Hari AIDS Sedunia: Kemajuan Harapan Hidup Bagi ODHA

Hari AIDS Sedunia diperingati untuk tumbuhkan kesadaran tentang HIV/AIDS. Bagaimana Anda memperlakukan orang-orang yang mengidap HIV/AIDS? Opini Uly Siregar.

Bulan Oktober 2017, politikus partai Republik dari Amerika Serikat, Betty Price, bicara soal kemungkinan melegalisasi tindakan karantina terhadap mereka yang terinfeksi HIV. Wakil rakyat dari negara bagian Georgia yang juga ahli anestesi ini memaparkan, karantina dianggap perlu untuk menghentikan penyebaran virus HIV yang menyebabkan penyakit AIDS. Menurut data tahun 2014, diperkirakan sejumlah 1,1 juta orang di AS terinfeksi HIV. Dari jumlah tersebut, 1 dari 7 orang tak menyadari mereka terinfeksi HIV.

Komentar Betty Price ini jelas mengundang kontroversi. Grup-grup advokasi pun sontak protes. Di abad 21, komentar yang menyudutkan mereka yang terinfeksi HIV jelas tidak bermartabat. Apalagi menengok ke belakang, sejak epidemi AIDS di tahun 1980-an, masyarakat memperlakukan mereka yang terinfeksi HIV atau orang yang hidup dengan AIDS (ODHA) dengan sangat buruk. Saat itu, selain ODHA dikucilkan dari pergaulan masyarakat, perawatan untuk mereka pun belum seoptimal sekarang. ODHA dibiarkan mati perlahan dalam kesepian.

Uly Siregar Blogger

Penulis: Uly Siregar

Sampai kini belum ada obat yang bisa secara tuntas menyembuhkan AIDS. Kabar baiknya, meski tak ada obat penyembuh, kini tingkat harapan hidup mereka yang terinfeksi HIV dan menjalani terapi Antiretroviral hampir menyamai tingkat harapan hidup mereka yang tidak terinfeksi HIV. Profesor Helen Stokes-Lampard dari Royal College GP seperti dikutip BBC mengatakan adalah sebuah capaian medis yang luar biasa bahwa infeksi HIV yang tadinya memiliki prognosis buruk sekarang bisa dikelola, dan mereka yang terinfeksi HIV bisa hidup secara signifikan lebih lama.

Bagaimana di tanah air?

Bila di negara maju seperti AS masih ada orang yang bergerak di dunia medis mengeluarkan pernyataan tak sensitif soal ODHA dan mereka yang terinfeksi HIV seperti Betty Price, bagaimana dengan di Indonesia?

Sayangnya, persoalan ODHA dan mereka yang terinfeksi HIV tak hanya tentang mengelola virus mematikan ini hingga tak segera merenggut nyawa. AIDS adalah penyakit yang membawa dampak sosial buruk bagi mereka yang menderita. Stigma bahwa ODHA adalah orang-orang yang pantas menerima azab kematian dari Tuhan karena dosa-dosa mereka adalah hal yang jamak. Penyakit AIDS kerap dikaitkan dengan perilaku seks bebas (terutama homoseksual) dan narkoba. Karenanya, simpati pada ODHA nyaris tak ada, padahal mereka adalah orang-orang yang rentan dengan kematian bila tak mendapat perawatan paripurna. Bandingkan perlakuan masyarakat dengan mereka yang juga mengidap penyakit mematikan seperti kanker. Bisa dibayangkan bagaimana simpati dan doa mengalir tak putus-putus pada pasien jenis penyakit ini.

Iptek

Kehidupan Sehari-hari

Lebih dari 35 juta warga dunia positif HIV - sepertiga diantaranya hidup di Afrika Sub-Sahara. Di Afrika Selatan, negara yang paling parah terjangkit HIV, satu dari enam orang mengidap HIV. HIV bisa dibilang keseharian hidup di Afrika Selatan, sampai-sampai acara anak-anak 'Sesame Street' versi Afrika Selatan memiliki boneka kuning yang positif HIV, Kami.

Iptek

Lelaki Lebih Berbahaya

Pada hubungan seks antar heteroseksual, HIV lebih mudah ditularkan dari lelaki ke perempuan ketimbang perempuan ke laki-laki. Namun apabila seorang lelaki sudah disunat, risiko penularan ke perempuan berkurang hingga 60 persen.

Iptek

Penyakit Seumur Hidup

HIV dan AIDS tidak dapat disembuhkan, meski dapat dikontrol. Obat-obatan antiretroviral mencegah virus berlipat ganda di dalam tubuh penderita. Terapi antiretroviral mencakup tiga atau lebih obat yang harus diminum pasien selama hidupnya. Perawatan semacam ini dapat mengurangi laju kematian dari HIV sebesar 80 persen.

Iptek

Mengurangi Harapan Hidup

Penyebaran HIV setelah tahun 1990 menyebabkan tingkat harapan hidup di banyak negara turun secara dramatis - kebanyakan di Afrika. Lalu pengenalan obat-obatan antiretroviral kembali menaikkan harapan hidup: di Afrika Selatan, contohnya, rata-rata tingkat harapan hidup naik dari 54 tahun pada 2005 menjadi 60 pada tahun 2011.

Iptek

Pengobatan Terbatas

Karena perusahaan farmasi memegang paten yang mencegah produksi obat versi generik, obat-obatan HIV tergolong mahal - sebuah terapi biayanya ribuan Dolar per bulan. Ini pun menghambat pengobatan pada skala besar di negara-negara Afrika, dan trennya berlanjut: Badan Kesehatan Dunia WHO memperkirakan 19 juta pengidap HIV tidak mempunyai akses terhadap obat-obatan.

Iptek

Masih Tahap Uji Coba

Tidak ada vaksin yang 100 persen efektif melawan HIV, dan baru ada sedikit studi klinik untuk vaksinasi pada manusia. Satu vaksin yang diujicoba di Thailand hingga tahun 2009 tampak mengurangi risiko terinfeksi HIV hingga 31 persen.

Iptek

Terlalu Beragam

Satu faktor yang menyulitkan pengembangan vaksin adalah begitu cepatnya HIV bermutasi, termasuk di dalam tubuh pasien. Ada terlalu banyak variasi patogen HIV - meski hanya dua variasi yang menjadi penyebab utama melemahnya sistem kekebalan tubuh dan mengakibatkan sakit.

Iptek

Masa Inkubasi Lama

Butuh enam minggu bagi seseorang yang terjangkit untuk mengembangkan antibodi, dan tes HIV tidak efektif pada periode ini. Mereka yang terinfeksi juga mengalami yang disebut infeksi HIV awal, yang gejalanya mirip flu. Beberapa pekan setelah terinfeksi, sistem imunitas untuk pertama kalinya mulai bereaksi terhadap virus.

Iptek

Rentan Penyakit Lain

Campuran mematikan: HIV dan tuberkulosis. Orang yang positif HIV mengidap risiko 20 kali lebih besar untuk terjangkit bakteri penyebab tuberkulosis. Di Afrika, tuberkulosis adalah penyebab kematian nomor satu di antara penderita HIV.

Iptek

Ramuan Tersendiri

Kebijakan Afrika Selatan untuk menangani HIV mengejutkan dunia untuk waktu yang cukup lama. Tahun 2008, menteri kesehatan di bawah pemerintahan Presiden Thabo Mbeki menganjurkan bawang putih, ubi bit merah dan minyak zaitun untuk mengobati infeksi. Obat-obatan antiretroviral ditolak. Untungnya masa-masa itu sudah berlalu.

Edukasi jelas jalan terbaik untuk melenyapkan stigma pada ODHA dan mereka yang terinfeksi HIV. Masyarakat harus terus-terusan diajarkan tak hanya tentang bagaimana menghindari penularan AIDS, tapi juga soal bersosialisasi secara beradab dan manusiawi dengan ODHA. Mitos-mitos tak bermutu seperti hanya mereka yang homoseksual dan pengguna narkoba yang mungkin terinfeksi HIV perlu ditepis. Faktanya, bayi yang tak berdosa pun bisa terinfeksi HIV. Sejatinya seperti penyakit mematikan lainnya, siapa saja bisa terkena HIV/AIDS, termasuk ibu rumah tangga yang setia pada suami, mereka yang tak pernah berhubungan dengan sesama jenis atau tak pernah menyentuh pekerja seks komersial.

Satu Lagi Pasien Bayi HIV Berhasil Disembuhkan

Ilmuwan Kembangkan Gunting Genetik buat Sembuhkan HIV/AIDS

Mengapa takut? 

Yang pasti, masyarakat harus paham hal yang sangat mendasar: tak perlu takut melakukan kontak fisik dengan ODHA. Berjabat tangan dan bersentuhan dengan ODHA tidak akan membuat seseorang terinfeksi HIV. Virus HIV tak bisa berpindah lewat udara, sentuhan, keringat, air mata, atau pertukaran saliva. Ia biasanya berpindah lewat hubungan seksual tanpa proteksi (karena adanya pertukaran cairan tubuh) dan jarum suntik yang terkontaminasi virus HIV. ODHA hamil yang tidak melakukan terapi kemungkinan besar menularkan virus HIV pada bayinya, termasuk lewat ASI.

ODHA dan mereka yang terinfeksi HIV dengan terapi terkini Antiretroviral bisa menjalani hidup yang nyaris sama kualitasnya dengan mereka yang tidak terinfeksi HIV. Bila mereka diasingkan dan tidak diterima secara baik oleh masyarakat, bisa dibayangkan bagaimana kita sesungguhnya melenyapkan berbagai potensi yang ada pada mereka.

Iptek

Kutukan Desa Nelayan Kasensero

Kasensero adalah desa kecil dan miskin di tepi danau Viktoria, Uganda Barat. Ia berada di dekat perbatasan Tanzania. 1982 silam desa ini menuai sorotan dunia. Cuma dalam beberapa hari ratusan penduduk meninggal dunia setelah mengidap penyakit misterius. Kasus yang melibatkan virus HIV sebenarnya sudah muncul di AS, Tanzania dan Kongo. Namun belum pernah sebelumnya AIDS mewabah.

Iptek

Penyakit Misterius Renggut Ratusan Nyawa

Kasensero 1982: Thomas Migeero adalah korban pertama. Awalnya ia kehilangan nafsu makan, lalu rambutnya rontok. Bobot tubuhnya pun menyusut drastis, kenang saudaranya Eddy. "Sesuatu merusaknya dari dalam." Ayah Migeero menolak menyentuh peti matinya saat penguburan. Penduduk percaya Thomas Migeero dikutuk. Sementara Eddie Migeero yang kini bekerja untuk LSM AIDS tahu saudaranya tewas karena AIDS

Iptek

Kasensero setelah AIDS

Ketika AIDS mulai mewabah dan merenggut nyawa ratusan orang cuma dalam beberapa pekan, penduduk berbondong-bondong melarikan diri. Puluhan keluarga meninggalkan lahan pertanian dan hewan ternak begitu saja. Hingga kini Kasensero terkesan seperti desa mati. Cuma penduduk miskin yang masih bertahan.

Iptek

Maut dari Perbatasan dan Prostitusi

Kemungkinan besar virus HIV merambah Kasensero melalui East-African-Highway. Umumnya supir truk menginap di perbatasan Kasensero, mabuk dan memesan jasa prostitusi, seperti perempuan berbusana merah yang tidak ingin disebut namanya ini. Para lelaki itu membayar empat kali lipat agar diperbolehkan tidak mengenakan kondom. Wanita 30 tahun ini tidak peduli. Ia pun mengidap HIV AIDS.

Iptek

Keseharian dalam Bayangan AIDS

Joshua Katumba positif mengidap AIDS. Pemuda 23 tahun ini setiap hari mempertaruhkan nyawanya buat mencari duit. Kebanyakan ia habiskan untuk alkohol. Katumba belum pernah bersekolah. Ia tidak bisa membaca atau menulis. Katumba, seperti sepertiga penduduk Kasensero, tidak memiliki prespektif juga lantaran AIDS - jumlah terbanyak di seluruh dunia.

Iptek

Obat-obatan Gratis, Rumah Sakit Kewalahan

Presiden Yoweri Museveni adalah presiden pertama Afrika yang mengakui AIDS sebagai penyakit. Sejak saat itu Uganda menjadi contoh penanggulangan AIDS. Peneliti berdatangan ke Rakai. Duit bantuan dikucurkan. Di rumah sakit daerah mengantri penderita AIDS untuk mendapat obat-obatan gratis.

Iptek

Kehidupan Normal Berkat Obat Antiretroviral

Judith Nakato sejak lima tahun menderita AIDS. Menurutnya, ia terjangkit penyakit mematikan tersebut ketika diperkosa dan kemudian hamil. Setelah melahirkan ia mendapat kepastian dari tim dokter. Beruntung Nakato tidak mewariskan AIDS kepada anaknya. Setiap hari ia meminum obat antiretroviral.

Iptek

Obat-obatan Gratis di Uganda

Dulu Judith Nakato bahkan tidak mampu berdiri. Namun sejak mengkonsumsi obat-obatan antiretroviral, ia bisa kembali bekerja. Obat yang disebut ARV itu meredam virus AIDS did alam tubuh pengidapnya. Dibayar oleh Dana AIDS Global, obat-obatan tersebut dibagikan secara gratis di Uganda, kendati sering mengalami kelangkaan. Nakato misalnya harus berjalan ratusan kilometer untuk mendapat obat ARV.

Iptek

Contoh Penanggulangan AIDS?

Uganda dianggap sebagai negara panutan dalam hal penanggulangan AIDS. Miliaran US Dollar disumbangkan untuk negeri tersebut. Awalnya Uganda berhasil mengurangi penyebaran AIDS hingga 70 persen. 1990-an pengidap AIDS di Uganda turun menjadi 6,4 persen tahun 2005. Namun sejak sepuluh tahun silam penyebaran AIDS kembali marak. 2013 jumlahnya mencapai 7,3 persen.

Iptek

Kasensero, Laboraturium Terbuka buat Pakar Virologi

Selama bertahun-tahun Kasensero menjadi Mekkah buat pakar Virologi dari seluruh dunia. Pada setiap penduduk mereka melakukan studi jangka panjang. Penelitian semacam itu pertama kali digelar 1996. Sejak saat itu Kasensero menjadi laboraturium percobaan untuk penelitian AIDS di seluruh dunia. Hasil studi terbaru: risiko infeksi AIDS pada pria yang disunat 70 persen lebih rendah.

Iptek

Obat-obatan Melangka, Pasien Meregang Nyawa

Tubuh Olive Hasal mengering hingga tulang. Ibu 50 tahun ini bernafas ala kadarnya. Kulit di sekitar matanya menghitam. Satu buah tablet dibungkusnya rapih di dalam kain, "ini adalah yang terakhir," katanya. Hasal menyaksikan suami dan kedua anaknya meninggal dunia karena AIDS. Jika tidak ada yang mengambilkan obat dari kota terdekat berjarak 140 kilometer, hidup Hasal tinggal menghitung hari.

Ada banyak rujukan yang dengan mudah dicari bila ingin memahami bagaimana menghindari penularan AIDS/HIV. Tapi bila masyarakat sudah lebih dulu antipati pada ODHA dan mereka yang terinfeksi HIV, keinginan untuk memahami pun buyar. Simpati dan empati adalah barang langka, apalagi bila harus membaginya dengan mereka yang mengusung stigma seperti ODHA. Mungkin cara termudah adalah dengan menempatkan diri pada posisi mereka, bagaimana bila saya yang terinfeksi HIV? Atau bagaimana bila orang  yang saya cintai ternyata ODHA? Apa rasanya terasing, ditakuti, belum lagi dihujat sebagai manusia yang layak menerima azab karena pendosa? Mungkin dengan cara ini kita bisa lebih bersimpati—syukur-syukur berempati—pada ODHA dan mereka yang terinfeksi HIV.

Penulis: Uly Siregar (ap/vlz)

Bekerja sebagai wartawan media cetak dan televisi sebelum pindah ke Arizona, Amerika Serikat. Sampai sekarang ia masih aktif menulis, dan tulisan-tulisannya dipublikasikan di berbagai media massa Indonesia.

@sheknowshoney

*Setiap tulisan yang dimuat dalam #DWNesia menjadi tanggung jawab penulis.

Buang air kecil

Buang air kecil sesudah berhubungan intim dapat membuat semua bakteri penyebab infeksi keluar. Namun jangan lakukan itu sebelum berhubungan seks, karena penyebab utama infeksi saluran kencing adalah kebiasaan 'pipis' sebelum berhubungan seksual. Demikian saran Urolog New York, David Kaufman.

Minum antihistamin (anti alergi)

Antihistamin baik untuk meredakan efek alergi, karena mengeringkan selaput lendir di hidung yang berair, namun obat ini juga mengeringkan organ intim. Tentu, vagina yang kering membuat hubungan seks terasa tidak nyaman. Selain itu, secara umum, antishistamin juga menurunkan libido.

Mabuk-mabukan (kebanyakan alkohol)

Alkohol kadang bisa membantu memicu gairah seksual. Namun minuman beralkohol dalam takaran berlebihan justru mengakibatkan hambatan bagi pria untuk ereksi.

Salah ukuran kondom

Ukuran karet pengaman dalam berhubungan seksual amat penting. Pemilihan ukuran kondom yang pas mengurangi risiko selip dan terlepas disaat sedang melakukan hubungan seksual.

Mencukur rambut di sekitar organ intim

Bebas bulu halus di sekitar area intim mungkin sedang tren, tapi dapat berisiko infeksi akibat luka gesekan saat berhubungan badan. Pakar klinis juga memperingatkan, area intim yang dicukur menjadi salah satu penyebab infeksi herpes, sebab luka kecil pun dapat menularkan virus.

Lupa bersihkan alat permainan seks

Selain tubuh yang bersih, alat permainan seks pun sebaiknya dalam kondisi bersih sebelum digunakan. Jangan pernah lupa membersihkan sex toy sebelum berhubungan seks, karena dapat menyebabkan infeksi. Untuk melindungi diri, cucilah dulu alat permainan itu dan bersihkan dulu dengan tisu anti bakteri.

Menggunakan pelumas mengandung mentol

Perempuan yang telah menopause mengalami penipisan jaringan vagina. Memakai pelumas yang mengandung mentol bisa menyebabkan iritasi. Khusus untuk perempuan sekitar usia menopause, menurut ginekolog Cheryl Iglesia, sebaiknya gunakan pelumas berbasis air tanpa mentol untuk menghindari ketidaknyamanan.