1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Hotel Trump di Bali Bisa Sebabkan Kekeringan

Jinpa Smith
6 November 2018

Sistem irigasi subak di Bali telah menjaga sawah subur selama berabad-abad. Tetapi pariwisata mengancam pasokan air, dan pembangunan hotel Trump bisa menjadi ancaman utama.

https://p.dw.com/p/37jPt
Bildergalerie Tourismus in Indonesien Ubud
Foto: Colourbox/Thomas Jahn

Selama ribuan tahun, para petani di Bali menjaga kesuburan sawah dengan menerapkan sistem irigasi subak, yang masuk dalam daftar warisan budaya dunia UNESCO. Dengan sistem ini, musim hujan mengisi kembali akuifer dengan air yang cukup untuk bertahan sepanjang tahun, menjaga populasi manusia dan memungkinkan flora dan fauna untuk berkembang.

Tapi pariwisata telah merusak sistem yang dikalibrasi dengan teliti ini. Lebih dari setengah air tanah Bali dikonsumsi oleh industri pariwisata, dan tidak cukup lagi untuk berotasi.

Pembangunan hotel baru di Tabanan bisa menjadi ancaman terburuk. Trump International Hotel akan mencakup vila dan kolam renang mewah, serta lapangan golf yang luas.

Kemitraan antara jaringan hotel presiden AS dan pengusaha Hary Tanoesoedibjo, telah membuat marah penduduk setempat karena berdampak buruk bagi lingkungan dan sumber air tanah di Tanah Lot.

Trump Hoteltidak menanggapi pertanyaan DW, tentang apakah ada rencana untuk meminimalisir dampak pembangunan terhadap lingkungan dan pasokan air.

Para ilmuwan dari Politeknik Bali mengatakan sumur yang dibor oleh hotel, resor dan industri pendukung, telah mengakibatkan air laut bocor ke dalam air tanah. Setelah ini terjadi, kerusakan tidak dapat diubah dan pertaniann yang merupakan sumber kehidupan masyarakat terancam kelangsungannya.

Komang Arya Ganaris adalah manajer program Bali Water Protection (BWP), sebuah proyek organisasi IDEP di Bali. Dia mengatakan perlu ada pengelolaan yang tepat atas sumber daya di Bali.

"Bali adalah pulau tropis," kata Ganaris kepada DW. "Bagaimana mungkin kita bisa punya krisis air? Kita punya masalah pengelolaan air. Belum ada pemantauan penggunaan air tanah."

Teknologi sederhana bisa mengatasi masalah itu. BWP ingin membangun 136 sumur "isi ulang" berdasarkan gravitasi atau sumur hujan di titik-titik strategis di pulau. Demikian hasil tiga tahun penelitian Politeknik Negeri Bali.

Sistem ini memiliki rekam jejak yang terbukti di Afghanistan, Bangladesh dan India, dan proyek pilot di Denpasar sudah menunjukkan hasil yang menjanjikan. Pemerintah daerah mendukung proyek pilot dengan 100 juta rupiah per tahun. Namun hanya cukup untuk membiayai dua atau tiga sumur.

Untuk membiayai proyek di seluruh Bali, BWP mengatakan membutuhkan dekitar US$ 1 juta - nilai kecil dibandingkan dengan jumlah besar yang mengalir melalui sektor pariwisata pulau itu setiap tahun. Resor Trump sendiri dikabarkan membutuhkan biaya US$ 1 miliar.

Tapi Ganaris mengatakan pemerintah Indonesia tidak akan mendanai proyek tanpa bukti lebih lanjut bahwa sistem tersebut akan benar-benar berfungsi. BWP kemudian beralih ke crowdfunding, donor swasta, komunitas lokal dan bisnis.

Lilik Sudiajeng, ilmuwan yang bertanggung jawab atas proyek pilot di Denpasar, menulis dalam laporannya bahwa semua pembangunan baru dan bahkan rumah pribadi harus memiliki sumur resapan mereka sendiri.

Ganaris berpikir bahwa pemerintah juga perlu mengenakan tarif pada penggunaan air oleh industri seperti pariwisata. "Bisnis industri sangat besar. Kami membutuhkan langkah besar dan kebijakan besar," tandasnya.