Inilah Sosok Yang Bisa Menghentikan Krisis Rohingya

Live
02:01 menit
Hanya ada satu orang yang bisa menyudahi "pembersihan etnis" Rohingya di Myanmar. Dan itu bukan lah Aung San Suu Kyi.

Jendral Min Aung Hlaing menikmati posisi kunci di balik panggung sementara dunia menghujat Aung San Suu Kyi. Padahal dia dituding bertanggungjawab atas taktik brutal militer Myanmar terhadap etnis Rohingya.

Kisah Pengungsi Rohingya Di Perbatasan Myanmar

Pengungsi Rohingya di daerah Teknaf yang sudah banyak menerima pengungsi.

Kisah Pengungsi Rohingya Di Perbatasan Myanmar

Banyak anggota keluarga yang sakit dan yang sudah tua mereka gotong dan akhirnya tiba di Teknaf.

Kisah Pengungsi Rohingya Di Perbatasan Myanmar

Sebagian besar pengungsi Rohingya adalah perempuan dan anak-anak.

Kisah Pengungsi Rohingya Di Perbatasan Myanmar

Wanita dan anak-anak Rohingya juga harus melewati sungai, di jalan yang panjang untuk mencapai Bangladesh.

Kisah Pengungsi Rohingya Di Perbatasan Myanmar

Menurut Badan Pengungsi PBB (UNHCR) sekitar 2,5 juta pengungsi Rohingya telah tiba di Bangladesh sejak 25 Agustus 2017.

Kisah Pengungsi Rohingya Di Perbatasan Myanmar

Rumah-rumah keluarga Rohingya di daerah Maungdaw dan Rasidong dibakar selama tiga hari. Gambar diambil dari Pulau Shahpiar.

Kisah Pengungsi Rohingya Di Perbatasan Myanmar

Banyak orang terpaksa berhenti di sisi jalan, setelah melintasi malam di bawah langit terbuka.

Kisah Pengungsi Rohingya Di Perbatasan Myanmar

Pemerintah Bangladesh berupaya menampung semua pengungsi di tempat penampungan yang luas.

Kisah Pengungsi Rohingya Di Perbatasan Myanmar

Lebih dari 200.000 bayi Rohingya kini berada di Bangladesh. Menurut UNHCR lebih dari 1.100 anak datang dari Rakhine tanpa disertai orang tua.

Kisah Pengungsi Rohingya Di Perbatasan Myanmar

Rohingya yang cari perlindungan di daerah Teknaf menderita kekurangan makanan akut. Untuk dapat makanan mereka harus berebutan. Penulis: Mustafiz Manun (ml/hp)

Lahir dan dibesarkan di Tenasserim, di dekat perbatasan Thailand, Hlaing menikmati pendidikan hukum di Yangon sebelum mengabdikan diri pada militer. Sosok pendiam itu baru dikenal luas setelah berhasil memadamkan pemberontakan Myanmar Nationalities Democratic Alliance Army di Kokang, 2009 silam. Akibat pertempuran tersebut sekitar 37.000 warga sipil mengungsi ke Cina.

Rohingya di Myanmar: Apa yang Perlu Diketahui

Siapakah Rohingya?

Rohingya adalah etnis minoritas di Myanmar. Mereka hidup terutama di negara bagian barat Rakhine. Mereka tidak secara resmi diakui oleh pemerintah sebagai warga negara dan selama beberapa dasawarsa mayoritas Buddha di negara itu dituding berbagai kalangan telah melakukan diskriminasi dan kekerasan terhadap mereka.

Rohingya di Myanmar: Apa yang Perlu Diketahui

Kemana mereka lari dari ancaman kekerasan?

Ribuan orang Rohingya dari Myanmar dan Bangladesh melarikan diri dari negara setiap tahunnya, dalam keadaan putus asa ke negara-negara mayoritas Muslim seperti Bangladesh, Malaysia dan Indonesia.

Rohingya di Myanmar: Apa yang Perlu Diketahui

Mengapa Rohingya tidak memiliki kewarganegaraan?

Sekitar 10 persen orang tanpa kewarganegaraan di dunia tinggal di Myanmar dan Rohingya. 1,1 juta jiwa imigran ilegal kini berada di Bangladesh. Pemerintah Myanmar mengatakan bahwa pihaknya siap untuk memberikan kewarganegaraan Muslim Rohingya jika mereka mengidentifikasi diri mereka sebagai orang Bengali. Rohingya keberatan.

Rohingya di Myanmar: Apa yang Perlu Diketahui

Apa yang sudah dilakukan PBB?

2014, PBB menyambut reformasi politik dan ekonomi di Myanmar namun menyatakan "keprihatinan serius" atas penderitaan masyarakat Rohingya dan menuntut "kewarganegaraan penuh untuk minoritas Rohingya" dan mendesak agar mereka punya akses yang sama terhadap semua layanan negara. Myanmar, sejauh ini masih menolak memberikan kewarganegaraan kepada Rohingya.

Rohingya di Myanmar: Apa yang Perlu Diketahui

Bagaimana laporan komisi penasihat Rakhine?

Komisi Penasehat Rakhine yang dipimpin mantan sekjen PBB, Koffi Annan mencatat hambatan terbesar untuk perdamaian di Rakhine adalah masalah kewarganegaraan. Komisi itu meminta pemerintah Myanmar untuk "menetapkan strategi dan garis waktu yang jelas untuk proses verifikasi kewarganegaraan." Selain itu, pihak berwenang harus mengklarifikasi status orang-orang yang kewarganegaraannya belum diterima.

Rohingya di Myanmar: Apa yang Perlu Diketahui

Kapan konflik berubah dengan kekerasan?

Pada tahun 2012, bentrokan antara kaum nasionalis Rohingya dan Buddhis menyebabkan puluhan orang tewas, memaksa puluhan ribu etnis Rohingya melarikan diri ke Bangladesh, Malaysia, Thailand dan Indonesia. Sekitar 200.000 orang - kebanyakan Rohingya - telah tinggal di kamp-kamp di Rakhine sejak bentrokan tahun 2012.

Rohingya di Myanmar: Apa yang Perlu Diketahui

Bagaimana kekerasan berlanjut?

Oktober 2016, militan Rohingya menyerang beberapa pos pemeriksaan keamanan dan membunuh sejumlah petugas polisi. Pasukan keamanan Myanmar kemudian meluncurkan operasi kontra-terorisme melawan gerilyawan. Kelompok HAM seperti Human Rights Watch dan Amnesty International menuding operasi ini melibatkan pembunuhan, pemerkosaan sistematis, pembakaran rumah dan pengungsian penduduk setempat.

Rohingya di Myanmar: Apa yang Perlu Diketahui

Kapan gelombang baru kekerasan meletus?

25 Agustus 2017, kekerasan pecah di Rakhine ketika sekitar 100 gerilyawan Muslim bersenjata menyerang petugas keamanan di perbatasan dengan Bangladesh. Pasukan keamanan Myanmar dan minoritas Muslim Rohingya saling tuduh. Desa-desa dibakar dan terjadi pembunuhan massal. Hampir 400 orang tewas, sebagian besar dari mereka adalah gerilyawan.

Rohingya di Myanmar: Apa yang Perlu Diketahui

Mengapa Bangladesh mengambil garis keras terhadap Rohingya?

150.000-an orang Rohingya yang tinggal di kamp-kamp di Bangladesh, kebanyakan dalam kondisi kumuh. Namun semakin banyak pengungsi baru tiba. Banyak pengungsi terdampar di sungai Naf sepanjang perbatasan. Pihak berwenang Bangladesh mencegat, menahan dan memaksa warga sipil Rohingya kembali ke Myanmar meskipun pertempuran sedang berlangsung antara pasukan keamanan Myanmar dan milisi Rohingya.

Rohingya di Myanmar: Apa yang Perlu Diketahui

Apakah Rohingya menjadi radikal?

International Crisis Group (ICG): Rohingya yang menyerang penjaga perbatasan Myanmar Oktober 2016 memiliki hubungan dengan Harakah al-Yakin (HaY), yang bertalian dengan Arab Saudi dan Pakistan. ICG mengatakan milisi Pakistan dan Afghanistan melatih penduduk desa Rakhine selama dua tahun sebelum serangan Oktober 2016. Kelompok ISIS menyerukan jihad melawan pihak berwenang dan mayoritas umat Buddha

Rohingya di Myanmar: Apa yang Perlu Diketahui

Mengapa pemenang Nobel Perdamaian, Suu Kyi, 'diam' atas nasib Rohingya?

Suu Kyi menghadapi dilema. Sebagai ikon hak asasi manusia - adalah tugasnya untuk meningkatkan suaranya untuk mendukung Rohingya dan mencela tindakan pemerintah dan mayoritas umat Buddha. Tapi Suu Kyi, yang merupakan pemimpin de facto Myanmar, tidak ingin kehilangan dukungan dari mayoritas umat Buddha karena menaikkan suaranya untuk mendukung Rohingya.

Rohingya di Myanmar: Apa yang Perlu Diketahui

Bagaimana negara-negara tetangga Myanmar bereaksi terhadap konflik?

Indonesia dan Bangladesh telah meminta masyarakat internasional untuk mengambil tindakan.Beberapa demonstrasi telah dilakukan di Malaysia dan Indonesia terhadap dugaan "genosida Rohingya" di Myanmar. Selama beberapa tahun terakhir, perlakuan terhadap Rohingya juga menjadi isu utama di dunia Islam.

Rohingya di Myanmar: Apa yang Perlu Diketahui

Apakah Myanmar melakukan genosida Rohingya?

Sejarawan Boris Barth menyebutkan: istilah "genosida" harus digunakan dengan hati-hati: "Saya hanya akan menggunakannya jika jelas bahwa pemerintah bermaksud untuk melenyapkan sekelompok orang, atau bagian darinya."

Rohingya di Myanmar: Apa yang Perlu Diketahui

Apakah latar belakang konflik Rohingya?

Persepsi umum tentang konflik Rohingya di Myanmar adalah bahwa ini adalah masalah agama. Namun beberapa analis mengatakan bahwa krisis tersebut lebih didorong secara politis dan ekonomi. Siegfried O. Wolf, seorang direktur penelitian di Forum Demokrasi Asia Selatan (SADF) mengatakan ada aspek ekonomi dan politik untuk masalah ini juga. (Ed:Shamil Sham/ap/vlz)

rzn/vlz

Ikuti kami