1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Hujan Gagalkan Prosesi Paskah di Sevilla

22 April 2011

Tradisi prosesi Paskah di kota Sevilla bermula sekitar 80 tahun lalu. Tahun ini terpaksa dibatalkan karena lebatnya hujan di baratdaya Spanyol. Banyak umat Katholik yang kecewa.

https://p.dw.com/p/112ii
Spanien KarwocheFoto: Kyle James

Hujan lebat memaksa para pemimpin gereja di kota Sevilla, Spanyol untuk membatalkan seluruh prosesi Paskah, yang biasanya berlangsung selama enam malam berturut-turut. Tahun ini merupakan pertama kalinya, sejak tahun 1933 prosesi Jumat Agung di Sevilla itu dibatalkan.

Rangkaian prosesi yang dikenal sebagai “La Madruga” merupakan acara puncak dalam pekan peringatan Paskah di Sevilla, biasanya dihadiri ribuan umat Katholik dan kaum turis dan disiarkan langsung oleh televisi Spanyol.

Usai pembatalan prosesi Paskah, para turis terpaksa pulang
Foto: picture alliance/dpa

Namun kali ini ke enam "cofradias" atau ikatan biarawan yang mengorganisasi prosesi itu terpaksa membatalkannya pada detik-detik terakhir, karena hujan badai. Televisi Spanyol menunjukkan orang-orang yang menangis kecewa di jalanan Sevilla, di bawah guyuran hujan.

"Cuaca semakin memburuk. Kami terpukul langsung oleh perubahan cuara dan hujan masih akan turun untuk waktu yang lama”, begitu ungkap salah seorang organisatornya, Adolfo Vela.

Prosesi Bersejarah

Terakhir kali sebuah prosesi semacam ini dibatalkan adalah karena meruncingnya situasi politik yang kemudian meledak dalam perang saudara di Spanyol tahun 1930-an.

Spanien Karwoche
Foto: Kyle James

Prosesi yang biasanya dimulai pada tengah malam dan berakhir saat matahari terbit ini, berakar pada abad pertengahan dan menunjukkan rombongan lelaki berjubah putih dengan topi kerucut, memanggul patung-patung kayu yang menggambarkan figur religi.

Pertama kali prosesi ini dilakukan, semua partisipan mengikutinya dalam keadaan hening dan karenanya ketika itu dinamai El Silencio.

Di kota lain di Spanyol, prosesi serupa dilakukan pada hari Jumat Agung sebagai peringatan atas penyaliban Yesus Kristus, Isa Al Masih.

Joanna Impey / Edith Koesoemawiria
Editor: Rizky Nugraha