1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Hadapi Abu Sayyaf, 3 Negara Luncurkan Patroli Bersama

9 Maret 2017

Indonesia, Malaysia dan Filipina sepakat meluncurkan patroli bersama di perairan yang sering dilanda aksi pembajakan kapal oleh kelompok militan Abu Sayyaf.

https://p.dw.com/p/2YtZF
Philippinen Navy Marine Boot Abu Sayyaf Rebellen
Foto: picture-alliance/dpa

Menteri Pertahanan Filipina Delfin Lorenzana hari Kamis (9/3) mengatakan di Manila, negaranya bersama-sama dengan Indonesia dan Malaysia akan menggelar patroli laut bersama untuk menghadang aksi-aksi pembajakan dan penculikan militan Abu Sayyaf.

Lorenzana menjelaskan, dia dan rekan-rekannya dari Indonesia dan Malaysia sepakat untuk melakukan patroli di jalur konmersial laut yang sering dilalui kapal dagang.

"Kami akan mulai melakukan patroli gabungan tiga negara bulan April atau Mei di kawasan itu," katanya kepada wartawan.

Dia menambahkan, kapal-kapal hendaknya "tidak menyimpang dari jalur laut itu, sehingga kami dapat membantu melindungi mereka."

Infografik Abu Sayyaf Englisch
Wilayah operasi kelompok-kelompok militan Abu Sayyaf

Perairan antara ketiga negara beberapa tahun terakhir menjadi semakin berbahaya karena rangkaian aksi penculikan yang dilakukan militan Abu Sayyaf. Banyak pihak memperingatkan, jika tidak ada penanganan bersama, kawasan perairan itu bisa menjadi "Somalia di Asia".

Kelompok Abu Sayyaf masih menahan 31 sandera asing dan lokal, termasuk enam pelaut Vietnam yang diculik dari kapal kargo mereka di Filipina selatan bulan lalu, kata Lorenzana.

Februari lalu, Abu Sayyaf membunuh sandera wagra Jerman Jürgen Kantner, 70 tahun, yang diculik dari kapalnya lima bulan lalu. Dalam aksi itu, para penyandera menembak mati istrinya, Sabine Merz.

Somalia 2009 - Jürgen Kantner & Sabine Merz, Seeleute
Warga Jerman Jürgen Kantner dan Sabine Merz (foto tahun 2009) yang diculik dan dibunuh Abu Sayyaf.Foto: Getty Images/AFP/M. Abdi

Lorenzana selanjutnya mengatakan, Presiden Rodrigo Duterte "sangat berminat" untuk mengakhiri aksi-aksi penculikan itu.

Militer Filipina kini akan memperoleh peralatan baru seperti kapal cepat, drone dan perlengkapan radar sebagai bagian dari program modernisasi militer.

Menteri Pertahanan Filipina itu menyebut Abu Sayyaf dan kelompok-kelompok militan lain sebagai ancaman atas keamanan Filipina. Aksi-aksi penculikan itu telah "mempermalukan (Filipina) ke seluruh dunia", katanya.

hp/yf (afp)