1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

IAEA Fokus Pengamanan Nuklir

20 September 2011

AS tuding Iran rahasiakan tujuan program nuklirnya. Sementara di Jepang, puluhan ribu warga demo anti nuklir.

https://p.dw.com/p/12cX8
Direktur IAEA, Yukiya AmanoFoto: AP

Badan Energi Atom Internasional (IAEA) memulai perundingan baru di Wina hari Senin (19/09), dengan memfokus rencana peningkatan pengamanan nuklir, 6 bulan setelah bencana Fukushima dan meluasnya kekhawatiran soal ambisi nuklir Iran.

Pekan lalu, IAEA mengumumkan rencana tindak keselamatan yang bisa menaikkan standar keamanan dan mendukung perlindungan alam. Namun rancangan yang belakangan semakin dilonggarkan itu, menyebabkan para kritik menyebutnya sebagai tidak bergigi.

Puzzle-Bild Iran Ahmadinedschad besucht Urananreicherungsanlage Dossierbild 3
Presiden Iran Ahmadinejad di Instalasi Nuklir NatanFoto: picture alliance/dpa

Butir-butir seperti, tinjauan pakar asing terhadap reaktor dan inspeksi sedikitnya 10 persen PLTN dunia dalam tiga tahun ke depan, sudah dikurangi. Rancangan 12 poin itu tidak memenuhi janji yang disampaikan langsung sesudah bencana Fukushima, dan tidak berkekuatan memaksa negara-negara untuk menurutinya. Perancis misalnya menginginkan rencana tindakan yang lebih tegas dan Menteri Energi Eric Besson meminta agar pertengahan 2012, tinjauan sesama menjadi praktek standar di seluruh dunia dan agar hasilnya dipublikasikan. Rancangan tersebut harus diratifikasi oleh ke 151 anggota pada konferensi yang berjalan hingga Jumat.


Warga Jepang Tuntut Penutupan Semua Reaktor Nuklir


Sementara itu di Tokyo, hampir 60 ribu orang berunjuk rasa hari Senin (19/09) menuntut agar semua reaktor nuklir Jepang ditutup. Enam bulan setelah bencana nuklir Fukushima, para demonstran berkumpul di Taman Meiji di pusat kota sebelum mulai bergerak. Demonstrasi yang diorganisasi oleh beberapa kelompok anti nuklir, juga diikuti oleh penduduk kawasan di sekitar PLTN Fukushima Daiichi. Poster dan spanduk yang diusung tertera tulisan: ”Tutup semua PLTN,” ”Jangan ada Fukushima lainnya.”


Bencana nuklir Fukushima terjadi 11 Maret 2011 akibat gempa bumi berkekuatan 9 di skala Richter dan tsunami yang menyusulnya. Sekitar 87 ribu penduduk terpaksa di evakuasi.

Berbeda dengan pendahulunya yang menjanjikan penutupan secepatnya PLTN di Jepang, PM baru Jepang Yoshihiko Noda menegaskan akan mengembangkan kebijakan mengenai sumber energi terbarukan serta melancarkan tingkat keamanan tertinggi. Saat ini hanya 11 dari 54 PLTN di Jepang beroperasi. Namun ia tidak menyebutkan, bahwa penggunaan energi nuklir akan dihentikan.

Japan Anti-Atomkraft-Demonstration in Tokio
Puluhan ribu warga Jepang gelar demo Anti Nuklir di Tokyo, Jepang, Senin (19/09)Foto: Kyodo News/AP/dapd


 

Jepang sebelumnya menargetkan agar 50% kebutuhan energinya diproduksi oleh PLTN. Tapi ketakutan terhadap pencemaran air, udara, hasil tani dan perikanan menyebabkan hampir 70% penduduk Jepang menentang tenaga nuklir. Pemerintah Jepang pun mencari jalan keluar lain.


Di Wina, Menteri Goshi Hosono yang mengurusi krisis Fukushima mengatakan kepada delegasi bahwa negaranya akan memiliki masa depan dengan tenaga nuklir yang lebih aman. Jepang telah belajar dari bencana Fukushima Daiichi. Dikatakannya, ada semacam konsensus untuk mengurangi ketergantungan pada energi nuklir. Namun cara dan jangka waktu yang dibutuhkan untuk melakukannya masih harus dipastikan. Pekan lalu, pemerintah Jepang telah menyerahkan laporan rinci mengenai krisis tersebut ke IAEA.

rtr/dpa/Edith Koesoemawiria
Editor: Carissa Paramita