1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Hotline Anti Korupsi di Afghanistan

25 Maret 2010

Jika masalah korupsi tidak bisa diatasi di Afghanistan, masalah keamanan juga tidak akan bisa diselesaikan. Pemerintah setempat telah menjanjikan untuk melakukan sesuatu. Salah satunya, dengan hotline anti korupsi.

https://p.dw.com/p/Mc8Y
Foto: AP

"Para pedagang berhati-hatilah. Jika anda dipaksa untuk melakukan pembayaran ilegal, langsung telepon ke nomor 5151."

Iklan layanan masyarakat ini diputar di radio-radio Afghanistan dan menyerukan kepada para pelaku bisnis untuk segera menelepon nomor hotline tersebut, jika muncul kasus korupsi dalam aktivitas mereka. "Tujuan telepon hotline ini adalah menemukan sumber masalah, dimana orang-orang di jalan dihentikan dan dimana mereka hanya boleh lewat jika membayar uang suap. Atau juga kasus-kasus lain. Jika kasusnya pelik, maka kami akan menghubungi kementrian dalam negeri dan polisi untuk menyelesaikan masalah tersebut." Demikian Ahmad Jawaid, ketua dinas batuan ekspor Afghanistan EPAA yang berada di dalam kementrian perdagangan Afghanistan. Jawaid menambahkan, setiap bulannya, ada sekitar 70 hingga 150 pelaku bisnis yang melapor ke hotline tersebut.

Ahmed Zahid mengetik keluhan penelepon. Kasus yang sering terjadi biasanya seperti ini, "Seorang pelanggan sebelumnya menelepon saya. Ia tengah membawa buah segar dari pasar di Kabul ke perbatasan Pakistan. Di tengah jalan ia dihentikan polisi dan ternyata ada masalah. Ia kemudian menelepon kami dan bercerita para petugas keamanan menuntut uang darinya."

Kasus-kasus lain yang dianggap tidak penting untuk sementara disimpan terlebih dahulu di data komputer. Kasus berat bisa berarti pengiriman aksi polisi. Ada dua hingga tiga operasi semacam itu yang dilakukan dinas bantuan ekspor bersama pihak kepolisian setiap bulannya. Tetapi pemerintah Afghanistan juga terbatas pengawasannya. Terhadap kawasan yang masih dikuasai Taliban mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Jawaid menjelaskan, "Bahkan, pasukan NATO bermasalah masuk ke wilayah tertentu. Jadi kami tidak bisa berbuat banyak jika resiko keamanannya masih terlalu tinggi."

Menurut organisasi Transparency International, Afghanistan adalah negara paling korup kedua di dunia. Para pakar sepakat, masalah di negara itu sulit untuk diselesaikan jika pemerintah tidak bisa mengatasi masalah uang suap. Bagaimana misalnya warga bisa percaya terhadap pasukan keamanan, jika mereka yang memang sering digaji terlalu sedikit, menggunakan kesempatan yang ada untuk memperoleh penghasilan tambahan. "Masalah seperti kemiskinan, situasi keamana, dan masalah sosial lainnya, berkaitan satu sama yang lain. Khususnya korupsi yang terjadi sehari-hari di Afghanistan. Korupsi di jajaran tertinggi ada di setiap negara bagian. Dan ini tentu masalah yang lebih berbahaya bagi negara ini."

Sudah dari hari pertama masa jabatan kedua presiden Hamid Karzai, dunia internasional memberikan tekanan yang lebih terhadap Afghanistan. Khususnya dalam masalah korupsi. Semenjak itu, pemerintah mendirikan dua komisi yang mengurus tema tersebut. Tetapi tidak sedikit pengamat yang berpendapat : Lebih mudah mengusir Taliban dari Afghanistan dibandingkan memberantas korupsi.

Kai Küstner / Vidi Legowo-Zipperer

Editor : Asril Ridwan