli surat perintah itu hingga kini lenyap tanpa bekas

Misteri Di Balik Supersemar

Terbenamnya Sang Putra Fajar

Setelah kekuasaannya dilucuti, Sukarno diasingkan dari kancah politik di Jakarta. Ia dilarang membaca koran atau mendengar radio. Kunjungan keluarga dan layanan kesehatan dibatasi. Sementara itu Suharto mulai membangun kekuasaan dengan membentuk kabinet dan membujuk parlemen untuk mengesahkan Supersemar dalam TAP MPRS No. IX/MPRS/1966.

Misteri Di Balik Supersemar

Membisu Hingga ke Alam Baka

Supersemar pada akhirnya digunakan oleh Suharto untuk melahirkan rejim orde baru. Hingga kematiannya sang diktatur tidak berniat membuka tabir sejarah gelap tersebut, begitu pula dengan orang-orang terdekatnya. Berbagai upaya yang dilakukan Arsip Nasional untuk menemukan naskah asli Supersemar terbentur sikap diam pejabat orba. Saat ini semua saksi kunci Supersemar telah meninggal dunia.

“Aku begitu antusias. Senin siang berangkat dari Bandung mengejar kelas filsafat yang dimulai sore di Driyarkara Jakarta. Selesai kuliah, malam itu juga langsung pulang ke Bandung karena paginya ada kuliah.“

Tapi hambatan jarak dan keterbatasan finansial sebagai mahasiswa, memaksa ia berhenti.

“Maka dengan sedih kutinggalkan masa-masa bulan madu dengan filsafat,“ kenang Dhadack.

Tapi kursus itu membekas. Selain memperkuat kritisisme, kelas filsafat itu mempertemukannya dengan para aktivis mahasiswa dari kota lain.

Savic Aliel`ha adalah contoh lain. Ia adalah tokoh gerakan mahasiswa `98 yang terpikat dengan suasana diskursif dan terbuka yang ditawarkan sekolah yang didirikan Franz Magnis.

“Karena membuka cakrawala yang luas bagi tumbuhnya pemikiran kritis dan--dalam skala tertentu -- subversif,“ kata Savic, tokoh Front Aksi Mahasiswa untuk Reformasi dan Demokrasi (FAMRED), sebuah organisasi mahasiswa paling radikal pada masa orde baru, kepada Deutsche Welle.

Koruptor Paling Tamak Dalam Sejarah

#1. Soeharto, Indonesia

Selama 32 tahun berkuasa di Indonesia, Suharto dan keluarganya diyakini menilap uang negara antara 15 hingga 35 miliar US Dollar atau sekitar 463 trilyun Rupiah. Jendral bintang lima ini lihai menyembunyikan kekayaannya lewat berbagai yayasan atau rekening rahasia di luar negeri. Hingga kini kekayaan Suharto masih tersimpan rapih oleh keluarga Cendana

Koruptor Paling Tamak Dalam Sejarah

#2. Ferdinand Marcos, Filipina

Ferdinand Marcos banyak menilap uang negara selama 21 tahun kekuasaanya di Filipina. Menurut Transparency International, ia mengantongi setidaknya 10 milyar US Dollar. Terutama isterinya, Imelda, banyak menikmati uang haram tersebut dengan mengoleksi lebih dari 3000 pasang sepatu. Imelda kini kembali aktif berpolitik dan ditaksir memiliki kekayaan sebesar 22 juta USD

Koruptor Paling Tamak Dalam Sejarah

#3. Mobutu Sese Seko, Zaire

Serupa Suharto, Mobutu Sese Seko berkuasa di Zaire selama 32 tahun. Sang raja lihai memainkan isu invasi negara komunis Angola untuk mengamankan dukungan barat. Ketika lengser, Mobutu Sese Seko menilap hampir separuh dana bantuan IMF sebesar 12 milyar US Dollar untuk Zaire dan meninggalkan negaranya dalam jerat utang.

Koruptor Paling Tamak Dalam Sejarah

#4. Sani Abacha, Nigeria

Cuma butuh waktu lima tahun buat Sani Abacha untuk mengosongkan kas Nigeria. Antara 1993 hingga kematiannya tahun 1998, sang presiden meraup duit haram sebesar 5 milyar US Dollar atau sekitar 66 trilyun Rupiah. Sesaat setelah meninggal, isterinya lari ke luar negeri dengan membawa 38 koper berisi uang. Polisi kemudian menemukan perhiasan senilai jutaan dollar ketika menggeledah kediaman pribadinya

Koruptor Paling Tamak Dalam Sejarah

#5. Slobodan Milosevic, Serbia

Slobodan Milosevic yang berkuasa di Serbia antara 1989-1997 dan kemudian Yugoslavia hingga 2000 tidak cuma dikenal berkat serangkaian pelanggaran HAM berat yang didakwakan kepadanya, melainkan juga kasus korupsi. Selama berkuasa Milosevic diyakini menilap uang negara sebesar 1 milyar US Dollar atau sekitar 13 trilyun Rupiah.

Koruptor Paling Tamak Dalam Sejarah

#6. Jean-Claude Duvalier, Haiti

Selama 15 tahun kekuasaannya di Haiti, Jean-Claude Duvalier tidak cuma bertindak brutal terhadap oposisi, tetapi juga rajin mengalihkan uang negara ke rekening pribadinya di Swiss. Saat kembali dari pengasingan 2011 silam, Duvalier didakwa korupsi senilai 800 juta US Dollar.

Koruptor Paling Tamak Dalam Sejarah

#7. Alberto Fujimori, Peru

Alberto Fujimori berkuasa selama 10 tahun di Peru. Buat pendukungya, ia menyelamatkan Peru dari terorisme kelompok kiri dan kehancuran ekonomi. Tapi Fujimori punya sederet catatan gelap, antara lain menerima uang suap dan berbagai tindak korupsi lain. Menurut Transparency International ia mengantongi uang haram sebesar 600 juta US Dollar atau sekitar 8 trilyun Rupiah.

Tentang Franz Magnis yang menjadi pembimbing akademiknya semasa kuliah di STF Driyarkara, Savic berkomentar: ”Ia mengajarkan mahasiswa untuk berfikir filosofis dan kritis“.

Bagaimana komentar Goenawan Mohamad tentang sosok Franz Magnis? klik untuk baca selengkapnya

Dalam perbincangan dengan Deutsche Welle saat berkunjung ke Bonn baru-baru ini, Franz Magnis mengatakan: “Filsafat menarik, karena para filsuf mengajukan pertanyaan-pertanyaan kunci dalam bidang etik, politik, dan seni yang tidak ditampung di dunia akademik Indonesia pada masa itu“.

“Jadi kami mengisi sebuah lubang di pasar ide-ide.”

Menurut Magnis, filsafat membantu mahasiswa menjawab pertanyaan tentang siapa itu manusia? Bagaimana Negara harus disusun? dan di manakah kebohongan-kebohongan dalam ekonomi.

Hal lain, STF Driyarkara sejak awal menerapkan sikap terbuka terhadap seluruh pemeluk agama.

Keterlibatan Asing dalam Pembantaian 1965

Dunia Terbelah Dua

Pada dekade 60an dunia didera konflik ideologi antara Amerika dan Uni Sovyet. Akibatnya perang proksi menjalar ke berbagai belahan Bumi. Jerman terbelah dua dan negara berkembang menjadi lahan lain perseteruan dua adidaya tesebut. Tahun 1963 Amerika Serikat gagal menjatuhkan benteng Komunisme di Kuba. Presiden baru AS, Lyndon B. Johnson, lalu beralih menginvasi Vietnam Utara.

Keterlibatan Asing dalam Pembantaian 1965

Adu Jotos di Negeri Orang

Bagaimana kedua adidaya menjadikan negara berkembang sebagai catur politik terlihat dari banyaknya perang proksi. Dekade 1960an mencatat sedikitnya 50 konflik semacam itu, yang terbanyak selama Perang Dingin. Uni Sovyet dan Cina terutama getol memasok senjata buat pemberontak komunis. (Gambar: Pemimpin Cina Mao Tse Tung dan penguasa Sovyet Nikita Khrushchev di Beijing, 1959)

Keterlibatan Asing dalam Pembantaian 1965

Pemberontakan Komunis Malaysia

Lima tahun sebelum peristiwa G30S, Malaysia telah mendahului lewat perang antara Malayan National Liberation Army yang didukung Partai Komunis dan tentara persemakmuran pimpinan Inggris. Konflik serupa terjadi di Kongo, India, Bolivia dan Kolombia.

Keterlibatan Asing dalam Pembantaian 1965

Primadona Perang Dingin

Indonesia adalah medan perang lain antara Amerika Serikat dan Uni Sovyet. Mulai dekade 50an, Presiden Soekarno menjadi primadona politik yang diperebutkan oleh Presiden AS John F. Kennedy dan penguasa Uni Sovyet, Nikita Khrushchev. Saat itu Indonesia sudah menjadi salah satu kekuatan terbesar di Asia Tenggara dan mulai diperhitungkan di dunia.

Keterlibatan Asing dalam Pembantaian 1965

Petualangan di Timur

Soekarno yang mulai menua justru merasa Indonesia cukup kuat untuk menanggalkan asas netralitas dan menghidupkan poros Moskow-Beijing-Jakarta. Memasuki dekade 1960an, Uni Sovyet tercatat sebagai pemberi bantuan terbesar ke Indonesia, melebihi negara lain. Petualangan politik itu kemudian ternyata berujung fatal buat Indonesia

Keterlibatan Asing dalam Pembantaian 1965

Manuver Sukarno

Hubungan Indonesia dan barat remuk setelah Amerika Serikat membantu pemberontakan PRRI/Permesta tahun 1958. Sebagai balasan Sukarno memerintahkan agresi militer terhadap Malaysia buat menentang pembentukan negara persemakmuran oleh Inggris. Soekarno saat itu beralasan dirinya menentang neo kolonialisme. Realitanya ia menyokong pemberontakan kelompok Komunis Malaysia di Serawak.

Keterlibatan Asing dalam Pembantaian 1965

Harapan di Tangan Tentara

AS pun mulai berupaya menggembosi Partai Komunis Indonesia. Mereka mengkhawatirkan Soekarno yang mulai tua akan mewariskan tahta kepada PKI. Kendati dimusuhi Jakarta, dinas rahasia barat tetap menjalin kontak dengan TNI yang dianggap satu-satunya harapan memberangus komunisme di Indonesia. Hingga peristiwa 65, AS telah melatih setidaknya 4000 perwira TNI.

Keterlibatan Asing dalam Pembantaian 1965

Bantuan dari Jerman

Tahun 1971 mingguan Jerman Der Spiegel melaporkan pada 1965 dinas rahasia BND bekerjasama dengan CIA memerangi PKI di Indonesia. BND antara lain membantu TNI dengan memasok senjata api, alat komunikasi dan uang senilai 300.000 DM atau sekitar 700 ribu Euro.

Keterlibatan Asing dalam Pembantaian 1965

Pujian Gehlen buat Suharto

Tahun 1965 BND memiliki seorang agen rahasia, eks perwira NAZI, Rudolf Oebsger-Röder yang menyamar sebagai wartawan di Jakarta. Reinhard Gehlen (gambar), Presiden BND, menulis dalam memoarnya bahwa keberhasilan Suharto "menumpas PKI patut dihargai setinggi tingginya." Gehlen mengaku kehilangan "dua teman dekat" yang ikut dibunuh pada peristiwa G30S, salah satunya Brigjen Donald Isaac Pandjaitan

Keterlibatan Asing dalam Pembantaian 1965

Propaganda Kiriman Barat

National Security Archive di AS mencatat dinas rahasia Inggris, MI6, yang beroperasi dari Singapura, menggandeng dinas rahasia Australia buat merancang propaganda hitam terhadap PKI, etnis Cina dan Sukarno. MI6 bahkan memanipulasi pemberitaan media asing seperti BBC. Propaganda yang banyak berkaca pada pemberontakan komunis Malaysia itu lalu diadopsi berbagai media Indonesia yang dikuasai TNI

Keterlibatan Asing dalam Pembantaian 1965

Daftar Maut Amerika

Tidak banyak kejelasan mengenai keterlibatan langsung dinas rahasia asing terhadap pembantaian simpatisan PKI. Yang jelas sejarah mencatat bagaimana Kedutaan Besar Amerika Serikat menyerahkan daftar berisikan 5000 nama jajaran pimpinan PKI kepada TNI. Dokumen tersebut, kata Robert J. Martens, atase politik di kedubes AS, "adalah bantuan besar buat TNI."

Keterlibatan Asing dalam Pembantaian 1965

Darah Disambut Pesta

Di hari-hari pembantaian itu dunia merayakan kehancuran PKI di Indonesia. PM Australia Harold Holt (ki.) berkomentar "dengan dibunuhnya 500 ribu sampai 1 juta simpatisan Komunis, aman untuk berasumsi bahwa reorientasi (di Indonesia) sedang berlangsung." Ironisnya Uni Sovyet cuma bereaksi dingin dengan menyebut pembantaian tersebut sebagai "insiden yang tragis."

Guru Para Intelektuil

Kebijakan STF Driyarkara, mencerminkan sikap inklusif Franz Magnis. Sekolah katolik ini membuka diri lebar-lebar bagi mahasiswa dari kalangan agama lain. Semua diperlakukan sama dan dihormati.

“Banyak siswa Muslim yang ikut, kami ingin memperlihatkan bahwa orang yang takwa tidak perlu berhenti berpikir. Jadi agama dan pikiran itu sebaiknya bersama,” kata Franz Magnis.

Salah seorang murid Franz Magnis adalah Akhmad Sahal, seorang intelektuil muda dari kalangan Nahdatul Ulama (NU), yang kini sedang menyelesaikan studi doktoral tentang sejarah Israel di University of Pennsylvania, Amerika Serikat.

Bagi Sahal, perhatian Franz Magnis yang luas, termasuk dalam soal hubungan antar agama, menunjukkan kiprahnya yang penting.

“Kalau di Islam kita punya Cak Nur dan Gus Dur, di Katolik ada Franz Magnis, selain juga Romo Mangunwijaya…”

Suharto - Jalan Darah Menuju Istana

Prajurit Tak Bertuan

Suharto banyak berurusan dengan pemberontakan Darul Islam selama meniti karir militernya. Pasca kemerdekaan ia juga aktif memberantas kelompok kiri di antara pasukannya. Tahun 1959, ia nyaris dipecat oleh Jendral Nasution dan diseret ke mahkamah militer oleh Kolonel Ahmad Yani karena meminta uang kepada perusahaan-perusahaan di Jawa Tengah. Namun karirnya diselamatkan oleh Jendral Gatot Subroto.

Suharto - Jalan Darah Menuju Istana

Dua Musuh di Bawah Bayang Soekarno

Seperti banyak prajurit yang lain, Suharto mencurigai kedekatan Soekarno dan pimpinan Partai Komunis Indonesia (dalam gambar D.N. Aidit). Terutama sejak pemberontakan komunis di Madiun 1948, eksistensi PKI sangat bergantung pada dukungan Soekarno. Tanpanya PKI akan lumat oleh tentara. Permusuhan ABRI dan PKI tidak cuma beraroma politis, melainkan juga dipenuhi unsur kebencian.

Suharto - Jalan Darah Menuju Istana

Bibit Perpecahan

Suharto sibuk membenahi karir ketika permusuhan ABRI dan PKI mulai memanas. Buat mencegah PKI memenangkan pemilu dan menguasai pemerintahan, ABRI yang saat itu dipimpin duet Ahmad Yani dan A.H. Nasution mengajukan mosi menjadikan Soekarno sebagai presiden seumur hidup. Saat itu, konstelasi politik sudah mulai bergeser: Soekarno tidak lagi melihat ABRI sebagai sekutu utamanya, melainkan PKI.

Suharto - Jalan Darah Menuju Istana

Berkaca Pada Tiongkok

Meniru gerakan kaum komunis di Tiongkok, PKI berupaya memperluas kuasa dengan niat mempersenjatai petani dan praktik land reform. Soekarno menyetujui yang kedua dengan mengesahkan UU Pokok Agraria 1960. Tiga tahun kemudian, PKI melakukan aksi sepihak dengan merebut tanah milik para Kyai di Jawa dan membagikannya pada petani miskin. Langkah itu menciptakan musuh baru buat PKI, yakni kelompok Islam.

Suharto - Jalan Darah Menuju Istana

Sikap Diam Suharto

Enam jam sebelum peristiwa G30S, Kolonel Abdul Latief mendatangi Soeharto buat mengabarkan perihal rencana Cakrabirawa menculik tujuh Jendral. Latief saat itu mengira, Suharto adalah loyalis Soekarno dan akan memberikan dukungan. Kesaksian Latief menyebut, Suharto cuma berdiam diri. Setelah peristiwa penculikan jendral, Suharto yang menjabat Panglima Kostrad lalu mengambil alih komando ABRI.

Suharto - Jalan Darah Menuju Istana

Kehancuran PKI, Kebangkitan Suharto

Pada 30 September, pasukan pengamanan Presiden, Cakrabirawa, mengeksekusi tujuh dari 11 pimpinan ABRI yang diduga kuat ingin mengkudeta Soekarno. Suharto lalu memerintahkan pembubaran PKI dan penangkapan orang-orang yang terlibat. Letnan Kolonel Untung, komandan Cakrabirawa yang sebenarnya kenalan dekat Suharto dan ikut dalam operasi pembebasan Irian Barat, ditangkap, diadili dan dieksekusi.

Suharto - Jalan Darah Menuju Istana

Demo dan Propaganda

Pergerakan Suharto setelah G30S semata-mata diniatkan demi melucuti kekuasaan Soekarno. Ia antara lain mengirimkan prajurit RPKAD buat menguasai Jakarta, termasuk Istana Negara. Panglima Kostrad itu juga lihai menunggangi sikap antipati mahasiswa terhadap Sukarno yang dimabuk kuasa. Saat Soekarno bimbang ihwal keterlibatan PKI dalam G30S, mahasiswa turun ke jalan menuntutnya mundur dari jabatan.

Suharto - Jalan Darah Menuju Istana

Malam Pogrom, Tahun Kebiadaban

Di tengah aksi demonstrasi mahasiswa di Jakarta, ABRI memobilisasi kekuatan buat memusnahkan pendukung PKI di Jawa dan Bali. Dengan memanfaatkan kebencian kaum santri dan kelompok nasionalis, tentara mengorganisir pembunuhan massal. Jumlah korban hingga kini tidak jelas. Pakar sejarah menyebut antara 500.000 hingga tiga juta orang tewas. Tidak semuanya simpatisan PKI.

Suharto - Jalan Darah Menuju Istana

Eksekusi Disusul Eksodus

Selain menangkap dan mengeksekusi, massa dikerahkan menghancurkan toko-toko, kantor dan rumah milik mereka yang diduga pendukung komunis. Sebagian yang mampu, memilih untuk mengungsi ke luar negeri. Termasuk di antaranya Sobron, adik kandung pimpinan PKI D.N. Aidit yang hijrah ke Tiongkok dan lalu ke Perancis dan bermukim di sana hingga wafat tahun 2007.

Suharto - Jalan Darah Menuju Istana

Kelahiran Orde Baru

Setelah peristiwa G30S, Suharto yang notabene telah menjadi orang nomor satu di kalangan militer, membiarkan Soekarno berada di jabatannya, sembari menata peralihan kekuasaan. Selama 18 bulan, Suharto menyingkirkan semua loyalis Soekarno dari tubuh ABRI, menggandeng parlemen, mahasiswa dan kekuatan Islam, serta mengakhiri konfrontasi Malaysia. Kekuasaan Soekarno berakhir resmi di tangan MPRS.

Selain Magnis, ketiga intelektual besar lain yang disebut oleh Sahal telah wafat.

Sementara, kolumnis terkenal Goenawan Mohamad menganggap jasa terbesar Franz Magnis adalah mempersiapkan sebuah generasi intelektual bagi Indonesia.

“Sebagai guru di sekolah filsafat terbaik di Indonesia, Franz Magnis menyiapkan para pemikir yang serius, yang penting bagi dunia intelektuil”.

Ia membangun tradisi disiplin atau rigour dalam cara berpikir di kalangan intelektuil Indonesia, kata Goenawan.

Komunisme Sudah Mati Dimangsa Kapitalisme

Rusia

Biang komunisme Eropa ini menyadari runtuhnya ideologi yang digagas Karl Marx dan dikembangkan oleh Lenin dan Stalin seiring bubarnya Uni Sovyet. Pemimpin Rusia saat ini, Vladimir Putin tidak lagi banyak bicara soal ideologi, melainkan lebih menekankan ekpsor migas, penjualan senjata dan berebut hegemoni kekuatan global.

Komunisme Sudah Mati Dimangsa Kapitalisme

Cina

Embahnya komunisme di Asia ini menyadari bahwa ekonomi lebih penting dari ideologi. Petinggi Partai Komunis di Beijing lebih panik saat ekspor anjlok dan konjungktur turun, ketimbang saat Kongres Rakyat macet. Cina masih terapkan sistem satu partai, tapi terus membangun zona ekonomi istimewa dimana-mana untuk genjot ekspor. Negara ini juga memberi utang 1 Trilyun US Dollar kepada Amerika Serikat.

Komunisme Sudah Mati Dimangsa Kapitalisme

Vietnam

Negara Asia lain yang masih mengusung ideologi komunisme ini, sudah sejak dua dasawarsa banting setir mengutamakan pertumbuhan ekonomi. Komunis Vietnam digdaya pada tahun 70-an dengan menumbangkan kekuatan Amerika. Namun tahun 90-an menyadari, kemakmuran dan ekonomi lebih penting dibanding ideologi.

Komunisme Sudah Mati Dimangsa Kapitalisme

Korea Utara

Satu-satunya negara Asia yang diyakini masih setia pada ideologi komunisme adalah Korea Utara. Tapi Kim Jong Un kini lebih tertarik pada permainan kekuasaan global, dengan ancaman senjata nuklirnya ketimbang penguatan ideologi. Politik dinasti Kim kini kelihatan jauh lebih penting dari komunisme, yang lebih banyak digunakan menenangkan rakyat yang lapar dan miskin.

Komunisme Sudah Mati Dimangsa Kapitalisme

Kuba

Komunisme di Kuba pelan-pelan sekarat bersama lengsernya Fidel Castro. Penerusnya yang juga adiknya Raul, lebih membuka diri untuk pertumbuhan ekonomi. Pelan tapi pasti Kuba membuka pasarnya dan berfokus pada kepentingan ekonomi ketimbang ideologi. Rakyat sudah muak dengan kemiskinan dan pembodohan selama 5 dasawarsa diktatur komunis.

Komunisme Sudah Mati Dimangsa Kapitalisme

Laos

Sejak lebih dari satu dekade Laos yang berpartai tunggal sibuk menggulirkan liberalisasi pasar untuk membenahi perkonomian. Hasilnya adalah pertumbuhan ekonomi di atas 8% hampir setiap tahun. Tapi serupa Cina, jiran Indonesia itu masih setia pada konsep Marxis/ Leninis dan tidak segan menangkap atau menghilangkan paksa aktivis kemanusiaan jika diperlukan.

Iman dan Akal

Selain itu, bagi Goenawan, Franz Magnis, adalah sebuah contoh.

”Ia jadi tauladan buat berpikir jernih dan berhati nurani. Hidup tanpa mendekatkan diri kepada kekuasaan -- meskipun tidak a priori menolak politik. Ia juga menunjukkan bukti bahwa seorang bisa jadi rohaniawan Katolik tapi tetap terbuka untuk pendapat dari orang yang berbeda Iman.”

Perdebatan antara Iman versus Akal adalah tema besar yang menjadi kontroversi di Indonesia, seiring menguatnya konservatisme agama beberapa waktu terakhir.

Tapi bagi Franz Magnis, Iman dan pikiran bebas bukanlah dua entitas yang saling menegasikan. Orang beriman tidak perlu takut pada pikiran bebas.

“Iman itu bukan sesuatu yang jatuh dari langit. Orang beriman harus menempatkan Imannya dalam situasi manusia, harus bisa menjawab pertanyaan manusia yang mungkin kritis, untuk itu filsafat membantu,“ kata Magnis.

Bapak Komunis Marx dan Engels Dalam Peringatan

Hadiah dari Cina

Di Trier, Jerman tengah jadi perdebatan, apakah perlu mendirikan patung Karl Marx untuk menandai ulang tahun ke-200 putra terkenal dari kota itu. Cina telah menawarkan patung ini sebagai hadiah. Tapi dengan patung setinggi 6,3 meter ini, beberapa warga cemas jika kotanya semakin disesaki wisatawan, terutama dari Cina. Patung "Mega-Marx" dari kayu ini saja sudah gambarkan efek yang dicemaskan itu

Bapak Komunis Marx dan Engels Dalam Peringatan

Seberapa besar relevansi Marx kini?

Pada tahun 2013, Kota Trier merayakan ulang tahun Marx yang ke-130. Pada kesempatan itu,seniman Jerman Ottmar Hörl menyuguhkan 500 figur Marx terbuat dari plastik yang dipajang di depan gerbang Porta Nigra. Instalasi Hörl ini memberikan dorongan untuk kembali digelarnya diskusi aktual mengenai Karl Marx dan pemikirannya.

Bapak Komunis Marx dan Engels Dalam Peringatan

Friedrich Engels dalam pose seorang pemikir

Dengan tinggi sekitar empat meter, patung perunggu ‘dedengkot‘ komunisme lainnya, Friedrich Engels, tampak sedikit lebih kecil dari patung Marx yang bakal dipajang di Trier. Tahun 2014, patung Engels diresmikan di tempat kelahirannya di Wuppertal, Jerman. Selain membuat patung raksasa Marx, Cina juga ingin membuat patung Engels dan menghadiahkannya pula ke Jerman.

Bapak Komunis Marx dan Engels Dalam Peringatan

Saudara dalam jiwa

Monumen Marx-Engels di Berlin. Keduanya menulis buku setebal 30 halaman dengan judul “Manifesto Komunis" yang diterbitkan pertama kali tahun 1848. Tahun 1986, pemerintah Jerman Timur mengizinkan pendirian monumen "bapak komunisme" tersebut. Setelah itu , pada tahun 2010 karena adanya pembangunan, monumen ini tak lagi memandang ke arah timur seperti sebelumnya, melainkan ke barat.

Bapak Komunis Marx dan Engels Dalam Peringatan

Batu yang dipahat

Sebuah monumen Marx raksasa berdiri di Chemnitz - kota yang hingga tahun 1990 menyandang namanya. Pada tahun 1971 patung ini diresmikan dengan ketinggian 13 meter dan menjadi patung terbesar kedua di dunia. Di dinding belakang monumen ini tertulis seruan kata-kata Marx dari buku "Manifesto Komunis" dalam bahasa Jerman, Inggris, Perancis dan Rusia: "Kaum buruh di seluruh dunia, bersatulah!"

Bapak Komunis Marx dan Engels Dalam Peringatan

Marx atau Bismarck?

Dahulu kala, di Fürstenwald, Brandenburg terdapat monumen peringatan Kanselir Otto von Bismarck. Namun sejak tahun 1945, patung pemimpin Prusia itu digantikan oleh Karl Marx. Setelah tanda peringatan itu dicuri, dewan kota mempertimbangkan, apakah akan membuat tanda peringatan Bismarck atau Marx lagi. Pilihan jatuh pada Marx, yang monumennya dapat dilihat sejak tahun 2003.

Bapak Komunis Marx dan Engels Dalam Peringatan

Relief potensi konflik

Lebih dari 30 tahun terpampang seni pahat relief perunggu yang menunjukkan wajah Karl Marx di bangunan utama Universitas Leipzig --yang menyandang namanya selama era Jerman Timur. Sejak renovasi tahun 2006, relief itu dibongkar lalu terjadi perdebatan, apakah kemudian relief ini harus dibuka lagi untuk publik. Sejak 2008 relief yang dilengkapi dengan teks penjelasan itu ada di kampus Jahnallee

Pemberani

Franz Magnis adalah intelektual yang berani. Pada masa ketika banyak orang Indonesia masih mengidap komunis phobia ia menulis buku "Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme“.

Buku itu sempat dirazia dari toko-toko buku dan dibakar oleh Aliansi Anti-Komunis yang menuduh Magnis telah menyebarkan ajaran Komunisme. Anggapan yang keliru, karena buku itu justru berisi kritik atas praktek Marxisme.

“Saya tidak pernah menjadi seorang Marxis, saya mengeritik Marx,“ kata Magnis sambil menambahkan bahwa Marx mempunyai pemikiran yang sangat merangsang dan perlu diperhatikan. Mempelajari Marxisme penting karena pemikiran Marx sangat mempengaruhi pikiran manusia sekarang.

Suara Bisu Perempuan Korban Tragedi 65

"Uang saya hanya cukup untuk menyambung nyawa"

Sumilah berusia 14 tahun ketika ia ditangkap tahun 1965. Tuduhannya: Dia adalah anggota dari gerakan perempuan "Gerwani". Aparat menghajarnya sampai pingsan. Mereka kemudian menyekap Sumilah di kamp Plantungan. Di sana baru diketahui bahwa ia korban salah tangkap. Di masa tua, Sumilah hidup di Yogyakarta dengan uang pas-pasan.

Suara Bisu Perempuan Korban Tragedi 65

"Mereka memukuli ayahku hingga hampir mati"

Ayah Kina diduga merupakan simpatisan Komunis. Ia ditangkap dan tak boleh bekerja. "Itu sebabnya saya mengambil peran sebagai pengganti ayah," kata dia. Kina berpakaian seperti anak laki-laki, bekerja di ladang an mengumpulkan kayu bakar. Masyarakat mengecapnya sebagai "anak komunis". Oleh karena itu, ia dan saudara-saudaranya kehilangan hak atas tanah ayah mereka .

Suara Bisu Perempuan Korban Tragedi 65

"Masih tersimpan luka di hati saya"

Suami Lasinem ditangkap tahun 1969, disiksa & dikirim ke Pulau Buru. "Suamiku diangkut oleh kawannya sendiri, yang merupakan tentara. Dia dipukuli, punggungnya diinjak-injak sampai luka di sekujur tubuh," papar Lasinem. Perempuan ini ditinggalkan sendirian dengan anak-anaknya. Tahun 1972, mereka menyusul sang kepala keluarga ke Buru. Trauma ketakutan melekat di diri Lasinem hingga saat ini.

Suara Bisu Perempuan Korban Tragedi 65

"Meski dipukuli bertubi-tubipun saya tidak menangis"

Sri adalah seniman dan penyanyi yang tergabung dalam organisasi yang dekat dengan Partai Komunis Indonesia. Pada tahun 1965 ia ditangkap, disiksa, dan dipenjara. "Depan kamar tidur kami penuh tahi," kenangnya. "Kotoran itu baunya tak tertahankan." Ketika dia dibebaskan pada tahun 1970, rumahnya sudah dirampas keluarga lain. Sri menjadi tunawisma. Di masa tua, ia tinggal bersama keponakannya.

Suara Bisu Perempuan Korban Tragedi 65

"Aku harus meninggalkan bayi perempuanku"

Berkali-kali Yohana ditangkap, ditahan, diinterogasi. Ketika ditangkap ke-2 kalinya, ia baru saja melahirkan. Ia dipisahkan dari bayinya masih menyusu. Dua tahun kemudian baru ia bertemu anak perempuannya lagi. "Pengalaman kekerasan itu menghantuiku terus," paparnya. Namun, sepanjang hayatnya, ia tak pernah menceritakan apa yang menimpanya saat itu, bahkan pada keluarganya sekalipun.

Suara Bisu Perempuan Korban Tragedi 65

"Mungkin takkan pernah lupa"

Ketika Juriah beumur 7 tahun, ayah diasingkan ke Pulau Buru tahun 1966. Saat menginjak usia 18 tahun, Juriah dipaksa ikut pernikahan massal. Dia harus berjanji tidak pernah meninggalkan Buru. Meskipun penuh penderitaan, ia tetap di sana: "Jika kita datang ke tempat-tempat tertentu, kita akan berbicara tentang masa lalu dan terasa seolah-olah kita tertusuk pisau."

Suara Bisu Perempuan Korban Tragedi 65

"Orang-orang belum tahu kebenarannya"

"Begitu banyak hilang pada tahun 1965, tanpa pengadilan atau bukti-bukti keterlibatan dengan kasus 65," kata Migelina. Seluruh keluarganya dipenjara pada tahun 1965 - ia kehilangan orang tuanya dan kakaknya. Meski tragedi sudah berlalu berakhir, tetapi ia tetap mendoakan. Migelina percaya bahwa Tuhan memberinya kehidupan lebih panjang, untuk bisa mengetahui apa yang terjadi dengan keluarganya.

Sisi Gelap Manusia

Sejak tahun 1977, Franz Magnis resmi menjadi warga negara Indonesia. Meski sangat mencintai Indonesia, tapi ada satu hal yang selalu mengganggu pikirannya.

“Lima puluh dua tahun lebih tinggal di Indonesia, saya melihat begitu banyak darah mengalir, dan saya melihat bahwa orang-orang yang baik-baik, sepertinya tidak tergerak hatinya saat terjadi pengusiran, penyerangan, atau pembunuhan.”

Kekerasan dan pengusiran warga Syiah adalah ancaman bagi masa depan kehidupan toleransi Indonesia

Magnis merujuk pada tragedi pembantaian pasca`65, konflik etnis, kerusuhan Mei `98 hingga kekerasan sektarian yang dialami pemeluk Ahmadiyah dan Syiah, beberapa waktu terakhir.

“Kok kekerasan seperti itu secara kolektif diterima?“ tanya Magnis lirih.

Prahara Mei 1998

Kebangkitan Mahasiswa

Mai 1998 menandai perputaran sejarah Indonesia. Berawal dari ketidakpuasan rakyat atas kenaikan harga kebutuhan pokok, mahasiswa mulai bergerak memrotes pemerintahan Suharto. Saat itu presiden kedua Indonesia itu baru saja terpilih secara aklamasi oleh parlemen untuk ketujuh kalinya. MPR berdalih, kepemimpinan Suharto dibutuhkan di tengah krisis moneter yang melanda.

Prahara Mei 1998

Protes dari Kampus

Bibit protes sebenarnya sudah bermunculan sejak pengangkatan Suharto sebagai Presiden RI pada Maret 1998. Namun karena sebatas di wilayah kampus, aksi tersebut masih dibiarkan oleh militer. Kendati begitu bentrokan dengan aparat keamanan tetap tak terelakkan.

Prahara Mei 1998

Titik Api di Sumatera

Awalnya cuma sekelompok kecil mahasiswa yang berdemonstrasi menentang pemilihan ulang Suharto. Namun ketika pemerintah menaikkan harga barang pokok pada 4 Mai, rakyat kecil pun ikut terlibat. Penjarahan pertama muncul di Medan yang tidak berlangsung lama, tapi menjalar ke berbagai daerah.

Prahara Mei 1998

Bara di Jakarta

Pada 9 Mei, sehari setelah kerusuhan Medan berakhir, Jakarta mulai bergolak. Tapi Suharto terbang ke Kairo untuk menghadiri KTT G15. Dia pulang lebih dini saat kerusuhan di Jakarta memasuki fase paling mematikan. Pada 12 Mei, 10.000 mahasiswa berkumpul di kampus Trisakti. Saat itu empat mahasiswa, Elang Mulia Lesmana, Hafidhin Royan, Hery Heriyanto dan Hendriawan Sie tewas tertembak peluru polisi.

Prahara Mei 1998

Protes dari Luar Negeri

Peristiwa berdarah di Indonesia juga disimak oleh aktivis kemanusiaan asing dan mahasiswa Indonesia di mancanegara. Berbagai aksi protes digelar di Australia, Jerman, Belanda, Inggris (gambar), Swedia, Perancis dan Amerika Serikat.

Prahara Mei 1998

Bergerak ke Senayan

Hingga tanggal 13 Mei kepolisian masih berupaya membarikade kampus-kampus di Jakarta untuk mencegah mahasiswa keluar. Sebagian yang berhasil menerobos, berkumpul di berbagai titik untuk kemudian bergerak ke arah Senayan. Momentum terbesar adalah ketika ribuan mahasiswa menduduki gedung MPR/DPR.

Prahara Mei 1998

Api di Klender

Termakan amarah lantaran mendengar kabar mahasiswa yang tewas ditembak, massa kembali melakukan aksi penjarahan di beberapa sudut kota. Yang terparah terjadi di kawasan Klender, di mana massa membarikade dan membakar gedung Yogya Department Store. Sekitar 1000 orang yang terjebak di dalam tewas seketika.

Prahara Mei 1998

Akhir Pahit Orde Baru

Aksi pendudukan mahasiswa terhadap gedung MPR/DPR dan tekanan internasional memaksa Presiden Suharto undur diri dari jabatannya. Diktatur yang berkuasa selama 32 tahun itu menyisakan republik yang carut marut oleh kasus korupsi dan pelanggaran HAM. Sesaat setelah pengunduran diri Suharto, Wapres B.J. Habibie memulai 517 hari perjalanannya membawa Indonesia kembali ke pangkuan demokrasi.

Prahara Mei 1998

Saling Tuding di TNI

Tragedi 1998 menyisakan pertanyaan besar buat TNI. Bekas Pangkostrad, Prabowo Subianto diduga ikut mendalangi kerusuhan, berdasarkan temuan tim Gabungan Pencari Fakta. Bekas Jendral bintang tiga itu kemudian dipecat oleh Presiden Habibie menyusul isu kudeta yang disebarkan Panglima ABRI Wiranto. Prabowo sebaliknya menuding Wiranto lah yang mengeluarkan perintah agar TNI menyulut kerusuhan berdarah

Ikuti kami